Study With You

Study With You
Pria yang sama



Kiel menggerutu seraya menarik paksa earphone dari dalam saku celana, memakainya dengan cepat dan memutar musik lewat handphone sekencang mungkin, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap dirinya memuja.


Sialan. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Anna tadi menindih tubuhnya. Wajah gadis itu, tubuhnya, deru napas panas yang tidak sengaja mengenai lehernya, Kiel membenci pikiran nya sendiri. Selepas dari perpustakaan tadi, ia segera ke toilet. Dengan niat menjernihkan pikiran.


Namun nihil, adegan tadi seolah membekas dan tidak akan hilang, membuat bibirnya terkadang mengumpat kecil. Menggelengkan kepala dan menambah volume suara, irisnya memandang kedepan, sosok yang ia hindari kini berada dihadapan mata.


Bedanya, dia tidak sendirian. Anna bersama Erliana dan—Argan? Apa yang dilakukan teman satu kelasnya dengan dua gadis itu? Kiel nampak menimang, sebelum memilih untuk terus berjalan, melewati mereka dan tidak ingin terlibat.


"Kiel ..." Tanpa disangka, Anna melihat. Memanggil lelaki itu dengan suara terendah, ingin meminta maaf dan mengatakan beribu banyak penyesalan untuknya.


Mereka semua berpaling, saling tatap-menatap. Seperti adegan di sinetron, waktu terasa berjalan lambat, diiringi degupan keras dari jantung yang memompa cepat. Erliana tersadar dari lamunan nya, saat tangan ditarik paksa oleh Argan, sebelum ia bisa berontak. Argan telah membawa nya kabur dari sana.


Sedangkan Kiel mendengus, Argan berhasil mendekati Erliana, ya? Pantas saja. Kiel mendelik kesal, karena Anna tak menjauh dari nya. Tujuan, kesepakatan, Kiel melupakan hal itu. "Jadi, kau mau apa?" Ia bertanya to the point, tanpa basa-basi hingga harus mengulang kalimat sampah yang sama. Kiel lelah dengan hal itu.


Anna terdiam, menunduk dalam dengan mengaitkam jemari satu sama lain. "Maaf, soal perpustakaan." Anna berucap pelan, tubuh nya sedikit tersentak karena Kiel menghentakkan kaki dengan keras, kepalanya mendongak menatap wajah tampan diatas.


"Hah ... jadi apa mau mu sekarang?"


"Kau belum selesai mengajari ku,"


Kiel lagi-lagi mengerutkan dahi, sedikit paham. Walau begitu, bayangan tentang perpustakaan tidak bisa hilang dari otaknya, membuat tangan kembali terkepal. Ia kesal sekaligus, malu? Mungkin. Kiel merutuki wajah bodoh Anna, tampang elit otak sulit memang. Bagaimana mungkin para lelaki itu memujanya? Dasar bodoh.


"Dirumah ku, hari ini."


Anna terlonjak, belum sempat membalas Kiel sudah berbalik badan. Meninggalkan nya sendiri, ia mencengkram ujung rok dengan kuat. Memikirkan perkataan itu, dirumah Kiel. Dirumah laki-laki yang bahkan bisa terbilang tidak dekat dengan nya, apa-apaan ini? Ah. Anna merasa dada nya bergejolak.


"Menyebalkan. Tapi, aku tidak bisa menolak."


...°°°...


Erliana mendengus kencang, napasnya terasa cepat dan atmosfer diruang kelas sangat panas. Ini sudah waktu pulang sekolah, ia menghindari Argan yang mengajak pulang bersama. Niat ingin bersama Anna, rupanya gadis itu sudah ada janji dengan Kiel. Apa-apaan hubungan mereka itu? Padahal Anna tadi menceritakan hal memalukan yang dia alami.


Sampai-sampai Erliana prihatin pada kondisi gadis itu. Tapi, lupakan. Erliana lah yang harus dikasihani sekarang, Argan pantang menyerah. Ia dibuat bingung dengan tindakan brutal lelaki itu, bagaimana mungkin? Argan yang memiliki image baik berubah seketika dihadapan nya.


"Huh?"


Notif pada ponsel mengalihkan perhatian nya, jemarinya kini mengenggam ponsel dengan erat. Membaca pesan dari siapa yang tertera disana, jantungnya memacu cepat. Keringat dingin turun melalui pelipis, manis bening itu mengerjap sekaligus membola besar.


"Ayah."


Panggil nya entah pada siapa, atau mungkin berusaha mengeluarkan suara kala tenggorakan kian tercekat sakit. Kepalanya pening, matanya panas, Erliana merasakan gejolak itu kembali. Rasa sakit yang tak pernah berhenti, perasaan dibohonhi, ditipu, dan disakiti terus berkelebat pada hati. Membuat rasa benci yang tertutup rapat terbuka kembali.


