
3 minggu telah berlalu semenjak kepergian ayah. Aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Para dokter terkejut dengan kecepatan penyembuhan luka-luka di tubuhku —itu yang tidak sengaja kudengar dari percakapan ibu dan dokter. Aku masih merasakan kesedihan dan kerinduan yang sangat mendalam kepada ayah. Bagaimana tidak, seseorang yang berharga bagimu pergi begitu saja, meninggalkanmu di belakang. Semenjak kejadian itu, aku menjalani sebuah terapi penyembuhan trauma pasca kecelakaan. Aku menjadi takut terhadap air. Setiap kali tubuhku memasuki air, aku dapat mengingat dengan sangat jelas semua yang terjadi di laut lepas. Suara dari ombak, dorongannya yang berusaha untuk menenggelamkanku, rasa sakit akan kehabisan nafas, kehilangan harapan untuk hidup, bahkan pelukan ayah sekalipun. Aku bersyukur ibuku adalah ahli psikologi, jadi aku bisa menjalani terapi ini dengan lebih tenang.
Ibu menjadi overprotektif semenjak kejadian itu. Aku belum diperbolehkan kembali bersekolah. Aku mengerti mengapa ibu menjadi seperti itu. Tidak ada orang yang ingin merasakan kesedihan kehilangan orang yang berharga baginya untuk yang kedua kalinya. Hal itu pun berlaku untukku. Aku tidak ingin kehilangan ibu. Ibu kembali menjadi aktif bekerja di rumah sakit kejiwaan—setelah ayah memintanya untuk tidak bekerja jika tidak ada panggilan semenjak 2 tahun lalu. Tidak lupa, ibu membawaku bersamanya untuk melakukan terapi di hari kerjanya, dan juga terapi dirumah ketika libur. Trauma yang kualami bisa dibilang tidak terlalu berat, karena aku hanya akan merasakan ketakutan jika setengah atau seluruh tubuhku terendam air, aku akan baik-baik saja jika hanya merendam salah satu bagian tubuhku ke dalam air.
Sudah 1 minggu sejak aku pertama kali menjalani terapi. Hari ini ibu mendapatkan jadwal untuk bekerja. Sudah pasti aku akan ikut dengan ibu. Aku berjalan berdampingan dengan ibu menuju halte bus.
"Zen, apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang?"
Ibu memulai pembicaraan.
"Yaa…lebih baik, mungkin?"
"Kamu ini, kamu yang merasakannya, seharusnya kamu tahu kondisimu sekarang. Kalau ada yang kamu inginkan atau hal yang ingin ditanyakan katakan saja, ibu selalu siap membantumu,"
Aku tertawa pelan mendengar perkataan ibu.
"Baiklah, bu,"
Aku melihat ibu memandangku. Saat itu, aku tidak tahu arti dari tatapan ibu. Rasanya ibu menatapku dengan senyuman tipis dan tatapan penuh kesedihan dan rasa kasihan. Entahlah, aku tidak begitu yakin.
Tibalah kami di sebuah persimpangan jalan besar. Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah untuk para pejalan kaki. Kami menunggu bergantinya lampu merah bersama 3 orang lainnya. Di tengah ketenangan itu, muncul suara gaduh dari belakang kami. Perlahan tapi pasti, suara gaduh itu semakin membesar.
"Hei, kalian! Hentikan pencuri itu!"
Seorang pria yang membawa sebuah tas kecil berlari dikejar oleh seorang pria lainnya di belakangnya yang sedari tadi berteriak meminta bantuan.
"Minggir! Jangan halangi aku!"
Pria yang mencuri itu mendekat ke arah kami. Ibu menggenggam erat bahuku. Pencuri itu dengan kasarnya menyikut orang-orang yang sedang menunggu di persimpangan. Tubuhku ditarik oleh genggaman erat ibu yang disikut oleh pencuri itu. Saat itu, aku melihat sesuatu yang aneh, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Seutas benang merah menjuntai di atas kepala pencuri itu. Seorang pria yang sedari tadi menunggu bersama kami di persimpangan jalan merasa tersinggung dan mengejar pencuri. Sedangkan orang yang mengejar pencuri sedari tadi berhenti di persimpangan karena menyadari lampu yang merah.
