The Daily Of The Single Daddy

The Daily Of The Single Daddy
PROLOG 2



"Hey-hey apa kalian sudah dengar berita hot hari ini?"


"Ish kau ini, pagi-pagi dah gosip aja"


"Ini bukan asal gosip, tapi kenyataan sis.. Katanya si Nina dan Nicol bakal menikah setelah lulus nanti"


"Benarkah?"


"Iyya, dan parahnya lagi ternyata si Nina udah hamil duluaaann.."


"Hamil katamu? Jangan bilang itu anaknya si Nicol, padahal orangnya kalem dan berwibawa, dan si Nina kan juga dari keluarga terpandang, mengapa mereka melakukan hal sekeji itu, tapi si Nicol ni yang bikin aku pangling tak bisa percaya"


"Yah kalo tak mau percaya ya tak apa-apa, kan si Nina mau nikah ama Nicol yah berarti itu anaknya si Nicol dong"


"Wah bener-bener.. Apa mereka masih punya muka untuk hadir disekolah.. Padahal bersahabat tapi melakukan hal keji di belakang, ck, tak nyangka aku"


Nina yang sedari tadi duduk diam di bangkunya tak menoleh sedikitpun ke kumpulan teman sekelasnya yang lagi gosipin dia dan Nicol. Dia tau apa yang mereka bicarakan sejak tadi, karena mereka memang sengaja memperbesar volume suara agar didengar dirinya.


Dia memang harus malu atas perbuatannya. Tapi Nicol..


Nicol tak bereaksi apapun sejak tadi, dia yakin Nicol juga pasti mendengarnya.


Nicol yang duduk disampingnya menatap Nina lalu tersenyum. "Tenang saja" ucapnya sembari mengusap kepala Nina.


Nicol masih bersikap biasa saja, dia yang selalu tersenyum, masih saja tetap tersenyum saat ini. Padahal dia tengah menanggung beban berat. Tapi Nicol masih saja sempat tersenyum dan menenangkan dirinya.


Sebulan setelah itu, mereka diumumkan lulus 100%. Nicol bahagia dengan kelulusannya. Setelah semua ini, dia akan menempuh hidup baru dengan sang sahabat dan calon anaknya. Dia akan berjuang lebih keras mulai sekarang.


2 hari penyusunan pernikahan mereka akhirnya tiba di hari H.


Pesta pernikahan mereka digelar dirumah Nicol dan acaranya lumayan sederhana, karena itu permintaannya Nina.


Pernikahan itu tak dihadiri banyak orang, mungkin hanya orang sekitar rumah dan karyawan Nicol.


Keluarga Nina tak ada yang hadir terkecuali sang kakak, Pandi. Walaupun dilarang oleh sang ayah, Pandi tetap menghadiri pernikahan Nina, bagaimanapun Nina tetaplah adiknya. Jadi dia yang seorang kakak harus menggantikan peran sang ayah untuk mendampingi Nina.


Semalam setelah pernikahan, Nina mengalami kontraksi, perutnya terasa sakit luar biasa.


Sepertinya Nina akan melahirkan, tapi ini masih bulan ke 7. Apa dia akan melahirkan premature?


Nicol segera membawa Nina ke rumah sakit, dia juga tak lupa mengabari Pandi.


Sudah dua jam lebih Nicol menunggu di luar bersama sang kakak ipar.


Pintu ruang bersalin Nina masih belum terbuka juga. Tak lama dari itu seorang suster keluar dan menanyakan siapa suami nyonya Nina dan Nicol menyahuti.


Suster itu menyuruh Nicol untuk ikut masuk bersamanya. Nina membutuhkan sosok suami untuk menemaninya melahirkan dan Nicol lah yang harus melalukan itu.


Keringat penuh membajiri wajah dan pakaian Nina. Nicol mulai menatap khawatir melihat Nina yang terus berteriak, berjuang melahirkan anaknya.


Nicol mengenggam erat tangan Nina dan mengusap pelan puncak kepalanya.


"Kau pasti bisa Nina.. Aku akan selalu bersamamu disini, jadi berjuanglah.."


Nina tersenyum kecut diantara rasa sakitnya menatap Nicol. Yah dia harus berjuang keras, Nicol sudah berkorban banyak demi anak ini dan dirinya, dia tak boleh mengecewakan Nicol.


Setelah teriakan terakhir Nina, akhirnya sang anak pun lahir.


Dokter segera memotong tali pusatnya lalu membawanya ke bilik sebelah.


Tak lama, dia kembali lagi bersama sang bayi yang sudah tersarung kain. Bayi itu diletakkan disamping sang ibu.


