Something Of The Life

Something Of The Life
Kemarahan Darren



Dua orang dewasa terlibat sedang menikmati kopi mereka di sebuah cafe yang ramai pengunjung. Dua pria yang sudah berumur namun masih tangguh dan gagah. Bahkan penampilan mereka yang selalu terlihat muda dari usianya.



“Rasanya sudah lama sekali kita tidak menikmati waktu bersama seperti ini,” ucap salah satu pria yang memakain kemeja maroon.



“Yah, aku juga merasa seperti itu.” Pria dengan setelan jas abu-abu menyetujui nya.



“Bahkan terakhir kita bertemu, aku sudah tidak mengingatnya.”



“Haha … jika kau lupa, akan aku ingatkan terakhir kita bertemu tiga Minggu yang lalu. Saat aku mengantar putri ku di hari pertama ia di sekolah barunya.” Pria itu menyeruput kopinya.



“Ah iya, aku baru ingat. Putri mu gadis yang manis dan polos. Sayangnya ia memiliki takdirnya yang kurang baik.” Rega merasa prihatin.



“Rega, sekali lagi terimakasih atas semua kebaikan mu pada keluarga ku.”



Rega melihat ketulusan juga keputusan asaan dalam diri sahabat kecilnya. “Jackson, kau tak perlu mengatakan itu. Aku melakukan semua karena kau sudah aku anggap seperti saudara ku.” Rega mengatakannya tulus dari lubuk hati terdalam. Rega sudah menganggap Jackson seperti adiknya sendiri sejak dulu. Persahabatan yang terjalin 40 tahun lebih lamanya, membuat mereka saling mengenal dan memahami satu sama lain layaknya saudara kandung.



“Kamu sudah banyak membantu Amber melewati masa sulitnya, bahkan sampai sekarang kau masih mengawasi dan menjaganya.” Jackson teringat akan putri semata wayangnya.



“Aku melakukan semua karena Amber keponakan ku,” balas Rega sambil menepuk bahu sahabatnya.



“Amber memang tidak seberuntung anak lainnya. Tapi aku yakin dia anak yang kuat dan tangguh.” Seulas senyum tipis tersemat di wajah Jackson.



“Iya aku percaya itu!” Tegas Rega.



“Apa Amber mengalami kesulitan di sekolah. Ia tidak pernah memiliki seorang teman, dan Keenan tidak bisa di harapkan.” Pikiran Jackson menerawang pada Keenan. Anak lelakinya yang telah berubah sifatnya sejak 6 tahun yang lalu.



“Kau tidak usah khawatir aku sudah mengatur semuanya,” balas Rega sambil tersenyum.



Jackson tersenyum puas, ia sangat mempercayai sahabatnya. Dan apa yang telah di rencanakan oleh sahabatnya belum pernah gagal.



“Apa kau sering meluangkan waktu untuk Amber?” Tanya Rega memecah suasana yang sempat hening.



“Aku sering kali tugas ke luar Kota. Jadi tidak banyak waktu untuk di rumah,” terang Jackson.



“Ckk … bagaimana dengan Eveline?”



“Masih sama,” lirih Jackson dengan raut penyesalan.



“Jangan biarkan kalian berlarut-larut mengabaikannya. Yang Amber perlukan peran sosok kedua orangtuanya,” saran Rega merasa prihatin, tentu saja pada gadis malang yang mereka bahas.



“Akan aku usahakan.” Jackson menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil mengusap wajahnya.



Ia bisa saja melakukan apa yang di sarankan Rega. Tetapi ia tidak menjamin apakah istrinya dapat melakukannya. Eveline memiliki karakter yang keras dan tetap pada pendiriannya, sama seperti Keenan. Berbeda dengan Reyhan dan Darren yang merupakan anak sulung dan anak keduanya itu, memiliki karakter seperti dirinya.



Tidak terasa sudah menjelang waktu sore. Empat jam lamanya mereka habiskan untuk mengobrol soal keluarga Jackline dan masalah pekerjaan. Juga mengenang masa-masa kecil mereka dahulu. Di parkiran cafe dua sejoli itu berpisah untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing.


-


Seorang wanita sedang duduk di tepi ranjang bernuansa putih. Ia memandangi sebuah bingkai foto yang terletak di meja samping ranjang. Jari-jemari nya mengusap gambaran sebuah anggota keluarga, dimana ada dua orang dewasa dan lima orang anak dengan pakaian serasi. Bulir demi bulir air matanya keluar hingga membasahi wajahnya. Tatapannya terfokus pada sebuah foto gadis kecil berambut panjang, dan wajah datar tanpa ekspresi.



“Dinda … mama kangen sayang,” lirih wanita itu yang kini memeluk bingkai foto itu.



Tok! Tok! Tok!



Pintu kamar terbuka setelah seorang pria mengetuknya. Ia menatap seorang wanita yang sangat ia cintai. Tanpa bertanya, ia tau apa yang sedang terjadi.



