The First Rainbow In This Month

The First Rainbow In This Month
Permen Gulali



...sebelumnya author minta maaf ya leader, bukannya ngga bermaksud ngga ngelanjutin ceritanya, tapi emang author lagi sakit kemaren, author sekarang udah sehat lagi kok. Maaf banget yaaa...


...udah, yuk baca lagi ceritanya, makasi udah nungguin ya T_T...


Liburan telah berakhir, ini adalah hari ke 5 sejak hari ketika Erlang menyampaikan perasaannya kepada Grane, ada rasa sedikit canggung diantara mereka berdua, namun Erlang tidak begitu canggung, karena Erlang yang sangat bahagia ketika menyampaikan perasaannya, dan dia sangat berharap untuk mendapatkan cinta Grane.


"Kak, ini aku ada sesuatu untuk kakak, kakak terima ya!" ujar seorang adik kelas yang memberikan sekotak coklat kepada Erlang, lalu pergi.


"O…oke" kata Erlang bingung.


Erlang langsung pergi ke kelas setelah kejadian itu, sampainya dia di mejanya, dia memberikan sekotak coklat itu kepada Grane yang sedang belajar.


"Mmm…again?" tanya grane heran.


"Again…again, udah gua ngga ngerti tu bahasa, males banget sih gua, kemana aja gua pergi, adaaaa aja yang selalu beri gua ini lh, beri gua itu lah, capek banget deh jadi cowok ganteng dan populer!" ujar Erlang dengan pedenya, Grane dengan gemasnya melihat Erlang yang bersikap seperti itu langsung memukul dahi Erlang. Erlang seketika ngambek karena Grane dan membenamkan kepalanya di lipatan tangan diatas meja, beberapa menit kemudian, dia melihat kearah Grane yang sedang serius belajar, hari ini Erlang sangat bahagia, karena kecanggungan diantara mereka sudah mulai hilang, dan Grane pun makin terlihat cantik dengan belajar serius seperti itu, Grane menyelipkan rambut coklatnya dibalik telinganya, sehingga anting mutiara dan leher jenjangnya terlihat, itu membuat Erlang malu dan segera memperbaiki rambutnya seperti sedia kala.


"Lu kalo mau belajar, ya belajar aja, ngga usah di pamerin tu pipi mulus lu, iya gua tau, wajah lu itu mulus kek singkong tanpa kulit!" ujar Erlang karena malu dan ngga tau harus ngomong apa.


"Idih, kamu kenapa sih Lang? hahahaha" kata Grane sambil tertawa melihat telinga lelaki tampan itu memerah.


Grane terus memandangi Erlang karena ingin menjahili lelaki itu, dan ternyata dia berhasil, Erlang terus salah tingkah dengan tatapan Grane itu yang membuat dia tidak tahan untuk tatapan Grane, Erlang langsung menarik tangan Grane dan membawa Grane pergi dari ruang kelas.


"Lang, kamu kenapa, jangan ditarik dong tangan aku, sakiiit!" ujar Grane berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar dan berotot milik Erlang. Erlang tidak mendengarkan perkataan Grane yang menyuruhnya berhenti, dia terus menarik tangan Grane ketempat yang dia mau.


Sesampainya disebuah ruangan yang terpencil dari ruangan kelas lain, Erlang melepaskan perlahan tangan Grane dan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Grane.


"Grane, gua…gua mau ngomong serius sama lu" ujar Erlang.


"Lu masih ingat kata-kata gua waktu itu ngga?" tanya Erlang lagi.


"Masih, kenapa?"


"Emm…gua mau bilang lagi sama lu, dengan penuh kesadaran dan kewarasan! gua suka sama lu Grane, mau ngga lu jadi pacar gua?" ujar Erlang sambil memejamkan mata.


Erlang masih merasa kalau sekarang Grane masih diam, Erlang membuka matanya perlahan dan mengintip kearah Grane, saat itu dia melihat Grane sedang menangis, itu membuat Erlang khawatir dengan ucapannya.


"Ah… kalo lu belum siap dengernya, gapapa kok, gua ngerti, gua aja yang ngotot pengen dapetin cintanya lu, bukan Ax…" seketika perkataan Erlang terhenti ketika dia merasakan pelukan dari orang yang dicintainya.


"Maaf ya Lang, selama ini aku gantung perasaan kamu, dan ngga ngasih perasaan yang pasti, maaf banget ya!" ujar Grane sambil menangis dipelukan Erlang.


"M… maksud kamu, perasaan kamu tetap sama?" tanya Erlang lagi.


"Ngga, aku juga suka sama kamu Lang, ngga tau sejak kapan aku memiliki perasaan seperti ini sama kamu, tapi aku baru menyadarinya, kalau aku beneran sayang sama kamu!" jelas Grane sambil melepas pelukannya.


"Jadi, lu suka sama gua, kita jadian dong sekarang?" tanya Erlang tidak percaya sambil memegang kedua bahu ramping Grane.


"Mmm" ujar Grane sambil mengangguk.


Erlang yang sangat senang mendengar pernyataan dari Grane, langsung memeluk tubuh mungil Grane, dan tertawa dengan girang.


Mereka kembali keruang kelas mereka sambil berpegangan tangan dan terlihat sangat senang. Murid yang ada di koridor heboh menyaksikan mereka berdua, sudah seperti pasangan yang sangat sangat sempurna.


'Gua ngga nyangka, ternyata yang dikatakan orang itu benar, yang paling manis dan lembut itu adalah hati seorang gadis yang seperti permen gulali, yaitu lu, Granenda' ujar Erlang dalam hati sambil tersenyum.