
Anna mengerjap perlahan, ia merenggang kan otot-otot kaku karena lama tertidur. Ah, iya. Setelah kabur dari UKS, dia masuk keperpus guna menjernihkan pikiran sekaligus membaca beberapa buku sebagai bahan belajar, tentunya secara otodidak.
Jemari lentik merapikan anak rambut yang sempat berantakan, kembali menyusun pita-pita imut diantara surai. Kegiatan nya terhenti saat ia sadar, ada netra yang menatap lekat padanya. Anna segera melirik lewat ujung mata, namun kembali pura-pura tidak peduli.
Masalahnya, Kiel berada disana. Dalam jarak satu meja diantara mereka, dan Anna yakin. Lelaki itu sedari tadi memperhatika gerak-getik nya, membuat Anna menjadi tidak leluasa untuk bertingkah.
"Baguslah jika belajar sendiri, aku tidak perlu repot-repot mengajari mu," celetuk Kiel, sengaja meninggikan suara dengan niat menyindir. Anna merengut, dahinya berkerut masam. Perkataan itu, jelas ditujukan untuknya.
"Jika tidak ikhlas, seharusnya bilang." Anna membalas tajam seraya menoleh sepenuhnya pada sang empu yang malah tersenyum mengejek. Kiel mengangkat bahu, ia melemparkan sebuah buku pelajaran pada Anna.
Tangan nya meraih pulpen dan menunjuk tepat didepan wajah Anna. "Baca itu, otak mu akan encer setelahnya," seolah mengejek, Kiel berbalik. Memunggungi Anna dan fokus pada buku yang ia pegang, mengabaikan gadis yang sekarang berceloteh ria tidak terima.
"Aku sudah cukup pintar sekarang, setidaknya naik level." Ucap nya bangga, buku ia gunakan untuk mengipasi wajah yang terlihat meremehkan balik.
Kiel tidak menjawab, menghiraukan gadis diseberang dengan segudang kesibukan yang ia miliki. Ah ya, tentang malam itu. Kiel merasa, ia salah menilai Anna. Sempurna? Kiel hampir tertawa terbahak, Anna hanyalah manusia. Walau dalam kategori, gadis itu hampir menduduki posisi sempurna. Membuat Kiel terkadang merasa, kagum pada dirinya.
Namun, apakah hidupnya benar sempurna?
Melihat sang gadis yang berusaha belajar keras, membuat lelaki itu berpikir. Ada masalah yang ingin cepat terselesaikan, namun apa itu? Sial! Kenapa Kiel peduli? Kenapa ia harus memikirkan masalah Anna? Toh, mereka tidak punya hubungan. Ya, tidak punya, Kiel hanya tidak ingin memiliki perasaan romansa sekarang.
Kursi disebelah berderit, Kiel memusatkan perhatian nya. Anna duduk tepat disamping, memeluk buku yang tadi ia jadikan kipas, dengan bingkai kaca mata bulat bertenger dihidung mancung. Sejak kapan? Kiel mungkin terlalu fokus, sampai tidak menyadari gadis ini yang mendekat kearah nya.
"Aku kesulitan, ayo bantu. Kau bilang akan membantu ku, kan?" Tanya nya yakin, menunjuk beberapa soal fisika yang susah dimengerti, Kiel melirik.
Menutup buku dan memfokuskan seluruh perhatian nya pada Anna. Kiel bersuara rendah, menggapai dan memberikan semua pengetahuan yang ia miliki pada Anna. Beberapa kali gadis itu bertanya, dan entah kesekian keberapa kali juga Kiel tetap sabar seraya menyentil dahinya.
Bagi orang awam yang melihat, mereka adalah sepasang kekasih. Tidak mengetahui tujuan dari masing-masing diri, menyembunyikan jati diri sebenarnya. Beberapa siulan terdengar, tengah menggoda sepasang remaja yang asik bergelut pada tumpukan buku, atau gosip-gosip ria yang dilakukan anak-anak gadis, entah dengan niat bercanda atau cemburu.
Karena sang pujaan hati, berada didekat gadis populer dan cukup dikagumi orang-orang.
"Hey, apa ini tidak masalah? Para fans mu menatap ku," bisik Anna, lebih mendekatkan tubuh mereka. Matanya melirik kesamping, namun segera kembali pada bacaan saat delikan pada diujung pojok ruangan semakin menajam. Habis aku! Batin Anna menjerit.
"Abaikan. Aku tidak kenal mereka."
