
Seorang pemuda berjalan santai di tengah keramaian pasar. Dengan kipas di tangannya, pemuda itu melangkah riang. Melihat dagangan para penjual di sana.
Bibirnya tersenyum ramah. Menyapa orang-orang yang memberinya salam. Bajunya yang berwarna putih dihiasi dengan ikat kepala yang senada dengan pakaiannya membuat pemuda itu semakin mempesona.
Para gadis di sana memekik pelan melihat ketampanan pemuda itu. Membuat iri pemuda lain yang juga ada di sana. Pemuda itu hanya tersenyum malu mendengar pekikan para gadis.
Saking fokusnya pada jajanan di pasar, ia tidak sengaja menabrak seseorang.
BRUK!!
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak sengaja", ucap pemuda itu.
Yang ditabrak menatap datar si pemuda. Dia menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari sana. Membuat pemuda itu penasaran akan sosoknya.
Dengan kilat, pemuda itu mencekal tangannya. Pemuda yang ditabrak itu menoleh, dia memutar tangannya yang dicekal dan mengunci pergerakan si pemuda.
"Jarang ada orang yang bisa mengunci tanganku. Saudaraku, siapa namamu? Aku Lin Jiang", Lin Jiang mengenalkan diri.
Pemuda itu hanya menatap dingin. Tidak mengatakan satu kata pun. Tangannya melepas kunciannya dan berlalu pergi dari sana. Mengabaikan tatapan tertarik Lin Jiang yang sudut bibirnya juga terangkat.
"Pemuda yang menarik", gumam Lin Jiang.
Lin Jiang terus memperhatikan pemuda itu sampai tidak terlihat lagi. Menggunakan ilmu peringan tubuh, Lin Jiang mengikuti pemuda itu secara diam-diam.
Lin Jiang bergerak bagaikan angin. Melompat dari satu atap ke atap yang lain. Terus memperhatikan langkah pemuda yang tidak sengaja ditabraknya.
Lin Jiang mengernyit heran ketika pemuda itu memasuki sebuah gang sempit yang sepi. Lin Jiang tetap bertahan di atas sebuah rumah. Matanya menyipit tajam. Melihat dengan jelas apa yang dilakukan pemuda itu.
Tawa merdu keluar dari bilah bibir Lin Jiang. Ternyata pemuda itu sadar diikuti. Lin Jiang memasang sikap waspada. Kalau-kalau pemuda itu menyerangnya tanpa aba-aba.
SRING!!!
TRANG!!
Dua buah jarum perak melesat ke arah Lin Jiang. Beruntung, Lin Jiang memiliki refleks tinggi. Dia menepis jarum itu dengan kipas di tangannya. Menghalau jarum-jarum itu mengenai tubuhnya. Mengembalikannya pada si pelempar.
Senyum miring terbit di wajah Lin Jiang. Pemuda itu melemparkan kipas di tangannya. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Lin Jiang menerbangkan kipas cantik itu dengan tajam. Mengarah tepat pada pemuda yang diikutinya.
TRING!!!
TAP!!
DUAR!!!
Pemuda itu menghindari kipas milik Lin Jiang. Menggunakan jurus langkah bayangan, pemuda itu menyerang balas dengan jurus yang dimilikinya. Menciptakan dentuman keras saat jurus itu mengenai kipas Lin Jiang.
TAP!!
SWING!!!
Lin Jiang melompat turun. Menangkap kipasnya dan memberikan serangan balasan. Lin Jiang mengarahkan telapak tangannya ke dada pemuda itu, namun berhasil dihalau.
Keduanya mengeluarkan pedang yang tersampir apik di pinggang masing-masing. Mengarahkannya tepat ke leher lawan.
"Wow, lumayan. Kau cukup hebat bisa mengetahui keberadaan ku, kawan", ucap Lin Jiang.
Pemuda itu menatap datar dan tajam Lin Jiang. Genggamannya pada gagang pedang semakin mengerat. Seolah dia siap mengoyak leher Lin Jiang saat itu juga.
"Fiuhh... Permainan pedang yang bagus! Dari mana kau berasal dan siapa gurumu?" tanya Lin Jiang. Pemuda itu memiliki kegigihan yang tinggi untuk terus bertanya. Walaupun setiap pertanyaannya tidak dijawab sama sekali.
Lawan bicaranya masih betah mengatupkan bibirnya rapat. Enggan membuka suara sama sekali. Justru pemuda itu mengambil langkah menjauh dari Lin Jiang, berniat pergi.
Dengan cepat, Lin Jiang meraih tangannya. Pemuda itu menghentikan langkahnya. Menoleh pada Lin Jiang tetap dengan tatapan datarnya.