Pencuri yang dikejar juga pria yang disikut tadi nekat memaksakan untuk menyeberangi jalan walau lampu pejalan kaki masih merah. Seketika, muncul sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh pencuri dan pria yang mengejarnya. Aku terbelalak melihat tubuh si pencuri, benang merah di atas kepalanya perlahan putus dan menghilang. Ibu menjerit dan menutup mataku. Di tengah lampu merah para pejalan kaki, di pagi hari itu, di tengah persimpangan, itu adalah kali pertamanya aku melihat kematian seseorang dengan kedua mataku. Kepalaku rasanya seperti berputar. Aku merasa mual. Kusingkirkan tangan ibu yang menutupi mataku dan mengeluarkan isi perutku di jalan. Tubuhku kehilangan kesimbangan. Seketika semua menjadi gelap.
Aku terbangun di sebuah ruangan dengan kondisi berbaring di atas ranjang kecil, seperti ranjang untuk pemeriksaan pasien di sebuah rumah sakit.
"Zen, kamu tidak apa-apa?"
Aku yang masih setengah sadar mencoba mengenali siapa yang bertanya kepadaku, ternyata itu ibu yang duduk di sebelah ranjangku. Perlahan aku ingat apa yang terjadi sebelum pingsan dan memeluk ibuku. Ibu yang awalnya terkejut mulai mengusap-usap kepalaku.
"Tenanglah, semuanya sudah aman," Tiba-tiba saja, tv yang berada di ruangan itu menampilkan sebuah acara. Berita kejadian pagi ini.
Ibu yang melepas pelukannya, mengambil remote dan mematikan tv. Mungkin ibu tidak ingin aku mengingat kembali kejadian pagi tadi.
"Ibu minta maaf, Zen. Harusnya ibu langsung mematikan siaran itu tadi, bukan membiarkannya terlebih dahulu,"
Ibu memelukku kembali.
"Tidak apa-apa, bu. Aku juga ingin mengetahui nasib pria yang mengejar pencuri tadi,"
Ibu memutuskan untuk menunggu sampai aku merasa tenang. Setelah aku merasa tenang, ibu kembali melakukan pekerjaannya. Terapiku akan dimulai saat ibu istirahat atau saat jadwal pekerjaannya telah selesai. Ibu memutuskan untuk melaksanakan terapiku di rumah sakit, ibu bilang itu mempermudah pekerjaannya. Terapiku bisa dibilang cukup mudah, hanya perlu menjawab pertanyaan, bermain, dan hal lainnya di rumah sakit, sedangkan di rumah ibu membantuku untuk mengurangi sedikit demi sedikit rasa takutku terhadap air.
Hari menjelang malam, kami tiba di rumah. Aku berganti pakaian dan ibu tengah beristirahat di sofa ruang keluarga.
"Zen, kemarilah,"
Ibu memanggilku di ruang keluarga.
"Ada apa, bu?"
Aku mendekati ibu dan duduk di sebelahnya.
"Ibu membawakan sesuatu,"
Ibu mengeluarkan sebuah buku hardcover dan seperangkat alat tulis.
"Mulai hari ini, kamu tulislah semua pengalamanmu dan yang kamu rasakan di buku ini, singkatnya ini adalah buku diary. Ibu harap kamu bisa menuruti ibu dan menjaga buku ini. Bagaimana? Apa kamu bisa?"
Aku menerima buku dan seperangkat alat tulis itu dan melihatnya dengan seksama. Aku tersenyum ke arah ibu.
"Tenang saja, bu. Aku akan berusaha,"
Ibu tersenyum tipis ke arahku. Lagi-lagi tatapannya seperti tatapan pagi tadi.
Sejujurnya ada yang tidak kumengerti saat itu. Mengapa ibu memintaku menulis buku diary ini jika ibu tidak ingin aku mengingat kejadian hari ini? Entahlah, aku tidak mengetahuinya.
Aku kembali ke kamarku dan mulai menulis semua kejadian hari ini di buku diary.