Study With You

Study With You
Kesepakatan



"Bagaimana jika belajar bersama dia, agar kau tidak dipindahkan, Anna."


"Huh? Siapa?"


"Tidak mungkin aku, kan? Tentu saja. Kiel,"


Anna tanpa sengaja menyemburkan jus yang sudah ia minum, tidak mengenai orang lain. Tapi, itu menjadi image buruk untuk ia sebagai gadis baik-baik.


Setelah kekantin, mereka membeli bebrapa cemilan dan minum untuk dibawa kekelas, selama perjalanan. Erliana memiliki ide cemerlang, dan membicarakan nya dengan Anna.


"Kau gila!"


Orang yang mendengar, tidak akan peduli kata kotor keluar dari bibir ranum Anna. Mereka hanya akan melihat, kesempurnaan gadis itu. Berbeda, dengan Erliana yang mendengus kasar.


Menyentil dahi Anna kuat-kuat hingga berbekas merah. Membuat sang empu mengaduh sakit, mengelus dahinya pelan seraya mengerucutkan bibir.


"Ini demi kebaikan mu, kau tidak ingin pindah, kan?"


"Ya, aku tidak. Tapi, astaga! Kau tidak lihat tadi?"


Erliana memikirkan sejenak, apa yang ia lihat? Ekspresi kesal yang ditunjukan Kiel? Mungkin iya. Namun, dibandingkan kepindahan Anna, Erliana lebih memilih melemparkan sahabatnya pada lelaki seperti kiel.


Lagipula, lelaki itu selalu meraih juara pertama diikuti Erliana yang kedua. Bahkan, selalu masuk juara antar sekolah. Keunggulan itulah, Erliana jadikam patokan untuk membantu sahabat nya.


"Kau tidak bisa hanya belajar bersama ku, Anna. Cobalah hal baru, anggap Kiel sebagai tantangan," jelas Erliana, sembari memasukan roti kedalam mulut. Anna diam-diam mendengarkan. Benar, tapi, dia lelaki yang tidak tertarik pada Anna.


Tidak seperti lelaki lain yang mengerubungi ia layaknya semut. Baru pertama bertemu, tatapan nya saja sudah membuat Anna merinding. Apalagi, membayangkan mereka duduk di meja yang sama dan saling bertukar pendapat.


Ralat—hanya Kiel. Bukan Anna.


"Ugh, dia dikelas mana?"


"Hm? MIPA 1."


Anna menyunggingkan senyum, pasrah pada keadaan. Dari pada dipindahkan hingga luar negeri, ia lebih memilih menetap. Tapi, Anna menggigit bibir bawahnya keras, keputusan yang sebenarnya. Ada pada Mama dan Papa nya, walau sudah pisah rumah.


Papa Anna, tetap membicarakan masalah anak mereka secara bersama-sama. Anna tahu, mama nya pasti sudah lelah. Namun, demi dirinya, demi Anna, demi putrinya. Dia tetap rela, berbicara pada pria yang tidak pantas dianggap suami dan berhasil menjadi seorang Papa.


"Lia, apa aku anak haram?"


Erliana segera menampar pelan bibir Anna, mendengus kencang dan menangkup wajah kecil gadis itu.


"Jangan berbicara aneh-aneh, kau harta karun bagi orang tua mu." Anna mengedipkan matanya, iris berkaca-kaca. Menarik lembut tubuh sahabatnya untuk dipeluk, Erliana adalah tempat terbaik nomor dua setelah mama nya.


"Anna, jangan menangis. Kita masih dilorong,"


"Ah ya, maaf."


...°°°...


Kiel memasuki kelas, menduduki kursi yang terlihat kosong. Itu kursi miliknya, benar. Hanya saja, Kiel selalu berpindah-pindah tempat. Namun, itu ia lakukan jika merasa kesulitan untuk memperhatikan guru yang mengajar didepan, sang guru pun tidak masalah.


Karena Kiel, adalah murid kesayangan. Tangan besarnya meraih earphone, memasang pada dua kuping tanpa memperhatikan sekitar.


Walau seruan para gadis terdengar memanggil, Kiel tetap fokus pada buku yang sekarang menjadi atensi utama. Mejanya sedikit berguncang, kala tubuh ramping seseorang menyenggolnya. Entah sengaja atau tidak.


