Sustainable

Sustainable
Kekhawatiran



Acha segera menuju ke loker dan segera berganti baju latihan, ia nampak terburu-buru karena ia sudah terlambat untuk ikut latihan.


"Duh gawat bisa kena hukuman nih Gue, apalagi nanti bakal ketemu si nenek lampir sialan itu" Gumam acha sambil berlari menuju tempat latihannya.


Dan sesampainya di aula latihan tim cheers, Acha melihat sekelilingya dan ternyata teman-teman satu ekstranya sudah mulai pemanasan, kemudian ia segera ikut dalam barisan dan mengikuti gerakan berikutnya untungnya para senior belum datang. Acha melihat sekelilingnya dan seperti sedang mencari seseorang.


"Ren, kamu lihat Hana gak?, kok Gue dari tadi belum lihat batang hidungnya?" Acha bertanya pada Rena teman satu ekstranya.


"Tadi sebelum latihan dimulai dia kesini dan kayaknya dia gak ikut latihan deh, soalnya saat masuk keruang latihan ia masih pakai seragam dan membawa tas gitu" Rena mencoba memberi tahu Acha.


"Oh..!" Saut Acha dengan raut muka yang tidak peduli.


"Cha aku denger kamu tadi waktu dikantin sedang bertengkar dengan Hana, Apa benar begitu Cha?" Tanya Rena kepada Acha mengenai kejadian waktu istirahat dikantin itu.


"Oh itu... Ya.. Salah sendiri ngapain dia cari gara-gara sama Gue dan juga sahabat-sahabat Gue" Jawab Acha.


"Cha sebaiknya kamu mulai sekarang hati-hati deh, takutnya kalo Hana berbuat yang lebih nekat lagi untuk membalasmu" Rena mencoba memperingati Acha


"Emang Gue takut dengan si nenek lampir yang keras kepala itu, Gue mah bodoamat kalaupun dia berani macam-macam sama Gue, Gue juga gak akan tinggal diam gitu aja, aku juga akan melqkukan hal yang lebih nekat dari dia!" Acha seperti tidak takut dengan bahaya apa yang akan ia alami kedepannya.


"Cha disini yang berani melawan Hana cuma Lho doang tau gak?, Aku salut sih ama keberanian kamu itu, tapi kamu juga harus berhati-hati, kalo Hana berbuat nekat beneran takutnya kamu akan dikeluarin dari sekolah ini"


"Makasih Ren atas peringatanmu itu, Gue pasti akan ingat itu, dan Lho gk usah khawatir kalo gue sampai dikeluarin dari sekolah ini, karena itu tidak akan terjadi, secarakan Gue murid paling cerdas disini kalo Gue sampai dikeluarin lalu siapa yang bisa bersaing dengan sekolah SMP Bina Bangsa, yang ada prestasi sekolah kita akan semakin menurun dan hanya bisa mengharapkan kemenangan dari pertandingan Olahraganya saja bener gak?" Jawab Acha dengan sombongnya meski ia tak bermaksud untuk menyombongkan diri hanya saja untuk meyakinkan semua orang bahwa dirinya tidak akan dikeluarkan dari sekolah itu meski harus berurusan dengan Hana anak dari pemilik sekolah tersebut.


"Bener juga ya, pasti para guru juga akan mempertimbangkannya lagi, secarakan baru kali ini sekolah dapet prestasi di bidang akademik, lagian kalo dibidang olahraga.., tim basket kita jarang menang kalo berhadapan dengan SMP Bina Bangsa" Ujar Rena.


"Udah ah memujinya, tadi kan Gue gak bermaksud sombong, mending kita latihan biar nanti saat kompetisi kita bisa menang."


***


Di ruang latihan musik Zara nampak tidak konsentrasi dengan latihannya, ia terlihat sangat khawatir dengan Acha, Zara merasa sangat bersalah jika sesuatu terjadi pada sahabatnya itu, Zara dan Acha sudah berteman semenjak ia kelas 3 SD waktu itu Acha adalah murid pindahan dari Kota M, dan sejak saat itu keduanya menjadi akrab hingga kini


"Ra kamu bisa fokus gak sih? Dari tadi kunci yang kamu mainkan salah melulu, kita semuakan jadi capek bolak balik mengulang terus dari awal, sebenernya kamu bisa gk sih main pianonya" Gerutu salah satu teman seekstra yang membuat Zara tersadar dari lamunannya.


"Iya nih, masa dari tadi kamu salah terus sih Ra, makanya kalo gak mau punya masalah ya jangan cari masalah" Saut teman yang lainnya dan bergantian memojokkan Zara.


