
"Apa perdebatan kalian telah selesai?" tanya Nyonya Elena pada putrinya.
Emily baru saja turun ke bawah untuk ikut sarapan bersama Ibunya dan juga David tentunya. Rumah yang di tempati Emily dan Ibunya adalah rumah kayu berlantai dua. Di bagian bawah ada satu kamar tidur yang di gunakan oleh Nyonya Elina, satu ruang keluarga, dapur dan juga kamar mandi. Sementara di lantai dua hanya da satu kamar tidur yang cukup luas lengkap dengan toilet di dalamnya dan kamar itu di gunakan oleh Emily. Selain sebagai kamar tidurnya, juga sebagai tempatnya untuk melukis.
Wajah Emily terlihat kusut, pertanda bahwa gadis berusia dua puluh tiga tahun itu sedang menahan kesal. Tentunya kesal kepada orang asing yang sedang menikmati sepotong roti di meja makan milik keluarganya.
Sementara itu orang yang membuat Emily kesal bersikap seolah tidak terjadi apapun. David justru terlihat sangat menikmati sarapannya. Bahkan laki-laki itu menambahkan lagi mengoleskan selai kacang pada rotinya.
"Aku harap tidak ada penyusup lagi yang masuk ke rumah kita dan sarapan bersama kita," gerutu Emily setelahnya. Gadis itu mendaratkan dirinya di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan David. Sumber kekesalannya di pagi itu.
"Kau benar Mily, aku harap tidak ada penyusup lagi di rumah mu," ujar David menimpali apa yang di ucapkan oleh Emily.
"Kalau penyusup itu datang lagi kau katakan padaku, maka akan aku pastikan bahwa aku akan menghajarnya untukmu," sambung David di ikuti dengan memasukkan potongan roti yang cukup besar ke dalam mulutnya. Bukan hanya itu, David malah mengedipkan sebelah matanya untuk membuat Emily semakin kesal.
"Tidak bisa kah kau berhenti bersikap menyebalkan? Kau membuatku kehilangan selera makan."
"Sudahlah Mily, kenapa kalian selalu saja bertengkar?" cegah Nyonya Elena menengahi perdebatan yang terjadi di antara putrinya dan juga David.
"Nikmati sarapanmu." Nyonya Elena meletakkan sepotong roti yang telah di olesi dengan selai blueberry. Selai favorit Emily.
"Hmmmm.... setidaknya rasa selai blueberry cukup membuat mood ku kembali membaik." Gadis itu menikmati sarapannya dan tidak mau memperdulikan David. Begitu juga dengan Nyonya Elena. Sementara David telah meneguk habis jus yang ada di tangannya.
"Kau tidak ingin berjalan-jalan denganku menikmati musim semi," ajak David pada Emily.
"Aku harus bekerja," jawab Emily sambil mengunyah roti di dalam mulutnya. Gadis itu bekerja di salah satu cafe yang ada di kota mereka. Letak cafe itu berjarak satu kilo meter dari rumah Emily dan juga David. Setiap harinya Emily memilih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuknya bekerja.
"Bukankah hari ini jadwal mu bekerja pada sore hari," ucap David menyela penolakan Emily. Laki-laki itu cukup hafal dengan jadwal Emily. Karena memang sebagian waktu yang David habiskan adalah bersama gadis itu.
"Ayolah Mily.... Aku akan kembali bekerja di luar kota dan kita akan bertemu satu bulan kemudian," bujuk David berharap Emily akan menerima ajakannya.
David memilih melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi di kota Bern. Setelah pendidikannya selesai laki-laki itu juga memilih bekerja di kota tersebut. Namun ketika waktu libur tiba, David memilih untuk kembali ke kota kelahirannya. Menikmati keindahan desa Murren yang seakan tidak pernah membuatnya bosan. Apalagi disana ada keluarganya dan juga sahabatnya Emily.
Lain halnya dengan Emily yang memilih untuk tetap tinggal di desa tempat mereka tinggal dan melanjutkan hobinya melukis. Sesekali gadis itu ke kota untuk mengantarkan hasil lukisannya kepada siapa saja yang membelinya. Emily memamerkan lukisannya melalui media sosial milik gadis itu. Tidak jarang pula David ikut membantu sahabat baiknya itu.
Meskipun setiap bertemu mereka selalu bertengkar, tetapi kedua tetap saling menyayangi dan saling menolong satu sama lain.
"Come on Mily, ayolah..."
Emily menatap malas pada David yang sedang memasang wajah memohon padanya. Padahal mereka selalu menghabiskan waktu bersama setiap kali David pulang.
"Iya... dan diam lah karna aku ingin menikmati sarapanku dengan tenang."
David mengikuti apa yang di katakan oleh sahabatnya itu. Laki-laki itu mengisyaratkan mengunci rapat mulutnya menggunakan gerakan tangannya.