“Sampai kapan Ma?” Pria itu bertanya dengan nada datar. Ia menutup kembali pintu ruangan yang dingin oleh suhu AC.



“Apa kau tidak merindukannya Darren. Kalian merupakan saudara kembar,” jawab Eveline menatap punggung putranya yang sedang berdiri di jendela kaca yang tertutup rapat.



“Aku tidak pernah merasakan adanya ikatan dengannya. Lagian itu sudah lama berlalu, mengapa mama tidak mengikhlaskan semuanya. Ada yang lebih membutuhkan mama di sini.” Darren memutar badannya menatap mamanya.



“Maafkan mama Darren,” ucap Eveline lemah.




Ketika Darren keluar dari kamar mamanya ia melihat papahnya yang baru saja datang dan mengarah padanya.



“Darren kau baru saja mengunjungi mama yah,” ucap Jackson dengan senyuman khas miliknya.



Bukannya menjawab, Darren malah mengabaikan papahnya. Suasana hatinya saat ini sedang tidak baik. Awalnya tadi, ia mengunjungi mamanya untuk mengobrol. Tetapi saat melihat mamanya seperti tadi dan merupakan hal yang sangat Darren benci, membuatnya mengurungkan niat awalnya.



“Darren.”



Panggilan dari papahnya membuat Darren menghentikan langkahnya.



“Tolong ngertiin mama,” pinta Jackson lembut.



Darren sudah lelah mendengar permintaan papahnya yang sudah seringkali di ucapkan. Ia mendengus dan menatap papahnya. “Darren sudah ngertiin mama selama ini. Tapi mama gak pernah berubah.”



“Darren, mama kamu hanya perlu waktu.”



“Sampai kapan Pah? Sampai kita kehilangan anggota keluarga kita lagi,” sarkas Darren.



“Kita gak akan kehilangan siapa pun lagi!” Tegas Jackson.



“Amber nggak salah, tapi kalian yang sudah salah memperlakukannya.” Darren meninggalkan papahnya dengan emosi yang semakin menjadi-jadi.



Jackson hanya terdiam atas perlakuan putranya. Apa yang Darren katakan memang lah benar. Dari dulu hanya Darren lah yang peduli akan keluarga mereka. Ia sangat menyayangi saudara-saudaranya. Bahkan ia memiliki sifat yang lebih dewasa dari Reyhan, kakaknya.



Sedangkan Eveline berdiri di belakang pintu yang tertutup, mendengar kan semua pembicaraan suami dan putranya.


🌿🌿🌿


Jam menunjukkan angka 15:00 sore, murid SMA Angkasa baru saja mengakhiri kegiatan mereka di sekolah. Matahari yang cukup terik membuat murid-murid di lapangan berlarian menuju gerbang dan mencari tempat yang teduh.



“Jonah, temani gue yah ambil handphone gue sama Keenan,” pinta Sunny sebelum mereka meninggal kan kelas, dan menjadi yang terakhir di sana.



“Ya udah,” jawab Jonah sambil mengacak-acak isi tas yang ia sampaikan.



“Lo cari apaan sih, kayanya serius banget dari tadi?” Tanya Sunny sambil memperhatikan Jonah yang berjalan di sampingnya.



“Mau tau gue apaan.” Jonah melirik Sunny sekilas, raut wajahnya tampak serius.



“He-em.” Sunny mengangguk penasaran sambil terus memperhatikan apa yang di lakukan Jonah pada isi tas nya.



“Cari … ini dia” Jonah menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk simbol love.



“Ha ha ha …” tawa Jonah merasa puas. Bahkan ia sampai memegangi perutnya yang terasa sakit akibat merasa geli dengan ekspresi Sunny.



Sunny membulat kan kedua matanya, ada semburat merah muda di kedua pipinya. Tangannya tidak berhenti memukuli Jonah. “Iss … Lo tuh yah nyebelin banget.” Sunny yang sudah benar-benar serius menunggu, ternyata hanya di kerjai oleh Jonah.



Sebenarnya Jonah hanya mencari ponselnya yang keselip di dalam tas dan sudah ketemu. Tapi saat ia melihat gelagat Sunny yang penasaran, Ia jadi kepikiran buat ngerjain Sunny.



“Kenapa tuh pipi lo merah?” Tanya Jonah sambil berdiri di anak tangga menuju lantai tiga.



Sunny yang berdiri tidak jauh dari Jonah, terkejut dengan apa yang di ucapkan pria itu. Ia menuruni beberapa anak tangga agar bisa sejajar dengan Jonah.



“Ka-re-na gu-e pa-nas.” Sunny mengatakannya tepat di depan wajah Jonah, dengan kalimat yang di eja.



Jonah tidak menanggapi Sunny, karena fokusnya tertuju pada dua orang di ujung tangga. Sepasang murid itu menuruni tangga perlahan menuju Jonah dan Sunny, tetapi hanya Jonah yang menyadarinya.


...🍁🍁🍁...


..._...


..._...


..._...