Ah. Erliana benci perasaan ini.


'Bertemu di cafe sweety wolly.'


Pesan itu tersirat dalam, Erliana kembali mendengus. Menyegarkan pikiran dengan kalimat positif, entah apa yang ingin Ayahnya sampaikan padanya. Mungkin, tentang keluarga? Atau hal lain? Erliana menebak-nebak seraya menenteng tas sekolah dan keluar kelas. Tubuhnya menegang karena siluet lelaki itu terpampang jelas didepan mata, membuat Erliana merintih gemas. Sungguh, berapa lama?


"Aku tidak bisa, Argan. Aku ada urusan," ucapnya tanpa rasa bersalah. Melirik kearah lelaki itu, Argan masih tersenyum. Kali ini lebih tulus. Erliana menggigit bibir, debaran dijantung membuatnya perasaan tak menentu.


'Jangan seperti itu, aku bisa menyukai mu.' batin Erliana menjerit, diiringi rona merah yang menjalar dari kuping ke wajah ayu.


"Baiklah. Tapi, Lia. Aku ingib mengantar mu,"


Argan tetap kekeh pada kalimatnya diawal, itu bukan permintaan. Tapi perintah, namun Erliana enggan, ia harus cepat bertemu Ayah nya dan menyelesaikan sedikit masalah nya. Sekali lagi, ia menolak. Menjelaskan dengan lembut agar Argan mau mengerti, lama-kelamaan lelaki itu luluh. Akhirnya ia hanya meminta untuk mereka pulang bersama, Argan tidak akan mengantar Erliana pulang kerumah nya.


Permintaan itu, Erliana penuhi. Selama perjalanan keluar sekolah, Erliana sempat mencubit keras pinggang Argan karena dia asal bicara soal hubungan mereka. Sedangkan Argan? Ia tertawa keras, cukup lucu melihat tingkah malu-malu dan kekesalan gadis manis tersebut.


Jika diingat, sejak kapan Argan sudah menyimpan rasa ini? Begitu lama. Hingga, ia yakin. Perasaan nya jauh lebih besar dari sekedar kata suka.


"Kita berpisah disini, ya."


Erliana melambaikan tangan, dan Argan masih terpaku disana.


"Jangan gunakan kata perpisahan, aku tidak ingin ini berakhir." Seuntai kalimat dalam berdenging halus diindra pendengaran, sang gadis yakin. Wajahnya sudah tertutupi oleh rona merah, ia juga berharap lelaki didepan tidak mendengar detakan jantung yang menggila.


"Besok, kita harus bersama, Lia."


Erliana tahu itu pernyataan, namun ia tidak yakin bisa menyanggupi. Akhirnya, hanya anggukan kepala yang menjadi balasan sebelum tubuhnya benar-benar berbalik dan meninggalkan lelaki itu. Bukan tertolak, Erliana hanya menyiapkan diri. Dan ia yakin, Argan paham bagaimana pikiran gadis dahayu.


Kembali pada keadaan sekarang. Erliana telah duduk dikursi nyaman, menegakkan tubuh agar tidak terlihat lemah. Diam-diam ia mendesis, ingin memaki ataupun mengumpati wajah tenang diseberang sana. Keadaan cafe yang seharusnya ramai menjadi sepi, seolah atmosfer ruangan ini menyesuikan dengan mereka yang masih terikat kecanggungan.


"Jadi?" Suaranya bahkan baru bisa keluar setelah beberapa menit terdiam.


Pria yang tidak lagi terbilang muda menyesap kopi hitam, menyium aroma pepahitan yang menguar. Membuat gadis itu menjadi tidak sabaran, ia sedikit menaruh paksa cangkir teh yang telah disediakan. Meredakan pikiran yang hampir saja membuat kepala pecah.


"Perlahan. Waktu kita masih banyak, Lia."


Erliana menatap sinis, masih banyak waktu? Ia hanya tidak ingin membuang waktu hanya untuk mengobrol ria dengan Ayah nya ini, Erliana benci perasaan intimidasi. Contoh sekarang, tubuhnya bahkan menolak membungkuk, hanya agar dirinya tidak dipandang rendah. Jemarinya tak kuasa melonggar, kepalan erat terus ia rasakan. Apalagi, menatap wajah tenang itu? Astaga. Erliana muak!


"Aku tahu bahwa, dua putri ku saling berteman satu sama lain."


Erliana diam. Menanti sambungan kalimat lain walau ia tahu apa maksudnya.


"Lia, kau begitu dekat dengan Anna, bukan?"


Dengusan terdengar. Erliana meraih segala oksigen yang bisa dihirup cepat, ia memandang remeh kearah postur tubuh tegap didepan, mengabaikan bahwa sikapnya ini terlihat kurang ajar.


"Ya, tapi. Aku bukan putri mu lagi, Ayah."


To Be Continue.