
Dikarenakan perawatan intensif dari ibu, aku harus merelakan keseharian sekolah yang biasa kujalani. Baik Ibu maupun aku, kami berdua ingin agar aku segera sembuh dari trauma dan dapat menjalani keseharianku kembali. Perawatan yang kulalui cukup berat. Di samping terapi yang selalu Ibu berikan, aku juga harus menjalani latihan berat dari teman ayahku yang menjadi guru bela diriku. Aku tidak menyangka akan diminta untuk menyelam di kolam renang selama 1 menit, yang bahkan 30 detik saja aku sudah tidak kuat. Setiap kali memasuki air, aku selalu mengingat tragedi di pantai kala itu. Itu selalu membuatku panik dan kehilangan konsentrasi. Dadaku mulai sesak dan kesadaranku sedikit demi sedikit menghilang.
Dengan sebuah program "terapi" yang kujalani. --yang menurutku lebih mirip penyiksaan-- membuatku mulai terbiasa dengan air. Selama menyelam, tentu saja aku tidak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang menakutkan tragedi di pantai. Namun, guruku selalu menyemangatiku untuk dapat menghadapi rasa takutku seperti Ayah yang melindungiku walau tahu dirinya kemungkinan tidak akan selamat jika melindungiku. Mengingat kembali pengorbanan ayah dan keberaniannya memberiku kekuatan untuk menghadapi rasa takutku. Kini, aku telah memperlihatkan perkembangan pesat selama pelatihan milit-- maaf, maksudku terapi penyembuhan pasca trauma. Aku sudah dapat mengatasi rasa takutku terhadap air berkat mengingat keberanian ayah dan mencoba menjadi seperti dirinya. Setelah 1 bulan 25 hari lamanya, aku sudah diperbolehkan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Tentu saja, aku harus mengikuti pelatihan bela diri dari guruku 2 minggu sekali ditambah tetap mengonsumsi obat yang diberikan Ibu.
Aku kembali menjalani keseharianku yang tertunda. Jelas saja, pelajaran di sekolah pun pasti tertunda. Oleh karena itu, aku memilih mendatangi sekolah pagi hari sekali ketika kelas masih sepi untuk menghindari kontak dengan orang-orang. Untungnya, kami sebagai murid bebas untuk memilih bangku belajar sesuai kedatangan, sehingga aku memilih bangku paling belakang. Aku membuka pintu kelas perlahan, sepertinya aku orang pertama di kelas.
"Zen, kamu tidak apa-apa?"
Seorang anak perempuan tiba-tiba mendatangi mejaku dan itu membuatku terkejut. Kupikir tidak ada siapapun di kelas, jadi dari mana dia datang?
"Kau mengejutkanku, Vega.Bisakah kau memanggilku lebih dulu? "
"Aku sudah memangil-manggilmu sedari tadi, tapi kau tidak merespon. Kupikir kau sakit atau apa, makanya aku mendekatimu. Jadi, kamu tidak apa-apa? "
Aku menghela nafas.
"Tidak, kok, aku baik-baik saja, "
Aku mengusap leher belakangku.
"Ah, gerakan itu, kau sedang menyembunyikan sesuatu ya? "
Aku tersentak. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahuinya? Kupikir hanya ibuku saja yang tahu.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kau bercanda? Kita sudah saling kenal bahkan sejak di bangku kelas 1. Kaupikir siapa yang selalu bermain bersamamu sejak kau menjaga jarak dengan orang lain? Dasar anti-sosial, "
Aku tertohok. Aku tidak bisa menyangkalnya, karena memang begitu faktanya. Semenjak tragedi di pantai, aku menjadi lebih pendiam dan menjaga jarak dari orang lain. Hanya Vega yang terus menerus mendekatiku --walau sebenarnya sudah berkali-kali aku memintanya menjauh, tetapi aku menyerah dengan anak periang ini.
"Aku bukan anti-sosial. Aku hanya malas berinteraksi dengan orang-orang. itu saja,"
Awalnya aku ingin membalas perkataannya yang mengatakan yang tadi itu hanyalah bualan --walau itu benar-- tetapi lagi-lagi aku mengalah.
