Sustainable

Sustainable
Kesepakatan



Pagi ini terlihat sangat cerah, terlihat Zara terburu-buru mempersiapkan tas sekolahnya karena ia bangun kesiangan gara-gara harus begadang menyelesaikan tugas sekolahnya.


Hari ini Zara terlihat sangat acak-acakan sekali karena terlalu terburu-buru.


"Zara, tunggu dulu nak!" Suara mama Zara menghentikan langkahnya.


"Ada apasih ma?, Zara hampir telat nih" Ucap Zara sedikit kesal karena ia takut terlambat.


"Ini bekalnya ketinggalan jangan lupa dimakan di dalam mobil, makanya kalo gak mau telat jangan begadang terus, kebiasaan sih kamu kalo dibilangin orang tua suka ngeyel!" Gerutu mamanya Zara.


"Zara kan begadang karena ngerjain tugas sekolah ma!" Jawab Zara sembari mengambil bekal yang disiapkan oleh mamanya tersebut.


"Seharusnya kamu bisa seperti Acha yang mandiri dan bisa membagi waktunya, dia rajin banget belajarnya gak seperti kamu yang males-malesan" Ujar mamanya menasehati Zara.


"Iya-iya ma, yaudah Zara pamit berangkat dulu kasihan Acha nanti ikut terlambat gara-gara Zara." Zara pamit kepada mamanya kemudian ia mencium pipi mamanay tersebut dan ia segera menuju mobil yang sedari tadi menunggunya.


Setiap hari Zara dan Acha selalu berangkat bersama karena rumah mereka yang berdekatan, sedangkan Fatya tidak bisa berangkat bersama karena rumahnya dengan Zara dan Acha beda arah. Acha selalu menumpang di mobil Zara, sebenarnya Acha ingin naik sepeda atau naik angkot ke sekolahnya, akan tetapi Zara memaksanya untuk berangkat bersama. Acha memang terlahir dari keluarga yang sederhana, tudak seperti Zara dan Fatya mereka punya segala kemewahan, tapi itu semua tak membuat Acha merasa minder dengan kedua sahabatnya itu, dan juga sebaliknya Zara dan Fatya tidak memandang Acha itu dari keluarga miskun, mereka saling menerima satu sama lain apapun itu kondisinya.


"Cha tadi lho udah sarapan belum?" Tanya Zara sambil membuka bekal yang ia bawa dan meawarkanya ke Acha.


"Udah lho aja yang makan, pasti tadi kamu gk sarapan kan? Kebiasaan deh kamu" Jawab Acha sepertinya dia sudah paham betul dengan sifat Zara itu.


"Cha nanti saat istirahat kamu temenin aku ya!" Pinta Zara sambil memegang lengan Acha.


"Kemana?" Jawab Acha bingung.


"Nanti lho akan tau sendiri"


"Hmmm.. Baiklah, tapi Fatya ikutkan?" Tanya Acha kembali.


"Lho lupa ya kalo Fatya mulai hari ini sampai akhir pekan dia akan sibuk di OSIS, jadi dia pasti akan ikut rapat OSIS karena minggu depan kan sekolah kita jadi tuan rumah dalam event olahraga yang diadakan setiap semester" Zara menjelaskan kepada Acha.


"Yah jadi dalam seminggu ini kita akan jarang bersama Fatya ya?, kasihan Fatya pasti dia lelah banget jadi OSIS dan dia harus merelakan ketinggalan pelajaran demi suksesnya acara nanti!" Ujar Acha.


"Yah mau gimana lagi udah jadi resiko dia jadi anggota OSIS!" Tegas Zara.


"Oh ya dulu lho kepengen banget jadi anggota OSIS lalu kenapa malah ikut tim cheers?, apa jangan-jangan kamu menghindari ketua osis itu ya?" Ucap Zara kembali sembari meledek Acha


"Iih apaan sih!, gk usah ngungkit kejadian itu lagi deh, Ah! Resek lho" Acha terlihat kesal dengan Zara.


"Iya deh sorry!" Zara kembali tertawa melihat Acha, karena dulu Acha hampir menjadi anggota OSIS akan tetapi ia mengundurkan diri, saat laki-laki yang sekarang menjabat sebagai ketua OSIS juga ikut mendaftar menjadi anggota OSIS, untuk menghindari pertemuan dirinya Acha terpaksa harus mengundurkan diri dan ikut gabung dalam tim cheers. Ketua OSIS itu bernama Riko, dia dari dulu suka kepada Acha tapi Acha tak pernah memperdulikan hal itu.


***


Kriiiiiiiiiiiiingg...


Bunyi bel istirahatpun tiba, Zara langsung menggandeng tangan Acha dan mengajaknya ke suatu tempat.


"Ra sebenarnya lho tuh mau kemana sih?" Tanya Acha penasaran.


"Sssttt.. Udah diem nanti lho juga akan tau sendiri" Ucap Zara menghentikan pembicaraan,


Zara dan Acha terus berjalan dan menaiki sebuah tangga, dan ternyata mereka sedang menuju loteng, disana terlihat ada sosok laki-laki yang menghadap kearah kolam renang.


"Cha lho tunggu sini sebentar ya, gue mau bicara dulu sama Argha" Ucap Zara pada Acha, laki-laki tersebut adalah Argha, sepertinya Zara sudah membuat janji sebelumnya dengan Argha.


