
Namaku Zenon Evander. Biasa dipanggil ‘Zen’. Usiaku 7 tahun. Aku hidup dalam keluarga kecil yang berkecukupan. Ayah, ibu dan aku. Mungkin beginilah yang disebut ‘Keluarga Bahagia’. Saat ini, aku sedang menjalani liburan musim panas. Keluarga kami berencana untuk berlibur di pantai dalam rangka merayakan hari ulang tahunku yang jatuh pada tanggal 17 Juni. Untuk itu, ayahku memesan kamar hotel untuk satu malam di tanggal 16. Kami memutuskan pergi menggunakan mobil. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di hotel. Aku dan ibu menunggu di lobby, sedangkan ayah melakukan check in di meja resepsionis dan memindahkan barang-barang kami ke kamar. Ibu menawarkan bantuannya kepada ayah, tapi ayah menolak. Ayah bilang ibu tidak boleh terlalu capek. Akihrnya kami memutuskan untuk duduk di sofa yang disediakan di lobby. Aku yang merasa bosan meminta izin kepada ibu untuk berkeliling sebentar. ”Ibu, boleh nggak aku berkeliling sebentar? Boleh, ya? Ya?” Ibu tersenyum. ”Hmm, takutnya ayah akan kebingungan mencari kita. Jadi sebaiknya tidak,” Aku cemberut. Padahal menunggu di sini saja pasti sangat membosankan. “Tapi, kalau ditemani ibu mungkin tidak apa-apa,”
Lanjut ibu sambil tersenyum dan mengusap kepalaku.
” Yeey,”
Aku yang kegirangan langsung berdiri dan menarik-narik tangan ibu. Kami mulai berkeliling di sekitar lobby. Aku merasa senang. Saking senangnya aku sampai berlari-lari. Aku pergi ke arah taman kecil di halaman hotel dan melihat ke dalam semak-semak. Aku menemukan seekor lalat yang terperangkap jaring laba-laba.
“Zen, jangan berlarian, takutnya kamu jatuh,”
Ibu yang datang tiba-tiba mengejutkanku.
”Jadi, apa yang sedang kamu perhatikan?”
Ibu mendekatiku dan melihat lalat itu bersamaku.
“Kasihan sekali lalat ini. Aku akan membantunya,” ujarku.
Aku melepaskan si lalat dari jeratan jaring laba-laba. Sayangnya, lalat itu sudah mati. Aku merasa sedih dan berniat untuk menguburnya. “Menurutmu, kenapa lalat itu bisa mati?” Ayah datang dan mengejutkanku dan ibu.
“Ayah, jangan mengejutkan begitu,dong,” Keluh ibu pada ayah. Entah mengapa, orangtuaku sangat menyukai kejutan. Mungkin mereka berpikir itu hal yang menyenangkan.
“Hahaha, maaf, maaf. Jadi bagaimana menurutmu, Zen?”
Ayah meminta jawabanku. Aku mencoba berpikir untuk menjawab pertanyaan ayah sambil mengubur si lalat.
“Hmm, aku menyerah, ayah”
“Ayolah jangan menyerah begitu saja. Coba pikirkan lagi,”
Aku akhirnya menuruti perkataan ayah dan mencoba berpikir ulang.
“Hmm..., ah! Aku tahu! Mungkin dia kelaparan ketika terperangkap di jaring laba-laba,”
“Ya, kemungkinan itu juga tidaklah salah. Kau hebat bisa memikirkannya,” Ayah tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
“Tapi, pada akhirnya dia mati karena memang waktu kematiannya sudah tiba,”
Aku kebingungan dengan perkataan ayah. Apa maksudnya?
”Sepertinya memang terlalu sulit untuk dipahami. Bagaimana menjelaskannya, ya? Begini, semua makhluk hidup suatu saat akan mengalami kematian. Ketika tiba waktu kematian, maka alam akan mengakhiri kehidupannya, bagaimanapun caranya. Seperti lalat itu. Dia sudah mencapai waktu kematiannya, oleh karena itu dia mati. Dan alam memilih untuk membuatnya mati karena kelaparan. Ini memanglah hal yang sulit dipahami, tapi suatu saat kamu pasti bisa memahaminya, Zen,” Walaupun ayah sudah menjelaskannya, tapi aku masih saja tidak paham. Aku menggaruk rambutku. Ibu segera menggenggam tanganku.
“Zen, tanganmu kotor. Jangan menggaruk kepalamu! Ayo cepat cuci tanganmu!” Ibu menarikku ke toilet. Ibu menunggu di depan toilet dan aku masuk untuk membersihkan tanganku. Aku keluar dari toilet. Ibu memintaku menunjukkan tanganku.
