The Picture Of Love

The Picture Of Love
Dua Pengakuan



"Kau masih belum memaafkan aku?" tanya Emily pada David yang sejak tadi terus mengabaikan dirinya. Padahal gadis itu telah memasang wajah memohon dan juga telah meminta maaf kepada David sejak satu jam lamanya. Bahkan Emily telah meminta maaf pada sahabatnya itu sejak dua hari yang lalu setelah pesta ulang tahun David selesai. Namun David belum juga memaafkannya. Bahkan mengabaikan gadis itu dengan tidak berbicara padanya.


Saat ini Emily berada di rumah David. Tepatnya di kamar milik laki-laki itu. Hanya ada mereka berdua di rumah. Sementara Ibu dan Ayah David telah pergi ke kota untuk membeli beberapa peralatan dapur baru. Begitulah kira-kira yang di katakan oleh Bibi Grace sebelum pergi.


Keduanya sekarang sedang berada di ruang keluarga rumah tersebut. Mereka di temani oleh suara televisi yang menyala namun sejak tadi tidak ada yang memperhatikan benda berbentuk persegi empat tersebut.


Emily berada di sana untuk kembali meminta maaf pada David. Gadis itu paham bahwa David sangat kesal padanya karena telah merusak pesta ulang tahun pertamanya bersama Tessa. Terutama perkara kue asin buatannya. Emily sangat tahu bahwa sejak masa sekolah dulu David sudah menyukai Tessa. Namun dulu David tidak berani menyatakan cintanya itu kepada Tessa.


Penyebabnya bukan karena David takut bersaing dengan banyak laki-laki yang menyukai Tessa. Jika di bandingkan denganĀ  semua laki-laki yang mengejar Tessa, David lah yang paling tampan dan paling populer di antara mereka semua. Bukan hanya di antara pengagum Tessa saja, tetapi di antara seluruh siswa laki-laki di sekolah mereka dulu David lah yang paling di gilai oleh semua gadis.


Tessa adalah siswi populer pada masa itu, karena kecantikan dan sikap rendah hati yang melekat pada gadis itu. Untuk pertama kalinya David takut cintanya di tolak oleh Tessa karena David terkenal sebagai playboy.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?" tanya Tessa memelas.


Sebenarnya David sama sekali tidak marah pada Emily. Hanya saja laki-laki itu ingin membalas mengerjai Emily. David sangat tahu bahwa Emily tidak bisa berlama-lama marah dengannya. Meskipun terkadang David sangat membuat Emily kesal, tetapi sahabatnya itu tidak akan mendiaminya lebih dari tiga jam.


"Dave ayolah... itu hanya persoalan kue. Aku bisa membuatkan mu sepuluh kue lainnya untuk kau berikan pada Tessa." Emily mulai merasa geram pada sikap David. Bagi gadis itu persoalan kue hanyalah persoalan sepela dan tidak perlu di besar-besarkan seperti sekarang.


"Lagi pula aku sudah meminta maaf pada Tessa dan hubungan kalian masih baik-baik saja."


David masih memilih fokus pada buku bacaannya. Laki-laki tampan itu sama sekali tidak memperdulikan semua perkataan Emily. Entah buku keberapa yang sekarang David baca. Karena memang sejak tadi David terus berganti-ganti buku setiap sepuluh menit sekali.


"Lagi pula buku yang kau baca itu terbaik," ujar Emily sambil membenarkan posisi buku yang David baca.


"Jika ingin mengabaikanku setidaknya lakukan dengan cara yang benar." Gelak tawa Emily pecah bersamaan dengan ucapan terakhirnya.


"Sial," David merutuki kebodohan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya tidak memperhatikan bahwa buku yang di pegangnya terbalik. Sejujurnya sejak tadi David sama sekali tidak tahu buku apa yang sedang di pegangnya. Laki-laki itu hanya ingin mengabaikan Emily, namun sekarang dirinyalah yang terlihat bodoh di depan sahabatnya itu.


"Diamlah Mily," ujar David karena sudah tidak tahan mendengar Emily menertawakan dirinya.


Emily justru semakin tertawa penuh kemenangan. "Dasar bodoh."


"Aku mohon hentikanlah," pinta David.


Secara perlahan Emily berhenti menertawakan sahabat tampannya itu. "Jangan pernah mencoba untuk mengabaikanku Dave. Kau hanya akan terlihat konyol."


"Hmmmm..." guman David.


"Katakan padaku... Apa salahku tidak bisa kau maafkan? Sebenarnya semua yang terjadi bukan sepenuhnya salahku."


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kau berkencan dengan Tessa. Dan semua yang ku lakukan karena ketidaktahuanku. Aku hanya ingin memberikan kejutan istimewa untukmu."