"Aku hanya memikirkan bagaimana mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas dan bagaimana menghadapi orang lain sekarang,"
"Hah? Hanya itu tapi wajahmu sudah terlihat seperti orang yang kehilangan harapan. Tenang saja, aku akan membantumu. Untuk pelajaran, kau bisa datang ke rumahku untuk menyalin catatan pelajaran di kelas. Sedangkan untuk menghadapi orang lain kau hanya perlu lakukan seperti biasa. Ah, maaf aku baru ingat kau yang seperti biasa selalu menghindari kontak dengan orang lain. Lupakan saja saranku barusan. Atau mungkin kau bisa mencoba untuk lebih santai. Tidak semua orang persis seperti yang kau pikirkan. Malahan, mungkin lebih banyak yang akan menerimamu. Intinya kau hanya harus mencoba,"
Aku tercengang. Saran yang diberikannya memang terdengar mudah, tetapi selama ini aku tidak mau memikirkannya. Lebih tepatnya, rasa takutku menghambatku. Aku tersenyum.
"Apa kau habis nonton film? Sepertinya aku pernah mendengar saranmu sebelumnya,"
"Tidak sopan, ya. Beginipun, aku juga bisa memikirkan hal seperti itu, "
Aku tertawa pelan.
"Terima kasih, "
"Tidak perlu berterima kasih, jangan sungkan meminta bantuanku kapanpun. Dengan begitu aku pun dapat meminta bantuanmu kapanpun,"
Kami melanjutkan pembicaraan hingga waktu pelajaran pertama dimulai.
Pukul 15.30, bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan waktu pulang sudah tiba. Sesuai rencana, aku akan mengunjungi rumah Vega untuk menyalin catatan pelajaran. Kami berjalan beriringan menuju rumah Vega. Kami berbincang dan bercanda. Hingga kami melewati sebuah area konstruksi bangunan. Setelah cukup berbincang-bincang, aku menatap lurus ke depan. Seketika mataku terbelalak, dan tubuhku mematung. Seorang pekerja yang tengah mengangkat pipa besi memiliki benang merah menjuntai di atas kepalanya. Sial, dari semuanya mengapa harus saat ini dan di sini?, pikirku saat itu. Aku menarik lenagn Vega dan tiba-tiba sebuah balok besi berukuran besar jatuh menimpa pekerja yang memiliki tanda kematian --sebutan yang kubuat untuk benang merah yang menjuntai di atas kepala seseorang--.
Vega menjerit. Suasana menjadi kacau. Orang-orang berlarian mendatangi tempat kejadian untuk membantu korban. Di antaranya ada yang memanggil ambulan. Walau sudah berkali-kali melihat yang seperti ini, tetap saja aku masih belum terbiasa. Aku menjadi panik. Nafasku sesak dan kepalaku pusing. Namun, aku mencoba menguatkan diriku. Aku mencoba menguatkan diriku. Tiba-tiba, muncul sebuah pemikiran di benakku.
"Mengapa aku begitu histeris melihat kejadian ini? Toh jutaan manusia mati setiap harinya dan aku bersikap seakan tidak terjadi apa-apa dan bahkan tidak peduli. Mengapa aku harus mencemaskan orang yang bahkan tidak kukenal? Dia tidak pernah melakukan apapun untukku. Jadi, mungkin lebih baik aku harus bersikap tenang, seakan itu bukan urusanku.
Aku membenci diriku sendiri karena memikirkan hal tersebut. Namun, yang lebih kubenci adalah diriku yang menjadi tenang dan bahkan menerima pemikiran tersebut. Setelah kejadian itu, aku mengantarkan Vega pulang ke rumahnya. Vega dengan wajah sedih, takut, dan terkejut membuat orang tua Vega mendekatinya dengan wajah kebingungan dan berusaha menenangkannya. Aku tidak jadi menyalin catatannya. Jika aku melakukannya, aku hanyalah orang tidak tahu diri yang tidak bisa membaca situasi. Setelah menceritakan semuanya kepada orang tua Vega, aku pamit dan berjalan pulang. Di perjalanan, pemikiran tadi terus terngiang-ngiang di benakku. Aku rasa, jika aku menerima pemikiran ini aku dapat menghadapi kematian-kematian tak terduga kedepannya. Entah mengapa, aku merasa bahwa aku akan melihat kematian seseorang di depan mataku kembali. Aku memilih menerimanya, dan sejak saat itu akau hanya mempedulikan orang-orang yang berharga dan baik padaku, dan tidak mempedulikan orang-orang selainnya.