Study With You

Study With You
Awal dan Pertemuan



Rambutnya di gelung rapi, menggunakan pita merah untuk mempercantik surai hitam. Wajahnya dipoles dengan dandanan yang tidak terlalu menor. Cocok untuk anak 17 tahun sepertinya.


Kini, netranya menelisik dengan tajam, takut ada sesuatu yang lupa ia lakukan. Namun setelahnya, senyum manis tersungging pada bibir.


Dia siap untuk memulai sekolah.


Baiklah, mari kita mengenal sedikit mengenai gadis tadi. Namanya Anna Sheyla Ananda Maharani, namun sering dipanggil oleh teman-teman nya Anna. Kadang mereka memprotes, mengapa begitu sulit hanya untuk menyebutkan namanya, tapi bagi Anna.


Nama itu sebuah berkah, dan dia bersyukur orang tua nya memberinya nama yang begitu cantik.


Dia cantik dan menarik. Selalu diselimuti decakan kagum orang-orang, ramah, gampang tersenyum, berteman dengan siapa saja, lembut bagai kapas yang diusap pada wajah.


Dirinya selalu menjadi sorotan, baik dirumah, sekolah atau pun luar lingkungan lain. Bagaikan bidadari jatuh dari surga, Anna sangat menawan untuk dilewatkan.


Kehidupan sekolah nya bagai tak punya masalah. Semua orang menyukainya, bahkan jika ada yang iri, mereka hanya akan memandang nya sinis namun berganti kekaguman. Dirinya tidak bisa ditolak, bagaikan coklat yang meleleh dimulut. Itulah, Anna Sheyla Ananda Maharani.


Gambaran mengenai Anna, hanyalah pandangan orang-orang. Dirinya sendiri tidak tau, apakah ia bisa disebut malaikat atau tidak.


Karena, bagaikan patung yang dipahat sempurna, Anna selalu dipandang menarik. Bagi sebagian orang, itu menurut Anna.


"Mama, Anna pergi," ia menyeru pelan. Meninggalkan sarapan yang belum habis disantap, sebelum Mama nya kembali memanggil. Anna meninggalkan rumah.


"Astaga, anak itu," Mama Anna, atau bisa kita panggil—Bunda Amanda, menggelengkan kepalanya. Melihat kedalam piring Anna yang meninggalkan sisa makanan.


Decakan lemah terdengar, berganti dengan dering telpon yang minta didengar. Bunda Amanda memandang lelah, nama yang tertera diponsel nya. Sebelum akhirnya mengangkat dengan penuh keraguan.


"Ini tentang Anna. Anak kita."


...°°°...


Erliana duduk dibangku kelasnya, menatap teman sekelas yang lain. Sibuk pada cirle mereka masing-masing, ada yang bergosip ria, merayu anak laki-laki dan perempuan dikelas sebelah atau bahkan bermain kartu uno. Erliana mendengus pelan, membuka ransel dan mengeluarkan buku-buku pelajaran. Dia bukan tipe penyendiri, hanya saja, ia tidak cocok dengan mereka. Kecuali, Anna.


Erliana menggeram rendah, sang teman yang ditunggu tak kunjung datang. Padahal, mereka sudah janjian akan belajar bersama diruang kelas. Namun, belum beberapa menit ia membaca buku. Kepalanya menoleh, menatap kearah pintu yang terbuka, siluet yang nampak jelas terpampang disana. Anna dan segala daya tariknya. Mampu membuat, seisi kelas bungkam terdiam. Lalu, panggilan nyaring terdengar. Cempreng—pikir Erliana, ia menatap tubuh mungil yang berjalan mendekati Anna.


"Anna! Ayo kekantin!" Ajaknya senang, mengalungkan lengan nya pada tangan Anna. Seolah mereka nampak akrab.


Erliana mendecih pilu, sahabat dekatnya digandeng mesra oleh insan lain. Erliana hanya, merasa cemburu. Sedikit. Ia menatap dalam pada Anna, menanti jawaban yang akan sahabat nya itu berikan. Maniknya membulat, saat Anna melepaskan tautan yang terjalin antara dia dan gadis mungil itu. Anna tersenyum hangat, seperti biasa. "Aku harus mengerjakan tugas ku sekarang, maaf Din." Katanya pelan, seraya berjalan ke tempat duduknya.