Nina menangis menatap bayinya. Bayinya seorang laki-laki. Dan wajahnya.. wajahnya lumayan mirip dengan sang ayah kandung, Keno kekasihnya dulu.


Setelah menerima bayi itu dalam pelukannya. Tak sadar, Nicol meneteskan banyak air mata. Dia menangis. Ini pertama kalinya Nina melihat Nicol menangis sejak dia bersahabat dengan si Nicol.


"Dia hidup.. Bayiku hidup Nina.. "


Nina mengangguk pelan. "Yah semua ini karenamu Nicol, tanpa pengorbananmu mungkin dia tak akan ada disini.."


Nicol semakin menangis menatap bayi itu. Entah kenapa, rasanya dia sangat bahagia, apa ini yang dirasakan setiap ayah saat anaknya lahir?


Tiba-tiba Nina merasa sakit di perutnya. Nicol yang menyadari itu segera memanggil dokter.


Dia dan Pandi yang menunggu di luar mengharapkan keselamatan untuk Nina.


Tak berselang 28 menit, sang dokter pun keluar, raut wajah dokter terlihat tak menyenangkan.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?"


"Nyonya Nina mengalami pendarahan dan kritis.. Kami sudah berjuang semampu kami, tapi Nyonya Nina sudah tidak ada"


Baammm..


Seperti ada ledakan di hati mereka berdua mendengar kabar buruk itu. Nina meninggal. Apa ini mimpi??


Pandi mendekati sang dokter. "Tidak, dokter pasti salah, adikku masih hidup, dia belum meninggal"


Tanpa izin, Pandi berlari masuk ke dalam ruangan menemui adiknya. Dia masih tak percaya Nina sudah pergi.


Nicol yang masih berada di luar, berdiri mematung. Nina sahabat sekaligus istrinya baru saja meninggal. Dia kembali mengingat kata-kata terakhir Nina. Dia mengatakan untuk merawat dan menjaga anaknya. Dan dia juga sudah memberikan nama pada anaknya.


Nicol menatap ke dinding kaca yang memperlihatkan box bayi. Dia menatap fokus bayi laki-laki yang digendongnya barusan.


"Walaupun Nina sudah tidak ada, kau tidak akan kekurangan kasih sayang, aku akan memberikan semuanya sepenuh hati padamu, aku akan jadi ayah sekaligus ibu juga untukmu Alan.."


Hari pemakaman dihadiri banyak orang termasuk keluarga besar Siswankerto dan juga Nicol.


Alan yang lahir premature harus tetap tinggal di dirumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.


Pandi sudah memberitahu soal anaknya Nina pada keluarganya. Namun sang ayah masih bersikeras tak mau menerima anak itu.


Nicol yang mengetahui itu tak mengapa. Dia masih bisa merawat dan membesarkan anak itu seorang diri. Bahkan dia tak keberatan memberikan nama belakangnya untuk Alan.


Dan untuk biaya hidup, Nicol tak akan khawatir, soalnya dia tuh holang kaya.. Salah satu perusahaan besar yang ada di Indonesia adalah milik kedua orang tuanya yang sudah resmi menjadi miliknya.


Nicol memang tak pernah menunjukkan kekayaannya. Dia hanya bersikap seperti orang biasa dan itulah prinsipnya.


Sepulang dari pemakaman. Nicol langsung ke rumah sakit. Tuk menjenguk sang anak.


"Hai Alan, kita jumpa lagi, kau masih ngantuk ya.."


Nicol mengusap pelan pipi Alan yang terlihat gembul dan lembut.


"Tadi daddy ketemu sama kakek dan nenekmu, tak apa mereka tak menerimamu, tapi daddy masih ada disini dan daddy akan selalu bersamamu"


Nicol mulai mendekap Alan kedalam pelukannya. Dia tau bagimana rasanya jadi seorang yatim piatu. Karena diapun seorang yatim piatu.


Di umurnya yang ketujuh, Nicol kehilangan kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal menyusul sang ibu yang sudah wafat 2 bulan sebelum itu.


Jadi Nicol tau bagaimana rasanya hidup tanpa adanya kedua orang tua dan sejak itu dia hanya di asuh oleh beberapa pelayan dan kakek tua kepercayaan keluarganya yang sekarang sudah meninggal juga.


Jadi, urusan perusahaan harus diambil alih oleh Nicol yang masih terbilang muda. Karena setelah kedua orang tuanya wafat, kakek tomo lah yang mengurus perusahaan itu dan berkat dia, perusahaan itu masih bertahan dan masih jaya sampai sekarang hingga diserahkan pada Nicol.