Nyonya Elena hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
\=\=\=\=\=\=
David dan Emily mengayuh sepeda mereka masing-masing. Keduanya menikmati hari pertama musim semi. Meskipun udara masih terasa sejuk, tak membuat keduanya risau. Namun begitu baik Emily maupun David terlihat masih menggunakan baju hangat mereka. Apalagi lokasi tempat tinggal mereka berada di ketinggian dan di apit oleh beberapa pegunungan. Suasana desa tempat mereka tinggal begitu tenang dan indah.
"Kalahkan aku Mily kalau kamu bisa," ejek David yang mulai mengayuh sepedanya semakin laju.
Tak tinggal diam dengan tantangan David, Emily pun ikut mengejar David yang telah meninggalkannya sejauh beberapa meter. "Awas kau."
Keduanya bertingkah layaknya anak kecil yang sedang beradu balap sepeda. Tak butuh waktu lama, Emily pun berhasil menyeimbangkan kecepatan mereka.
"Kau fikir aku akan kalah darimu. Tidak akan aku biarkan lagi."
Sepeda milik gadis itu terus melaju dengan kencang. Menit selanjutnya..... Brukkkkk.... Emily terjatuh dari sepedanya karena gadis itu tidak sempat mengerem sepedanya ketika ia melihat sebuah batu menghalangi jalannya.
"Awwwww....." gadis itu meringis kesakitan. Sepedanya menimpa sebelah kakinya. Juga telapak tangan gadis itu mengeluarkan sedikit darah. Bukan luka serius, namun membuat Emily menangis. Yang membuat gadis itu menangis bukanlah karena luka kecilnya, tetapi karena gadis itu gagal untuk mengalahkan David.
"Kau baik-baik saja?" tanya David. Laki-laki itu tidak melanjutkan balapan sepeda mereka. Laki-laki itu duduk berlutut di hadapan Emily yang sedang menangis. David mengangkat sepeda yang menindih kaki gadis di hadapannya itu.
"Seharusnya kau berhati-hati. Lihat, sekarang kau terluka." Dengan sigap David membantu Emily untuk bisa berdiri.
"Aku bisa berdiri sendiri."
Mendapat penolakan dari Emily membuat David tersenyum menatap gadis itu. Emily tetaplah Emily yang selalu keras kepala dalam situasi apapun.
Perlahan Emily berdiri di atas kakinya sendiri. Meskipun sempat meringis kesakitan, namun nyatanya gadis itu masih sanggup berdiri dan berjalan.
"Sepertinya kau memang baik-baik saja." David lega karena sahabatnya itu bisa berjalan dengan baik. Emily pun pergi meninggalkan David seorang diri di tempatnya. Pun gadis itu juga meninggalkan sepeda miliknya.
David pun ikut mengikuti langkah Emily dan berjalan bersama.
"Kenapa kau tidak membawa sepedamu," tanya Emily karena melihat David berjalan tanpa sepedanya. Gadis itu juga mengusap sisa air mata yang tersisa. Itu adalah tangisan karena rasa kesalnya.
"Kau juga tidak membawa sepedamu," ucap David.
"Aku tidak suka lagi pada sepedaku," gerutu gadis itu. Baginya penyebab utama kegagalannya mengalahkan David adalah karena salah sepedanya, bukan karena kesalahannya sendiri.
Menit selanjutnya David telah berjongkok di hadapan Emily. Laki-laki itu membelakangi Emily. Dimana artinya David menawarkan punggungnya untuk menggendong sahabatnya yang baru saja terjatuh itu.
"Naiklah... Aku yakin kau tidak akan sanggup berjalan sampai ke rumah kita," pinta David tulus.
"Kau mengejekku?" tanya Emily kesal. Meskipun gadis itu tahu bahwa David menawarkan itu dengan sangat tulus.
David hanya tersenyum mendengar tuduhan gadis itu. "Ayolah, aku ingin kita segera sampai. Aku memohon padamu agar kau menerima tawaranku ini," bujuk laki-laki itu lagi.
"Baiklah. Tapi ingat ini adalah kemauanmu bukan aku yang meminta."
"Hmmmm...."
"Dan satu lagi..."
"Apa lagi Mily..." potong David karena Emily tidak kunjung naik ke punggungnya.
"Jangan katakan aku berat," Emily memicingkan kedua matanya. Ini adalah sebuah peringatan serius dari gadis itu.
"Oke... oke.... tidak akan pernah," ucap David sambil menahan tawa karena tingkah sahabatnya itu.
Emily pun naik ke punggung David. Keduanya bersama-sama menyusuri jalan ke arah rumah mereka. Perjalanan mereka di temani percakapan ringan tentang hidup mereka sekarang, juga tentang masa kecil keduanya.
"Tadi kenapa kau menangis?"
"Aku hanya kesal karena aku tidak berhasil mengalahkan mu," jawab Emily jujur.
"Hahaha...." david hanya tertawa renyah mendengar pengakuan gadis yang sedang berada di punggungnya itu. "Kau pasti sangat merindukanku saat aku jauh darimu."
Gadis itu sama sekali tidak menanggapi dan mengalihkan topik pembicaraan mereka. Begitulah keduanya menghabiskan waktu ketika bersama.