The Destiny Of Our Lifes

The Destiny Of Our Lifes
Bab 3: Gunung Weiyin



"Bukankah mengerikan? Orang-orang itu berubah menjadi ganas dan mata mereka menjadi hitam. Kulit mereka yang awalnya berwarna putih berubah menjadi kehijauan", gosip salah satu pengawal di kediaman Lin.


"Benar. Dan itu semua terjadi di gunung Weiyin. Banyak orang yang juga menghilang setelah melewati kabut di gunung itu. Bahkan, kabarnya mereka berubah menjadi iblis mengerikan yang mengganggu warga di kaki gunung Weiyin", balas pengawal yang lain.


Lin Jiang yang sedang berjalan ke ruang kerja ayahnya mendengar mereka bergosip. Pemuda itu mengernyit mendengar pembicaraan kedua pengawal itu.


"Apa yang terjadi di Gunung Weiyin?" dua pengawal itu terkesiap mendengar suara Lin Jiang. Dengan cepat keduanya berlutut memberi hormat. Tubuh mereka sedikit bergetar karena takut.


"Hormat kami pada Tuan Muda Kedua Lin".


Lin Jiang menganggukkan kepala. Menerima hormat keduanya. Lin Jiang kembali bertanya, "Apa sesuatu yang sangat buruk terjadi di Gunung Weiyin?"


"Menjawab tuan muda, beberapa hari ini banyak desas desus beredar mengenai makhluk aneh berwujud manusia dengan mata yang sepenuhnya hitam dan kulit hijau di sekitar Gunung Weiyin. Masalahnya makhluk itu bisa menyerang siapapun yang ditemuinya. Di kuku mereka terdapat racun yang cukup mematikan. Sampai saat ini, tidak ada yang mengetahui pasti penyebabnya", jelas salah satu pengawal.


Lin Jiang mengernyitkan dahinya. Kipas di tangannya ia kibaskan dengan lembut. Lin Jiang mencoba berpikir tentang apa yang terjadi di Gunung Weiyin. Gunung yang selama ini selalu tenang dan menjadi sumber bahan makanan bagi kota Shan.


Lin Jiang meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Dia menebak bahwa ayahnya akan mengutusnya mengatasi masalah ini. Gunung Weiyin juga berbatasan langsung dengan kediaman klan Lin. Jadi, sudah semestinya Lin Jiang diturunkan dalam masalah kali ini.


"Salam hormat pada ayah", Lin Jiang langsung memberi hormat ketika sampai di ruangan ayahnya. Di sana juga ada sang kakak, alias tuan muda pertama keluarga Lin.


"Ayah terima hormatmu. Lin Jiang, ayah yakin kau sudah mendengar kabar tentang kondisi Gunung Weiyin, bukan?" Lin Xuan, ketua klan Lin, ayah dari Lin Jiang bertanya.


"Sudah ayah", Lin Xuan mengangguk.


"Tadinya ayah ingin mengirim kakakmu, Lin Yan untuk ke sana. Namun, ada masalah lain yang timbul. Dan ayah mengutus kakakmu menanganinya. Jadi, ayah ingin kau membawa pasukan elit klan Lin memeriksa kondisi di Gunung Weiyin. Jika memungkinkan tangkap satu makhluk itu dan bawa kemari. Kita harus bisa menangani masalah ini dengan baik. Mengerti?" tanya Lin Xuan.


Lin Jiang menyatukan kedua tangannya, "Mengerti ayah. Lin Jiang tidak akan mengecewakan ayah. Lin Jiang pamit pergi", ucap Lin Jiang tegas.


"A-Jiang*, berhati-hati. Makhluk aneh ini, kita tidak tahu seberbahaya apa mereka. Kakak tidak meragukan kemampuanmu yang hebat, tapi kau harus tetap waspada", kata Lin Yan menepuk bahu adiknya.


"A-Jiang mengerti. A-Jiang akan berhati-hati. Terima kasih, kakak", balas Lin Jiang.


"Kau bisa berangkat sekarang. Pilih pengawal yang akan kau bawa sendiri. Doa ayah menyertaimu", setelah diizinkan pergi, Lin Jiang memberi hormat pada ayah dan kakaknya lalu undur diri.


Lin Jiang menyelipkan kipas di pinggangnya. Tangannya berganti menggenggam pedang yang ada di pinggang kirinya. Pemuda itu langsung bergegas memilih prajurit yang akan menemaninya pergi ke Gunung Weiyin.


Setelahnya, Lin Jiang bersama sepuluh prajurit pilihannya bergegas pergi ke Gunung Weiyin dengan menunggang kuda. Pasukan Lin Jiang terlihat sangat gagah dan tangguh. Para prajurit baik itu prajurit elit maupun prajurit biasa, jika dari klan Lin, maka kemampuannya tidak bisa diremehkan lagi.


***


Membutuhkan waktu tiga puluh menit lamanya bagi pasukan Lin Jiang sampai di Gunung Weiyin. Kondisi Gunung Weiyin terasa sedikit mencekam.


