
Zhou Lan mendengar desas desus dari obrolan rakyat mengenai keanehan Gunung Weiyin. Sepanjang perjalanannya, Zhou Lan mencoba untuk tidak peduli. Hanya saja, di setiap tempat dia berhenti, ada saja warga yang membicarakannya.
"Makhluk aneh seperti apa sebenarnya? Semengerikan itu kah?" gumam Zhou Lan.
Zhou Lan menghela napas pelan. Perbincangan para warga yang semakin kencang membicarakan Gunung Weiyin berhasil membuat rasa penasarannya muncul. Zhou Lan bertanya-tanya dalam hatinya, haruskah ia pergi?
Genggaman Zhou Lan pada pedang di pinggangnya mengerat. Zhou Lan mengumpulkan tekad dan keberaniannya untuk pergi ke Gunung Weiyin. Melihat sendiri keganasan dari makhluk aneh yang katanya seram dan mematikan.
Posisi Zhou Lan dari Gunung Weiyin hanya membutuhkan waktu dua puluh menit berjalan kaki. Kakinya melangkah dengan ringan. Zhou Lan enggan menggunakan teknik peringan tubuh untuk menghemat tenaga.
Zhou Lan merupakan seorang kultivator yang kuat. Terbilang sangat kuat malahan. Mungkin, kekuatannya bisa menyamai para tetua di dunia kultivator. Tercatat dalam sejarah, pada masa itu, klan Lin adalah klan terkuat dari yang lain.
Itu artinya, ketua klan Lin alias Lin Xuan memiliki kekuatan yang sangat kuat dan mumpuni. Bakat kultivator itu menurun pada dua putranya, yakni Lin Yan dan Lin Jiang. Bisa dibilang kekuatan Zhou Lan setara dengan Lin Jiang.
Puncak Gunung Weiyin mulai terlihat. Zhou Lan menatap datar puncak gunung itu. Zhou Lan mengalirkan tenaganya pada kedua kakinya. Pemuda itu mulai melompati pohon-pohon. Kini, dia menggunakan ilmu peringan tubuh agar cepat sampai.
GROAARRR!!!
"TOLONG!!!!"
"TUAN MUDA!!! TOLONG!!!!!"
Langkah Zhou Lan terhenti. Pemuda itu berhenti di salah satu pohon sambil mengamati keadaan sekitar. Indera pendengarannya menangkap suara jeritan minta tolong yang berpadu dengan geraman dan kunyahan. Zhou Lan menajamkan kedua matanya. Mencoba melihat kejadian di balik kabut tebal Gunung Weiyin.
Mata Zhou Lan semakin membelalak ketika melihat pemuda yang ditemuinya kemarin, yaitu Lin Jiang seperti kehilangan arah. Serangan anak panahnya tidak beraturan.
"Sepertinya dia panik", gumam Zhou Lan.
Zhou Lan tetap diam di atas pohon, sambil memperhatikan Lin Jiang. Senyum miring terbit di wajah tampannya ketika Lin Jiang menajamkan indera pendengarannya.
"Boleh juga", komentar Zhou Lan.
Hanya satu detik Zhou Lan merasa lega, dirinya kembali tersentak. Lin Jiang terlalu fokus untuk melesatkan anak panah, sampai tidak sadar bahwa ada makhluk aneh yang mendekat.
TRING!!!
SLASHH!!!
BRUKK!!!
"Fokus ke sekeliling. Kau hampir saja menjadi santapan mereka juga. Dasar ceroboh!" entah dari mana datangnya, seseorang menghalau dua makhluk itu menyerang Lin Jiang dan memenggalnya.
"ZHOU LAN?!"
Dengan kilat, Zhou Lan melompat turun dan menebas dua makhluk yang hampir mencabik Lin Jiang. Kini Zhou Lan dan Lin Jiang sama-sama dikelilingi kabut tebal Gunung Weiyin.
"Bagaimana kau ada di sini?" tanya Lin Jiang penasaran. Hatinya sedikit lega ada orang yang datang membantu.
Zhou Lan tidak menjawab. Pemuda itu membelakangi Lin Jiang sambil melihat sekitar dengan pandangan waspada. Lin Jiang mendengus pelan ketika Zhou Lan tidak menjawab pertanyaannya.
"Zhou Lan! Menurutmu mereka itu apa? Ini pertama kalinya aku melihat makhluk aneh seperti itu", Zhou Lan menoleh, pemuda itu menggeleng pelan.
AAARRRGHHHH
GROAR!!!!
"TUAN MUDA!!! TOLONG!!!"
Jeritan minta tolong kembali terdengar, membuat Lin Jiang tertampar keadaan. Dengan terburu Lin Jiang kembali mengangkat busurnya.
"Tunggu! Tahan seranganmu! Kabutnya berubah warna", Zhou Lan menghentikan Lin Jiang yang akan melesatkan anak panah lagi.
"Berapa kali kau ke Gunung Weiyin?"
"Sering. Aku tidak ingat ini kunjunganku yang ke berapa", jawab Lin Jiang sambil kebingungan.
