
Mulut gadis lebih muda terbuka, ingin melontarkan bertubi-tubi pertanyaan. Namun, ia tahan. Kala melihat sang Mama tak lagi dalam keadaan terbilang baik, dirinya mewanti-wanti sejenak. Sebelum akhirnya memilih mengundurkan diri, mengunci kamar dengan cepat dan melemparkan tubuh pada ranjang nyaman. Pikiran bergelayut manja, antara menangis atau menahan hingga diri ini meledak.
Setelah Papa nya pergi, ia menunggu beberapa menit dan kembali kerumah. Seakan-akan tak melihat atau mendengar apapun. Membungkam layaknya benda mati, bersikap biasa seolah beban berada diatas kepalanya. Anna lebih memilih menangis, menumpahkan rasa kesedihan yang ia pendam selama ini, wajah nya ditenggelamkan diantara bebantalan. Agar dapat merendam suara tangis yang mungkin bisa terdengar oleh Mama nya.
Tangan nya mengambil hanphone genggam, menatap layar yang menampakan wallpaper ia dan sahabat nya, Erliana. Iris lalu bergulir melihat jam yang tertera, pukul 2 pagi. Ia tertidur setelah lama menitikan air mati, pandangan nya sayup-sayup bahkan tak bisa sepenuhnya membuka mata. Diiringi gesekan pada ranjang, Anna bangkit dan menatap wajah nya yang tampak pucat.
"Apanya yang sempurna?" Ia bertanya masam, terkekeh perlahan dengan memaksakan senyum.
Apa yang dilihat orang lain darinya. Wajah? Tubuh? Sikap? Bahkan Anna yakin, ia tidak punya bakat. Apa yang bisa dilakukan orang lain, begitu sulit untuk ia lakukan. Keluarga harmonis? Yang benar saja. Anna akan tertawa keras jika mendengar hal itu, baginya. Mereka semua yang berada disekeliling hanya memandang ia diluar, tidak sepenuhnya.
Anna mengerjap perlahan, melangkah gontai menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka, ia kembali merebahkan tubuh. Melupakan segala hal yang terjadi, dalam semalam.
Pukul 05.30, Amanda—mama Anna mengetuk pintu kamar putrinya. Tidak seperti biasa, gadis itu bangun kesiangan. Ia berpikir, mungkin ada hal yang menyulitkan untuk Anna. Sebelum ia bisa mengetuk kembali kamar sanh putri, Anna sudah lebih dulu membuka dan menyembulkan kepalanya, matanya sayu mungkin bisa terbilang bengkak.
"Maaf ma, semalam nonton drama korea," ucapnya bohong. Menyembunyikan fakta lain yang ingin dia ketahui sendiri.
Amanda menggeleng, memperhatikan wajah gadis itu yang masih merengut. "Cepat mandi, kau bisa telat." Amanda segera pergi kedapur, menyiapkan sarapan serta bekal makan.
Buru-buru Anna bersiap, berlari cepat melewati ruang keluarga tempat ia berkumpul—dulu, sebelum semua hal berubah dalam sekejap. Ia makan dengan gesit, walau sudah ditegur berulang-ulang kali oleh Mama. Hatinya gusar, kala mendapati mata Mama nya juga terlihat merah.
"Ada apa? Papa menelpon lagi?" Tanya Anna singkat, mencoba mengalihkah perhatian dan sedikit mencari tahu.
"Tidak, lupakan soal ini. Bagaimana acara belajar mu?"
Amanda memilih mengulas senyum, memperlihatkan dirinya yang baik-baik saja. "Ya, sangat baik. Semua pelajaran seperti memenuhi kepala ku." Anna berkata riang, hingga memunculkan gelak tawa yang keluar dari bibir Amanda. Mereka bercengkrama sebentar sebelum akhirnya Anna berpamitan akan kesekolah.
"Anna,"
"Ya, ma?"
"Jadilah dirimu sendiri. Kau punya banyak impian."
Anna tersenyum lebar, menunjukan jempol kebanggan. "Pastinya!" Bagai mengukir hari baru, dengan masa lalu yang sudah terlewati. Anna lebih memilih, jalan nya saat ini. Mengabaikan kenyataan demi kenyataan, dan tetap menempuh tulisan hari yang sudah ia rangkai sebaik mungkin. Biarlah orang lain melihat dirinya yang sempurna.
Anna, akan menutup rapat-rapat kesakitan yang ia rasakan.
...°°°...
"Yang benar saja! Aku tidak melihat, maksudnya—tidak sengaja!" Erliana menggeram seraya menutupi wajah nya dengan telapak tangan. Niat ingin memasuki UKS untuk mengambil obat pereda sakit, malah disungguhkan dengan pemandangan yang hanya bisa dilihat oleh orang yang lucky.
