The Eye Of Death

The Eye Of Death
Chapter 4 : Death Is Absolute



Waktu berlalu, kini aku telah berusia 10 tahun. Sejak saat itu, aku selalu menuliskan semua yang terjadi di buku diary. Terapi yang kujalani membuahkan hasil, kini ketakutan ku terhadap air sedikit demi sedikit mulai menghilang. Kini, seluruh tubuhku dapat memasuki air, walaupun aku belum bisa menyelami kolam lebih dari 30 detik. Namun, bagiku itu adalah sebuah prestasi yang patut kusyukuri.


Saat ini, aku dapat kembali menjalani keseharianku yang biasanya. Meskipun aku sudah bersekolah sejak sebulan setelah terapi pertama kali dimulai, tetapi saat inilah aku merasa lebih lega dan merasa bisa menghadapi rasa takutku. Semua berkat kerja keras Ibu yang sudah rela membanting tulang untuk menghidupi keluarga kami sembari membantu terapi pengobatan trauma yang kualami. Menurutku, semua itu tidaklah lepas dari peran diary yang kutulis setiap hari. Awalnya aku menulis diary dikarenakan aku merasa bosan dan menginginkan sesuatu hal yang baru, tetapi lama kelamaan aku mencoba untuk menuliskan semua perasaanku dengan jujur di atas kertas. Jika kupikir kembali, mungkin itulah tujuan ibu yang sebenarnya, agar ibu mengetahui perasaan, keadaan, dan perkembanganku selama ini melalui diary yang kutulis.


Semakin sering menulis, semakin banyak hal yang tidak kumengerti dan sulit kupecahkan. Hal yang paling utama dan membuatku berpikir dalam adalah untaian benang berwarna merah pekat yang menjuntai di atas kepala seseorang. Yang lebih mengerikan lagi, semua orang yang memiliki benang merah pekat di kepalanya mereka mengalami kematian. Mengingatnya saja, aku seakan dapat melihat kembali dengan jelas detik demi detik ketika kematian menjemput mereka, karena memang aku selalu berada di tempat kejadian saat itu terjadi. Itu sangatlah menakutkan dan membuat bulu kudukku merinding.


Rasanya, aku seperti dikutuk. Kurasa kejadian itu bukanlah suatu kebetulan, karena memang bukan hanya terjadi satu ataupun dua kali saja. Semenjak kematian pertama yang kulihat, tercatat aku sudah melihat 12 kematian selama 2 tahun terakhir dengan cara yang berbeda-beda. Penyakit yang tiba-tiba ataupun yang sudah bersarang lama, umur, kecelakaan, kejahatan. Aku melihat dengan kedua mataku detik-detik kematian yang disebabkan bebagai hal, seakan mereka memang sudah tidak memiliki pilihan lain. Semua itu memunculkan sebuah pertanyaan di benakku.


"Apakah kematian seseorang dapat dicegah?"


Saat itu, aku belum menyadari bahwa aku akan menemukan jawaban secepat ini.


Hari itu adalah pertengahan bulan Desember. Musim dingin membuat seluruh kota diselimuti salju putih. Tahun ajaran baru dimulai pada awal bulan September, sehingga aku harus menjalani ujian akhir semester di tengah dinginnya bulan Desember ini. Di tengah perjalanan pulang setelah ujian kesenian, aku memutuskan untuk mengunjungi sebuah taman di tepi danau yang terkenal indah di daerah tempat tinggalku. Aku sangat lemah di bidang kesenian, sehingga aku ingin menjernihkan pikiranku dengan indahnya pemandangan danau yang begitu jernih. Setibanya di taman, aku baru menyadari hal yang sangat penting. Tidak ada orang di tengah dinginnya bulan Desember ini yang ingin menjernihkan pikiran dengan melihat jernihnya danau, karena sudah pasti danau itu akan membeku terpapar dinginnya musim dingin.


Aku menghela nafas panjang. Lebih baik aku pulang saja sebelum aku mulai membeku di sini. Aku mengambil langkah menuju rumah dan berencana menikmati dia hari dengan menonton tv ditemani secangkir coklat panas. Tiba-tiba saja, langkahku terhenti. Aku mendengar sesuatu memantul dari arah danau. Ternyata itu adalah sebuah bola yang terpantul di tengah permukaan danau yang membeku. Mungkin seseorang tidak sengaja menendangnya terlalu keras. Lebih baik tidak usah kuhiraukan. Danau ini memiliki kedalaman hingga 20 meter, setidaknya itulah yang tertulis di papan peringatan. Mana mungkin ada orang yang mau membahayakan nyawanya hanya untuk sebuah bola. Dan ternyata orang itu ada, tepat di depan mataku.