"Teman, ayolah. Aku sudah memperkenalkan diri padamu. Namaku Lin Jiang. Siapa namamu? Bukankah tidak sopan kalau kau tidak memberitahukan namamu padaku setelah kau tahu namaku?" oceh Lin Jiang.
Pemuda itu menghela napas kasar. Mulai jengkel dengan Lin Jiang. Dengan nada malas, pemuda itu menyebut namanya, "Zhou Lan".
"Zhou Lan? Nama yang bagus! Baiklah! Mulai sekarang, kau temanku! Tidak ada penolakan!" Lin Jiang tersenyum lebar. Sedangkan Zhou Lan mendengus malas.
Dengan kasar, Zhou Lan melepaskan tangan Lin Jiang yang masih memegang lengannya. Zhou Lan melangkah pergi meninggalkan Lin Jiang di belakang.
Bukan Lin Jiang namanya jika tidak menempel pada orang baru yang berhasil menarik perhatiannya. Lin Jiang terus mengekori Zhou Lan. Padahal Lin Jiang tidak tahu apapun tentang Zhou Lan. Pemuda itu bahkan tidak tahu apakah Zhou Lan berbahaya untuknya atau tidak.
"Zhou Lan! Kau mau ke mana? Apa kau berasal dari daerah sini? Atau hanya singgah?" tanya Lin Jiang sambil berusaha menyamai langkah lebar Zhou Lan.
"Berisik! Itu bukan urusanmu", jawab Zhou Lan datar.
Zhou Lan kembali memasuki pasar. Hari itu masih belum terlalu siang. Matahari juga tidak terlalu terik. Masih banyak orang berlalu lalang di pasar. Sangat ramai.
Lin Jiang dengan wajah ramah dan kipas di tangannya kembali menarik perhatian kaum hawa. Membuat Zhou Lan menggerutu dalam hati. Zhou Lan benci jadi pusat perhatian.
Namun, kemunculan Zhou Lan di samping Lin Jiang justru membuat para gadis semakin menggila. Paras Zhou Lan tidak kalah dari Lin Jiang. Keduanya benar-benar mengeluarkan aura bangsawan yang terhormat. Sangat membuat para gadis itu jatuh hati.
"Lihatlah, saudaraku! Parasmu itu benar-benar membuat para gadis terpesona! Tersenyumlah sedikit untuk mereka", saran Lin Jiang.
Zhou Lan mendelik sinis mendengar perkataan Lin Jiang. Pemuda itu diam dan tidak menjawab. Membuat Lin Jiang menghela napas pelan.
"Saudaraku! Zhou Lan! Teman! Kau ini mencari apa sebenarnya?" tanya Lin Jiang setelah beberapa saat. Melihat Zhou Lan yang sepertinya hanya berjalan ke sana kemari tanpa tujuan jelas, membuat Lin Jiang gemas bukan kepalang.
"Tanaman obat", dua kata itu berhasil meluncur dari mulut Zhou Lan. Dan butuh waktu sepuluh detik bagi Lin Jiang untuk paham maksud perkataan Zhou Lan.
"Oh, kau mencari tanaman obat ternyata. Ayo, ikut aku!" Zhou Lan ditarik paksa oleh Lin Jiang. Tenaga Lin Jiang cukup kuat. Membuat Zhou Lan terpaksa mengikuti langkahnya.
'PAVILIUN OBAT YANG'
Tulisan itu yang pertama kali Zhou Lan baca saat memasuki sebuah toko. Lin Jiang menariknya ke toko obat yang juga menjual bermacam tanaman herbal.
Paviliun obat Yang sangat terkenal di kalangan para alkemis. Dan toko ini adalah tujuan Zhou Lan. Hanya saja, Zhou Lan tidak tahu letak pasti toko ini. Beruntung Lin Jiang menariknya ke sini.
"Nah, kau pilihlah obat yang dibutuhkan. Aku akan menunggu di sini", Lin Jiang duduk di bangku tunggu yang di sediakan di sana. Membiarkan Zhou Lan dengan urusannya.
Hanya 20 menit bagi Zhou Lan membeli tanaman obat yang diperlukan. Dirinya menghampiri Lin Jiang yang sedikit terkantuk di tempatnya.
"Aku selesai. Terima kasih atas bantuanmu, Lin Jiang", ucap Zhou Lan sebelum melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Lin Jiang yang tercengang di tempatnya.
"Kau membuatku semakin tertarik, Zhou Lan. Siapa dirimu sebenarnya?" gumam Lin Jiang.
Lin Jiang terus mengamati Zhou Lan, sampai Zhou Lan tidak terlihat lagi di matanya. Lin Jiang menghembuskan napas pelan. Pemuda itu juga beranjak dari duduknya dan kembali pulang ke kediamannya.
***