
Kini hati Zara terasa bercampur aduk tak karuan, baru saja ia merasa senang tapi dalam sekejap ia menjadi sedih kembali, ia merasa khawatir dan takut jika Acha sampai dikeluarkan dari sekolah ini.
Sedangkan di ruang BP masih terlihat suasana tegang.
"Ada apa tuan mengundang hamba kemari" Acha memulai pembicaraan sembari menundukkan sedikit tubuhnya seperti seorang pelayan kerajaan yang memberi salam pada rajanya.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu, jangan memanggilku tuan, dan tidak usah terlalu formal karena disini hanya ada kita bertiga saja" Kata Bramantyo kepada Acha, Bramantyo adalah Papanya Hana, ia juga presdir dari perusahaan Bramantyo yang sangat tersohor dari kota S.
"Apakah yang membawa tuan sampai datang dan menemui hamba kemari" Lanjut Acha yang tak menggubris ucapan Bramantyo tersebut.
"Acha bisakah kamu mengerti ucapan ku tadi" Kata Bramantyo dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi, akan tetapi Acha hanya menatapnya dengan raut wajah yang tidak suka.
"Baiklah terserah kamu, tapi sebaiknya kamu minta maaf sama Hana" Lanjut Bramantyo.
"Atas dasar apa hamba harus minta maaf" Jawab Acha.
"Acha yang kamu lakukan pada Hana itu tidak benar, jadi kamu harus minta maaf"
"Memang hamba melakukan apa tuan?, sampai hamba harus minta maaf"
" Kalo kamu gak mau minta maaf padaku sebaiknya kamu pergi dari sekolah ini, dan kembalilah kekampung halamanmu yang busuk itu, dasar tak tau terima kasih" Hana merasa sangat kesal dengan Acha yang tidak mau meminta maaf padanya.
"Heh nenek lampir, Lho tuh gak punya hak disini untuk ngeluarin gue dari sekolah ini, lagian disini kedudukan Lho dan Gue itu sama, kalo lho bisa ngeluarin gue dari sini berarti gue juga bisa ngeluarin lho dari sini juga" Tutur Acha kembali.
"Kau ini...!"
Hampir saja tangan Hana mendarat pada wajah Acha akan tetapi Acha seketika menghentikan tangan hana dan ia balik menyerang Hana dengan tamparan yang sangat keras hingga membuat pipi Hana memerah.
"Jangan coba-coba untuk menyentuhku dengan tangan kotormu itu nenek lampir" Kata Acha dengan raut muka menakutkan karena sedang marah.
"Dan gue ingatkan, lho itu lebih muda dari gue jadi sebaiknya Lho jaga sikap saat berbicara padaku, dan Gue juga tau kalo Lho tuh gak bisa apa-apa tanpa bantuan dari Papamu itu jadi Lho tuh jangan songong, sikapmu itu sungguh menjijikkan " Imbuh Acha kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Hana dan juga Papanya.
"Acha..!" Panggil Bramantyo kepada Acha yang pergi meninggalkan ruang BP tersebut, tiba tiba "BRUAAAK..." Terdengar suara pintu yang terdengar sangat keras hingga memekakkan telinga.
"Papa lihat sendirikan kelakuan Acha, sebaiknya papa secepatnya.." Kata Hana .
"Sudah cukup Hana, Kenapa kamu selalu punya masalah sama murid-murid disini, jika nanti kamu minta papa untuk mengeluarkan salah satu murid lagi yang ada disini, nanti Papa yang akan memindahkanmu kesekolah asrama" Ucap Bramantyo yang terlihat kesal.
"Kok Papa jadi nyebelin banget sih, aku benci Papa" Ujar Hana sembari meninggalkan Papanya sendirian di ruang BP.
"Hana mau kemana kamu!" Teriak Bramantyo namun tidak ada respon dari Hana, kemudian Ia mengusap kasar wajahnya lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
***
saat jam terakhir sepertinya para guru sedang melakukan rapat, jadi terpaksa semua kelas tidak di isi pelajaran dan terlihat para siswa seperti sedang bergembira, tetapi berbeda dengan ruang kelas 8C, semuanya nampak cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada ketua kelas itu.
Acha berjalan dengan sedikit meneteskan air mata nya, setelah sampai didepan kelasnya ia mengusap dan kemudian masuk dengan memperlihatkan wajah cerianya seolah tidak terjadi apa-apa, ia paham betul bahwa teman satu kelasnya pasti merasa cema dan khawatir pada dirinya.
"Acha gimana tadi?" Tanya Zara yang sangat penasaran,
"Ibu ketua apa kamu dikeluarkan dari sekolah ini?" Tanya salah satu teman sekelasnya.
"Cha Maafin gue ya, ini semua pasti gara-gara gue kan?" Zara meneteskan air matanya ia merasa sangat bersalah, karena dia hanya berbuat iseng tapi diabtidak pernah menyangka jika kejadiannya akan jadi seperti ini.
"Heh kalian semua tenanglah, gak ada yang bisa ngeluarin Acha dari sekolah ini, hanya aku saja yang berhak menentukan hidupku sendiri orang lain tidak bisa mengaturku" Jawab Acha dengan tersenyum kepada semua teman-temannya, seketika suasana kelas tersebut kembali ceria seperti semula.