"Ra, kalo kamu mainnya masih begitu terus yang ada kita semua juga ikut kena marah oleh kak pembina, please! deh Ra, jangan membuat kekacauan seperti yang kamu lakukan dikantin sama temen-temen kamu itu, Aku gak mau terlibat!" Zara semakin kacau mendenger teman-temannya menyalahkan dirinya, tapi ia juga tau kalau sumber masalahnya itu berasal dari dirinya.


"Maaf, gue izin ke kamar mandi dulu" Zara mencoba menghindari teman ekstrakurikuler nya.


Zara keluar dari ruang latihan dan ia nampak berjalan dengan tergesa-gesa sambil meneteskan air mata kemudian ia menghapusnya agar tidak ada yang sedang melihatnya menangis, ia tidak pergi ke arah kamar mandi melainkan menuju tempat latihannya tim cheers, ia ingin memastikan keadaan sahabatnya itu, Zara nampak takut jika terjadi sesuatu kepada Acha. Sesampainya diruang latihan tim cheers ia melihat empat orang sedang melemparkan tubuh Acha keatas kemudian Acha melakukan gerakan akrobatik yang sangat indah di udara, tubuhnya terlihat sangat terbiasa dengan hal itu.


"Syukurlah ternyata tidak terjadi apa-apa disini!" Gumam Zara dalam hati.


"Hana kemana ya?, Gue kok gak melihat dia ikut latihan?" Zara kembali bergumam, ia merasa senang setidaknya tidak ada keributan yang menyulitkan Acha, kemudian Zara kembali lagi keruang latihan tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat Bagas yang berada didepannya.


"Hy Ra!" Sapa Bagas kepada sepupunya itu, Zara hanya diam dan ia melipatkan tangannya didepan dadanya sambil menarik sedikit mulutnya kesamping dan ia menatap Bagas dengan raut muka yang nampak kesal.


"Ra, Lho tadi gak apa-apakan?, Gue denger dari Fatya kalo lho tadi di bully sama Hana, apa itu bener Ra?" Tanya bagas pada Zara.


"Ini semua gara-gara Lho tau gak!" Zara membentak Bagas.


"Hah kok jadi Gue yang disalahin, emang Gue nglakuin apa?" Bagas mengernyitkan dahinya ia semakin bingung dengan ucapan Zara yang tiba-tiba menyalahkannya atas kejadian di kantin waktu istirahat itu.


"Lho masih gak nyadar juga kesalahan Lho?, coba saja kalo Lho gak nyebarin chat yang gue kirim ke Argha kemarin sudah pasti kejadiannya gak akan serumit ini, seharusnya Lho tau dong kalo Gue cuma bercanda pengen ngisengin Argha tapi Lho malah membuat kekacauan" Zara semakin kesal dengan Bagas karena dia tidak merasa bersalah atas kejadian yang menimpa dirinya saat itu.


"Eh tunggu, Gue cuma cerita masalah ini ke Fatya saja, dan Gue gak pernah nyebarin ke orang-orang, Lho jangan asal nuduh Gue aja dong" Ketus Bagas.


"Oh jadi maksud Lho Fatya yang nyebarin berita ini gitu?, baiklah Gue akan samperin tuh si Fatya" Zara meninggalkan Bagas dan ia berjalan menuju ke ruang OSIS.


"Eh bukan gitu maksud Gue Ra.. Ra?.. Zara?.. Tunggu dulu!" Bagas mencoba menghentikan Zara.


"Apa lagi hah?" Zara semakin kesal dengan sepupunya itu.


"Kalo bukan Lho dan Fatya trus siapa lagi, Gue? Acha? Atau jangan-jangan pak kepala sekolah?" Ketus Zara.


"Yang bener aja Lho, mana mungkin pak kepala sekolah nyebarin berita ini, emang paknkepala sekolah tau dari mana, ada-ada aja sih Lho itu" Jawab bagas sambil terkekeh mendengar omongan Zara.


"Gue gak bercanda ya!, Kalo bukan Lho dan Fatya trus siapa lagi yang jadi tersangkanya" Tegas Zara kembali.


"Apa mungkin Argha yang ngelakuin ini ya? Enggak deh!, Mana mungkin dia akan mempersulit dirinya sendiri, dia kan gak akan tertarik dengan hal semacam ini" Gumam Bagas dalam hati.


"Eh Ra!." Teriak Bagas mengagetkan Zara.


"Lho bisa ngecilin volume suara Lho gak?, emangnya Gue budek apa sampek Lho harus teriak-teriak kayak gitu!" Zara terlihat tambah kesal pada Bagas,


"Hehe.. Maaf!. Ra kemarin waktu Gue bicara masalah Lho kirim chat ke Argha pakai nomor Gue, waktu itu Gue dan Fatya berada di lapangan basket dan saat itu dibelakang gue tiba-tiba ada Niken yang tiba-tiba muncul mungkin dia mendengar pembicaraan gue dengan Fatya, lho tau kan si Niken yang jadi tangan kanannya Hana itu, apa mungkin dia pelakunya ya?, secarakan dia itu wartawan gadungan mangkanya kejadiannya semakin rumit kayak gini!" Bagas kembali menjelaskan kepada Zara.


