The Picture Of Love

The Picture Of Love
Aka Kamu... Semua Akan Baik-Baik Saja



Emily dan David terlihat sangat kompak melayani setiap pelanggan yang datang ke cafe tempat Emily bekerja. Sejak pagi tadi keduanya terus bekerjasama untuk menyelesaikan pesanan setiap pelanggan yang datang ke tempat tersebut.


David terlihat sangat menikmati pekerjaannya. Menyapa setiap pengunjung dengan penuh keramahan. Juga tidak lupa senyuman menawan yang tidak pernah pudar dari wajah tampannya. Hari itu pelanggan terlihat cukup ramai terutama di kalangan para gadis yang memang mengagumi David. Mereka seperti sudah tahu bahwa hari itu ada laki-laki tampan itu disana.


Sudah menjadi rutinitas David apabila kembali ke kota tempat tinggalnya maka laki-laki itu pasti akan selalu membantu pekerjaan Emily untuk satu atau dua hari di cafe tempat gadis itu bekerja. Ini adalah tempat terlama bagi Emily bekerja. Biasanya gadis itu hanya betah bekerja pada satu tempat tidak lebih dari tiga bulan. Banyak alasan yang membuat Emily tidak betah pada pekerjaannya.


Blossom. Begitulah nama cafe tempat Emily bekerja dua tahun terakhir ini. Tempat tersebut hanya buka dari pukul sebelas sampai dengan tujuh. Pemilik tempat tersebut yaitu Nyonya Merry dan Tuan Adam. Keduanya tidak mempunyai anak sehingga mereka memperlakukan Emily bagai putri mereka sendiri. Hal inilah yang membuat gadis itu sangat betah bekerja disana.


"Terimakasih sudah berkunjung cantik," ucap David pada salah satu gadis cantik yang akan meninggalkan cafe tersebut. Dengan tersenyum hangat David juga membukakan pintu untuk gadis cantik yang baru saja disapanya itu.


David menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung disana. Semua orang yang tinggal di lingkungan tersebut pasti mengenal David. Laki-laki tampan itu sejak dulu selalu menjadi idola gadis-gadis disana. Pun semua orang tahu persahabatan yang terjalin di antara David dan Emily. Karena itu tidak heran jika David berada disana untuk membantu pekerjaan sahabat baiknya itu.


"Sepertinya kau lebih banyak menyapa para gadis-gadis itu daripada bekerja," ucap Emily yang telah berada tepat di belakang David.


"Apa kau akan terus tersenyum padanya sampai gadis itu tidak terlihat lagi?" tambah Emily ketus. Sejak tadi gadis itu memperhatikan David. Setiap pergerakan dan ucapan David tidak luput dari perhatian Emily. David lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbicara kepada pelanggan daripada mengantarkan pesanan mereka.


"Upss..." David berpaling menatap emily yang sedang berdiri dengan menopang pinggang menatap sinis kepadanya.


"Mereka tersenyum dan menyapaku terlebih dulu. Tidak mungkin aku mengabaikan mereka," jawab David merasa tidak bersalah sama sekali.


"Ya ya ya.. Hanya mereka yang tergila-gila padamu."


David tersenyum dengan mengangkat bahunya. "Begitulah."


"Berhentilah bersikap baik pada semua gadis. Kau akan membuat mereka salah paham padamu."


"Mereka yang mengejar aku," jawab David enteng. "Aku hanya tidak mau membuat mereka kecewa, Mily," sambung laki-laki itu lagi. Lalu David ingin beranjak pergi meninggalkan Emily yang masih terlihat kesal padanya.


"Awwww.... sakit... sakit..." David meringis kesakitan sambil memegang telinganya yang di jewer oleh Emily. David meringis layaknya anak kecil. Bahkan laki-laki itu lupa jika banyak orang di tempat itu. Beberapa gadis bahkan menertawakan sikap David.


Tersadar banyak mata yang tertuju padanya, David pun segera menutup mulutnya. Laki-laki itu kembali bersikap biasa saja meskipun sedang menahan sakit karena perbuatan Emily.


"Tolong lepaskan Mily. Ini benar-benar memalukan," bisik David pada sahabatnya itu.


Dengan kesal Emily pun melepaskan telinga David. "Berhentilah mengganggu semua perempuan bodoh itu," ucap Emily kesal.


"Ingat David, kau sudah punya pacar. Kau harus menjaga perasaan Tessa."