"Ada apa ini, sepertinya pada seneng banget" Suara Fatya membuyarkan kerumunan tersebut, seketika Acha dan Zara langsung memeluknya.
"Acha coba ceritakan dong ada apa, soalnya tadi Gue gak sengaja lihat Lho didepan pintu menangis, apa kamu beneran akan keluar dari sekolah ini dan meninggalkan kita?" Tanya Fatya
"Acha sebenarnya ada apa sih, tadi lho bilang gak dikeluarin dari sekolah ini lalu kenapa kamu nangis" Tanya Zara penasaran.
"Tadi tuh gue nangis karena bahagia gak jadi dikeluarin dari sekolah ini, ya meski tadi ada sedikit drama dan akhirnya gue yang menang" Ucap Acha.
***
"Ra lho gak ikut latihan musik hari ini?" Tanya Acha.
"Emang Zara mau kemana?" Tanya Fatya Bingung.
"Ah gue lupa bilang sama lho kalo Zara mau nge-date berdua sama Argha" Saut Acha
"APA!" Teriak Fatya yang terkejut dengan ucapan Acha.
"Duh suaranya bisa dikondisikan gk sih, bisa-bisa budek nanti telinga Gue" Timpal Acha sambil menutup kedua telinganya.
" Volumenya kegedean ya tadi" Jawab Fatya terkekeh.
"Sudah-sudah jangan ribut" Ujar Zara.
"Seharusnya tuh kalian nge-datenya saat akhir pekan nanti bareng Fatya sama Bagas, kan bagus tuh double date ya kan Fat?" Ujar Acha.
"Lebih bagus lagi kalo trio date, iya kan Ra?" Ucap Fatya sambil tersenyum.
"Siapa yang satunya?" Jawab Acha.
"Ya Lho sama Arvind dong" Ledek Fatya sambil terkekeh.
"Akhir pekan ini kita harus istirahat untuk mempersiapkan event olahraga nanti Cha karena sudah hampir dua minggu ini kita latihan begitu keras kalo gak istirahat nanti yang ada kita sakit, yaudah Gue pamit pergi dulu ya soalnya Argha sudah nunggu Gue didepan, bye bye!" Pamit Zara meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Sejak kapan Argha mau dideketin cewe?" Fatya kembali bingung.
"Sejak tadi waktu istirahat" Jawab Acha dengan santainya.
"Hah yang bener lho?, kok bisa?" Tanya Fatya yang sangat penasaran
"Ya bisa lah, buktinya tuh Argha ngajakin Zara nge-date berdua" Jelas Acha kembali.
"Iya gue juga tau bambang, lho gak merasa curiga atau gimana gitu?" Fatya sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi pada Argha dan Zara yang tiba-tiba menjadi dekat.
"Enggak biasa aja!, yuk Gue mau latihan" Timpal Acha kembali.
" Hmm.. Gue juga mau lihat kekasih Gue latihan" Ucap Fatya.
"Ya udah barengan aja, lagian kan lapangan basket dengan markasnya tim cheers satu gedung" Ajak Acha.
"Come on!". Fatya mengiyakan ajakan Acha.
***
Digerbang sekolah nampak Argha yang sedang menunggu Zara, tak lama kemudian Zara datang menghampirinya.
" Argha" Sapa Zara.
"Yuk" Ajak Argha tanpa basa basi lagi.
"Awas kau Zara, aku pastikan mulai besok hidup kamu tidak akan tenang, lihat saja nanti!" Gumam Hana dalam hati.
Kemudian Hana segera pergi ke aula latihan tim cheers dan segera berganti baju latihan, setelah mengganti pakaiannya ia segera ikut bergabung bersama teman-temannya.
"Kenapa aku bisa lupa kalo di tim cheers ada anak kampungan ini, kenapa aku jadi sial banget sih kalo berurusan dengan dia, Papa juga selalu membela dia dibanding aku, seharusnya dari dulu aku harus menyingkirkannya sekarang dia jadi penghalang semua rencanaku, aku harus memikirkan sesuatu agar dia bertekuk lutut padaku" Gumam Hana sambil melirik ke arah Acha dengan tatapan tidak suka.
***
Keesokan harinya Zara nampak sangat bahagia, ia merasa seolah beban pikirannya perlahan mulai ringan, pagi itu seperti biasa ia diantar sopirnya menuju rumah Acha, karena memang setiap hari Zara selalu berangkat ke sekolah bersama Acha.
"Ra kemarin Lho ngapain aja sama Argha" Tanya Acha usil pada Zara.
"Rahasia dong" Jawab Zara sembari tersenyum.
"Ooh sekarang udah main rahasia-rahasiaan nih ceritanya" Ketus Acha.
"Cha nanti kita lihat tim basket latihan yuk, soalnya Argha akan ikut dalam tim basket gantiin salah satu pemain yang cedera" Ajak Zara.
