The Destiny Of Our Lifes

The Destiny Of Our Lifes
Bab 1: Pembantaian



Jubah yang dikenakannya berkibar. Angin malam bertiup lembut menyapa kulitnya. Matanya menyipit tajam tat kala melihat orang-orang di depannya.


Genggamannya pada pedang di tangannya semakin mengerat. Mengabaikan rintihan dan jeritan minta tolong, pemuda itu semakin ganas menusuk musuh-musuhnya. Tidak memberikan ampun sedikitpun. Wanita atau pria tetap ditebas oleh pedangnya yang tajam.


Pria itu menikmati tiap percikan darah yang mengenai tubuhnya. Bibirnya menyeringai. Membuat wajah tampannya semakin terlihat mengerikan. Cipratan darah di wajah dan bajunya semakin membuatnya terlihat bagai iblis mengerikan.


Bangunan-bangunan megah yang semula berdiri menjulang kini dilalap api. Si jago merah itu terus merambat dari satu atap ke atap yang lain. Meluluh lantahkan setiap inci bangunan.


"KEPARAT SIALAN! APA SALAH KAMI?! PERBUATANMU SANGAT KEJI!" amuk seorang pria paruh baya yang masih mempertahankan diri dari serangan pemuda itu.


"Kau tidak salah apapun. Hanya saja, ada orang yang menginginkan kepunahan klan mu", jawab pemuda itu santai.


"Ketua Tianji! Aku, Luo Tian akan membayarmu dua kali lipat! Lepaskan aku dan keluargaku!" pemuda itu tertawa sarkas mendengar ucapan Luo Tian.


"Tianji tidak pernah mengkhianati pelanggannya. Berapapun harga yang kau tawarkan, kami tidak akan tergiur".


DUAR!!!


TRING!!!


SLASH!!


Pemuda itu bergerak bagaikan angin. Lincah dan gesit. Setiap gerakannya sangat tajam dan menusuk. Senyum miring terpatri di wajahnya yang tampan. Puas dengan apa yang telah diperbuatnya.


Ketua Tianji dan Luo Tian saling bertukar jurus. Keduanya sama-sama kultivator. Hanya saja, kemampuan Luo Tian masih berada di bawah kekuatan ketua Tianji.


Kegigihan Luo Tian membuat ketua Tianji tersenyum miring. Salut dengan pertahanan diri yang dilakukannya. Ketua Tianji itu memberikan satu pukulan telak yang mengenai dada Luo Tian.


"UHUK!"


Seteguk darah segar keluar dari mulut Luo Tian. Pria itu menahan bobot tubuhnya dengan pedang yang digunakannya. Luo Tian menatap benci ketua Tianji. Ketua klan Luo itu seakan ingin melubangi kepala ketua Tianji.


"Biadab! Apa kau pikir kelakuanmu dapat diampuni?! Kau dan anggotamu, kalian tidak bisa dimaafkan! Dosa kalian besar! Membunuh yang tidak bersalah!" ucap Luo Tian menggebu.


"Kami? Melakukan dosa besar? Dosa besar seperti apa yang kau maksud ketua Luo? Membunuh yang tidak bersalah? Apa kau benar-benar tidak bersalah?" tanya Ketua Tianji beruntun.


"Tentu saja kami tidak bersalah! Kami tidak pernah menyinggung Tianji satu kali pun! Lalu mengapa kalian menyerang kami tanpa sebab?!" Ketua Tianji itu terbahak.


"Kalian tidak bersalah? Hahahaha! Munafik! Menindas mereka yang lemah! Memperbudak orang lain tanpa perasaan! Melimpahkan kesalahan pada mereka yang tidak berdosa hanya karena mereka lebih lemah dari kalian! Itu yang disebut tidak bersalah?!" Luo Tian terdiam mendengarnya.


Ketua Tianji menyeringai melihat keterdiaman Luo Tian. Klan Luo selalu dianggap sebagai klan yang mengayomi anggotanya. Namun, mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam klan itu.


Penindasan, perbudakan, mengambinghitamkan orang lain, bahkan membunuh mereka yang dianggap lemah dan mengganggu pemandangan. Siapa yang lebih biadab sekarang? Ketua Tianji beserta anggotanya ataukah Luo Tian beserta klannya?


Hitam dan putih tidak pernah bisa dinilai hanya dari luar. Bahkan, penjahat sekalipun masih bisa menghormati sesama. Baik mereka lemah atau tidak.


"Lihatlah dirimu, Luo Tian. Kau selalu dielukan sebagai ketua yang baik dan mengayomi, tapi apakah kau memang seperti itu? Seorang ayah yang membuang anaknya hanya karena dia cacat dan tidak bisa berkultivasi? Membunuh seorang anak hanya karena dia terlahir dari rahim pelacur? Apakah perbuatanmu tidak lebih keji dari kami? Setidaknya Tianji tidak pernah membedakan anggota mereka. Baik bisa berkultivasi atau tidak, semuanya sama. Berbeda dengan kalian, para kultivator menjijikan!" Luo Tian semakin termenung di tempatnya.


