The Daily Of The Single Daddy

The Daily Of The Single Daddy
episode 4



Sepulang dari Bali, Alan terlihat senang. Sedangkan Nicol malah tampil dengan kulit baru yang agak cokelat kemerahan.


Itu semua karena dia asik main sama Alan dan lupa pakek sunblock, hingga warna kulitnya berubah. Sedangkan si Alan malah tak pernah terlewatkan dipakein sunblock tiap menit.


Tapi setalah 2 hari kemudian, kulit Nicol sudah kembali seperti biasa.


Sekarang Nicol lagi menemani Alan bermain dikamarnya. Lagi asik-asiknya main, tiba-tiba ponsel Nicol berbunyi.


Ada panggilan telfon dari sekretarisnya yang mengatakan ada rapat jam 9 nanti.


Nicol mengiyakan panggilan itu. Alan yang merasa daddynya akan pergi langsung meremas lengan baju Nicol.


Dia tak mau Nicol pergi. Nicol pun jadi bimbang, mau pergi tapi Alannya gak mau. Dan keputusan terakhir, dia akan tetap pergi ke perusahaannya tapi Alannya juga dibawa.


Sesampainya di pusat kantor. Nicol berjalan masuk sembari mengendong Alan.


Dia yang mengenakan kemeja biru tua terlihat sangat menawan sedangkan si Alan dipakaikan kostum kelinci favorit Alan yang membuatnya tambah imut.


Para karyawan yang memperhatikan mereka berdua sejak masuk langsung menunduk hormat dan ada beberapa karyawan wanita muda yang sengaja melambaikan tangan pada Alan.


Tapi kasihan, Alan tak mau menyahutinya dan tetap diam di gendongan sang daddy.


Sesampainya diruang rapat. Para tamu sudah siap ditempat dan tanpa membuang waktu, acara rapat pun dimulai.


Alan yang sejak tadi bersama daddynya terlihat diam dipangkuan Nicol. Dia menuruti apa perintah Nicol tadi untuk tidak rewel sementara ini.


Nicol yang menyaksikan diamnya Alan membuatnya terkikik pelan, terasa ada yang menggelitik perutnya sekarang. Tapi setelah itu dia berfokus lagi pada isi rapatnya.


1 jam lebih berlalu dan rapat pun selesai. Nicol menatap Alan yang masih terdiam. Dia segera mengusap pelan kepala Alan.


"Rapatnya sudah selesai.. Jadi emosinya jangan ditahan lagi yaa.."


Si Alan yang mukanya jutek sejak tadi langsung rewel menghisap tangan sang daddy.


Ternyata si Alan kehausan dan sejak tadi dia diam saja karena menuruti kemauan Nicol.


Nicol menatap khawatir Alan yang lagi meminum susunya. "Maafkan daddy yah, karena menuruti perintah daddy, Alan jadi kehausan, lain kali, jika Alan mau minum, langsung bilang daddy aja"


Keluar dari kantor, Nicol membawa Alan ke mall besar yang berada di dekat kantornya.


Didengar hari ini, zona permainan anak baru saja dibuka, jadi Nicol tak mau Alan melewatkan momen ini.


Saat tibanya masuk, Nicol disuguhi bahasa inggris seperti kejadian di Zoo Park.


Yah si Nicol ikut arus saja dan berbicara bahasa inggris juga.


Karena kostum kelinci yang dikenakan Alan, banyak orang yang mengira Nicol sedang berjalan menggendong boneka, tapi ternyata tidak, yah mereka menyadarinya setelah Alan mengedipkan mata besarnya itu.


Mereka memulainya dengan naik kereta mini. Alan diletakkan di satu tempat yang kosong dan kerete pun mulai berjalan bersama dengan anak-anak lainnya yang berada disitu.


Nicol yang menonton dari samping, awalnya senang tapi setelah itu raut wajahnya berubah khawatir karena melihat Alan yang terlihat akan menangis disana.


Dengan segera Nicol menyuruh petugas itu menghentikan keretanya dan dia pun berjalan cepat mengangkat Alan dari situ lalu membujuknya yang sudah berlinang air mata.


Sepertinya Alan takut sendirian, itulah yang dipikirkan Nicol.


Setelah itu perjalanan ini berlanjut naik komedi putar. Kali ini Nicol tak membiarkan Alan sendirian lagi, dia naik bersama Alan dan Alan pun tertawa senang.


Lalu lanjut lagi ke mandi bola, naik seluncuran, terus mobil-mobilan mini.


Semua wahana sudah mereka coba dan Alan terlihat sangat senang. Sekarang giliran Nicol yang beraksi.


Dia menuju permainan mengisi bola basket. Disana ia meletakkan Alan di arena basket yang kosong lalu tanpa lama ia pun memulai permainannya.


Dalam waktu 3 menit, Nicol berhasil memasukkan 50 bola basket.


Yah semua yang menonton bertepuk tangan karena ini adalah skor terbaik yang pernah ada di Zona permainan ini.


Si Nicol sih hanya menganggapnya biasa. Soalnya ini itu permainan semasa sekolahnya dulu. Dia itu pernah jadi ketua klub basket 3 tahun berturut-turut dan sudah memenangkan banyak pertandingan. Jadi untuk game basket ini dianggapnya hanya pemanasan kecil saja.


Selesai mengambil kartunya, Nicol bersama Alan langsung menuju meja penukaran untuk untuk menukar tiketnya dengan hadiah.


Pilihan hadiah pun dia serahkan pada Alan yang memilih. Alan menatap serius semua barang-barang yang terpajang disana. Sepertinya dia terlihat bingung mau pilih apa.


Nicol juga kebingungan memilih. Mau ambil yang itu, tapi dah banyak dirumah, terus yang sana, tapi nanti ngga pernah kepake. Yah mereka pun memilih tak mengambil hadiah dan pulang.


Tiket sebanyak tadi Nicol berikan pada seorang gadis kecil yang ingin boneka teddy besar sejak tadi tapi tak terwujud karena tiketnya ngga cukup.


Orang tua gadis itu mengucapkan terima kasih dan Nicol hanya bisa membalasnya dengan senyuman.