
"Jam berapa sekarang?"
Aku terbangun oleh suara alarm ponselku yang terus mengganggu tidurku. Waktu menunjukan pukul 05.15. Aku bangun dari tidur, melakukan beberapa peregangan, dan beranjak bangun dari tempat tidurku. Kulihat kalender yang berada di pintu kamarku.
"Sudah tanggal 7 lagi?"
Aku menggaruk kepalaku dan pergi menuju kamar mandi. Kuselesaikan keperluanku di kamar mandi dan pergi menuju dapur. Aku mengecek kulkas, barangkali ada yang bisa aku makan. Sayangnya, tidak ada makanan sama sekali bahkan tidak ada bahan makanan. Mungkin hari ini aku harus beli makanan lagi di mini market. Aku menghela nafas. Kuputuskan untuk kembali ke kamar, berniat mengenakan seragam. Aku mencari seragam di gantungan lemari, tetapi tidak kutemukan. Dan benar saja, seragamku lepas dari gantungan dan jatuh. Membuatnya kembali kusut setelah kusetrika. Apakah kusetrika kembali? Ataukah langsung kukenakan?
Akhirnya kuputuskan untuk langsung mengenakan seragamku. Aku mengambil tas dan ponselku, segara kuberangkat menuju sekolah. Aku menghentikan langkahku di depan pintu. Aku baru ingat dompetku tertinggal. Terpaksa aku kembali ke kamarku dan mencari dompetku. Untungnya dompetku tergeletak di meja sehingga aku bisa langsung menemukannya. Kulanjutkan perjalananku ke sekolah.
Aku pergi menuju halte bus. Kuputuskan untuk mampir ke mini market terlebih dahulu dan membeli roti untuk sarapan. Sesampainya di halte bus, aku menunggu bus sambil menghabiskan rotiku. Bus datang dan aku segera menaikinya. Aku kurang suka keramaian. Aku memilih untuk menundukan kepalaku, takutnya aku melihat sesuatu yang tidak ingin kulihat. Awalnya aku ingin duduk di kurai paling ujung, tapi karena kursi penumpang sudah penuh terpaksa aku harus beridiri. Aku selalu menudukan pandanganku, hingga akhirnya seorang ibu menyenggol bahuku.
"Maaf nak, ibu tidak sengaja,"
"Ah, tidak apa-apa, ko-"
Aku terkejut ketika melihat wajah ibu itu. Sehelai benang berwarna merah pekat menjuntai di atas kepalanya. Aku langsung memeriksa sekitar dan kudapati semua penumpang dan sopir bus memiliki benang serupa menjuntai di atas kepala mereka, hanya saja milik sopir bus lebih pekat dibandingkan para penumpang. Inilah hal yang paling tidak ingin kulihat. Seketika aku panik.
Sial, aku tidak bisa menyembunyikan kepanikanku. Semua terukir jelas di wajahku.
"Ti-tidak apa-apa kok, bu. Gak usah khawatir,"
Ibu itu tetap bersikeras membantuku tapi aku terus menolaknya. Akhirnya ibu itu menyerah dan memberikan sebungkus roti kepadaku. Aku berterima kasih kepadanya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kondisinya semakin rumit. Aku panik dan kebingungan. Aku merasa tidak tega membiarkan orang-orang ini terutama ibu itu mengalaminya, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku memberhentikan bus dan mencoba turun dengan tenang. Aku merasa bersalah, tapi tetap saja aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku turun di halte bus dan menenangkan diriku. Kuatur kembali nafasku dan menunggu bus berikutnya tiba. Setelah menunggu 20 menit, akhirnya tiba bus selanjutnya. Aku menaiki bus perlahan, dan mengamati seluruh penumpang yang ada. Untungnya tidak ada satupun yang memiliki benang merah menjuntai di atas kepalanya. Aku menghela nafas lega, walaupun sebenarnya perasaanku tidak tenang. Aku dusuk di kursi yang tidak jauh dari sopir. Aku kembali mengingat ibu tadi. Hampir saja aku menangis, tapi sebisa mungkin kutahan. Dia orang yang baik. Aku memakan roti pemberian ibu itu. Tiba-tiba bus berhenti mendadak dan itu mengejutkanku. Jalanan menjadi macet secara tiba-tiba.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" ucap salah seorang penumpang.
Para penumpang menjadi kebingungan. Sopir bus terus membunyikan klakson. Walaupun aku sudah bisa menduganya, dan aku tahu tidak ada yang bisa kulakukan, tetap saja aku semakin merasa bersalah. Sopir bus berusaha menelepon sopir bus lain yang menjadi sopir dari bus yang dijadwalkan berangkat sebelum bus ini. Benar, itu adalah sopir dari bus yang kutimpangi sebelumnya. Tetapi tidak ada yang menjawabnya. Akhirnya sang sopir mulai kebingungan dan memutuskan untuk menunggu. Suara klakson mobil laninnya terdengar begitu keras dan menjadikan jalanan semakin berisik.
Setelah terdiam selama 15 menit, akhirnya bus dapat kembali melaju walau harus mengambil jalan memutar. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjan, akhirnya aku sampai di halte bus dekat sekolah. Aku mengecek ponselku dan mencari berita terbaru. Benar saja, telah terjadi kecelakaan sekitar 1 km dari halte bus tempatku turun dari bus pertama. Sebuah bus menabrak pembatas jalan dan terjun ke jurang di samping jalan. Jumlah korban maupun penyebabnya belum diketahui. Walau penyebabnya belum bisa kutebak, tapi jumlah korbannya sudah bisa kutebak bahkan ketika aku masih menunggu bus kedua. Mereka semua akan mati di hari ini. Entah tepat saat kecelakaan maupun setelahnya. Aku memasukan kembali ponselku dan melanjutkan perjalananku ke sekolah. Namaku Zenon Evander. Aku bisa melihat kematian yang mendekatimu.