The Daily Of The Single Daddy

The Daily Of The Single Daddy
episode 01



Sudah hampir sebulan lebih Nicol bolak-balik dirumah sakit. Dan hari ini, hari terakhirnya, hari terakhir Alan di inkubator bayi dan akan dipulangkan hari ini.


Nicol sangat senang sekali. Akhirnya hari yang dia tunggu tiba juga. Dan sepertinya bukan Nicol saja yang senang tapi Alan juga.


Sesampainya di rumah. Nicol dan beberapa pelayan yang mengikutinya masuk ke dalam kamar besar yang di pintunya tertulis nama Alan de Hungvinn.


Beberapa pelayan itu disuruh Nicol untuk menjaga Alan sementara, karena dia ada rapat dadakan sekarang.


Sebenaranya ia masih ingin bersama dengan Alan, tapi yah, urusan bisnis ini sangat penting yang harus menghadirkan dirinya. Jadi dengan berat hati dia pun pergi ke perusahaannya.


Kepergian Nicol membuat Alan sedikit menangis. Ternyata Alan juga belum mau melepas diri dari daddynya.


Mungkin kurang lebih 2 jam Nicol pun kembali ke rumah. Dengan cepat dia menuju kamar Alan dan ternyata Alan sudah tertidur di boxnya.


Beberapa pelayan yang ada disitu langsung memberitahukan pada Nicol bahwa sedari tadi Alan terus menangis sejak Nicol pergi dan dia baru saja tertidur belum lama ini karena lelah.


Nicol memahami hal itu. Dia segera mendekat ke box Alan. Semua pelayan mulai berjalan keluar dari kamar.


"Maafkan daddy yah Alan.. Kamu jadi kelelahan menangis karena daddy.. Daddy janji, lain kali daddy ngga akan ninggalin Alan seperti ini lagi" ucapnya lalu mengecup pelan dahi Alan.


Dan entah Nicol yang salah lihat atau apa. Tapi barusan Alan tersenyum. Dia tersenyum dalam tidurnya.


Nicol yang menyaksikan itu ikut tersenyum. Dia mulai berjalan keluar dari kamar Alan menuju kamarnya yang berada di sebelah.


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian. Nicol pergi lagi ke kamar Alan dan ternyata Alan masih tertidur.


"Ah bi Mita" panggil Nicol pada salah satu pelayannya yang barusan lewat.


"Ya, ada apa tuan?"


"Gini bi, bi Mita kan udah berkeluarga dan punya 2 anak, pasti bi Mita udah berpengalamankan dalam hal mengurus anak?"


Pelayannya yang bernama Mita itu mengangguk. "Apa tuan memerlukan bantuan saya?"


Nicol mengangguk. Dan bi Mita tersenyum. Dia memaklumi keadaan tuannya ini yang menjadi seorang ayah di umur muda tanpa sosok istri.


"Apapun yang tuan perlukan, tanya saja langsung ke saya jika tuan tidak mengerti, saya akan siap bantu"


"Etto.. Ini.. Aku mau bi Mita ngajarin aku cara membuat susu dan makanan bayi yang enak dan juga sehat untuk Alan, bi Mita bisakan?"


"Bisa tuan, kapan tuan ingin melakukannya?"


"Sekarang, karena kebetulan Alan masih tertidur"


Bi Mita pun mulai mengajak Tuannya ke dapur. Disana dia mengajari Nicol cara membuat susu dalam botol terlebih dulu.


Tak butuh waktu lama, Nicol mempelajarinya dengan cepat. Selanjutnya cara membuat makanan bayi.


Sehari sebelum kepulangan Alan. Dia sudah memborong banyak makanan bayi dan susu untuk Alan dan semuanya merek mahal berkualitas terbaik.


Setelah semuanya selesai, Nicol pun tersenyum. Ternyata tak sesulit yang ia bayangkan.


"Permisi tuan.. Alan baru saja terbangun dan dia menangis"


Tanpa berpikir, Nicol langsung menuju kamar Alan. Dan benar. Alan sedang menangis.