Kiel mendapati Anna yang terlihat komat-kamit bagai dukun baca mantra. Ia terkekeh, menyampingkan tubuh agar sedikit lebih dekat. Niatnya, menggoda gadis itu. "Kau aman, bersama ku," bisiknya perlahan. Seperti yang dilakukan Anna tadi padanya. Namun, karena hembusan napas pada area kuping membuat Anna tersentak. Ia memundurkan tubuh.
Tidak menyadari, bahwa kursi yang ia duduki cukup kecil, tubuhnya sontak terjatuh. Pergelangan tangan ditarik kuat, membalikan tubuh kecil dalam sekejap berada diatas. Anna merasa menimpa seseorang, lutut menekan ************, dan siku menekan dada bidang. Gaya yang cukup intim, membuat para gadis berteriak histeris dalam perpustakaan yang kala itu sunyi.
"Astaga!" Anna berseru kencang, semakin menekan lutut hingga Kiel mengumpat dalam, cepat-cepat ia angkat tubuh Anna dari atas nya, gadis itu bergeming seraya mengelus kaki yang tadi terasa menyentuh sesuatu.
Sedangkan Kiel, napasnya memburu. Keringat dingin mulai turun dari pelipis, matanya menatap tajam kearah Anna. Gadis itu, bahkan tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan. "Apa yang salah?" Tanya nya cepat, tidak mau kalah dalam perseteruan menatap ini. Lagipula, sejak awal Kiel lah biang masalah.
Kenapa lelaki itu harus berbisik padanya?
"Pikir sendiri."
Kalimat menusuk datang, diiringi Kiel yang pergi meninggalkan Anna sendiri, diam membungkam tanpa harus berbuat apa. Ia bangkit, merapikan rok. Mengepalkan tangan, dia yang memulai. Dia juga yang marah, apa-apaan? Anna membatin pilu.
Segera pergi, mengabaikan lirikan mata yang tertuju padanya, bertanya-tanya apa yang terjadi. Anna kesal, amat kesal. Buku yang tadi ia pegang tak lagi ada digenggam tangan, meninggalkan nya sendiri dalam meja perpustakan.
"Anna!"
Seruan terdengar, dengan derap langkah kaki yang memacu. Erliana menghela napas perlahan. "Kemana saja? Kenapa tidak masuk kelas?" Anna langsung digempur serangan pertanyaan, Erliana berkacak pinggang. Menatapnya penuh selidik.
"Aku terpaksa mengatakan pada guru, kau sedang sakit dan berada di UKS," sambungnya lagi. Bersungut tanpa menghiraukan wajah masam Anna, mengelus sedikit pergelangan tangan sahabat. Erliana merasa ada yang salah.
"Kenapa lagi?" Tanya nya tertekan, Anna sangat jarang murung. Jika ya, artinya ada masalah besar. Atau gadis itu sedang dalam fase tidak ingin bicara.
"Kiel marah pada ku," sahutnya singkat. Bibirnya mengerucut, membuat Erliana menyerngitkan dahi. Terheran, Kiel bukan termasuk tipe lelaki pemarah menurutnya. Lelaki itu hanya tidak pedulian, lalu apa masalahnya?
"Ugh, aku jatuh dan—tidak sengaja." Kalimat terakhir seperti bisikan angin, tidak terdengar hingga Erliana terpaksa mengguncang bahu Anna kencang, meminta menjelaskan dari awal.
"Astaga. Aku jatuh dan tidak sengaja—menyentuh itu."
Mimik nya berubah, panas. Merah. Malu. Anna menundukan kepala, rasanya ingin menampar wajahnya dengan amat keras. Sekarang, ia baru ingat mengapa tadi Kiel bersikap sensitif dan berteriak padanya. Sejujurnya, Anna merasa bersalah dan takut. Takut lelaki itu tak mau mengajari nya lagi, padahal akhir-akhir ini Anna sedang dalam perkembangan dan itu berkat Kiel.
Erliana juga sama, bingung mau merespon apa. Pasalnya, kejadian di UKS bersama Argan masih memutar diotak. Pernyataan berani Argan bahkan hampir membuatnya jantungan, Erliana tidak habis pikir. Apa yang Argan katakan? Ia yakin, itu hanya sebuah kebohongan.
Anna menatap lekat Erliana yang tampak diam. "Kau berpacaran dengan Argan, Lia?" Pertanyaan itu terlontar mulus. Menghantam kembali dada Erliana dengan beribu guncangan hebat. Sebelum Erliana sempat membantah, siluet seseorang muncul. Berdiri diantara dua gadis bersahabat.
"Ya, itu benar." Argan merespon baik.
Lagi dan lagi. Dunia penuh kejutan pada kisah cinta remaja.
To Be Contienue