
Sudah lewat 5 hari semenjak berita Grane masuk UKS bersama Erlang itu, sekarang mereka berdua sering ditanya tentang hubungan mereka, dan Grane menjawab kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Lang, Minggu depan kan kita ujian, belajar bareng yuk!" ajak Grane sepulang sekolah.
"Ngga ah, males, lu jadi orang jangan terlalu rajin, atau kalo lu mau, lu bisa pergi sama gua akhir pekan ini kemana gitu, ke perpustakaan juga boleh, asalkan sama gua, gimana mau ngga?" kata Erlang sambil merangkul pundak Grane yang tinggi nya hanya sebahu Erlang.
"Yee, katanya tadi ngga mau, kenapa malah ngajak ke perpustakaan? bilang aja kamu mau minta tolong temenin ke perpustakaan!" ledek Grane tidak paham dengan maksud ajakan Erlang.
Erlang tersenyum dan mengacak rambut Grane, "Ih, kok di rusak sih!" kata grane cemberut karena rambutnya sekarang berantakan.
Erlang mengacak rambut Grane, dia langsung lari keparkiran kan meninggalkan Grane yang makin cemberut karena rambutnya berantakan.
"Ayo buruan, sebagai permintaan maaf, gua antar deh lu pulang ya!"
Entah sejak kapan mereka menjadi dekat, tapi itu membuat Grane senang. "Tungguin aku Lang!" Grane berlari kecil ke arah parkiran, sebelum sampai ke parkiran, Axel datang dan membuat langkah serta senyum riang grane terhenti.
"Ada apa?" tanyanya singkat.
"Kamu beneran lagi dekat sama Erlang ya Grane?" Axel kembali bertanya kepada Grane.
"Kenapa kamu tiba-tiba peduli dengan hubungan aku?" katanya jutek "Bukannya kamu bilang aku perlu berteman dengan teman sekelas ya, ya udah aku udah dekat dengan teman sekelas, yaitu Erlang, ada yang salah?"
"Kamu sebenarnya kenapa sih Cel, udah jelas-jelas sebulan ini kamu ngejauhin aku, kamu lebih mentingin dunia percintaan kamu dibanding dunia persahabatan kamu, aku tau selama ini aku telah banyak bergantung sama kamu, aku juga tau selama ini aku ngebebani kamu, tapi itu karna aku ngga punya siapa-siapa lagi Cel, kamu seharusnya lebih tau soal itu, semenjak mama papa ngga ada, kamu yang selalu nemenin aku, apa salah juga sekarang kalo aku terus sama kamu, itu alasannya karna aku udah nyaman sama kamu Cel, aku tu suka sama kamu, kenapa ngga ngerti sih!?" emosi serta kesedihan yang sebulan ini ditahan oleh Grane akhirnya tersampaikan dengan jelas kepada Axel.
Axel yang mendengar semua kenyataan dari Grane itu hanya bisa membuatnya diam terpaku tanpa mengatakan apa-apa.
"Grane, lu ngapain lagi sih?" ujar Erlang yang dari belakang Axel dan memegang tangan Grane untuk menenangkan hatinya. "Lu juga, ngapain lu disini, mau nyakitin Grane lagi? belum puas lu ngeliat dia sakit kemaren, ngga habis pikir deh gua, orang yang sudah punya pacar, berani juga ngegangguin hubungan orang, ngga cukup satu wanita ya lu?!"
"Lang, kita pergi aja yuk, jangan hiraukan dia, ngga ada gunanya ngomong sama dia" ujar Grane sambil menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Ok, lu duluan keparkiran deh, ada yang mau gua perundingin ama ni anak!"
"Udah, ngga usah, ayok Lang!" Grane menarik tangan Erlang dan pergi meninggalkan Axel sendiri.
"Iya iya, eh lu, jangan berani-berani lu gangguin Grane lagi, urusin aja tuh si Jessy!"
"Ayooook!!" Grane terus menarik tangan Erlang keparkiran dan mereka pulang bersama meninggalkan Axel sendirian bersama dengan perasaannya yang ngga karuan.
Diatas motor Erlang, Grane terus menangis dan membenamkan kepalanya di punggung Erlang. Erlang yang tau dengan perasaan luka Grane hanya bisa diam dan membiarkan Grane menangis sepuasnya di punggungnya.