“Sudah bersih. Lain kali jangan diulang, ok?"
“Ibu, kenapa sampai menarik-narik tanganku?”
Aku cemberut dan merasa agak kesal. “Ibu hanya khawatir. Tapi sepertinya ibu berlebihan ya? Ibu minta maaf ya, Zen?” Ibu mengelus kepalaku dan mencium keningku. Aku mengangguk pelan. Ayah mendatangi kami.
“Karena ayah sudah selesai, bagaimana kalau kita berkeliling lingkungan sekitar? Tentu saja dengan mobil ayah. Mau?” ajak ibu padaku.
Ayah yang baru saja tiba terkejut dengan ajakan ibu. Ibu mengedipkan mata kanannya, mungkin saja untuk membujuk ayah supaya menyetujui idenya. Ayah menghela nafas dan tersenyum. “Baiklah, kita akan pergi kemanapun yang kalian inginkan,”
Kami bertiga pergi ke mobil dan mulai berkeliling. Kami melihat budaya masyarakat sekitar, makan di restoran daerah, dan berlarian di pantai. Walaupun ayah tiba-tiba menghilang saat di pantai, tapi ibu bilang ayah sedang ada urusan, jadi aku percaya saja. Ayah kembali dan kamipun melihat pemandangan matahari terbenam yang indah dari pantai. Tidak lupa kami abadikan semua kegiatan hari ini dengan berfoto ria, mulai dari awal berkeliling hingga saat ini.
Kami tiba kembali di hotel pada pukul 09:00. Aku yang mulai mengantuk digendong ayah ke kamar. Ibu bilang dia akan menyusul, katanya sedang mencari barang yang jatuh di mobil. “Hei, Zen, kamu yakin mau tidur sekarang? Ulang tahunmu 3 jam lagi, lho,” tanya ayah kepadaku.
Mendengar hal itu tentu saja membuatku bersemangat, walau kantuk tetap kurasakan.
“Tentu saja tidak! Hahahoaamm..., ah! Maksudku hahaha! Aku masih kuat terjaga 3 jam lagi,”
Aku kembali bersemangat sambil mengacungkan 3 jari untuk menunjukkan betapa semangatnya aku. “Apa kamu yakin, Zen? Jika kamu ingin menunjukkan 3 jari, maka kurangi 1 jari ini,” ujar ayahku sambil tertawa.
Aku baru sadar kalau aku mengacungkan 4 jari, bukannya 3. Aku tertawa malu.
”Oh, benar! Ayah tahu apa yang bisa membuatmu tetap terjaga,”
Ayah mengambil sesuatu di dalam tas. Dan ternyata itu adalah catur portable mini. Aku merasa senang karena bermain catur termasuk salah satu kegemaranku, walaupun aku selalu kalah dari ayah.
“Baiklah, Zen, kamu yang putih dan ayah yang hitam,”
Kami meletakkannya di atas kasur, menyusunnya dan mulai bermain.
”Tuan Zen, dipersilahkan untuk berjalan terlebih dahulu,” ucap ayah dengan nada penuh hormat.
“Dengan senang hati, ayahanda,”
Tentu saja aku harus membalasnya dengan nada serupa. Aku menahan tawa, karena setelah kalah dari ayah 3 hari yang lalu, aku telah mati-matian menghafal cara untuk memenangkan permainan hanya dengan 4 langkah yang kutemukan di buku Panduan Mahir Bermain Catur. Aku mulai bergerak dan disusul oleh ayah. Dengan percaya diri aku melanjutkan langkah demi langkah, hingga akhirnya tibalah di langkah keempat. Dengan tidak sabaran, aku menggerakkan ratuku ke tempat sasaranku.
“Skak mat! Hahaha!”
Aku merasa sangat puas. Rasanya, perjuanganku 3 hari ini tidak sia-sia. Ayah terlihat kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Hahahahaha!”
Aku terkejut dan terheran ketika melihat ayah yang tiba-tiba tertawa. Padahal ini kan kemenanganku? Kenapa dia tertawa?
“Kamu telah melakukan kesalahan, Zen! Kamu tidak memperhatikan di mana posisi kuda ayah! Kamu telah masuk ke dalam perangkap ayah! ”
Aku langsung kebingungan dan mencari letak kuda ayah. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati ratuku berada di ujung lintasan ‘L’ kuda milik ayah, sehingga ratuku bisa dimakan oleh kuda ayah.