"Maaf, aku tidak sengaja," dia menunduk tepat disamping lelaki yang bahkan tidak memperhatikannya. Mengabaikan dan hanya diam, lebih memilih mengencangkan volume pada musik.


"Aku tidak meminta mu modus pada meja, tapi pada orangnya," kata Erliana gusar. Anna sontak membulatkan mata, berkacak pinggang dengan mengerutkan kening.


"Kita sedang berada dikelas orang lain, aku sangat malu," ujarnya sembari menutupi sebagian wajah. Netranya melirik kearah para lelaki yang sekarang bersiul genit pada mereka. Salah satu diantara lelaki itu, mendekat dan tersenyum manis.


Namanya, Argan. Teman sekelas Kiel. Dia lelaki ramah, gampang tersenyum dan menjadi idola sekolah juga. Lalu, tidak kalah pintar dari Kiel. Sosoknya dipandangan orang lain, sama seperti Anna.


Terkadang, mereka bisa dipasang-pasangkan. Pernah ada gosip panas, bahwa Argan dan Anna menjalin hubungan. Namun, rumor itu langsung dibantah mentah-mentah oleh Argan, ia hanya tidak ingin gosip seperti itu menyulitkan ia dan Anna.


"Hai Erliana, Anna. Ada apa?"


Anna melirik Erliana yang nampak terkejut dengan kehadiran Argan. Aneh, harusnya gadis itu bisa terlihat santai. Sikap anehnya kian bertambah saat Argan mendekatkan tubuh, Erliana berjengit kaget sekaligus merapatkan tubuhnya pada Anna. Membuat manik teduh itu memicing tajam, oh. Ada apa ini?


"Kami ingin ... ugh, Kiel," sahut Anna pelan. Bingung merangkai kalimat agar lelaki ramah itu paham maksudnya. Tanpa disangka-sangka, Argan menyeringai mantap.


"Kiel! Ada yang mencari mu, hey!"


Dengan santai, ia menarik bahu lelaki itu hingga kepala harus terpaksa menoleh. Menaikan satu alis dan bertanya lewat mata, Argan terkekeh.


Menyampingkan tubuh nya, agar Kiel dapat melihat siapa sosok yang mencari-caei dirinya. Alisnya hampir menyatu, karena kenal siluet tubuh didepan. Gadis yang menabrak nya—tanpa sengaja.


"Apa?"


Anna terdiam.


"Tolong, bantu teman ku ini. Dia kesulitan dalam belajar."


Hampir saja. Anna menempeleng kepala Erliana dengan amat sangat kuat, dirinya menoleh sepenuhnya pada sahabatnya. Kembali diam-diam melirik kearah Kiel yang makin menunjukam raut wajah tidak suka dan heran.


"Kau pikir aku mau? Aku tidak kenal dia."


"Karena itulah, tolong berkenalan." Erliana menggeram tertahan.


"Untuk apa?"


Kiel berbalik, sepenuhnya menghadap tiga insan yang berdiri tidak jauh darinya. Manik gelap menatap dalam-dalam tubuh itu dan wajah itu. Diam-diam Anna menjerit dalam hati, ingin segera kembali kekelas.


Sebelum Erliana sempat menyahut, dering bel sekolah berbunyi. Menandakan bahwa pelajaran pertama akan segera tiba, Anna dengan gesit menarik lengan teman nya dan membawa keluar kelas. Meninggalkan Kiel dan Argan yang sama-sama diam ditempat.


"Kiel, ayo buat kesepakatan." Argan menyeletuk sembari memyeringai. Entahlah, tiba-tiba suasana hatinya terasa bagus hari ini.


Yang diajak bicara justru mengedikan bahu, tidak peduli. Ia kembali duduk dikursi, sebelum tangan bisa meraih earphone, dengan cekatan ia dicekal. "Apa lagi?" Tanya seraya mendengus kasar.


"Ayolah!"


"Aku tidak ingin, pergi sana."


"Ini menarik, aku akan biarkan kau duduk dikursi ku nanti,"


Argan semakin melebarkan seringaian nya, Kiel nampak menimang-nimang. Dari sudut pandang Kiel, Argan terlihat menyakinkan dan akan menguntungkan nya dalam kesepakatan ini.


Tapi kenapa? Kiel rasa, Argan punya tujuan lain. Lebih baik membahasnya dari pada ia dibuat penasaran, bukan?


"Oke."


To Be Continue