
"Wah.. Ini hari yang cerah ya Alan.."
Alan yang ikut menatap ke langit menyipitkan matanya dan menganggukin perkataan sang daddy barusan.
Nicol menatap ke kolam renangnya yang berisikan air berwarna biru jernih.
Nicol yang sudah siap dengan celana renang dan Alan yang lengkap dengan pelampungnya langsung nyebur kedalam kolam.
Alan tertawa senang, Nicol pun begitu, dia yang memegang pelampung Alan membawanya kesana-kemari.
Sudah hampir sejam lebih mereka habiskan bermain di kolam.
Nicol mulai berjalan ke tepi dan duduk memandangi Alan yang masih berada dikolam bersama beberapa mainan dan bola yang mengapung disekitarnya.
"Tuan.."
Nicol menatap ke asal suara. Bi Mita yang barusan memanggilnya, memberikan segelas jus semangka yang diminta Nicol tadi.
Nicol menerimanya dengan ramah tak lupa mengucapkan kata terima kasih.
Dia mulai menyeruput jusnya. Tenggorokan yang kering langsung segar seketika.
Alan yang menyadari ketidakberadaan sang daddy di sampingnya langsung menatap ke tepi.
Nicol dan Alan saling beradu tatap.
"Daddy.."
Terlihat Alan mulai menggerakkan kakinya melawan air tuk bisa bergerak maju ke daddynya. Tapi sayang, bukannya lebih mendekati sang daddy, malah dia lebih menjauh. Gerakannya tadi membuatnya bergerak mundur. Walau begitu, Alan tetap berusaha untuk bisa maju.
Yah semua ini dimaklumi aja karna ini pertama kalinya Alan mandi di kolam, jadi dia agak kebingungan bagaimana caranya berenang. Dan Alan juga masih balita, jadi dia masih dalam proses belajar.
Nicol yang melihat perjuangan Alan pun tak bisa duduk diam dan hanya menonton, dia segera menyebur ke dalam dan menghampiri Alan.
Diusapnya surai hitam Alan yang sudah basah. Dengan senyum Nicol menatap Alan.
"Tak apa.. Tadi itu sudah lebih dari cukup, daddy senang, kalo Alan mau tau caranya berenang, Nanti daddy ajari.."
Alan yang tadinya murung seketika ikut tersenyum. Nicol mulai melepas Alan dari pelampungnya dan mendudukkannya di pundak.
Alan yang berada disana tertawa, dia memeluk kepala Nicol dengan kedua tangan kecilnya.
Nicol ikut tersenyum, dia jadi teringat liburan mereka yang ke Bali 3 bulan lalu.
Dulu juga Nicol membawa Alan seperti ini saat akan berenang ke laut yang dangkal. Dia masih ingat bagaimana wajah Alan waktu itu yang ketakutan setengah mati.
Tapi sekarang sepertinya dia sudah tidak takut lagi.
"Nah Alan, sekarang kita mau kemana?"
Alan menatap ke sekeliling dan menunjuk ke arah bebek karet sedang yang terapung dibagian sana.
Tanpa lama, Nicol mulai berjalan ke arah yang ditunjuk Alan.
"Tuan.."
"Ya?"
"Apa tuan masih baik-baik saja? Ini sudah hampir dua jam tuan berada di kolam"
"Ah hum, aku masih baik-baik saja"
"Tapi tuan, anda tidak terlihat baik-baik saja, nafas anda mulai tak beraturan, saran saya, lebih baik tuan segera beristirahat karena ini tidak baik bagi kesehatan tuan"
"Ah kalian tak usah khawatir, aku masih kuat" dia menatap ke Alan yang masih berada di pundaknya memencet-mencet bebek karet. "Dan aku juga tak ingin merusak kesenangan Alan"
Nicol mulai berjalan menjauh dari tepian bersama Alan. Beberapa pelayan yang sedari tadi berdiri di tepi menatap khawatir tuan mereka. Mereka tau bagaimana kesehatan tuan mereka itu, tapi mau dibilang apa kalau Nicol tetap bersikeras tak mau beristirahat. Yah mereka hanya bisa berharap semoga tuan mereka si Nicol akan tetap baik-baik saja.
"A-Alan.." dengan nafas terengah-engah, Nicol menatap Alan dengan senyum. "Ayo.. Ha.. Kita.. Istirahat.. Ini sudah waktunya Alan makan siang, iyakan?"
Alan diam menatap wajah sang daddy yang terlihat kemerahan. Nicol mulai berjalan keluar dari kolam bersama Alan.
"Ha.. Ha.. Bi Mita, bisa kau ambil Alan.."
Baru saja Alan terlepas dari genggamannya, tiba-tiba dia mulai merasa pusing dan tubuhnya terasa mati rasa seketika dan tanpa lama dia pung tumbang.
"Tuan?!"
Semua pelayan menatap khawatir tuan mereka yang terbaring di lantai tak sadarkan diri.
Bi Mita segera menelfon dokter pribadi Nicol. Alan yang duduk disamping Nicol terlihat diam, dia terus memanggil-manggil daddy itu tapi tak ada balasan seperti biasa.
"Daddy.." air matanya yang berlinang seketika jatuh. Dia menangis.
Bi Mita yang melihat itu segera menggendong Alan dan menenangkannya. Tapi Alan tetap menangis dan rewel ingin mendekati daddynya.