”Mungkin kamu terlalu senang karena sudah bisa menggunakan cara ‘Kemenangan 4 Langkah ‘. Tapi sayangnya ayah sudah mengetahui langkahmu dari awal karena ayah juga pernah membaca buku itu, dan ayah sudah tahu cara untuk menggagalkannya. Sayang sekali ya, Zen. Mungkin kamu harus mencoba lebih keras lagi, ”
Aku langsung memasang wajah cemberut dan memalingkan wajahku. Aku merasa kesal karena rasanya seperti dibodohi.
“Sudahlah! Aku tidak mau bermain lagi!” Aku mengeluh dan mengambil remote tv.
“Eeehh? Jangan begitu , dong. Ayo satu kali permainan lagi. Mungkin saja kali ini permainannya lebih lama,”
Aku tetap tidak ingin main. Pintu kamar kami perlahan terbuka.
“Ibu kemana saja?” tanyaku.
“Aah, itu... oh, benar! Barangnya kecil jadi sulit menemukannya. Hehe, jadi maaf ya,”
Hmm, apa hanya aku yang merasa ibu mencurigakan? Ibu mengedipkan mata kanannya lagi ke arah ayah. Sebenarnya untuk apa itu? Apa itu semacam bentuk komunikasi antar suami istri? Karena aku merasa pernah menemukannya dalam salah satu buku di rumahku yang berjudul Cara Agar Menjaga Hubungan Yang Sehat Antar Suami Istri, walaupun ayah langsung mengambil buku itu, dia bilang buku itu menyeramkan dan menggantinya dengan buku yang lain. Lalu, bagian mana yang menyeramkan? Aku tidak mengerti.
“Zen, kamu sedang main catur lawan ayah? Bagaimana kalau ibu membantumu? Begini-begini ibu juga sedikit mahir bermain catur, loh,”
Seketika aku bersemangat kembali. Aku menerima tawaran ibu dan bermain melawan ayah. Benar saja permainan yang dibantu ibu berlangsung cukup lama. Setelah 1,5 jam berlalu, akhirnya aku dan ibu dikalahkan oleh ayah.
"Aduh, kita kalah. Maaf ya, Zen. Ibu tidak bisa mengalahkan ayahmu. Ayah juga, setidaknya beri kami kesempatan menang," ujar ibu.
"Maaf saja, aku bisa mengalah dalam hal apapun. Tapi tidak dengan catur,"
sahut ayah.
"Pfft, apa itu? Kamu memang tidak pernah berubah,"
Ibu menepuk bahu ayah pelan.
"Kamu juga masih sama saja. Masih tidak menyukai kekalahan,"
Ayah mencolek hidung ibu. Aku yang melihatnya hanya bisa tertawa.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan, Zen?"
Ayah menawarkan remote tv dan catur. Tentu saja aku memilih remote tv karena aku sudah bosan bermain catur. Aku menonton tv bersama dengan ayah dan ibu. Aku merasa sepertinya aku mulai mengantuk. Tanpa kusadari, aku tertidur lelap.
"Zen, ayo bangun, kalau tidak kamu akan melewatkannya,"
Ayah membangunkanku. Aku masih mengantuk, jadi aku mendiamkannya. Ayah menarik kedua tanganku dan memaksaku untuk duduk. Aku yang masih setengah sadar kebingungan dan merasa sedikit pusing.
"Ayah, jangan membangunkannya seperti itu. Ini, Zen. Minum ini dulu,"
Ibu memberikanku secangkir teh manis hangat. Aku meminumnya. Sepertinya kondisiku sedikit membaik.
"Maaf, maaf. Tapi, Zen sekarang sudah puku 23:50. Yang berarti... ulang tahunmu 10 menit lagi!"
Ayah merangkul bahuku. Aku yang baru menyadarinya langsung terjaga dan menanti-nanti pergantian hari. Pintu kami di bel seseorang.
"Sudah datang rupanya,"
Ibu membukakan pintu. Berterima kasih kepadanya dan menutup kembali pintu.
"Lihat, Zen apa yang ibu bawa,"
Ibu memperlihatkan sebuah kotak kue berukuran sedang.
"Ini adalah kue ulang tahunmu! Selamat ulang tahun Zenon kami tersayang! Maaf berbohong padamu. Sebenarnya ayah membeli ini ketika kita sedang di pantai. Lalu ibu menitipkannya ke meja resepsionis dan meminta agar pelayan mereka membawakan kue ini ke kamar ini pukul 23.55. Jadi sebenarnya ibu tidak pernah mencari barang yang jatuh. Ibu minta maaf ya, Zen,"
Lanjut ibu dengan suara penuh kegembiaraan. Aku mengangguk. Semua rasa kantuk dan pusing yang dirasakan kepalaku seketika menghilang. Saat itu hanya ada kebahagiaan yang kurasakan. Ayah mempersiapkan lilin di atas kue. Ayah melihat ke arah jam dan mengajak ibu untuk duduk bersama kami di atas kasur. Ayah melihat ke arah jam.