Gadis tadi—atau bisa kita sapa, Dinda. Menatap tidak percaya Anna yang menjauh darinya. Wajahnya berubah muram, terlihat begitu masam. Ia berbalik, dan meninggalkan kelas dengan perasaan kesal. Anna mendengus, merasa tidak enak hati. Tapi, ia sudah berjanji pada Erliana.


"Bagus, harusnya pelajaran lebih penting dibandingkan pergi kekantin. Lagipula, kita tidak kehabisan stock laki-laki, bukan?" Erliana mengomel panjang. Anna sudah duduk tepat disampingnya, terkekeh pelan dengan celetukan teman nya itu.


"Jangan merendah untuk meroket, Anna. Kau sudah sempurna," nada suaranya terdengar seperti perintah. Erliana mengucap sebaris kalimat lagi, motivasi untuk Anna hari ini. Selalu begitu.


Mereka lalu mengerjakan beberapa tugas dan sedikit pembelajaran pula untuk Anna. Sempurna? Anna ingin menyemburkan tawanya. Dia hanya cantik, tidak bisa melawan dunia yang kejam ini. Tidak seperti Erliana, sahabatnya itu. Tidak ada yang sempurna, Anna tersenyum kecut.


"Papa menelpon ku semalam," terdengar seperti bisikan, namun Erlianan tidak tuli.


Ia sepenuhnya menghadap Anna, mengonsentrasikan perhatian nya pada gadis yang ingin bercerita. Tangan nya mengenggam pulpen dengan erat, menunggu dalam tahap sabar. Tidak ingin berbicara, atau memotong saat sahabatnya butuh didengarkan.


"... Aku takut akan dipindahkan."


"Kemana?"


Anna melirik Erliana takut. Sikap yang tidak pernah ia tunjukan, bahkan pada ibunya sendiri. Diam-diam ia berharap, sahabatnya ini dapat mengerti dirinya, walau Erliana selalu begitu. "California," ucapnya pelan seraya menundukan kepala, iris sayu terfokus pada bacaan dibuku. Enggan mendongak untuk melihat ekspresi terkejut gadis disamping.


"Bercanda, kan? Anna!"


"Dia mengatakan, selama disini aku tidak fokus belajar."


Erliana menyentakkan pulpen yang digenggam pada meja kasar, ia menggelengkan kepala seraya bergumam pelan. Entah, apa yang digumam kan gadis itu, Anna tidak dapat mendengarnya bahkan dengan jarak sedekat ini. Anna terkejut, karena tiba-tiba Erliana menarik tangan nya, membawa tubuh rampingnya keluar dari kelas.


"Ayo kekantin, kita harus isi tenaga untuk mencaci-maki Ayah mu, itu,"


Anna tertawa kencang, menyadari raut kesal dan omelan teman nya sepanjang jalan menuju kantin. Terbesit rasa syukur, tuhan hadirkan Erliana untuk menjadi patner terbaik. Anna mengenggam erat-erat, tidak ingin melepaskan. Langkah kaki Erliana kian memacu cepat, Anna terpaksa harus membiaskan diri mengikuti langkah kaki gadis itu yang terlihat lebar.


"Akh!"


Sialan! Ia terjatuh, tersungkur akibat tabrakn hebat. Tidak begitu sakit, tapi amat memalukan. Kepalanya mendongak guna melihat siapa insan yang menabraknya—walau dirinya sendiri yang salah disini. Erliana panik, cepat-cepat berjongkok, menyamai tinggi tubuh dengan gadis yang masih diam mematung.


"Anna! Astaga, maaf. Ini salah ku," intonasi Erliana terdengar panik, ia merasa bersalah karena menarik tangan Anna terlalu kuat dan membawa gadis itu terburu-buru. Ia segera memegangi tubuh Anna, membantu sang gadis untuk berdiri tegak.


Seoang lelaki, dengan setelan seragam rapi. Layaknya, ketua osis yang akan berpatroli menghardik para murid yang berbuat nakal, lelaki itu tertegun sejenak. Sebelum akhirnya, menatap iris teduh milik Anna dalam, sedikit tajam dan meninggalkan kesan jengkel.


"Lain kali, hati-hati," ungkapnya singkat, terdengar kasar dan juga sinis. Ia berjalan menjauh, mengabaikan dua gadis yang saling tukar pandang dan menatap terkejut.


"Siapa?"


"Kiel Zefandro."


To Be Continue.