"Argha!" Sapa Zara kepada laki-laki tersebut.


"Mau ngomong apa?" Tanya Argha dengan suasana dingin.


"Gue cuma mau minta maaf atas kejadian waktu itu, sungguh aku tak ada maksud apa-apa gue cuma mau ngisengin lho dan Bagas, tapi gue gak mengira kalo kejadiannya akan jadi seperti ini" Zara memperjelaskan maksudnya.


"Oh!" Jawab Argha kembali tanpa reaksi sedikitpun diwajahnya.


"Kenapa gue?" Tanya Argha bingung dengan maksud ucapan Zara.


"Yahh karena lho orang yang disukai Hana pasti apa yang kamu katakan padanya juga berpengaruh pada Hana" Ujar Zara, kemudian Argha terdiam dan ia nampaknya mulai kepikiran sesuatu


"Hmm baiklah gue mau bantu lho asal lho juga bantuin gue, gimana setuju?" Argha memberi syarat kepada Zara.


"Sialan Zara ternyata tadi mengajak gue kesini cuma mau jadiin gue obat nyamuknya!" Gerutu Acha dalam hati


Tak lama kemudian Zara kembali menghampiri Zara, dan mengajaknya kembali ke kelas, akan tetapi langkahnya kembali terhenti ketika Argha memanggilnya kembali.


"Apa lagi?" Tanya Zara


"Gue belom punya nomor hp lho" Jawab Argha.


"Gue lupa bawa ponsel karena tadi terburu-buru kesini dan juga aku lupa nomor ponselku" Jawab Zara sambil tersenyum melihat Argha.


"Hmm, Cha lho bawa hp kan, pinjem dulu dong" Zara mencoba meminta bantuan ke Acha


"Hah! yang bener aja lho, lagian lho atau dia kan bisa minta ke Bagas gitu aja repot." Jawab Acha


"Lho tuh temen gue apa bukan sih?, masa kamu gak mau bantuin gue Cha?" Ucap Zara kesal.


"Jadi gima nih?" Tanya Argha kembali.


"Ya udah nih ambil" Acha menyodorkan HP nya Ke Zara kemudian Zara nampak memencet layar HP Acha lalu menyerahkan kepada Argha, ia mengirim nomor Zara lewat chat Whatsapp milik Acha, selang beberapa detik terdengar ada suara notifikasi pesan dari dalam saku, kemudian Argha mengeluarkan Hpnya dari kantong saku dan benar saja pesan telah masuk dan Argha langsung menyimpan nomor tersebut dan Argha mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


"Ra lho ada waktu gak sore nanti" Argha kembali membuka pembicaraan.


"Eeee... Hmmm i-i-itu, gak ada si-ih..emang a-a-ada apa Ga?" Tanya Zara sedikit gugup


"Gue mau ajak lho makan, berdua saja dan nanti gue tunggu lho didepan gerbang setelah pulang sekolah" Argha kemudian berjalan pergi meninggalkan Zara dan Acha.


"Hah?.. Gue gak salah dengerkan Cha?" Tanya Zara dengan ekspresi wajah yang tidak menduga hal ini.


"Enggak!" Jawab Acha yang heran dengan tingkah laku Zara yang jadi salah tingkah setelah mendengar ucapan Argha, seketika ia memeluk sahabatnya dan nampak kegirangan. Acha hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol dari sahabatnya itu.


***


Didalam kelas 8C terlihat murid-murid tengah fokus pada pelajaran, tapi tidak dengan Zara, ia terlihat melamun dan tersenyum sembari memikirkan apa yang dikatakan Argha saat ada diloteng, Zara masih tak percaya kalau Argha mengajaknya pergi nanti sore.


"Heh Ra!, Fokus dong jangan melamun sambil senyum-senyum entar lho dikira seperti orang gila mau lho?" Bisik Acha kepada Zara yang sedari tadi setelah dari loteng nampak tidak konsentrasi dengan pelajaran hari ini.


"Iya iya, Pulangnya masih lama banget ya?" Zara sembari melihat ke arah jam.


"Masih Ada 3 jam lagi, yang sabar dong lagian mau nge-date ngapain gk di akhir pekan aja sih kan bisa lama waktu Berduaanya" Gumam Acha yang semakin heran dengan tingkah laku Zara.


"Permisi Bu, saya mau manggil Acha keruangan saya boleh bu?" Izin salah satu guru kepada guru yang sedang mengisi pelajaran di kelas 8C tersebut.


"Cha Ada apa ini sampai lho dipanggil ke ruang BP, apa karna kejadian dikantin waktu itu.." Zara merasa gelisah ketika guru BP memanggil Acha ke ruangannya


"Sudahlah tenang aja, gk usah khawatir" Jawab Acha menenangkan sahabat nya itu. Seketika teman-teman sekelas nampak heboh ketika melihat ketua kelasnya harus menghadap ke BP.


***


Sesampainya diruang BP disana terlihat ada seorang pria yang seperti bapak-bapak berpakaian kemeja hitam dan bersamaseorang perempuan yang juga memakai seragam sekolah dari SMP Nusa Bhakti,


"Pak bisa tinggal kan kami sebentar" Ucap pria tersebut kepada guru BP untuk meninggalkan ruangan tersebut.


 


\-\-\-***To Be Continued***