
Pagi kembali hadir memberikan kabar baru untuk setiap jiwa-jiwa yang menyeruak memenuhi bumi. Menawarkan cerita baru dan juga harapan baru tentunya. Namun bagi sebagian orang lainnya, pagi adalah kelanjutan dari cerita kemarin yang belum usai. Apapun itu, tentunya akan ada cerita yang berbeda dari kemarin.
Salju yang telah menutupi seluruh kota untuk waktu beberapa bulan lamanya perlahan mulai mencair, namun masih menyisakan sejuk lewat angin yang berhembus perlahan. Membuat sebagian orang masih betah bermalas-malasan di balik selimut tebal mereka. Musim dingin siap mengucapkan kata selamat tinggal pada seluruh penduduk kota. Tugasnya untuk memberikan kesejukan hampir selesai.
Terlihat kuncup-kuncup bunga yang berwarna-warni mulai bermekaran di balik sisa-sisa salju yang belum mencair sepenuhnya. Pun begitu juga dengan dahan-dahan pepohonan yang kembali di tumbuhi dedaunan. Sepanjang jalan kota yang awalnya di selimuti dengan salju tebal, kini telah mulai mencair secara perlahan. Rerumputan pun menyeruak di balik sisa-sisa bongkahan es yang sedikit demi sedikit menghilang dan menyisakan tetasan embun. Musim semi siap datang memberikan keindahan juga perlahan menghangatkan menggantikan dinginnya salju.
Emily masih terlelap di balik selimut tebalnya. Gadis itu meringkuk layaknya seorang bayi, masih pulas dalam tidurnya, ataupun belum selesai dengan mimpi indahnya. Di wajah gadis itu terlihat sisa-siwa cat yang mengotori beberapa bagian dari wajahnya. Dapat di pastikan bahwa Emily tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu setelah melukis. Begitulah kebiasaan Mily. Ibunya dan juga orang-orang terdekat gadis itu sering memanggilnya dengan panggilan Mily.
Kamar Emily begitu berantakan dengan cat, kuas dan juga kanvas. Disana juga terdapat beberapa lukisan hasil karyanya. Begitu indah dalam keharmonian perpaduan warna. Bagi Emily melukis hanyalah sekedar hobinya. Namun tidak jarang lukisan gadis berusia dua puluh tiga tahun itu terjual dengan harga yang cukup tinggi.
"Mily... bangunlah..." Seorang laki-laki berwajah tampan, memiliki postur tubuh sekitar seratus delapan puluh tujuh centimeter telah berdiri di depan pintu kamar Emily. Suara bariton laki-laki itu mencoba membangunkan Emily yang masih enggan untuk membuka matanya.
"Tidak bisakah kau menghilangkan kebiasaan buruknya yang selalu tidak mengunci pintu kamarmu?" protes laki-laki itu lagi. Tanpa ada sedikit pun keraguan laki-laki tampan itu langsung melangkah masuk ke dalam kamar Emily. Kebiasaan buruk Emily, bagi gadis itu mengunci pintu kamar bukanlah sesuatu yang penting. Terlebih lagi dirinya hanya tinggal berdua bersama dengan Ibunya.
Hanya ada seorang penyusup saja yang selalu berani masuk ke kamarnya tanpa pernah meminta izin terlebih dahulu. Orang itu tidak lain adalah David. Laki-laki tampan itu adalah tetangga Emily, sekaligus teman gadis itu. Mereka sudah berteman sejak mereka kecil. Bagi David, kamar Emily sudah seperti kamarnya sendiri. Begitu pun dengan Emily. Hubungan keduanya sangat dekat, banyak teman-teman mereka berfikir bahwa mereka berdua adalah saudara kandung. Namun tidak jarang pula keduanya sering bertengkar.
"Dan kamarmu selalu saja berantakan seperti biasanya," ucap David lagi. Laki-laki itu melihat-lihat hasil lukisan Emily.
"Jangan sentuh apapun Dave. Aku selalu bilang jangan pernah lagi menyentuh barang-barang ku," ucap Emily. Gadis itu berbicara tanpa membuka kedua matanya. Pun gadis itu masih betah meringkuk di balik selimutnya.
David hanya tersenyum mengejek teguran Emily. Seperti tak mendengar apapun, David malah melanjutkan melihat-lihat lukisan milik Emily.
"Hentikan..." sebuah bantal mendarat tepat mengenai kepala David. Tentu saja pelakunya adalah Emily.
"Awww.... Hey... Ayolah, aku hanya melihat saja. Aku sama sekali tidak merusaknya," protes David karena merasa kesal Emily melemparnya dengan sebuah bantal.
"Tidak merusaknya?" ucap Emily mengulang perkataan David. Gadis itu telah duduk di atas ranjangnya. Rambutnya masih acak-acakan dan jangan lupakan wajah bantalnya. Emily terlihat begitu berantakan.
"Apa kau lupa Dave, minggu lalu kau merusak sebuah lukisanku yang siap untuk aku kirimkan kepada pembeli. Karena ulahmu, aku harus meminta maaf dan mengganti kerugian dua kali lipat dari harga beli."
"Tapi aku membantumu membayar setengah dari kerugianmu," protes David tidak terima dengan perkataan Emily.