"Emily sayang... Bukan aku yang mengganggu mereka, tapi mereka yang tidak bisa berpaling dari pesona seorang David," ucap David membela dirinya. Padahal semua orang tahu bahwa David adalah seorang laki-laki playboy.


"Hufffttt.... sudahlah. Aku mau kembali bekerja."


"Jangan marah padaku," David menyusul Emily yang hendak pergi ke pantry.


"Aku yakin tidak lama lagi Tessa akan meninggalkanmu. Tidak ada perempuan yang sanggup menjalin hubungan dengan laki-laki sepertimu."


David tersenyum mendengar setiap perkataan Emily. Nasehat yang sama setiap kali dirinya menjalin hubungan dengan satu perempuan. David tahu bahwa setiap perkataan yang di ucapkan oleh sahabatnya itu adalah benar. Semua itu karena Emily menyayangi dirinya.


Tidak mau melanjutkan lagi kekesalannya pada David, Emily pun menyiapkan pesanan pelanggan yang datang. Secangkir coklat panas, secangkir espresso, sebotol minuman soda dan kue dengan krim strawberry.


Sementara itu David menyandarkan dirinya di pintu ruang pantry dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Mengamati setiap gerakan Emily menyiapkan pesanan yang baru saja masuk.


"Kau cantik. Tapi sedikit menyebalkan," ucap David mengganggu Emily. Laki-laki itu sengaja berkata demikian untuk mencairkan suasana. Namun perkataan David adalah sebuah kejujuran. Emily memang lah gadis yang cantik.


"Lebih baik menyebalkan daripada bersikap bodoh seperti semua perempuan yang tergila-gila padamu," jawab Emily tanpa menoleh sedikitpun ke arah David.


"Untuk pertama kalinya kau memilih gadis yang tepat. Tessa. Tapi aku tidak yakin hubungan kalian akan berlangsung lama. Mengingat sifat kamu yang sangat kekanak-kanakan."


David pun tersenyum dan menghampiri Emily. Membantu gadis itu menyiapkan satu pesanan lainnya yang baru saja masuk.


"Jika semua gadis menolak ku dan meninggalkanku, maka akan selalu ada satu orang gadis yang mau menerimaku," ucap David sambil menyiapkan biji kopi.


Emily menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap ke arah David yang sedang mengerjakan pekerjaannya. "Siapa gadis bodoh yang mau menerimamu?" tanya Emily.


"Kau. Emily," jawab David bersamaan dengan senyuman hangat untuk sahabatnya itu.


"Aku?" tunjuk Emily pada dirinya sendiri seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


"Hmmmm.... Siapa lagi kalau bukan kau?"


"Hentikan bercanda mu Dave." Emily pun segera beranjak dari sana. Namun langkahnya tertahan ketika David justru mengambil pesanan yang sedang di pegang oleh Emily.


"Aku tidak sedang bercanda Mily."


David menatap ke dalam kedua mata Emily. Mengunci gadis itu dalam manik hazel miliknya. "Meskipun semua orang meninggalkanku, aku yakin kau akan selalu menerimaku. Apa yang aku takutkan jika masih ada kau bersamaku. Kau akan selalu ada untukku, Mily."


Emily seperti kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan David. Diam dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut David, itulah yang dilakukan oleh gadis cantik itu.


"Selama ada kamu... Semua akan baik-baik saja untukku," tutup David. Laki-laki  itu pun segera beranjak untuk mengantarkan pesanan yang tadinya hendak di bawa oleh Emily.


Ketika David berada di pintu keluar pantry, laki-laki itu kembali menoleh menatap Emily yang masih mematung disana.


"Mily..." panggil David dengan suara yang cukup keras. Menyadarkan Emily dari kebisuannya untuk beberapa menit yang lalu. Emily pun menatap ke arah David.


"Jangan mematung disana karena terpesona pada ketampananku. Dan jangan lupa menghirup oksigen agar besok kau masih bisa melihat wajah tampanku." David tersenyum mengejek sikap Emily.


Sementara itu Emily semakin merasa kesal pada David karena telah berhasil mengejeknya.


"Daviiiidddddd...."


"Aku harap kalian mengerti. Emily sedang berada di siklus tidak baik," jelas David pada pelanggan yang ada disana.


Semuanya juga tahu bahwa David adalah dalang di balik kekesalan Emily.