Argan mengganti baju saat Erliana masuk, dan kini lelaki itu masih bertelanjang dada dengan kekehan memenuhi ruangan. Membuat pipi Erliana semakin panas terbarkar malu.
"Kau melihat, jadi bertanggung jawablah."
"Hah? Untuk apa? Astaga!"
"Sudah? Aku ingin mengambil obat," rengek nya pelan, diiringi hentakan kaki. Tubuhnya masih berbalik menghadap tembok, menunggu dengan sabar Argan mengganti baju atau ia sendiri yang akan mendorong lelaki itu pergi.
Tubuhnya tersentak perlahan, tangan seseorang berada dibahu, Erliana menoleh. Mendapati Argan yang sudah berpakaian lengkap, lelaki itu nampak tampan, walau dirinya sendiri enggan mengakui. "Sudah," ujar lelaki itu pelan diiringi senyum yang menggoda. Irisnya tak henti menatap paras didepan. Namun, cepat-cepat Argan tersadar setelah mengingat apa yang membuat sang gadis datang kemari.
"Kau sakit, Lia?" Intonasi nya terdengar khawatir, raut wajah gelisah melekat seketika bagai magnet. Erliana berusaha kalem, ia menggeleng seraya menunjuk kepala.
"Hanya pusing, ini akan segera sembuh." Erliana berucap seraya meraih kotak-kotak yang sesuai nama, didalamnya berisi obat yang ia butuhkan sekarang.
Argan mencekal pergelangan tangan Erliana, membawa gadis itu duduk ditepi kasur. Sang empu yang ditarik, mengerutkan kening. Sebelum mulutnya kembali berkicau, Argan telah lebih dulu menyentuh dahinya lembut sembari mengusap perlahan. Erliana, sontak terkejut. Tubuh nya tidak bisa digerakan karena sentuhan tiba-tiba diwajah, apa-apaan ini? Batin nya menjerit.
"Lia! Kudengar kau kemari, kena—"
Anna berdiri kaku, dengan jantung berdegup kencang. "Maaf, aku menganggu. Lanjutkan!" Serunya tanpa beban dan segera menutup keras-keras pintu UKS. Setelah memergoki sahabat dekatnya PDKT, Anna merasa bersalah, namun ia juga tertawa pelan. Erliana pasti akan membunuhnya nanti.
"Argan! Ini salah mu, Anna jadi salah paham, kan," jerit nya tertahan. Ia segera melompat dari kasur dan bergegas mengejar Anna. Namun, Argan menyeletuk pelan.
"Kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu," ia menatap dalam punggung Erliana, membuat gadis itu berbalik dan kerap kali menunjukan wajah kebingungan. Hari ini, Full heran bagi Erliana.
"Salah! Dia akan berpikir kita saling menyukai." Erliana menggelengkan kepala, tanpa menyadari Argan menatapnya lemas. Seolah, perkataan tadi cukup menyakitkan untuk didengar.
Dengan langkah lebar, ia mendekati Erliana. Dengan pintu UKS yang masih tertutup rapat, membuat orang-orang yang bisa saja lewat mungkin berpikir mereka melakukan hal yang kurang sopan karena, pintu UKS terbuat dari kaca yang bisa dilihat telanjang mata.
"Kau takut, mereka menganggap kita saling menyukai?"
Erliana termangu, menatap tepat kearah manik teduh, mulutnya terkunci. Ingin menjawab, namun takut tergagap. Intonasi suara terdengar rendah, membuatnya kalut sendiri karena lelaki itu tidak mengalihkan pandangan dari gadis didepan barang sejenak.
"Iya, kan? Itu termasuk menuduh yang tidak benar," Jawabnya cepat, setelah beberapa menit bungkam.
"—Tapi, aku yakin Anna tidak akan melakukan hal itu," sambung nya lagi diiringi ******* napas panjang. Ia mengangguk-anggukan kepala sendiri. Berharap lelaki ini, segera menjauh darinya.
"Jikapun, Anna berbicara pada yang lain. Kurasa itu, tetap benar."
Erliana mendelik, mempertanyakan maksud ucapan Argan. Tubuhnya bergetar, saat lelaki itu memajukan wajahnya, agar bibir mampu menggapai telinga yang terlihat memerah.
"Benar adanya, dan aku tidak takut mereka menganggap kita apa,"
Erliana menunggu dengan sabar. Hingga, bisikan terakhir membuatnya meleleh ditempat.
"Faktanya, aku menyukai mu, Lia."
To Be Contienue