"Loh.. Bukannya Argha tuh ikut ekstra karate ya, kok bisa ikut tim basket"
"Tim basket kekurangan orang dan akhir-akhir ini lagi dirundung banyak masalah, lalu Bagas sama Arvind nyaranin supaya Argha masuk ke tim basket sebagai anggota sementara selama event, karena memang Argha tuh mainnya bagus banget, jadi nanti Lho mau kan nemenin gue buat lihat Argha latihan"
"Gak bisa Ra, Lho lupa kalo nanti kita akan menghias kelas dan sore nanti harus segera selesai apa lagi nanti tim cheers juga ada rapat pemilihan leader pengganti lagi" Ujar Acha.
"Oh ya kenapa gue bisa lupa sih"
" Cha jadi leadermu itu bener ngundurin diri?, ini kesempatan lho Cha untuk jadi leader selanjutnya" Lanjut Zara
"Gue rasa itu gak mungkin deh, karena ada Hana jadi otomatis dia yang akan ambil alih posisi itu" Jawab Acha.
"Kenapa harus Hana sih, pasti setelah dia dapat posisi leader dia akan bertindak semena-mena"
***
Kriiiiiiing... Kriiiiiiing... Kriiiiiiing...
Bel istirahat berbunyi saat itu Zara, Acha dan Fatya segera ke kantin dan tak disangka mereka berpapasan dengan Argha, Bagas dan juga Arvind.
"Hey Ra, pangeran Lho datang tuh" Kata Fatya.
"Pangeranmu juga datang tuh!" Ucap Acha.
"Calon pangeran Lho juga ikut dateng tuh," Ledek Fatya sambil tersenyum.
"Apaan sih Fatya" Jawab Acha ketus.
"Hai Beb, Hai Ra" Sapa Bagas.
"Hai" Jawab Zara dan Fatya bersamaan.
"Kok Gue gak disapa sih?" Tanya Acha pada Bagas.
"Hai Cha.."Sapa Arvind.
" Eheeem Eheeem.." Fatya berdehem karena sengaja menggoda Acha.
"Ra, yuk kekantin" Ajak Argha yang langsung menarik tangan Zara pergi meninggalkan keempat orang temannya.
"Eee... Sejak kapan mereka..." Ucap Bagas yang nampak kebingungan.
"Lho gak tau kalau mereka udah pacaran" Saut Acha.
"WHAT.." Bagas dan Arvind sangat kaget mendengar ucapan Acha.
"Iya, kemarin Zara diajak nge-date sama Argha" Tambah Fatya menjelaskan.
"Fat gue gak ikut kekantin ya karena ada urusan sebentar sama anggota tim cheers, Bye" Kata Acha.
"Kok gitu sih Cha?, Lho gak kasihan sama Arvind sendirian jadi obat nyamuk" Tanpa mendapatkan jawaban dari Acha karena Acha sudah tergesa-gesa untuk pergi.
"Tuh kan selalu aja kayak gini kalo Acha mau Gue jodohkan sama orang selalu aja menghindar" Gumam Fatya.
Fatya, Bagas dan Arvind pun segera menyusul Argha dan Zara yang sudah berada di kantin duluan.
"Fat, Acha mana?" Tanya Zara.
"Tadi Acha bilang ada urusan" Jawab Fatya.
"Gue mau ke kamar mandi bentar ya" Pamit Argha.
"Kenapa Ga?" Tanya Zara.
"Perut Gue sakit" Argha pun pergi meninggalkan kantin.
"Kenapa dia, padahal belum makan apa-apa" Gerutu Zara.
"Mungkin penyakitnya kambuh, dia kan punya riwayat sakit diare" Saut Bagas sambil terkekeh.
"Apaansih gak lucu!" Saut Zara dengan raut muka cemberut.
"Sudahlah sayang jangan bicara asal tentang Argha, karena ada yang gak suka tuh" Ledek Fatya sambil tertawa.
"Gue gak nyangka Ra kalo lho bisa ngambil hatinya si Argha" Kata Arvind menimpali
"Apalagi Gue, katanya Lho cuma iseng kirim Chat itu, taunya sekarang jadi beneran pacaran, gak nyangka banget Gue" Lanjut Bagas
"Udah gak usah bahas kenapa gue sama Argha jadi deket dan sebaiknya kalian cepet pesen makan sana" Ujar Zara.
***
"Kenapa ngajak aku ke loteng, cepat katakan ada perlu apa" Suara seseorang terdengar sangat kesal.
"Gue tau kalo Lho penyebabnya leader tim cheers kita mengundurkan diri dan sampai dia harus pindah sekolah" Kata Acha, Ya orang yang berada diloteng tersebut adalah Acha dan juga Hana.
"Maumu Apasih, udah bagus aku gak ngeluarin kamu dari sekolah ini, seharusnya kamu bersyukur jadi kamu gak usah gangguin Gue lagi"
"Maksudmu Gue harus berterimakasih karena Lho gak jadi ngeluarin Gue dari sekolah ini gitu?, heh, seharusnya Lho ngaca dong, sampai kapanpun juga Lho gak akan bisa ngancam Gue untuk keluar dari sekolah ini" Ucap Acha.
\-\-\-***To Be Continued***