"Baiklah, tinggal 1 menit lagi,"
Aku yang sudah tidak sabar menyimpan gelas berisi teh manis di atas meja dan kembali ke kasur secepatnya. Ayah dan ibu menghitung mundur bersama-sama.
"10..9..8..7..6..5..4..3..2..1, ayo tiup lilinnya dan ucapkan permohonanmu dalam hati,"
Aku meniup semua lilin di atas kue satu persatu. Aku berharap semoga kami masih bisa terus bersama selamanya.
"Selamat ulang tahun, Zenon kami tersayang,"
Ibu dan ayah mengucapkan selamat bersamaan, disusul dengan bergantian menciumi pipi kanan, kiri dan juga keningku. Ayah meberku pisau kue, dan aku memotong kuenya. Aku membagikannya kepada ayah dan ibu. Kami memakan kue sambil bercanda ria. Ahh, aku merasa menjadi anak paling bahagia di seluruh dunia. Setelah meminum teh akhirnya aku tertidur di tengah-tengah ayah dan ibu.
Aku terbangun di pagi hari. Kulihat ibu sedang membuat teh, kopi dan juga roti yang diolesi selai.
"Selamat pagi, Zenon 8. Ibu membuat roti dan teh untukmu. Ibu taruh di meja, ya,"
Zenon 8? Apa itu? Akupun menanyakan hal tersebut.
"Ibu, apa maksudnya "Zenon 8"?"
Ibu mendekatiku dan menjawab pertanyaanku.
"Itu artinya Zenon yang berusia 8 tahun,"
Ibu mengelus kepalaku. Ibu mulai membangunkan ayah. Ayah terbangun dan meminum kopi yang ada di meja. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami pergi untuk bermain di pantai. Kami berenang, bermain pasir, dan hal menyenangkan lainnya.
Kami duduk bersama di bawah payung pantai. Seseorang mendekati kami dan menawarkan berkeliling menggunakan kapal. Awalnya kami ragu karena sebentar lagi kami berencana untuk pulang, tapi karena orang itu bersikeras akhirnya kami mengalah dan mengikuti kemauannya. Ibu tidak bisa ikut karena dirinya sudah mulai kelelahan, sehingga hanya aku dan ayah saja yang menaiki kapal. Sebelum berangkat, ayah mengecek perkiraan cuaca dan dikatakan bahwa hari ini akan cerah sepanjang hari. Karena sudah yakin, kami melanjutkan perjalanan.
Disana ada 6 penumpang lainnya. Kami berkenalan dengan penumpang lainnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mesin kapal dinyalakan dan kapal melaju. Kapal mulai menjauhi pantai hingga akhirnya pantai tidak terlihat. Kami berbincang-bincang dengan penumpang lain. Ayah kemudian mengajakku bicara.
"Jadi bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?"
"Ya, tentu saja,"
"Kalau begitu lusa kau harus siap belajar bela diri di tempat paman lagi. Siap?"
"Ahh, itu melelahkan sekali,"
Ayah tertawa dan mengacak-acak rambutku. Sudah 5 bulan aku mengikuti pelatihan bela diri yang diadakan oleh teman ayah yang katanya adalah seorang tentara. Dan jujur saja, itu semua sangatlah melelahkan, walaupun aku menyukainya karena aku jadi terlihat seperti pahlawan di film.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba langit menjadi gelap. Angin berhembus kencang dan hujan mulai turun. Sepertinya akan terjadi badai. Nahkoda kapal mencoba memutar kapal, tapi kesulitan karena arus balik pantai yang kuat bahkan kurasa kami semakin menjauhi arah pantai. Ombak semakin tinggi. Petir mulai menggelegar. Para penumpang mulai ketakutan, termasuk aku. Ayah mendekapku erat.
"Tidak apa-apa, kau akan selamat,"
Ayah berusaha menenangkanku. Kapal berusaha secepat mungkin mencapai daratan. Tapi dengan ombak yang semakin tinggi dan ditambah arus balik pantai yang kuat, kami kesulitan bahkan untuk mendekati daratan. Semua semakin menakutkan. Muncullah ombak yang sangat besar. Aku tidak tahu berapa ketinggiannya, tapi itu adalah ombak terbesar yang pernah kulihat dalam hidupku. Ayah memelukku erat. Seketika, ombak itu membuat kapal terbalik. Aku terlepas dari pelukan ayah. Aku ketakutan. Aku tidak bisa berenang melawan ombak. Aku mulai tenggelam. Siapapun. Tolong aku! Perlahan kesadaranku menghilang. Dan semua menjadi gelap gulita.