The Eye Of Death

The Eye Of Death
Chapter 2 : Encounter and Farewell



Aku tersadar dalam keadaan berdiri mengenakan pakaian putih. Aku melihat sekitar dan mulai menyadari bawa aku berada di sebuah ruangan ruang sakit, persis seperti yang kulihat dalam film. Aku melihat sebuah ranjang pasien dan mendekatinya. Aku terkejut. Seketika kakiku terasa sangat lemas saat aku melihat apa yang ada di atas ranjang pasien itu. Yang sedang terbaring di sana adalah aku. Seketika potongan-potongan ingatan mulai membanjiri kepalaku. Laut, kapal, badai, ombak dahsyat, dan ayah. Kepalaku mulai sakit. Aku jatuh tersungkur tak bertenaga. Aku mulai mengingat semua hal yang terjadi di kapal itu. Samar-samar muncul ingatan lainnya, tetapi aku tidak begitu mengingatnya dan tidak yakin apakah itu ingatanku atau hanya sebuah mimpi. Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri.


"Apa yang terjadi setelah kapal itu terbalik? Apakah aku sudah mati? Bagaimana dengan ayah?"


Begitu banyak pertanyaan dalam benakku. Hingga aku menyadari bahwa di sekitar ranjang terdapat beberapa dokter dan perawat yang mulai panik dan terburu-buru. Aku memanggil-manggil mereka.


"Hei, tolong aku! Siapapun! Paman! Bibi! Hei! Apa kalian dengar? Tolong aku! Sebenarnya apa yang terjadi? Hei! Hei!"


Dengan panik dan diselimuti amarah aku mencoba menarik pakaian mereka. Sayangnya, tanganku hanya menembus badan mereka. Bahkan mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku kebingungan dan mulai ketakutan. Bukan hanya aku saja, para dokter dan perawat terlihat mulai panik, tetapi mereka mencoba untuk tetap tenang. Seseorang dokter memerintahkan untuk mengambil sebuah alat yang aku pernah lihat di film. Sebuah alat seperti setrika untuk selanjutnya di tempelkan ke dadaku. Dokter menarik alat itu dan ragaku yang berada di atas ranjang seketika ikut terangkat. Aku yang sedang berdiri merasa bahwa aku sedkit demi sedikit tertarik dengan paksa ke arah ragaku. Dokter mengulanginya beberapa kali. Aku mencoba untuk mendekati ragaku agar bisa kembali, kupikir mungkin akan memudahkan mereka. Walaupun aku sudah mendekati ragaku bahkan mencoba untuk menyentuh dan merasukinya, tetapi ragaku tak kunjung terbangun. Aku melihat ke arah sebuah alat yang berbentuk seperti tv dan aku mulai sadar dan ingat bahwa sebelumnya alat seperti tv ini yang menunjukan garis


naik-turun sedari tadi mulai menjadi garis tepat sebelum dokter menempelkan alat itu. Jika ini seperti yang terjadi di film, maka apakah au sudah mati? Aku tidak tahu dan bahkan tidak ingin megetahuinya. Setelah berlangsung cukup lama, akhirnya para dokter dan perawat menyerah dan beberapa mulai menangis. Di waktu itu, di detik itu, aku sudah ditetapkan tidak bernyawa.


Salah seorang dokter keluar dari ruangan. Aku yang tidak tahu harus apa mulai duduk di sudut ruangan dan mulai menangis, bertanya-tanya apakah aku sudah mati dan apa yang harus kulakukan saat ini. Belum sampai 2 menit ibu langsung berlari masuk ke dalam ruangan dan menangis histeris di depan ranjangku. Ibu memelukku erat. Ibu yang histeris ditenangkan oleh para perawat.


"Maafkan ibu, Zen. Kumohon, jangan pergi! Jangan tinggalkan ibu! Kumohon, tetaplah bersama ibu! Jangan pergi! Kumohon!"


Ibu terus saja mengulangi kata-kata tersebut. Aku mendekati ibu dan mencoba menenangkannya.


"Ibu, aku tidak kemana-mana. Aku ada di sini. Aku ada di samping ibu. Jadi kumohon, jangan menangis,"


Aku mencoba memeluk ibu. Sayangnya, tanganku langsung menembus tubuh ibu. Aku menangis dan memilih untuk menyerah dan menunggu seseorang menjemputku. Karena ayah dulu pernah mengatakan bahwa roh orang yang telah mati akan dibimbing oleh sesuatu. Aku mempercayai perkataan ayah dan memilih untuk menunggu. Walau begitu, tetap saja aku ketakutan dan menangis.


