
Pada umur 6 bulan, Alan jatuh sakit. Dia demam tinggi, tak mau makan dan sering rewel.
Nicol yang khawatir langsung memanggil dokter anak ke rumahnya.
"Bagaimana dok? Alan sakit apa?"
"Dia hanya mengalami pertumbuhan gigi pertama?"
"Gigi?"
Nicol yang penasaran segera membuka sedikit mulut kecil Alan dan benar, ada gumpalan putih kecil yang berada di antara gusinya.
"Lalu dok apa yang harus saya lakukan, soalnya dia tidak mau makan dan sering rewel"
"Anda tak perlu khawatir Mr. Hungvinn, ini hanyalah gejala biasa yang dialami setiap bayi. Mungkin sekitar seminggu lagi dia akan kembali seperti biasa jika gigi pertamanya sudah tak tumbuh lagi"
Nicol mengangguk paham. Dan dokter pun menyarankan beberapa obat demam pada Nicol dan dia berkata akan berkunjung tiap hari.
Setelah kepergian dokter, Nicol mulai mengerjakan apa yang dibilang dokter tadi.
Dia akan memberikan sirup demam pada Alan. Tapi sebelum itu, Alan harus makan terlebih dahulu.
Seperti hari-hari kemarin, setiap dikasih makan, Alan selalu saja rewel tak mau makan. Sesekali dia juga sering mengeluarkan kembali makanan yang ada di mulutnya.
Setelah selesai makan, Alan segera diberikan sirup demam dan kompres didahinya. Tak lama dari itu Alan pun tertidur.
Nicol terduduk disamping box Alan. Dibilang lelah yah memang lelah. Tapi rasa khawatirnya melebihi rasa lelahnya.
Dia sampai lupa mengurus dirinya sendiri demi merawat Alan yang lagi sakit.
Setelah seminggu berlalu. Alan sudah baikan dan kembali ceria seperti biasa.
Nicol senang akhirnya Alan tak sakit dan tak rewel lagi.
Setelah beberapa bulan gigi Alan yang lainnya pun sudah tumbuh, mungkin sudah sekitar 4 gigi susu.
Karena Alan sudah memasuki 8 bulan, dia pun mulai belajar duduk dan mengeluarkan kata-kata seperti babababa..
Nicol bahagia melihat perkembangan Alan yang tak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat.
Pagi selesai makan dan mandi. Nicol menemani Alan bermain dikamarnya sambil mengetik di laptopnya.
Alan yang berada di sampingnya pun tak mengganggu dan terus bermain dengan berbagai mainan yang berserakan didepannya.
Tak lama dia mulai bosan dan menatap daddynya. Nicol masih berkutat dengan laptopnya.
Karena merasa tak diperhatikan. Alan mulai merangkak lalu menarik baju daddynya untuk mau main dengannya.
Nicol yang menyadari itu menatap Alan dan tersenyum.
"Tunggu sedikit lagi ya Alan.. Daddy hampir selesai"
Alan tak mau tau, dia tetap menarik-narik baju Nicol.
"Dada.."
Alan mengatakan dada yang berarti dalam kamus Nicol adalah Daddy.
Nicol mulai menangis haru. Dia segera menggendong Alan.
"Alan.. Coba bilang dada lagi.."
"Dadadadada..."
Bibir Nicol bergetar, dia makin menangis bahagia. Ini pertama kalinya Alan memanggilnya dada walau sebenarnya harus daddy.
5 hari 5 malam. Nicol masih saja terus menangis haru tiap kali Alan mengucapkan dada.
Para pelayan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan si Nicol. Tapi ya.. Dimaklumi aja.
Pada hari ulang tahun Alan yang ke 1 tahun. Nicol tak sungkan membeli kue bertingkat yang tingginya mungkin setara kue pernikahan.
Tak hanya itu, dia juga mengundang beberapa anak tetangga dan anak-anak panti asuhan kenalannya.
Perayaan itu digelar besar-besaran di taman belakang rumah Nicol yang luasnya hampir sekira 3 kali rumah kalian.
Jadi sudah terbayangkan kan bagaimana luasnya kediaman Hungvinn itu.
Nicol tampil maskulin dengan jas putih yang melekat gagah ditubuh tegapnya. Rambutnya yang pirang dibiarkan tergerai seperti biasa.
Sedangkan Alan yang ada digendongannya mengenakan jas yang sama seperti Nicol, hanya saja bahan pakaian Alan sudah dikhususkan dengan bahan katun yang aman untuk bayi. Rambut hitam Alan yang sudah sedikit panjang dibiarkan tergerai juga. Kata Nicol supaya ada mirip-miripnya.
Semua undangan yang hadir disitu menatap takjub anak dan ayah itu. Terlebih pada kaum hawa yang menemani anak mereka.
Mereka tak menyangka pemuda bule setampan ini sudah punya anak dan berstatus duda juga.
Andaikan mereka masih single, pasti udah diembat tuh daddynya si Alan.
Namun ada juga yang berbisik-bisik dibelakang tentang perbedaan ayah dan anak itu.
Nicol si bule keturunan Belanda yang pasti memiliki raut wajah bule dengan rambut pirang dan mata biru.
Sedang Alan. Dia sama sekali tak mirip dengan Nicol. Dia memiliki raut wajah Indonesia yang sangat kentara. Rambutnya hitam dan matanya juga berwarna cokelat kehitaman.
Nicol yang mendengar jelas bisikan mereka segera menghampiri setelah memberikan Alan pada bi Mita.
Dengan senyum Nicol berucap. "Apa kalian tak salah lihat? Alan itu mirip saya karena dia itu anak saya. Dan ibunya itu Indonesia asli, jadi yah pasti Alan memiliki raut wajah Indonesia"
Mereka terdiam. Penjelasan Nicol barusan memang masuk di akal.
Nicol kembali ke atas panggung dan mengambil kembali Alan.
Pesta berlanjut dengan acara pemotongan kue yang dilakukan oleh Nicol.
Semua tamu yang hadir bertepuk tangan senang. Soalnya setelah ini mereka bakal kebagian kue bertingkat super jumbo yang sedari tadi melelehkan air liur mereka.
Setelah acara selesai. Para tamu mulai berpulangan tak lupa Nicol juga membagikan beberapa bingkisan dan amplop.
Semuanya senang karena ini adalah undangan ulang tahun terbaik yang pernah ada. Bagaimana tidak? Sudah disuguhi banyak permainan, bisa makan banyak kue, terus pas pulang dikasih bingkisan plus amplop yang isinya 5 lembar uang merah. Siapa yang tidak bahagia coba..?