
Kedatangan Lin Jiang beserta rombongannya disambut baik oleh para penghuni kediaman Lin. Begitu pula dengan Lin Xuan. Pria itu langsung tergesa mendatangi Lin Jiang yang baru saja sampai di gerbang kediaman klan.
"Salam hormat pada ketua klan"
"Salam hormat pada ayah"
Semua orang termasuk Lin Jiang memberi salam penghormatan pada Lin Xuan. Lin Xuan menganggukkan kepalanya, tanda menerima hormat mereka.
"Bagaimana? Semuanya baik-baik saja?" tanya Lin Xuan. Terlihat sekali kalau pria itu mencemaskan keadaan putra bungsunya itu.
"Semuanya baik ayah, walaupun ada sedikit masalah tadi. Kebetulan sekali, Zhou Lan datang dan membantu kami", ucap Lin Jiang sembari memperkenalkan Zhou Lan.
"Begitukah? Terima kasih, pendekar Zhou sudah membantu Lin Jiang", Zhou Lan tersenyum tipis menanggapinya.
"Hanya bantuan kecil yang saya berikan, ketua Lin", balas Zhou Lan.
Pandangan Lin Xuan kemudian beralih pada seseorang yang diikat oleh tali. Dahinya berkerut melihat sosok itu.
"Lin Jiang, apa ini?" Lin Jiang mengikuti tatapan ayahnya. Pemuda itu mengangguk. Menatap sekitar sebelum menjawab, "Akan lebih baik jika kita berbicara di dalam ayah".
Lin Xuan setuju, dia kemudian memerintahkan semuanya untuk kembali ke tempat masing-masing. Dua orang prajurit yang membawa sosok itu diperintahkan untuk mengikuti langkah Lin Xuan.
Lin Jiang juga meminta Zhou Lan untuk ikut dengannya. Lin Jiang merasa Zhou Lan mengetahui sesuatu terkait kondisi Gunung Weiyin serta makhluk yang membuat kerusuhan itu.
"Yuwen, panggil Lin Yan ke ruang kesehatan", perintah Lin Xuan pada tangan kanan kepercayaannya, Yuwen. Yuwen mengangguk dan pergi memanggil Lin Yan.
Setelah sampai di ruang kesehatan, Lin Xuan mengusir semua orang yang ada di sana. Termasuk pengawal yang berjaga di depan ruang kesehatan. Menyisakan Lin Jiang, Zhou Lan, Lin Xuan dan sosok yang masih diikat tali.
"Ayah, apa ada sesuatu?" tepat sebelum Lin Jiang membahas sosok itu, Lin Yan tiba di ruang kesehatan.
Pandangan Lin Yan terpaku pada sosok yang ada di kasur dengan kondisi terikat. Pemuda itu sedikit mengernyit melihatnya. Lin Yan melirik Lin Jiang, "Apa ini makhluk yang sedang ramai diceritakan oleh orang-orang?"
Lin Xuan menjawab, "Benar. Ayah yakin ini salah satu dari mereka. Lin Jiang, informasi apa yang kau dapatkan di Gunung Weiyin?"
"Tidak banyak, ayah. Hanya saja, Gunung Weiyin saat ini sangat berbahaya. Apalagi untuk mereka yang tidak memiliki kultivasi. Makhluk ini, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya, tapi dia menyerang dengan mencabik dan menggigit. Satu prajuritku juga tewas karenanya. Makhluk ini, memiliki kuku yang runcing dan taring yang tajam. Satu lagi, saat aku di Gunung Weiyin, ada kabut ilusi berwarna abu-abu. Apa menurut ayah dan kakak ini hanya kebetulan atau ada yang merencanakannya?" jelas Lin Jiang panjang lebar.
Lin Xuan dan Lin Yan saling berpandangan. Keduanya terlihat tengah berpikir. Zhou Lan yang ada di sana menyandarkan tubuhnya pada tembok. Memperhatikan percakapan keluarga itu dalam diam.
"A-Jiang, aku rasa ini bukan kebetulan. Sejak kapan ada kabut ilusi di Gunung Weiyin?" sahut Lin Yan.
"Kakakmu benar. Kabut ilusi, hanya orang yang memiliki kultivasi yang dapat melakukannya. Dan orang ini, apa dia sebenarnya sudah mati? Atau hanya kesadarannya yang hilang?"
"Sudah jelas dia mati", Zhou Lan berkata. Pemuda itu melangkah mendekat. Memperhatikan dengan teliti orang yang masih ia ikat.
"Perhatikan. Matanya sepenuhnya berwarna hitam. Tidak ada denyut nadi atau detak jantung. Taringnya mencuat keluar seperti taring binatang buas. Kukunya juga runcing dan memiliki racun. Dia sudah mati sepenuhnya. Namun, ada orang yang sepertinya menaruh sihir hitam agar dia bisa dikendalikan. Mengubah wujudnya menjadi seperti ini dan mulai mengacau", Zhou Lan menunjuk mata, dada, mulut dan tangan makhluk itu. Memberitahukan bagian-bagian yang terasa aneh untuk dimiliki manusia yang hidup.
"Jadi, makhluk ini adalah mayat hidup?" tanya Lin Jiang.
"Bisa dikatakan begitu. Apa kau pernah membaca buku kuno tentang sihir hitam atau sihir kegelapan? Yang bisa membangkitkan orang yang telah mati?" Lin Jiang menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Zhou Lan.