"Lalu bagaimana dengan bulan lalu saat kau menumpahkan segelas jus ke atas lukisan yang baru saja selesai ku kerjakan. Apakah harus aku ingatkan satu persatu kecerobohanmu? Apakah itu yang kau maksud tidak merusak?" lanjut Emily panjang lebar. Mengingatkan kembali kesalahan-kesalahan David pada dirinya. Begitulah David, si pembuat masalah dalam kehidupan Emily.
Itulah yang sering terjadi bila keduanya bersama. Selalu ada perdebatan-perdebatan kecil yang terjadi. Itulah pertemanan.
"Baiklah... Aku tidak akan lagi menyentuh apapun milikmu," janji David dengan kedua tangannya yang terangkat layaknya orang menyerah dan mengaku kalah.
Emily mengambil kuncir rambutnya yang terletak di atas nakas di sebelah tempat tidurnya. Dengan cepat Emily menguncir rambutnya tanpa menyisirnya terlebih dahulu. Gadis itu tersenyum mengejek pada David, "Minggu lalu kau juga mengucapkan janji yang sama. Teruslah mengucapkan janji dan kau pasti akan mengingkarinya lagi."
David hanya mengedikkan bahunya. Tidak mau melanjutkan perdebatan mereka.
"Kapan kau akan berhenti masuk ke kamarku tanpa permisi?" tanya Emily sambil beranjak dari tempat tidurnya. Rasa kesal terlihat jelas di wajah Emily. Gadis itu cukup cantik dengan kulitnya yang putih. Namun sama sekali tidak ada sisi feminim darinya. Tinggi tubuhnya sekitar seratus enam puluh centimeter, rambut berwarna coklat gelap.
"Aku akan berhenti masuk ke kamarmu tanpa izin saat kau juga melakukan hal yang sama," jawab David begitu saja.
Tanpa berkata apapun lagi Emily membereskan tempat tidurnya. Lalu melanjutkan dengan membersihkan cat, kuas dan kanvasnya yang berserakan di seluruh kamarnya. Emily menyadari bahwa apa yang di katakan oleh David adalah benar, bahwa kamarnya selalu saja berantakan.
Bagi Emily itu bukanlah hal yang perlu di pikirkan. Karna sejak dulu Emily tidak merasa terganggu dengan hal tersebut. Gadis itu akan membersihkan kamarnya ketika Ibunya atau David mulai protes dengan keadaan tempat tersebut. Seperti yang Emily lakukan sekarang.
Sementara itu David hanya tersenyum melihat Emily membereskan kamar tidurnya dengan wajah yang di tekuk sempurna. Kini laki-laki itu telah merebahkan tubuhnya di tempat tidur Emily. David sama sekali tidak peduli dengan tatapan permusuhan yang Emily tujukan kepada dirinya.
"Sangat nyaman..." ucap David. Laki-laki itu tidur dengan merentangkan kedua tangannya di tempat tidur Emily. Merasa tidak ada gunanya kembali berdebat, Emily sama sekali tidak menggubris perkataan David. Gadis itu terus saja membersihkan kamar tidurnya. Meletakkan barang-barang yang berantakan di lantai kamarnya di tempat seharusnya.
Setelah dirasa semuanya selesai, Emily pun menghampiri David yang ternyata telah tertidur di atas ranjangnya. Gadis itu menatap wajah David yang terlihat damai dalam tidurnya. Sahabatnya itu benar-benar tampan. Emily tidak memungkiri hal tersebut.
Namun ketampanan David tidak membuat Emily mengurungkan niatnya untuk mengusir sahabatnya itu dari kamarnya. Gadis itu pun mengguncang tubuh David untuk membangunkannya.
"Saatnya kau keluar dari kamarku...." teriak Emily pada David.
"Hentikan Mily."
Begitulah yang selalu terjadi di antara keduanya. Bertengkar lalu berbaikan kembali. Hal tersebut telah terjadi sejak mereka kecil dulu. Emily dan David melewati waktu mereka bersama-sama dari kecil sampai dewasa seperti sekarang. Cerita perjalanan hidup mereka akan menjadi kenangan terbaik bagi keduanya.
\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di luar sana Ibu Emily mendengar teriakan dari putrinya dan juga David. Nyonya Elena sedang memanggang roti di dapur. Wanita itu masih terlihat sangat muda di usianya yang telah menyentuh angka lima puluh tahun.
Hal seperti itu telah biasa terjadi di rumahnya. Perdebatan putrinya Emily dan juga David menjadi bagian dari pagi mereka. Terkadang juga perdebatan seperti sekarang ini terjadi di rumah David. Tetapi hal tersebut memberi warna tersendiri kepada kedua keluarga tersebut.
Nyonya Elena sama sekali tidak mau ikut campur dengan perdebatan kedua anak muda tersebut. Wanita itu melanjutkan kegiatannya memanggang roti.
Hai semua readers tersayang
Mohon dukungannya untuk novel terbaru aku
Tolong tinggalkan jejak dengan cara like, komen, tambahkan ke favorit kalian dan juga jangan lupa vote
Selamat membaca
Peluk jauh untuk semua readers tersayangkuh