Lin Jiang turun dari kudanya. Pemuda itu mengikat tali kudanya pada pohon yang ada di sana. Dia bersama prajuritnya harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Gunung Weiyin diselimuti kabut tipis berwarna putih. Memang tidak berbahaya, namun cukup mengganggu penglihatan. Hal ini membuat Lin Jiang memperingatkan prajuritnya untuk selalu waspada.


GRRRR!!!


Suara geraman rendah terdengar di telinga Lin Jiang. Pemuda itu semakin mengeratkan genggamannya pada pedang di tangannya.


"Tuan Muda, sepertinya itu bukan hewan buas", ucap salah satu prajurit.


Lin Jiang menganggukkan kepalanya, "Benar. Itu bukan geraman binatang. Tapi, seperti geraman manusia".


BRUGGHH!!!


KRAK!!!!


DUAG!!!!!


"AAAAAAAHHHHH!!!!"


Kejadian yang sangat cepat. Bahkan Lin Jiang tidak sempat bergerak. Sesosok manusia menerjang satu prajuritnya. Mencabiknya dengan kuku panjangnya. Menggigit dan memakan dagingnya begitu saja.


Lin Jiang terkesiap. Dengan segera dia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menebas punggung manusia yang menyerang prajuritnya. Darah menetes dari punggung itu. Dia berhenti mencabik dan menggigit, tapi dia tidak tumbang.


Lin Jiang sekali lagi dibuat kaget. Manusia itu berbalik. Menampakkan wajahnya yang terbilang mengerikan. Mata yang berubah menjadi hitam sepenuhnya, bagian pipi yang koyak seperti dicabik, mulut yang penuh darah dan taring yang mencuat keluar.


Seluruh urat tubuhnya tercetak jelas. Warna kehijauan menghiasi seluruh tubuhnya. Manusia itu menggeram marah pada Lin Jiang. Membuat Lin Jiang semakin mengeratkan pegangan pedangnya.


SLASH!!!


Lin Jiang kembali menebas sosok itu. Memisahkan kepalanya dari badan. Berhasil! Sosok itu langsung berubah menjadi debu.


Prajuritnya yang lain membeku di tempat. Sekujur tubuh mereka menggigil ketakutan. Pandangan mereka tidak fokus. Terus was-was sambil melihat sekitar.


"Jangan takut! Kalian harus terus waspada!" ucap lantang Lin Jiang.


GRRRRR!!!


GROAR!!!!


TAP!!


DUG!!! DUG!!!


KRAKK!!!


"AAAAAAAHHHHH"


"TOLONGG!!!!!"


"AAAAAAAAAHHHHHH"


Dalam sekejap mata, pasukan yang dibawa Lin Jiang terpecah belah. Makhluk-makhluk itu bermunculan mendadak dan membawa para prajurit ke tempat yang jauh lebih berkabut.


Lin Jiang sendiri kebingungan di tempatnya. Semua kejadian benar-benar terjadi secepat kilat. Pandangannya tidak fokus. Lin Jiang mengeluarkan busur yang dibawanya. Dengan kekuatannya, Lin Jiang membentuk panah es. Melesatkannya menuju target yang ditujunya.


Sayangnya, setiap anak panah yang dilepaskan selalu tidak tepat sasaran. Lin Jiang tidak bisa melihat dengan jelas. Kabut yang semula tipis semakin menebal. Lin Jiang hanya bisa mendengar jeritan pilu para prajurit yang dibawanya.


Sepuluh prajurit yang dibawanya tertangkap oleh makhluk aneh itu. Cabikan, gigitan, dan kunyahan terdengar jelas di telinga Lin Jiang. Tapi, Lin Jiang tidak bisa memprediksi dari mana suara-suara itu berasal.


Anak panah yang dilesatkannya sepertinya melenceng jauh dari semua target yang ditujunya. Lin Jiang diliputi rasa cemas akan prajuritnya. Membuat pikirannya berkeliaran tak tentu. Pandangan matanya semakin tidak fokus.


"DIMANA KALIAN?!"


"AAARGGGHHHHH"


"TUAN MUDA!!! TOLONG!!!!"


"TOLONG!!!!"


"AAAAHHHHG"


GRRRRR!!!


KRAK!!!


Lin Jiang mendengar dengan jelas suara permintaan tolong dan jeritan itu. Diiringi dengan suara kunyahan yang sangat nyaring. Seperti seseorang yang tengah memakan daging.


Lin Jiang menajamkan indera pendengarannya. Pemuda itu menutup matanya. Mengarahkan anak panahnya ke arah tenggara dari tempatnya berpijak.


SLASHH!!


HUUIIIKKK


Suara pekikan ngilu berasal dari makhluk aneh itu terdengar. Lin Jiang sedikit lega berhasil mengenai targetnya. Namun, Lin Jiang terlalu fokus menyerang sampai tidak sadar ada dua makhluk aneh yang mendekat.


TRING!!!


SLASHH!!!


BRUKK!!!


"Fokus ke sekeliling. Kau hampir saja menjadi santapan mereka juga. Dasar ceroboh!" entah dari mana datangnya, seseorang menghalau dua makhluk itu menyerang Lin Jiang dan memenggalnya.


"ZHOU LAN?!"


***