"Sihir pembangkitan kembali adalah salah satu ilmu hitam dan terlarang di kalangan kultivator. Lebih tepatnya, mereka yang memilih kultivasi iblis untuk meningkatkan kekuatannya. Pada dasarnya energi mereka beraura gelap dan mencekam. Namun, hal ini cukup jarang terjadi di wilayah klan Lin. Hanya segelintir orang yang memilikinya"
"Orang yang menggunakan sihir pembangkitan memang bisa membuat seseorang yang sudah mati kembali hidup. Tapi, hasilnya tidak seperti kita yang sejatinya masih hidup. Orang yang dibangkitkan kembali tidak akan bisa melakukan apapun tanpa diperintah. Mereka tidak akan berguna, kecuali kalau mereka dimantrai sihir lagi. Seperti diberikan sedikit kekuatan, diubah wujudnya seperti ini atau dirasuki oleh roh. Sepertinya orang dibalik semua ini memanfaatkan hal tersebut untuk membangun kekuatan. Mengubah tampilan dari orang mati menjadi sekian rupa. Sampai tercipta makhluk sepertinya", Lin Xuan mengangguk pelan.
"Pendekar Zhou, menurutmu apa yang melatarbelakangi orang dibalik ini melakukan hal seperti itu?" tanya Lin Xuan.
"Aku tidak tahu. Yang jelas, sepertinya dia tengah membangun kekuatannya sendiri. Mungkin dia ingin mencoba membuat sedikit kerusuhan? Entahlah, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu", balas Zhou Lan.
Lin Jiang menatap Zhou Lan kagum. Berbeda dengan Lin Yan yang mengernyitkan dahinya. Lin Yan bertanya, "Bagaimana anda mengetahui itu semua?"
Zhou Lan tersenyum miring, "Karena aku membacanya sendiri. Buku kuno yang menjelaskan tentang pembangkitan kembali".
Perkataan Zhou Lan membuat Lin Yan memasang sikap waspada. Sedangkan Lin Xuan menatap Zhou Lan dengan rumit. Ketua klan Lin itu bertanya-tanya dalam hati mengenai identitas Zhou Lan.
Lin Xuan bisa merasakan bahwa Zhou Lan bukanlah orang sembarangan. Entah Zhou Lan adalah kultivator hebat yang menyembunyikan identitasnya ataupun legenda hebat lainnya. Lin Xuan harus waspada terhadap pemuda itu.
Berbeda dengan Lin Jiang yang memikirkan perkataan Zhou Lan. Lin Jiang berpikir kalau dirinya harus segera menuntaskan masalah ini secepatnya.
"Zhou Lan, apa kau tau kelemahan mayat hidup ini? Aku sempat menyayat punggunya dan menusuk dadanya, tapi tidak ada reaksi. Hanya setelah kepalanya terpisah dari tubuhnya, baru mayat hidup ini berhasil dikalahkan", kata Lin Jiang.
"Ada. Mayat hidup ini bisa dikalahkan dengan api hitam. Hanya itu yang bisa memusnahkannya. Kepala yang dipisahkan dari badan juga salah satu caranya, hanya saja itu berlaku pada mayat hidup yang masih lemah seperti yang kita temui. Jika mayat hidup ini jauh lebih kuat, maka dia bisa menyambungkan kembali kepala dengan tubuhnya. Dengan kata lain, hanya api hitam yang bisa membasminya".
"API HITAM?!" pekik tiga orang bermarga Lin itu.
"Benar. Aku tahu tidak ada orang yang memiliki api hitam saat ini. Jadi, cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan membunuh dalang di balik semua ini", timpal Zhou Lan.
"Ayah, jika masalah ini dibiarkan, maka akan ada banyak mayat hidup yang berkeliaran. Kita harus segera menemukan dalangnya", kata Lin Jiang penuh kekhawatiran.
Lin Xuan menghela nafas kasar, "Lin Jiang, kau bisa menangani ini? Masalah mayat hidup ini sangat berbahaya. Kau harus berhati-hati".
Lin Jiang mengangguk yakin, "Aku yakin ayah. Zhou Lan akan membantuku juga. Benar kan?" Lin Jiang tersenyum ke arah Zhou Lan.
"Siapa yang bilang aku akan membantu?" balas Zhou Lan.
"Pendekar Zhou, saya harap anda mau membantu kami menangani masalah ini. Anda memiliki banyak pengetahuan soal ini, jadi saya harap anda akan ikut membantu", pinta Lin Xuan sambil menghormat.
Zhou Lan mendengus, "Tentu, ketua Lin. Saya akan membantu sebisa saya".
"Terima kasih, pendekar Zhou. Kalau begitu akan lebih baik jika kita beristirahat untuk sekarang. Hari sudah malam. Pendekar Zhou, menginaplah di sini. Saya akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk anda", sebelum sempat menjawab, Lin Xuan dan Lin Yan pergi dari sana. Meninggalkan Lin Jiang dan Zhou Lan berdua.
"Kawan, mulai sekarang kita akan sering bekerja sama. Apa kau senang?" Lin Jiang merangkul bahu Zhou Lan.
Zhou Lan menatap datar Lin Jiang, pemuda itu menghempaskan tangan Lin Jiang dari bahunya. Zhou Lan beranjak pergi dari sana. Kini tinggal Lin Jiang seorang diri di ruangan itu.
Lin Jiang terkekeh pelan, "Siapa dirimu sebenarnya, Zhou Lan?"
***