Study With You

Study With You
Dia datang



Anna bernapas lelah, dirinya baru saja menelpon sang mama. Memberi tahu wanita yang tak lagi muda, bahwa putri tercintanya akan pulang terlambat. Alasannya tentu sudah jelas. Kelas tambahan dan belajar bersama Kiel. Tiba-tiba saja lelaki itu datang ke kelasnya setelah bel pulang sekolah berbunyi. Mengajak nya belajar tanpa basa-basi, dan tentu saja. Semua teman satu kelas terlonjak kaget, tanpa kecuali Anna.


Dan sekarang, disinilah ia berdiri. Didepan perpustakaan umum, cukup besar dan tampak ramai. Bersama lelaki bernama Kiel, melangkah kan kakinya lebih dulu tanpa mempedulikan gadis dibelakang yang mungkin saja bisa tertinggal. Anna buru-buru menyusul, menyamakan langkah kaki walau tak mungkin.


"Kenapa tidak besok?" Anna bertanya, menolehkan kepalanya sekilas dan kembali menghadap depan.


"Tidak. Aku pengajar, aku yang berhak menentukan. Kapan mulai dan kapan berakhir."


Mereka duduk setelah Kiel dengan tenang mengambil beberapa buku cukup banyak dan berukuran besar ataupun sedang. Lelaki jangkung segera memberikan catatan soal padanya, entah kapan dipersiapkan. Tapi, Anna yakin. Kiel sudah memikirkan ini sejak awal.


"Ini terlalu dadakan,"


"Jangan mengeluh, kau butuh aku, kan?"


Anna merengut. Ia mengambil buku dan bergegas mengerjakan. Namun nihil, melihat soal matematika saja sudah membuatnya ingin muntah, maniknya melirik lambat. Memperhatikan Kiel yang sedang fokus pada buku nya sendiri, lalu irisnya beralih pada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka.


Sejak kapan mereka menjadi tontonan publik?


"Mungkin akan menyebar rumor. Tapi, tetaplah tutup mulut."


Anna menatap Kiel dalam, sebelum akhirnya mengangguk dan kembali berkonsentrasi pada soal-soal dihadapan mata. Cukup lama mereka disana, sekitar 3 sampai 4 jam. Dan Anna—ya Tuhan. Boleh kah Kiel mengatai gadis ini? Ia menggelengkan kepala, menatap nanar jawaban Anna. Paras elit otak sulit.


"Jangan buat kesabaran ku habis, Anna. Aku bisa melewati batas dengan—"


"Ya?"


"Lupakan. Sialan, ulang."


Anna merenggut. Mengerucutkan bibirnya seraya menegak paksa minuman yang tadi sempat dibeli, guna untuk mendinginkan kepala. Jemari lentik menari-nari indah pada selembar kertas, pulpen ia taruh pada bibir ranum. Atau terkadang mencolek pipinya sendiri karena bingung atau bisa dibilang emggan untuk mengerjakan soal-soal yang ada.


Astaga. Anna sudah tak mampu.


"Ayo lanjutkan besok!" Seru nya tertahan, diiringi helaan napas kasar dan menatap Kiel memohon.


"Besok? Kau pikir aku ada waktu hanya untuk mu?" Kiel bertanya kejam.


Kembali melihat hasil coretan gadis ayu yang tidak ada bentuk nya sama sekali. Dirinya dibuat geram, jika tidak karena kesepakatan dengan Argan. Mana mau ia habiskan waktunya, hanya untuk menuruti gadis manja itu. Kiel berusaha sabar, membalikan kursi dan menghadap Anna. Menjelaskan dengan sabar dan memakai intonasi rendah, berharap sang gadis dapat mengerti maksudnya.


Setelah lewat 2 jam. Barulah Anna bisa menyelesaikan 3 soal yang diberikan, ia bersenandung ria. Diiringi gelak tawa tertahan saat melihat raut wajah Kiel yang berubah dari kesal menjadi sedikit lega. Ya, hanya sedikit kelegaan. Setidaknya, Kiel tidak perlu menikam gadis itu saat mengantarnya pulang.


"Kenapa membantu ku? Bukan kah, kau awalnya tidak ingin," tanya Anna cepat, setelah mereka melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan.


"Ada untungnya bagiku."


"Oh ya. Apa?"


"Jangan penasaran. Hubungan kita hanya sebatas guru dan murid. Kau tidak berhak tahu lebih jauh."


"Itu resiko. Tidak ada manusia yang ingin kerugian. Bahkan, orang lain bisa bermanfaat untuk kebaikan atau keburukan."


