
Dua orang wanita berusia setengah abad terlihat begitu bersemangat menata sebuah meja makan. Berbagai macam makanan tersedia disana, layaknya ingin mengadakan sebuah pesta. Di meja makan tersebut sudah ada berbagai macam minuman, roti, steak, salad dan juga desert tentunya.
Kedua wanita itu adalah Nyonya Elena dan juga Nyonya Grace, ibu dari David. Meja makan yang sedang mereka tata adalah meja makan di rumah Nyonya Grace dan juga Tuan Tom. Mereka berdua adalah orangtua dari David.
Bukan hanya kedua wanita tadi yang terlibat sibuk, tetapi begitu juga dengan Tuan Tom. Pria yang masih terlihat gagah di usianya yang tak lagi muda terlihat sedang memasang beberapa balon di setiap sudut ruangan tempat tinggal mereka.
Semua orang disana sedang mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun untuk David. Tentu saja semuanya terlihat sangat bersemangat mempersiapkan pesta kejutan yang sebaik mungkin. Meskipun hanya pesta sederhana dan hanya di hadiri oleh dua keluarga saja, tidak menyurutkan semangat mereka untuk memberikan yang terbaik untuk David.
Begitulah cara dua keluarga tersebut merayakan ulang tahun di setiap tahunnya.
Mengapa hanya ada ibu dari Emily, karena memang ayah dari Emily meninggalkan nyonya Elena tepat ketika Emily dilahirkan ke dunia. Sejak saat itu ayah Emily tidak pernah kembali. Layaknya seseorang yang telah meninggalkan dunia untuk selamanya.
Namun Emily tidak pernah menanyakan atau pun mencari tahu kabar dari ayahnya. Gadis itu juga tidak pernah bertanya perihal tentang ayahnya kepada ibunya. Bibi Grace telah menceritakan semuanya. Dan Emily bersikap sangat dewasa dengan tidak mengungkit sesuatu yang membuat ibunya bersedih.
Sejak tadi Emily sibuk membuat kue ulang tahun untuk David di dapur Bibi Grace. Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam, akhirnya kue ulang tahun berukuran sedang selesai juga di kerjakan oleh gadis itu seorang diri. Emily pun ikut bergabung bersama ibunya dan bibi Grace.
"Kue yang indah sayang," puji nyonya Grace melihat sebuah kue yang begitu cantik di lapisi dengan krim berwarna biru langit.
"Kau sangat berbakat sayang." Nyonya Grace mencubit gemas salah satu pipi Emily.
"Putriku memang hebat.... Kerja bagus girl," nyonya Elena pun ikut memuji hasil jerih payah putrinya.
"Thanks mom." Gadis itu meletakkan kue hasil buatannya tepat berhadapan dengan sebuah kursi yang nantinya akan di tempati oleh David.
"Kau jangan lupa, dia juga putriku," timpal nyonya Grace. Wanita itu memang telah menganggap Emily bagai putrinya sendiri. Bahkan ketika gadis itu bertengkar dengan David, tanpa ragu nyonya Grace akan membela Emily dan memarahi David. Hal tersebut kerap kali membuat David semakin suka mengganggu sahabat itu.
"Dia putri kita bersama... Dan David adalah putra kita juga." Uncle Tom mendekap hangat Emily layaknya putrinya sendiri.
"Adakah yang tahu dimana David berada sekarang?" tanya Bibi Grace. Pandangan wanita itu tertuju pada Emily.
"Emmmm... Dia hanya bilang bahwa dirinya akan menjemput seseorang," jawab gadis itu.
"Siapa?"
"Entahlah bibi, aku tidak tahu. Dave tidak mengatakan hal lain padaku."
Tadinya mereka sangat bersyukur karena David pergi entah kemana. Hal itu memudahkan mereka untuk mempersiapkan pesta kejutan untuk laki-laki tampan itu. Tapi sudah empat jam lamanya David tidak juga kembali.
Emily mencoba menghubungi nomor ponsel David. Laki-laki itu menjawab panggilan telepon Emily hanya dalam dering pertama.
"Kau dimana"
"......"
"Baiklah, cepat pulang.... Kami menunggumu." Gadis itu langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
"Dave sebentar lagi sampai," jelas Emily kepada para orangtua disana.
"Dan satu hal lagi...." ucapan gadis itu berjeda sesaat. Manik mata hazel miliknya melihat satu persatu wajah dari ketiga orangtua yang ada di hadapannya.
"Emmmm.... Aku harap tidak ada satupun dari kalian yang memakan kue ulang tahun Dave. Meskipun Dave memaksa, aku mohon kalian menolaknya,"
"Kenapa Mily?" tanya Nyonya Elena penasaran.
"Karena aku membuatnya khusus untuk Dave, dan aku harap kalian jangan pernah mencoba untuk memakannya," jawab Emily dengan seringai licik di sudut bibir gadis itu.
Hanya beberapa menit saja terdengar deru dari kendaraan milik David memasuki area pekarangan rumah. Nyonya Grace menatap lewat jendela untuk memastikan lagi bahwa itu benar putranya, David.
Setelahnya mereka semua menunggu di balik pintu dan siap meniupkan terompet ketika David memasuki rumah pada langkah pertama.
"Surpriseeee....." semuanya berteriak bersamaan dan di ikuti dengan tiupan terompet.