"Niken?, pantes saja masalahnya tambah besar, ternyata dia biang keroknya", Gumam Zara.


" Ra, lho ngapin diam saja?, tadi lho denger gk sih gue ngomong apa barusan?" Tegus bagas yang memecahkan lamunan Zara.


"Sama aja ini semua gara-gara lho yang nyebarin, coba saja waktu itu lho gk cerita ke Fatya pasti gk akan kayak gini kejadiannya" Ucap Zara dan ia kembali pergi meninggalkan Bagas.


"Emang kalo cerita kepacar sendiri gk boleh ya?" Gumam Bagas.


***


Dilapangan Basket terlihat Argha yang duduk di pinggiran lapangan sedang terdiam sendirian sambip menatap tim basket yang sedang latihan untuk persiapan pertandingan minggu depan, kemudian Arvind salah satu anggota tim basket datang menghampirinya dengan keringat yang bercucuran dan ia duduk disebelah Argha, kemudian Argha memberinya sebuah botol air minum karena melihat temanya yang nampak lelah sehabis latihan.


"Ga lho kenapa sih dari dulu gak mau ikutan tim basket, padahal permainan lho itu bagus banget, dan permainan lho itu lebih unggul dibanding gue sama Bagas" Ucap Arvind


"Ya karena itu gue gk mau ikut tim basket" Jawab Argha singkat.


"Kenapa? Apa karena ada gue sama bagas jadi lho gak mau gabung ke tim ini?"


"Bukan gitu?" Jawab Argha.


"Lalu?"


"Yaa.. Karena gue takut aja kalo nanti lho sama bagas kedepak dalam tim basket" Jawab Argha sambil tersenyum dan me


"Dasar lho!" Jawab Arvind dengan tersenyum.


Kemudian arvind berdiri kembali dan ikut dalam kerumunan yang ada di tengah lapangan yang sedang berebut bola. Ketika sedang asyik berlatih tiba-tiba salah satu pemain mengalami cedera seketika suasana dilapangan menjadi sangat tegang karena pertandingan tinggal seminggu lagi dan salah satu pemain inti mengalami cidera seketika membuat orang-orang yang berada disana khawatir, mereka segera membawa pemain tersebut ke UKS, selang beberapa waktu pembina bola basket datang dan mengumpulkan semua anggotanya, terlihat dari raut muka semua anggota tim basket mereka nampak penuh dengan masalah.


"Pak kenapa tak mencoba mengajak Argha untuk gabung, mungkin jadikan dia sebagai pemain dalam seminggu saja sampai masalah ini terkendali" Salah satu orang daribtim basket mencoba memberi solusi.


"Mana mungkin bisa begitu, dia kan juga lagi latihan untuk mengikuti kejuaraan lomba karate, lagian dia juga bukan anggota tim basket melainkan tim karate" Tegas Arvind.


"Kan cuma sebagai pemain cadangan saja kenapa gak bisa, lagian dia disini cuma selama seminggu saja untuk menggantikan Romi, apa lho gak kasihan lihat Romi yang kakinya retak mana mungkin ia bisa lanjut bermain, kalaupun menunggu ia sembuh mungkin butuh waktu 3 bulan baru sembuh total, terus kita juga baru kemarin kehilangan pemain cadangan yang mengundurkan diri karena pindah sekolah, lalu siapa lagi yang bisa bantu kita selain Arga" Tegas Bagas pada Arvind.


"Gue cuma kasihan aja kalo Argha nanti gak bisa membagi latihannya ke tim karate dan tim basket, kalo sampai dia sakit gimana?, bukan maksud gue nolak Argha untuk gabung ke tim kita cuma gue gak mau kalo terjadi Apa-apa ke Argha, kalo boleh jujur gue lebih suka kalo Argha lebih memilih masuk ke tim basket, tapi dia sepertinya tak tertarik dengan tim basket ini" Ucap Arvind.


"Kenapa gak kita coba tanya ke dia dulu" Salah satu teman berusaha mencari solusi.


"Sudahlah biar bapak nanti yang coba membujuk Argha" Saut pembina tim basket tersebut.


Tak lama kemudian terlihat pembina tim basket mencoba mendekati Argha, terlihat mereka sedang bernegosiasi, sedangkan angota tim basket masih terlihat resah, mereka berharap Argha menerima tawaran untuk masuk kedalam tim basket meski menjadi anggota dalam seminggu saja.


 


\-\-\-***To Be Continued***