Ketua Tianji itu semakin terbahak melihat Luo Tian yang merenung. Matanya melihat sekitar. Menikmati pemandangan anggotanya yang asyik menebas siapapun yang berani melawan.


"Bakar semua tanpa sisa. Gantung kepala kedua Tuan Muda Luo di gerbang masuk kediaman klan", perintah Ketua Tianji. Pemuda itu langsung bergegas melaksanakan titah ketuanya.


"Kejam! Bagaimana mungkin kau menggantung kepala putraku?! Apa kau tidak punya hati?!" Ketua Tianji tersenyum miring. Dengan ujung pedangnya, dia mengangkat dagu Luo Tian agar menatapnya.


"Apa kau pernah mendengar kalau ketua Tianji memiliki hati?" Luo Tian terdiam. Benar, mustahil seorang pembunuh bayaran memiliki hati untuk berbuat baik pada mangsanya.


"Lihat baik-baik! Aku ingin kau melihat bagaimana kepala putramu digantung di gerbang klannya sendiri. Sebagai sambutan selamat datang bagi siapapun yang datang kemari", Luo Tian mengepalkan tangannya. Dia ingin menyerang ketua Tianji, namun apa daya? Luo Tian sudah kehilangan energi. Kekuatannya tidak akan cukup untuk menumbangkan ketua Tianji itu.


Luo Tian mengakui bahwa ketua Tianji itu sangat kuat. Bahkan, lebih kuat dari dugaannya sendiri. Dirinya dibuat tidak berdaya hanya dalam beberapa kali serangan. Belum lagi, aura ketua Tianji itu sangat mencekam. Membuatnya membeku tidak bisa bergerak.


Mata Luo Tian memanas. Dua putra tersayangnya, mereka sudah tidak bernyawa. Jasad keduanya diseret, membuat Luo Tian meringis. Luo Tian semakin terbelalak. Dua anggota Tianji memenggal kepala anaknya, seperti memotong buah. Tidak ada ekspresi.


Air mata Luo Tian meluruh. Wajahnya tertunduk dengan isakan kecil yang keluar dari bilah bibirnya. Hatinya sakit melihat kepala anaknya terpisah dari tubuhnya.


"Lihat, bagaimana kepala anakmu digantung di sana!" ketua Tianji meraih dagu Luo Tian. Menariknya paksa untuk melihat kepala anaknya digantung di atas gerbang.


Luo Tian menggertakkan giginya. Dia tidak tega melihat putranya diperlakukan tidak pantas seperti itu. Namun, dirinya sendiri tidak berdaya. Tianji terlalu kuat. Organisasi pembunuh bayaran nomor satu yang tidak pernah gagal dalam misinya. Luo Tian hanya bisa meratapi nasibnya. Karena sebentar lagi, Luo Tian juga akan menyusul kedua putra tercintanya.


Organisasi Tianji sangat berbahaya. Dan jejak mereka tidak pernah tercium baunya. Sekalipun Tianji selalu meninggalkan bekas yang menandakan bahwa itu perbuatan mereka, tapi tidak pernah ada yang berhasil menemukan sarang mereka.


Organisasi kultivator yang dibentuk untuk menampung kultivator dari berbagai penjuru saja tidak pernah bisa menemukan di mana markas Tianji. Dan tidak pernah diketahui siapa yang ada dibalik Tianji.


Setiap kali beraksi, Tianji selalu memakai topeng untuk menutupi identitas mereka. Karena itulah, tidak pernah ada yang benar-benar mengetahui siapa dan di mana Tianji itu.


Ketua Tianji tersenyum puas. Saat yang paling menyenangkan baginya adalah melihat mangsanya tersiksa secara mental. Membuat Luo Tian melihat keadaan mengenaskan putranya membuat ketua Tianji itu sangat bahagia.


"Baiklah, ketua Luo, ada yang ingin kau katakan untuk terakhir kali?" tanya Ketua Tianji.


Luo Tian memandang ketua Tianji dengan pandangan penuh dendam. Pria itu berkata, "Aku akan menunggumu di neraka!"


"Hm, menungguku di neraka? Baiklah, dan akan ku kalahkan lagi dirimu di sana!"


SLASH!!!


Kepala Luo Tian terpisah dari tubuhnya. Ketua Tianji menatap kepala itu dingin. Kakinya menendang kepala Luo Tian sampai mengenai gerbang Klan Luo.


"Gantung kepala pria itu di dekat kepala anaknya", perintah sang ketua langsung dilakukan. Matanya menggulir. Memperhatikan setiap bangunan yang masih dilalap api dengan puas.


"Ketua Zhou, kami sudah selesai", Ketua Tianji mengangguk.


"Kembali ke markas", dalam sekejap mata, ketua Tianji menghilang dari pandangan anggotanya. Dengan mantra teleportasi, ketua Tianji itu sudah kembali lebih dulu. Disusul anggotanya yang lain.


Malam itu, kediaman klan Luo hangus terbakar. Bersama jasad-jasad pengawal, pelayan, murid, serta keluarga. Dan di malam itu juga, klan Luo dinyatakan musnah dari dunia.


***