Zhou Lan menghela napas pelan. Dirinya membalikkan badan menghadap Lin Jiang, "Lihatlah, kabut yang semula berwarna putih, sekarang sudah berubah. Kabut Gunung Weiyin biasanya berwarna putih dan sangat tipis. Tapi, kini berbeda. Warna kabut ini lebih cenderung abu-abu dan lebih pekat dari biasanya. Jenis kabut seperti ini adalah kabut ilusi. Mungkinkah kita terjebak ilusi?"
Lin Jiang terdiam. Pemuda itu kemudian memperhatikan dengan seksama kabut yang mengelilingi tubuhnya. Memang benar apa yang dikatakan Zhou Lan. Kabut itu, berbeda dari biasanya.
"Kau benar. Kabut ini sangat berbeda dari biasanya. Itu berarti aku terjebak ilusi? Lalu, bagaimana dengan prajuritku?!" Lin Jiang teringat dengan semua prajurit yang dibawanya.
Zhou Lan menggunakan kekuatannya menggambar pola mantra yang terlihat rumit. Lin Jiang memerhatikan dalam diam sambil menatap sekitar waspada. Setelah selesai menggambar mantra, Zhou Lan mengarahkan tangannya ke arah kabut tebal yang mengurungnya.
Dalam sekali percobaan, kabut itu menghilang seketika. Digantikan kabut tipis berwarna putih, khas Gunung Weiyin. Lin Jiang menepuk bahu Zhou Lan. Senyum simpul terbit di wajahnya. Zhou Lan yang ditepuk menatap Lin Jiang. Dia juga ikut tersenyum.
"Sekarang, aku harus mencari prajurit yang ikut bersamaku", Zhou Lan mengangguk. Dirinya mengikuti langkah Lin Jiang dari belakang.
"Tuan muda!" beberapa prajurit menghampiri Lin Jiang dan Zhou Lan.
"Kalian baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Lin Jiang.
"Kami baik-baik saja, tuan muda. Justru kami seharusnya bertanya pada anda. Apa anda baik-baik saja? Kami mendengar anda berteriak dan meminta tolong. Tapi, kabutnya terlalu tebal dan kami tidak bisa melihat", jelas prajurit itu.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya, kita terjebak ilusi. Karena aku juga mendengar teriakan permintaan tolong dari kalian", prajurit itu mengangguk.
"Lin Jiang", Zhou Lan memanggil pelan. Lin Jiang menoleh ke arah Zhou Lan dengan pandangan bertanya. Zhou Lan mengarahkan telunjuknya ke arah depan. Di sana, segerombol makhluk aneh itu terlihat berjalan mendekat.
"Sial! Sepertinya kita akan terkepung oleh mereka", Lin Jiang berkata.
"Apa mereka dikendalikan oleh sesuatu? Apa yang menyebabkan mereka berubah bentuk seperti itu? Mata hitam, urat menonjol, tubuh berwarna kehijauan, belum lagi kuku mereka yang runcing", gumam Zhou Lan yang masih didengar Lin Jiang.
"Aku juga sedang mencari tahu hal itu. Menurutmu haruskah kita basmi mereka? Membunuh mereka?" tanya Lin Jiang.
Zhou Lan menggeleng pelan, "Menurutku mereka sudah mati. Hanya saja tubuh mereka digerakkan oleh sesuatu. Siapa yang berada di balik semua ini?"
"Waspada!"
GRRR!!!
DUG!!!
SLASH!!!
TRING!!!
BRUK!!!!
Makhluk-makhluk itu tiba-tiba berlari dan menerjang. Lin Jiang dan Zhou Lan mengeluarkan pedang masing-masing. Keduanya menebas dan melumpuhkan makhluk-makhluk itu dengan cepat. Memisahkan kepala dari tubuh mereka.
Para prajurit kediaman Lin tercengang takjub atas kecepatan permainan pedang keduanya. Mereka hanya bisa diam membeku melihat gerakan Lin Jiang dan Zhou Lan yang seakan menari di tengah kepungan makhluk aneh itu.
Zhou Lan mengeluarkan sebuah tali yang sudah diberi mantra khusus. Siapapun yang diikat oleh tali itu tidak akan bisa bergerak sebelum diizinkan oleh Zhou Lan. Pemuda itu mengikat satu makhluk yang sengaja dibiarkan untuk diteliti. Makhluk itu langsung diam tidak bergerak saat Zhou Lan berhasil mengikatnya.
"Kerja bagus, Zhou Lan", Lin Jiang menepuk bahu Zhou Lan.
"Baiklah! Sepertinya kita harus kembali. Hari juga sudah mau gelap. Zhou Lan, kau ikut denganku dulu, ya", kata Lin Jiang. Pemuda itu meminta prajuritnya untuk membawa makhluk itu. Lin Jiang juga menarik paksa Zhou Lan agar ikut bersama dengannya.
Zhou Lan yang ditarik menghela napas kasar. Dengan terpaksa dirinya mengikuti langkah Lin Jiang. Hari itu, Lin Jiang, Zhou Lan beserta prajuritnya kembali ke kediaman Lin dengan membawa satu makhluk yang dianggap meresahkan.
***