Seorang anak kecil tengah berjalan dengan penuh kehati-hatian di atas permukaan danau yang membeku. Di belakangnya, ada beberapa orang anak yang meneriakinya. Bukan untuk menghentikannya, mereka memintanya untuk mengambil bola itu lebih cepat. Melihat mereka memperlakukannya seperti itu membuatku tidak bisa tinggal diam. Aku berjalan di atas permukaan danau yang membeku dan licin dengan hati-hati, mendekati anak itu. Sang anak terus berjalan mendekati bola dengan wajah ketakutan. Perjuangannya membuahkan hasil, dia berhasil mencapai bola. Wajah anak itu berseri-seri, hingga ia tidak bisa melihat kemana ia akan melangkah.


Kakinya terpeleset. Untung saja, aku berhasil menggenggam lengannya --setelah bersusah payah berjalan mendekati sang anak. Aku khawatir dengan apa yang akan terjadi, sehingga aku memilih mendekati sang anak untuk membantunya kalau-kalau suatu hal buruk terjadi. Pikiranku saat itu hanya dipenuhi kekhawatiran terhadap anak itu. Anak kecil yang mungil itu membungkuk, mengucapkan terima kasih dan pergi menuju arah kedatangannya. Aku menyesali tindakanku saat itu. Saat sang anak berbalik, aku baru menyadari sesuatu. Dia memiliki seutas benang berwarna merah pekat menjuntai di atas kepalanya. Seketika es tempat sang anak berpijak mulai retak dan dia tercebur ke dalam danau.


Aku yang saat itu berusaha keras membantu sang anak, dengan harapan aku bisa mencegah kematiannya. Aku mengulurkan tangan ke dalam danau sedingin es dan menarik sang anak naik ke permukaan. Usahaku berhasil. Sang anak selamat dari maut. Aku merasa senang dan lega dengan nafas yang terengah-engah. Sang anak terlihat menggigil dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menggendong Sang anak menuju tepian danau dengan hati-hati. Ketika tepian danau tinggal beberapa langkah, dahan pohon kecil yang terpotong sendirinya jatuh ke atas permukaan danau yang membeku, seakan memaksa sang anak untuk menghadapi pintu kematian sekali lagi. Dahan itu membuat keretakan. Tidak kuat menahan berat kami, es tempatku berpijak hancur dan kami berdua tercebur ke dalam danau.


Aku terbangun di sebuah ruangan. Aku mengenal ruangan ini. Ini adalah ruangan pasien rumah sakit. Ibuku terduduk cemas di samping ranjang.


"Zen, apa kamu tahu seberapa khawatirnya ibu?! Kamu belum sembuh dari trauma, sekarang kamu hampir mati tenggelam lagi. Jangan berbuat hal yang berbahaya!"


Ibu membentakku dengan cara halus. Wajahnya menggambarkan kecemasannya dan air mata berlinang di pipinya. Pastinya, ibu takut kehilanganku lagi.


"Maafkan aku, Bu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya,"


Aku dan ibu saling berpelukan. Setelah suasana menjadi lebih tenang, aku bertanya kepada ibu soal anak yang kutolong. Menurut cerita ibu, anak itu adalah korban perundungan di sekolahnya. Saat itu, dia dipaksa mengambil bola yang ditendang temannya ke arah danau. Sayangnya, anak itu tidak bisa terselamatkan.


Walaupun aku sudah menduganya, tetapi mendengar kenyataan hidup sang anak yang memilukan membuatku berlinang air mata. Ibu menenangkanku dan memelukku erat. Seandainya aku menyadari benang merah itu lebih cepat, atau berusaha dengan lebih keras, apakah sekarang anak itu masih hidup saat ini? Ataukah memang tidak ada lagi yang bisa kulakukan?


Ibu yang khawatir memilih untuk memberikan pengobatan trauma hingga aku sembuh total. Aku hanya bisa menerima, mengingat ibu sangat khawatir. Hari itu, aku mengingat kembali perkataan ayah soal kematian.


"Ketika tiba waktu kematian, maka alam akan mengakhiri kehidupannya, bagaimanapun caranya,"


Tidak lupa, aku mencatat semuanya dalam buku diary. Sebuah kepastian telah kudapatkan. Kematian tidak akan bisa dihindari. Apapun yang kau lakukan, kematian akan menghampirimu jika waktunya sudah tiba. Tidak ada yang bisa kau lakukan.