David menyadari bahwa semuanya bukan salah Emily. Benar apa yang Emily katakan bahwa itu semua bukan sepenuhnya salah gadis itu. Lagi pula Emily sudah beberapa kali meminta maaf pada Tessa.


"Sejak kapan kau mengencani Tessa?" tanya Emily sangat ingin tahu. Bahkan Emily memicingkan kedua matanya menuntut agar pertanyaannya segera di jawab oleh David.


"Sejak beberapa jam sebelum aku mengajaknya ke rumah."


"Kau serius?"


"Tentu saja."


Emily seperti kehilangan kata-kata karena jawaban David. Ini adalah kali pertama David mengajak seorang gadis ke rumahnya untuk di kenalkan pada Bibi Grace dan Uncle Tom. Padahal mereka baru berkencan hanya dalam hitungan jam.


Biasanya David tidak pernah mengenalkan pacarnya pada kedua orang tuanya. Hanya Emily yang mengetahui semua pacar-pacar David selama ini. Lalu setelah beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian hubungan asmara David berakhir. Salah satu penyebabnya adalah Emily. Semua mantan pacar David merasa cemburu pada kedekatan David dan Emily.


"Itu terjadi begitu saja Mily. Aku bertemu Tessa beberapa kali di Bern dan kami mulai dekat. Lalu...." David mengedikkan bahunya dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Lalu kau mengencaninya dan mengajaknya ke rumah untuk kau perkenalkan pada orangtuamu," ucap Emily melengkapi cerita asmara David.


"Ya begitulah."


Tiba-tiba Emily mengambil buku yang ada di tangan David dan memukul laki-laki itu dengan bukunya. Emily merasa sangat kesal pada sahabatnya itu.


Setelah mendapatkan beberapa pukulan akhirnya David merebut kembali buku miliknya dari tangan Emily. Jika David tidak menghentikan gadis itu, bisa saja David akan mendapatkan beberapa lebam dari hasil pukulan Emily.


"Hentikan Mily, ini sangat sakit," ujar David. Laki-laki itu memegang saalah satu tangan Emily yang memegang buku. Keduanya duduk saling berhadapan dan saling menatapa satu sama lain. Pancaran kedua mata Emily terlihat jelas bahwa gadis itu sangat kesal pada laki-laki di hadapannya saat ini.


"Apa kau bodoh?" tanya Emily setelah berhasil mengatur deru nafasnya.


"Apa maksudmu?" David sungguh tidak mengerti pada perkataan sahabat baiknya itu.


"Setelah kau mengenalkannya pada Bibi Grace dan Uncle Tom lalu satu minggu kemudian atau satu bulan kemudian hubungan kau dan Tessa akan berakhir. Kau tahu, kedua orangtuamu sangat menyukai Tessa. Bagaimana kalau nantinya mereka kecewa karena putranya mencampakkan gadis sebaik Tessa," jelas Emily panjang lebar.


Benar apa yang Emily katakan, bahwa kedua orangtua David sangat menyukai Tessa meskipun mereka baru bertemu satu kali dengan gadis itu. Emily hanya tidak mau kedua orangtua David kecewa. Karena bagi Emily Bibi Grace dan Uncle Tom sudah seperti orangtuanya sendiri.


David tertegun mendengar perkataan Emily. Laki-laki itu sungguh tidak menduga bahwa sahabatnya Emily memikirkan hal sejauh itu tentang hubungannya dan Tessa.


Hati David merasa terharu karena perhatian yang Emily berikan untuknya dan untuk kedua orangtuanya. Emily benar-benar gadis yang baik.


Kemudian David tersenyum pada Emily yang masih saja memasang wajah kesal. Laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di kedua pundak Emily. "Kau sangat baik Mily. Aku tidak menyangka bahwa kau akan berfikir begitu tentang perasaan kedua orangtuaku," ucap David. Laki-laki itu tahu bahwa Emily sangat tulus menyayangi keluarganya.


"Kau tenang saja. Aku yakin ini akan menjadi perjalanan cinta teakhirku."


"Kau janji?" tanya Emily untuk memastikan kebenaran dari ucapan David.


"Aku janji," jawab David dengan sungguh-sungguh.


David membawa Emily ke dalam pelukannya. Sungguh David merasa sangat beruntung memiliki seorang sahabat sebaik Emily. David sangat menyanyangi Emily dengan sepenuh hatinya.


"Kau mencintainya?" tanya Emily yang masih berada dalam pelukan David.


"Hmmmm... Bahkan sejak dulu," ucap David.


"Dan aku menyayangimu. Aku tahu bahwa hidupku akan baik-baik saja selama aku bersamamu. Tetaplah bersamaku," ujar David. Sebuah pengakuan dan permintaan yang tulus kepada sahabatnya Emily.