
Malam pukul 17.03
Sebuah mobil putih baru saja terpakir rapi di depan rumah yang berdiri megah didepan mereka.
Seorang gadis muda mulai berjalan keluar.
"Eh Nina, nanti sisa tugas yang belum dikerjain gimana?"
Nina berbalik dan menatap ke dalam mobil. "Nanti aja ya.."
"Oh baiklah"
Gadis itu kembali berjalan lagi menuju rumahnya, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba dia merasa pusing yang amat sakit dikepalanya.
Tubuhnya yang lemas sudah tak kuat berdiri lagi dan akhirnya dia pun tumbang.
"Nina!?"
Nina yang agak sedikit sadar membuka matanya perlahan. Dia menatap buram si pria bersurai pirang.
"Nicol.."
"Ada apa? Apa kau sakit Nina?"
Nina hanya menggeleng. Dia kembali menatap Nicol, manik biru miliknya memancarkan kekhawatiran. Nina yang melihat itu tersenyum simpul. "Aku tidak apa-apa"
"Benar?"
Sekali lagi dia mengangguk.
"Kalo begitu, biarkan aku mengantarmu sampai ke dalam"
Nicol membantu Nina berdiri dan menopangnya berjalan sampai ke dalam rumah.
Pintu yang tak terkunci membuat Nina masuk ke dalam dengan mudah.
Baru saja selangkah..
PLAAKK!!!
Nicol kaget bukan main menatap Nina yang baru saja menerima tamparan tanpa peringatan dari sang ayah.
Nina masih terdiam sembari memegang pipinya yang terlihat sangat memerah dan bekas tamparan tadi terlihat sangat jelas diwajah Nina.
"Dasar anak tak tau diri!! Masih berani ya kau datang kerumah ini. Apa belum puas kau permalukan kami semua?? Tak ku sangka kau menyembunyikannya selama ini. Katakan Nina! siapa pria bejat yang sudah menghamilimu??"
Mata Nicol membulat lebar. Dia menatap kembali Nina, terlebih pada perutnya yang agak sedikit buncit. Hamil?
Tubuh Nina yang agak membengkak beberapa bulan ini, dikiranya karena si Nina yang terlalu rakus dalam hal makan, tapi ternyata..
"Cepat jawab Nina!!"
Disidang mendadak membuat Nina agak shock. Dia menunduk pelan. Dia tau, dia memang salah dalam hal ini, tapi dia tak sepenuhnya salah disini, ada juga yang terlibat dalam kasus ini.
"Pak Keno.."
Semua anggota keluarga yang berada disitu termasuk Nicol menatap terkejut. Mereka tak menyangka kalau pelakunya adalah orang itu.
Pak Keno adalah guru les piano Nina yang terpaut 5 tahun lebih tua. Nicol yang sebagai sahabatnya yah pasti tau bagimana hubungan si guru dan murid itu. Tapi dia tak mengira kalau Nina dan Pak Keno akan berbuat sejauh ini.
"Sialan" ayah Nina mengepal keras tangannya. Sekali lagi dia ingin menampar Nina, tapi dihentikan oleh anak sulungnya.
Ibu Nina. Nyonya Siswankerto itu mulai mendekati anaknya dengan air mata yang menghujani wajahnya.
"Apa yang kamu pikirkan nak.. Kenapa kau lakukan ini.. Kau sudah mempermalukan kami.. Apa kau sudah tak sayang lagi pada ibu.."
"Kau sudah membuat ayah malu, mau taruh dimana muka ayah sebagai orang terpandang disini?"
Yah keluarga Nina adalah keluarga konglomerat yang sangat terpandang di wilayahnya. Siapa pun yang mendengar kata Siswankerto, pasti langsung terpikirkan betapa kayanya keluarga ini.
"Ayah.."
"Berhenti memanggil ayah, kau bukan anakku lagi. Jika kau masih menganggap ku ayah, kau pasti tidak akan melakukan hal zina itu"
Nina terdiam. Hatinya seakan di iris perlahan oleh pisau yang sangat tajam.