"Cup.. Cup.. Cup.. Daddy disini kok.. Jadi Alan jangan menangis ya.."


Tak berselang waktu lama, Alan pun terdiam. Mata cokelatnya yang sedikit terbuka menatap lekat wajah Nicol.


Nicol tersenyum. "Anak baik.."


Tapi setelah itu Alan menangis lagi. Nicol kebingungan.


"Tuan.. Sepertinya Alan kehausan"


Nicol yang menyadari itu segera menyuruh pelayannya untuk mengambil botol susu yang sudah ia buat tadi.


Susunya masih hangat, jadi langsung diberikan ke Alan. Dan Alan pun dengan cepat menyedot susu itu.


Ternyata dia memang benar-benar haus. Ini harus jadi pelajaran pertama untuk Nicol bagaimana cara mengurus bayi.


Alan meminum habis susunya sampai tertidur di gendongan Nicol.


Para pelayan mulai berinisiatif tuk mengambil alih Alan dari gendongan Nicol agar tuannya itu bisa beristirahat.


Namun ditolak oleh Nicol. Dia malah meminta para pelayannya untuk keluar. Karena dia ingin menikmati waktu berdua dengan sang anak.


Nicol terus memandang wajah Alan yang tertidur pulas dalam gendongannya. Dia mengusap pelan kepala Alan lalu mengecup pelan.


Dia sangat menikmati momen-momen ini. Momen dimana dia berduaan dengan Alan dan menikmati keimutan dan kehangatan Alan sendirian.


Sampai malam pun Nicol masih berada didalam kamar Alan. Bahkan dia sampai begadang menjaga Alan sembari mengerjakan beberapa tugas bisnisnya.


Para pelayan sudah menawarkan diri untuk menggantikan dirinya menjaga Alan tapi di tolak, kata Nicol, selama dia ada dirumah berarti dia yang akan menjaga Alan.


Mereka pun hanya bisa menuruti. Padahal mereka khawatir sangat pada tuannya itu karena demi menjaga Alan dia bahkan melewatkan makan siang dan malamnya.


Dibalik kekhawatiran, mereka juga takjub dengan Nicol. Bagaimana tidak? Dimana kau akan menemukan seorang ayah muda yang menjaga anaknya dengan telaten seperti tuan mereka si Nicol.


Paginya Nicol terbangun karena suara tangisan Alan. Dia segera menggendong lalu menenangkannya.


Beberapa pelayan mulai masuk. "Tuan.. Kali ini biarkan kami yang menjaganya... Tuan sarapanlah dulu dan beristirahat"


Nicol tak menanggapi dan tetap membujuk Alan yang mulai reda tangisannya.


"Kami semua khawatir pada tuan jika tuan terus saja seperti ini. Bagaimana jika tuan sakit? Mungkin Alan akan sedih jika itu terjadi"


Nicol membenarkan perkataan mereka. Yah jika dia sakit, bagaimana dia bisa mengurusi Alan lagi.


"Baiklah, tapi aku akan beristirahat setelah kalian mengajariku cara memandikan Alan dan memberinya makan"


Semua pelayan itupun menuruti permintaan Nicol dan tanpa membuang waktu, mereka pun segera mengajari semua hal itu pada Nicol.


Di acara pemandian, Nicol sendiri yang memandikannya dan para pelayan hanya boleh memperhatikannya dan sedikit membantu jika ada kesalahan.


Nicol benar-benar berjuang keras mempelajari semua hal tentang merawat bayi. Bahkan dalam waktu 2 hari ini, dia sudah mempelajari banyak hal. Walau ada banyak kesalahan, dia segera memperbaikinya.


Semua pelayan yang berada di kediaman besar Hungvinn ingin bertepuk tangan menyaksikan perjuangan Nicol. Bahkan banyak didalam hati mereka berharap, seandainya semua pria di dunia ini seperti tuan mereka si Nicol, mungkin dunia ini akan tentram.