Kiel berdiri disana, ditemani silau benderang dari anak-anak lampu yang menggantung dan saling terhubung antara beberapa pohon atau toko yang ada didekat sana. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Anna bahkan baru sadar, orang yang diajak bicara sekarang amat rupawan. Ia tidak memperhatikan, bagaimana Kiel saat disekolah.


"Puas? Sejak belajar kau terus memperhatikan ku."


Anna bersemu merah, layaknya tomat siap dipetik. Ia segera menutupi wajah dengan tas ransel yang dipeluk erat tadi, cepat-cepat melewati Kiel yang terkekeh sejenak sebelum menyusul gadis dahayu itu. Diam-diam ia menyunggingkan senyum, mengukir mantap-mantap bagaimana ekspresi yang Anna tampilkan.


"Aku akan pulang sendiri!" Ucap Anna lantang, setelah beberapa meter dari Kiel, ia tersenyum walau masih tersisa rasa malu. Segera berbalik badan dan meninggalkan Kiel sendiri dengan alis terangkat sempurna. Setelahnya, mengedikan bahu dan kembali menggelengkan kepala, kali ini. Dengan raut wajah senang bukan kesal seperti saat di perpustakaan.


Lain halnya dengan Anna. Baru sehari belajar bersama, jantung nya sudah dibuat jedag-jedug oleh kebersamaan mereka. Bagaimana jika sudah 7 hari kedepan? Sudah dipastikan. Dirinya akan semakin menggila, ini karena malu. Bukan perasaan lain yang memaksa terlibat.


Tidak Anna. Ingat—Hubungan sebatas guru dan murid.


Tungkai kaki bergerak lambat, sepasang iris cerah kembali menggelap. Seolah pancaran kegembiraan tadi direnggut paksa, Anna mematung. Memandang tepat kearah rumah yang ditinggalin, bukan itu yang menjadi atensi nya sekarang. Namun, pintu depan rumah terbuka. Dan memperlihatkan pria dengan bahu lebar dan tegap berdiri disana.


Tepat dihadapan sang pria, wanita tegar berdiri juga. Mama Anna—menampilkan mimik wajah sendu, ditemani untaian anak rambut yang tidak terlalu panjang, namun menganggu penglihatan orang disana, terjuntai hingga menutupi beberapa sisi wajah. Agak berantakan, dan tidak ada alasan yang terpancar.


"Bisa kita hentikan? Anna putri ku."


Suara itu, bahkan dari jauh pun. Anna tahu bahwa Mama nya sedang menahan emosi serta tangis pilu. Membuat hatinya dipukul benda tumpul, amat sangat mengilukan. Anna kembali memperhatikan, pria menggeleng perlahan. Sebelum membuka suara.


"Dia juga putri ku, dan aku bertanggung jawab untuk masa depan nya."


"Setelah, apa yang kau lakukan?"


Mulai. Walau sudah pisah rumah, hanya bertemu saat ada keadaan genting. Anna masih ingat jelas, bagaimana orang tua nya dulu adu mulut sebulum pisah. Pria itu—Papa Anna, namun ia enggan menyebutnya seorang Papa. Menarik napas lalu mengembuskan nya perlahan, seperti membuat beban yang ia simpan rapat-rapat.


"Aku melakukan ini, karena ini yang terbaik untuk kita. Untuk putri kita," nada suaranya datar. Terdengar seperti pernyataan yang tidak bisa diganggu gugat.


"Kau berbohong!"


Habis sudah kesabaran yang Mama Anna pendam, ia berteriak kencang. Tepat dihadapan mantan suami—mereka belum bercerai, setahu Anna. Ia menunjuk tepat ke arah wajah pria itu, matanya melotot dengan gemuruh besar didada. Tangan nya terkepal dengan tubuh gemetar, perlahan namun pasti. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata, susah-susah dibendung hingga tarikan napas kuat dilakukan.


"Kenapa? Kenapa kau begitu jahat? Apakah kami hanya pelampiasan bagi mu?"


"—nyatanya. Kau memiliki putri lain, selain Anna." Sambung Mama Anna, setelah air matanya membasahi pipi.


Dunia Anna pecah. Bagai kaca yang tak mampu kembali kebentuk awalnya. Netra melebar, mulutnya terbuka. Lagi dan lagi, hatinya di bentur benda tumpul. Seolah akan menyiksa ia lebih lama pada kenyataan dan kejujuran baru yang ia dapatkan.


Lantas, keluarga seperti yang ia yakini sekarang?


To Be Continue