Tak lama dokter pun tiba dengan 2 perawat yang bersamanya. Tanpa lama, Nicol segera dibawah ke kamarnya dan tindakan pertama pun segera diambil.
Infus sudah terpasang ditangan Nicol dan pernapasannya juga sudah kembali normal.
Nicol yang mulai mendapatkan kesadarannya mulai membuka mata dan menatap pria berjakun yang tengah berbicara pada salah seorang perawatnya.
"Dokter David.."
"Hum sedikit"
"Dari informasi yang ku dengar, katanya kau berada di kolam renang sekitar dua jam lebih, apa itu benar Nicol? "
Nicol terdiam lalu mengangguk. Dokter David menghela napas.
"Aku tau kau sangat ingin bersenang-senang dengan anakmu, tapi kau juga harus memikirkan kesehatanmu, tubuhmu itu terlalu lemah terhadap air, 30 menit saja itu sudah lebih dari kapasitas waktu pertahanan tubuhmu"
Nicol hanya diam mendengarkan.
"Tapi aku salut, kau bisa bertahan selama itu"
Tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil dari luar kamar. Nicol menatap ke pintu yang masih tertutup. Dia mengenali suara itu.
"Sepertinya ada seseorang yang sedari tadi tak sabar ingin menemuimu"
Dokter David segera berjalan membuka pintu. Terlihat Alan masih berada digendongan bi Mita.
Wajah yang basah karena air mata membuat raut wajah Nicol seketika khawatir menatap anaknya itu.
Bi Mita berjalan masuk dan langsung menaruh Alan disamping Nicol.
Tanpa lama, Alan langsung menyerbu tubuh sang daddy dan memeluknya. "Daddy...hiks.. Daddy.. "
Nicol mulai mengusap wajah Alan yang basah. "Cup.. Cup.. Tenanglah.. Daddy baik-baik saja.. Alan jangan menangis lagi ya.."
Alan yang mulai tenang tak mau melepas diri dari Nicol. Dokter David yang ingin memberikan suntikan pada Nicol, harus tertunda karena Alan menghalangi.
Dia tidak mau daddynya disuntik. Karena dia tau betapa sakitnya benda kecil yang dipegang dokter David itu.
Yah kalo ditanya bagaimana Alan mengetahuinya, jawabannya karena Alan rutin imunisasi tiap bulan. Jadi dia tidak mau daddynya yang sudah sakit malah dibuat tambah sakit.
"Alan.. Aku hanya ingin mengobati daddymu, Alan mau daddynya cepat sembuhkan?"
Alan menatap ke Nicol yang baru saja mengusap kepalanya. "Daddy akan baik-baik saja"
Alan mulai menuruti dan duduk diam memandangi Nicol yang akan disuntik.
"Anak baik"
Suntikan yang dipegang dokter David sejak tadi segera disuntikkan ke lengan Nicol.
Nicol diam tak bereaksi apapun. Alan yang sedari tadi menatap tak berkedip. Ini pertama kalinya dia melihat daddynya disuntik dan daddynya terlihat seperti tidak merasakan apapun.
"Nah, sudah kubilang kan kalo aku tidak ingin menyakiti daddymu, lihatlah dia masih hidupkan?"
Alan mengangguk dan kembali menyerbu tubuh sang daddy.
Kruuk.. Kruuukk..
Dokter David dan Nicol saling menatap lalu menatap Alan bersamaan.
"Alan.. Apa kau melewatkan makan siangmu?"
Kruukk.. Kruukkkk..
Lagi-lagi terdengar suara cacing memberontak, tapi asalnya bukan dari Alan.
"Sepertinya kau juga melupakan makan siangmu Nicol.."
Nicol cengar-cengir.
"Hum, aku akan bilang pada pelayanmu untuk menyiapkan makan siangmu dan Alan juga" ucap Dokter David lalu berlalu pergi.
Sekitar 7 menit, makan siang Nicol dan Alan sudah siap.
Dokter David mulai berjalan masuk ke dalam kamar bersama bi Mita yang membawa loyan makanan.
"Tuan-"
"Shuuttt.."
Bi Mita menghentikan kalimatnya sesuai perintah pak Dokter. Mereka berdua menatap diam anak dan ayah yang sudah tertidur lelap.
Alan yang berada diatas tubuh Nicol terlihat nyaman disana, begitu pun Nicol yang setia memeluk tubuh kecil Alan.
Mereka berdua terlihat sangat damai. Dan siapapun yang melihatnya pasti akan ikut merasa ngantuk.
"Lebih baik kita tinggalkan mereka dulu saat ini, bawalah makanan itu kembali keluar"
Bi Mita menuruti dan berjalan pergi bersama loyannya tadi.
Dokter David yang masih berdiri disitu menatap diam ayah dan anak itu. Terlebih pada si Nicol.
"Kau 3 tahun lebih muda dariku tapi kau benar-benar pria sekaligus ayah sejati Nicol.. Aku benar-benar salut padamu, kau merawat Alan yang bukan darah dagingmu seakan dia anak kandungmu, tidak seperti diriku, aku malah melakukan yang sebaliknya"
Air matanya yang berlinang mulai berjatuhan. Dokter David segera memalingkan wajahnya dan berjalan keluar.
Mata Nicol yang tadinya tertutup, membuka perlahan, manik birunya menatap sedih ke pintu.
"Dokter David.."