"Aku muak melihat wajahmu, lebih baik kau keluar dari rumah ini dan carilah pria itu lalu suruh dia bertanggung jawab sekarang!"
Nina masih menangis. Dia menggeleng pelan. "Aku sudah mencarinya selama ini yah, sejak aku hamil, aku sudah mencarinya untuk meminta pertanggung jawaban. Tapi dia tidak ada, dia menghilang tanpa jejak, dia meninggalkanku yah.."
Nicol yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu hanya bisa menatap diam. Tapi hatinya terasa sakit juga melihat sahabatnya tersiksa, tersiksa batin dan raganya. Dan anak itu, apa dia akan terlahir tanpa seorang ayah?
"Baiklah, ini keputusan terakhir ayah, kau akan ayah terima lagi dikeluarga ini tapi gugurkan anakmu itu!"
Semua mata melebar tak terkecuali Nina. Dia menatap perutnya. Apa dia harus menggugurkan bayi ini setelah 6 bulan dia menjaganya?.
Dia kembali menatap ke ibunya yang mendukung keputusan sang ayah. Nina mulai menghela napas dan memantapkan keyakinannya.
"Baiklah, aku akan menggu-"
"Aku akan menikahi Nina dan bertanggung jawab atas bayi itu. Jadi ku mohon biarkan dia hidup"
Semuanya menatap fokus Nicol yang barusan berbicara.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu Nicol?" sargas ayah Nina dan di anggukin mantap oleh Nicol tanpa ragu.
Ibu Nina mulai berjalan mendekati Nicol dan memegang bahunya.
"Ini tanggung jawab yang berat nak, kau tidak akan sanggup, dan kau masih muda, kau tidak sepatutnya menanggung kesalahan Nina"
"Tapi bi, aku tidak bisa membiarkan bayi itu digugurkan, dia juga manusia, dia ingin hidup dan melihat dunia seperti apa yang selalu dilihat ibunya selama ini"
Kata-kata Nicol barusan menumbuhkan lagi hasrat keibuan yang ada dalam diri Nyonya Siswankerto itu.
Apa yang dikatakan Nicol memang benar. Menggugurkan bayi sama saja dengan membunuhnya. Apa dengan hal itu kita masih pantas dianggap seorang ibu?
Ibu Nina menatap suaminya, berharap tuan Siswankerto itu menyetujui permintaan Nicol.
"Cih, lakukanlah semau kalian!" ucapnya yang langsung berlalu pergi ke dalam kamar. Ibu Nina juga menyusul sang suami.
Sekarang tersisa mereka bertiga di ruangan itu.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu Nicol?"
Nicol menatap ke Pandi, sang kakak dari Nina sekaligus anak sulung keluarga Siswankerto.
"Keputusanku sudah bulat" dia menatap ke Nina yang masih terduduk di lantai. "Aku akan menikahi Nina dan menanggung semua resikonya"
"Nicol.." lirih Nina menatap sang sahabat yang mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan dirinya. Dia benar-benar bodoh. Kenapa dia sampai melakukan kesalahan sebesar ini. Dan sekarang keluarganya harus menanggung malu dan Nicol..
"Aku sama sekali tak keberatan menerima bayi itu, bagaimanapun dia, aku akan menjaganya dan kau juga"
Nina mulai menangis dan memeluk Nicol. Dia tak menyangka Nicol akan berkorban sampai sejauh ini, padahal hubungan mereka hanya sebatas sahabat saja. Tapi Nicol tetap berdiri disampingnya walau disaat tersiksa seperti ini. Apakah ini artinya sahabat sejati?
"masih sebulan lagi untuk kalian lulus dari SMA, apa kau siap menanggung semua resikonya Nicol?"
"Aku siap" dia mengusap pelan kepala Nina. "Aku akan selalu menjagamu dan dia"