4 menit berlalu, dan tidak ada satupun yang mendatangiku. Aku begitu terkejut ketika melihat seseorang menggunakan jubah hitam membawa sabit panjang mendekati ragaku. Orang itu melihat ke arahku dengan mata merahnya yang menyala. Aku sangat ketakutan dan merasakan kengerian yang luar biasa. Anehnya dia hanya menatapku, tidak mencoba mendekatiku. Dia hanya mendekati ragaku saja. Dia mulai tertawa cekikikan. Tiba-tiba, orang itu merasuki ragaku. Aku yang terkejut sekaligus terheran mulai berdiri. Dengan ketakutan dan gemetaran, aku meneriaki orang tadi.


"H-Hei! Siapa kau! Mengapa kau merasuki ragaku? K-Keluar kau sekarang! Atau aku akan…aku akan…aku…"


Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika orang tadi keluar dan menemuiku. Dilihat dari jarak segitu saja aku sudah ketakutan apalagi jika dia mendekatiku. Apa yang harus kulakukan? Tapi, aku tidak bisa tinggal diam ragaku dirasuki. Aku mendekati ragaku dan berkeinginan memasukinya, walau aku tidak tahu apakah aku akan berhasil atau tidak. Tiba-tiba saja aku tertarik dengan paksa ke arah ragaku. Seketika aku melayang dan merasuki ragaku. Semuanya menjadi gelap kembali.


...----------------...


Aku kembali membuka mataku setelah waktu yang cukup lama. Hanya saja kali ini aku terbangun dalam keadaan berbaring di atas ranjang. Aku melihat


ibuku tertidur di sampingku. Aku mencoba untuk bergerak, tetapi kuhentikan ketika merasakan sakit di sekujur tubuhku. Ibuku terbangun. Ibu terlihat sangat terkejut sekaligus bahagia hingga berlinang air mata. Ibu segera memanggil dokter. Dokter datang dan melakukan pemeriksaan padaku. Setelah pemeriksaan selesai, dia berbicara kepada ibu dan pergi meninggalkan ruangan. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku mencoba bertanya kepada ibu.


"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku berusaha untuk duduk. Ibuku langsung menghentikanku dan membaringkanku. Ibu berusaha menenangkanku.


"Tidak ada apa-apa, nak. Sekarang kamu istirahat saja,"


Aku memaksakan diri unuk menyentuh tangan ibu.


"Bu, tolong beritahukan semuanya. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padaku,"


"Ketika kamu dan ayah berada di laut lepas, badai datang dan semua penduduk diperintahkan untuk mengungsi dari pinggir pantai. Ibu sangat khawatir dan memberitahukan bahwa masih ada kapal di luar sana yang harus diselamatkan kepada penjaga pantai saat itu. Dia segera menelepon pemimpin daerah setempat untuk meminta bantuan. Akhirnya mereka menanggapinya, tetapi butuh waktu 2 hari lagi untuk melangsungkan pencarian. Ibu yang tidak tahan merasa panik dan marah. Ibu akhirnya teringat teman ayah yang seorang perwira tinggi berpangkat Laksamana Jendral di angkatan laut dan meminta bantuan kepadanya. Ibu meneleponnya dan dengan sigap dia menanggapi permintaan ibu serta mengatakan akan mengirimkan bantuan sekarang dan akan melakukan pencarian tepat setelah badai reda. Ibu berterima kasih kepadanya dan dia berkata bahwa itu bukan apa-apa karena dia juga punya hutang kepada ayah. Ibu hanya bisa menunggu. Setelah badai reda, pencarian dilakukan. Diketahui bahwa terdapat 10 orang yang menaiki kapal itu. 8 penumpang, 1 nahkoda dan 1 awak kapal. Memang sepertinya kapal itu hanya untuk perjalanan wisata. Namun, setelah menelusuri jalur pelayaran wisata hanya ditemukan 5 orang. 3 diantaranya telah diidentifikasi sebagai penumpang dan sisanya telah diidentifikasi sebagai nahkoda dan awak kapal. Beruntungnya, mereka semua dalam keadaan hidup, walau dalam keadaan kritis. Pencarian terus dilanjutkan. 3 orang telah ditemukan dan telah diidentifikasi sebagai 3 penumpang lainnya. Sayangnya 1 diantaranya sudah tidak bernyawa saat ditemukan. Tinggal kamu dan ayah yang belum ditemukan. Awalnya pencarian akan dihentikan sementara karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.4, tetapi ibu begitu memohon agar pencarian dapat dilanjutkan. Akhirnya pencarian dilanjutkan pukul 03.00--walaupun ombak masih terbilang agak besar karena bulan masih kelihatan. Setelah beberapa lama, akhirnya kamu dan ayah ditemukan di titik yang terbilang cukup jauh dari tempat kecelakaan pada pukul 07.30. Ayah dan kamu ditemukan dengan menggunakan jaket pelampung dan ayah ditemukan dalam keadaan memelukmu erat. Sepertinya ayah berusaha keras untuk melindungimu. Saat itu kalian sedang dalam kondisi kritis. Setelah dilarikan ke rumah sakit, ayah dan kamu segera dimasukan ke dalam ruang UGD. Hari itu, para dokter sudah sudah bekerja sangat keras. Sayangnya, mereka gagal dan kamu ditetapkan meninggal pada pukul 15.37,"