"Selamat ulang tahun baby boy," ucap Nyonya Grace kepada putranya. Bagi wanita itu David tetaplah seorang anak kecil. Bayi laki-laki yang sangat di sayanginya.
"Hari ini ulang tahunku?" tanya David tidak percaya. Laki-laki itu selalu saja lupa tanggal ulang tahunnya sendiri. Tetapi anehnya dia bisa mengingat semua tanggal ulang tahun wanita yang bersamanya. Ya... David adalah seorang playboy yang sangat menyebalkan.
Sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di kepala David. Tentu saja pelakunya adalah Emily. Setiap tahunnya gadis itu selalu kesal pada David yang seolah sengaja melupakan hari ulang tahunnya sendiri.
"Itu adalah sebuah pukulan untuk membuat amnesia mu hilang. Setidaknya pukulan dariku bisa membuat mu sadar."
Nyonya Grace terlihat bersedih karena lagi-lagi putranya lupa hari ulang tahunya sendiri. Seolah semua kejutan yang ia siapkan adalah hal yang sia-sia.
Melihat raut kesedihan dari wajah ibunya, David pun segera memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang. "Aku hanya bercanda Mom. Mana mungkin aku melupakan hari ulang tahunku sendiri," bohong David sambil mengedipkan matanya pada Emily. Tuan Tom cukup paham dengan kepribadian putranya itu.
"Terima kasih untuk pesta kejutannya. Mommy adalah yang terbaik." Nyonya Grace pun kembali tersenyum bahagia.
"Selamat ulang tahun boy." Tuan Tom memeluk erat putranya itu.
Selanjutnya adalah ucapan selamat dari Nyonya Elena. "Selamat ulang tahun sayang."
"Thanks bibi Elena." David pun memeluk ibu sahabatnya itu layaknya ibunya sendiri. Hubungan mereka layaknya keluarga dengan hubungan darah. Mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Tidakkah kau ingin memberikanku sebuah pelukan di hari ulang tahunku?"
Tanpa menunggu jawaban dari Emily, David pun langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Mendekap hangat tubuh sahabat yang tumbuh bersamanya hingga mereka dewasa seperti sekarang.
Emily merupakan bagian dari perjalanan hidupnya. Juga merupakan seseorang yang sangat berarti untuknya.
"Selamat ulang tahun Dave," ucap Emily.
"Terimakasih dan tolonglah jangan terlalu sering memukulku. Aku takut ketampananku akan berkurang karena pukulanmu."
"Aku akan selalu memukulmu sampai kau tua," jawab Emily. Masih saling memeluk, keduanya pun tersenyum dengan candaan mereka.
Untuk beberapa waktu David terlupa bahwa ia pulang dengan seseorang yang ikut bersamanya.
David mengajak seorang gadis yang sejak tadi masih berdiri di luar rumahnya. Menunggu selesainya acara pembukaan kejutan ulang tahun untuk laki-laki yang mengajaknya ke tempat tersebut. Juga karena memang belum di persilahkan masuk oleh si pemilik rumah yaitu David.
"Aku hampir lupa," seru David.
Setelahnya laki-laki itu menggandeng seorang gadis cantik yang sempat di lupakannya sejak beberapa menit yang lalu.
"Mom, Dad, dan bibi Elena... Perkenalkan ini Tessa, pacarku," ucap David memperkenalkan gadis yang ikut bersamanya itu.
Ketiga orang tua itu sangat senang melihat David membawa gadis yang diakui sebagai pacarnya itu. Terlebih lagi Tessa memanglah gadis yang sangat cantik dan juga anggun.
Nyonya Grace mengajak Tessa untuk segera menuju meja makan.
Di lain sisi tinggallah Emily dan juga David yang tersisa di depan pintu masuk rumah tersebut. Emily sangat terkejut tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh David barusan.
Bukan tanpa sebab, yang pertama Tessa adalah teman sekolah mereka dulu dan yang kedua Tessa adalah wanita baik-baik. Emily tidak ingin Tessa terjebak dalam permainan sang playboy bodoh seperti David.
"Kau bilang pacar?" tanya Emily tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Iya pacar... Kenapa Mily?" David kembali bertanya seakan tidak terjadi apapun.
"Hey... Dave sadarlah, Tessa itu wanita baik, kamu jangan mempermainkannya."
"Aku tau Mily... tapi sepertinya kali ini aku serius," ucap Dave dengan penuh keyakinan.
Kata sepertinya terngiang-ngiang di telinga Emily, itu artinya David tidak seratus persen yakin dengan hubungan dan Tessa.
"Dia pacarmu yang keberapa?" tanya Emily lagi, karena memang mantan pacar David tidak terhitung lagi jumlahnya.
"Pacar ke.... Entahlah Mily, aku lupa." seringai Dave dengan tidak merasa bersalah.
Laki-laki itu berdiri tepat di hadapan Emily dan meletakkan kedua tangannya di kedua pundak gadis di hadapannya itu. "Tapi aku berjanji padamu, ini mungkin akan jadi yang terakhir."
David meninggalkan Emily yang masih mematung di tempatnya. Gadis itu masih tidak percaya bahwa David memacari Tessa yang dulunya di kenal sebagai murid yang sangat baik.
"Dasar gila," umpat Emily merasa kesal pada sahabatnya itu.