Aku terkejut dan merinding ketakutan. Ternyata itu semua bukanlah mimpi. Ibu yang melihatku ketakutan membelai wajahku.


"Dan sebuah keajaiban terjadi. 7 menit setelahnya, dokter menemukan bahwa jantungmu berdetak lagi. Para dokter bersusah payah dan untungnya kamu berhasil diselamatkan. Kamu mengalami apa yang orang-orang sbut dengan "mati suri". Sudah seminggu berlalu sejak saat itu. Jadi, sekarang semuanya akan baik-baik saja,"


ibu mencium keningku. Aku memaksakan diri untuk duduk-- walau sekujur tubuhku merasakan sakit yang hebat. Ibu berdiri kembali dan mencoba menghentikanku.


"Lalu, bagaimana dengan ayah?"


Ibu tersentak dan mematung kerika kutanyakan soal ayah.


"Ibu, ayah dimana?"


Ibu langsung memelukku.


"Ibu, bagaimana dengan ay-"


"Mulai sekarang kita akan hidup berdua. Ibu akan berusaha keras agar bisa membesarkanmu. Ibu akan membantumu jika kamu kesulitan. Ibu akan-"


"Ibu, kemana ayah?"


"Ayahmu…ayahmu meninggal tepat saat ayahmu tiba di ruang UGD. Jadi mulai sekarang, kita hanya memiliki satu sama lain. Ayahmu…dia sudah pergi,"


Pikiranku kosong. Aku tidak merasakan sakit sama sekali di tubuhku. Tubuhku menjadi sagat lemas. Ibu Tapi tetap memlukku walau aku adah berbaring. Bahkan pelukannya kali ini sangatlah erat. Aku mendengar isak tangis ibu. Sepertinya ibu mencoba menahannya tetapi tetap tidak bisa. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati


"Apakah semua ini hanyalah mimpi?" Sekelibat ingatan muncul. Ini adalah ingatan ketika aku di peluk ayah ketika terombang-ambing ombak laut. Saat itu kondisiku belum sadar sepenuhnya. Ayah melindungiku walaupun sepertinya ayah menghantam batu karang beberapa kali. Namun, ayah tetap mencoba menahannya dan menenagkanku. Pikiranku mulai dipenuhi oleh ayah. Aku memeluk kembali ibu dengan sangat erat.


Tangisanku mulai terdengar keras.


"Ayah pasti ketakutan, sendirian di sana. Ayah pasti…ayah…ayah…"


Aku tidak bisa melanjutkan


perkataanku. Tangisanku sangat sulit dihentikan. Ibu mulai mengusap pungungku. Ia menghapus air mataku dan mencoba menenangkanku.


"Ayahmu tidak akan ketakutan. Dia adalah orang paling berani yang ibu kenal. Sekarang, kita harus hidup untuk bagian ayah juga,"


Ibu kembali memlukku. Kami menangisi kepergian ayah. Itulah pertama kalinya kubertemu dengan orang misterius itu dan pertama kalinya merasakan kehilangan.