Something Of The Life

Something Of The Life
Siapa dia?



Amber membalikkan tubuhnya ke sumber suara. Beberapa meter di belakangnya, pria yang berhasil membuatnya terpana berdiri di sana.



“Ini punya lo.” Pria itu menunjukkan sebuah dompet kecil berwarna peach. Ia berjalan mendekati Amber yang berdiri mematung.



“Hei,” ucap pria itu tepat di depan wajah Amber yang lebih pendek darinya.



“Bukan.” Jawab Amber cepat. Ia merutuki kebodohannya, ketika pria itu membuka dompetnya dan memperlihatkan sebuah kartu pelajar miliknya.



Pria itu menyengir menggelengkan pelan kepalanya. "Gak perlu terimakasih, gue juga gak minta traktiran dari lo.” Menyerahkan kembali dompet pada tangan Amber yang ia raih, karena gadis itu tidak berkutik sama sekali.



Pria itu melangkahkan kembali kakinya sebentar dan berhenti di samping Amber. “Resleting rok lo belum naik,” bisik pria itu pada telinga Amber.



Amber terkejut setengah mati, wajahnya memerah dan tubuhnya terasa membeku. Ia meletakkan kedua tangannya memutupi rok bagian belakang. Sambil menoleh ke sana kemari, namun seketika wajah merah karena malu berubah menjadi emosi. Ia menghembuskan nafas perlahan. Ia membalikkan tubuh ke arah pria itu berlalu, tetapi orang itu sudah tidak terlihat. Yah, Amber di kerjain oleh pria yang berhasil membuatnya merasakan hal yang berbeda di hatinya. Pria pandangan pertamanya.


🌿🌿🌿


Tet! Tet! Tet!



Siswa-siswi SMA memasuki kelas mereka untuk memulai pelajaran. Seorang siswi menginfokan kepada teman kelasnya jika mereka di suruh berkumpul di lapangan.



“Tasya, siapa yang nyuruh?” tanya siswa berkacamata pada ketua kelas mereka.



“Pak Riyan.”



“Ada apa memang, Pak Riyan kan di jam kedua.” Sahut siswi dengan rambut kuncir kuda.



“Terus kalau Bu Ina masuk gimana?” timpal siswa lainnya. Seluruh murid yang berjumlahkan 25 orang berjalan beriringan dengan segala protes mereka.



Sesampai di lapangan sudah ada pria bertubuh kekar dengan setelan olahraga dan murid kelas lain dengan seragam olahraga mereka.



“Kenapa kalian tidak satupun yang memakai pakaian olahraga. Sudah tidak menginginkan pelajaran saya!” bentak pria yang merupakan guru yang mengajar mereka.



“Maaf Pak. Jam olahraga kami di jam kedua.” Tasya,mewakili kelasnya.



“Kakak kelas kalian sudah menginfokan mengenai pertukaran jam pelajaran saya" Sarkas Pak Riyan.



Mereka murid kelas XI IPA 1 saling melempar pandangan. Mereka sama sekali tidak ada yang mendapatkan informasi tersebut. Kecuali seorang siswi yang sedari tadi menundukkan kepalanya.



“Elang,” panggil Pak Riyan ke salah satu barisan murid di samping kanannya.



Seorang siswa yang menampakkan tubuh atletis dan otot pada lengagnnya menghampiri Pak Riyan.



“Pada siapa kau menyampaikannya?”



Siswa bernama Elang itu memperhatikan satu persatu adik kelasnya. Sampai tatapannya berhenti pada seorang siswi dengan sikap berbeda dari lainnya.



“Dia orangnya Pak.” Elang menunjuk objeknya.



Semua yang menyaksikan mengarah pada jari telunjuk Elang.



“Kamu, maju sekarang!” perintah Pak Riyan. Ia menatap asing pada gadis yang berjalan dengan menunduk.



“Sih anak baru,” bisik seorang siswi yang dapat di dengar.



Murid-murid mulai menggerutu membicarakan gadis yang membuat mereka mendapat masalah.



“Huuwww!” sorak murid-murid perempuan yang merasa kesal pada Amber. Yah, hanya murid perempuan yang bersorak.



“Siapa nama kamu?” tanya Pak Riyan menundukkan kepalanya.



“Amber Pak,” lirih Amber.



“Kamu anak baru. Angkat kepala kamu, memangnya saya ada di bawah sana,” ucapan Pak Riyan berhasil membuat sebagian murid tertawa. Tetapi tidak dengan Amber.



Amber segera mengangkat kepalanya sehingga wajahnya terlihat jelas. Banyak yang terpana dengan parasnya bahkan memujinya secara terang-terangan. Yah, Amber memang memiliki paras cantik meskipun tubuhnya mungil. Apa lagi matanya yang berwarna abu-abu sangat mencolok dari yang lainnya. Membuat dirinya sangat berbeda.



“Cantik. Kok gue baru tau sih ada adik kelas seperti dia,” seru kakak kelas.




“Calon gue mah itu.”



“Kenalan dulu.”



“Perkenalkan diri dulu dong. Kan anak baru.”



“Husstt … yang mau kenalan di tahan nanti setelah jam pelajaran saya,” sela Pak Riyan.



Sorakan kekecewaan dari murid-murid lelaki memenuhi lapangan.



“Amber, kenapa kamu tidak mengatakan pada teman-teman kamu?” tanya pak Riyan.



“Maaf Pak, saya lupa,” bohong Amber, alasan sebenarnya bukan karena ia lupa. Tetapi, ia tidak fokus mendengarkan ketika kakak kelas yang berhasil mencuri seluruh perhatiannya, berbicara hal penting padanya.



Pak Riyan berkacak pinggang dan menggelengkan pelan kepalanya. “Kamu tau gara-gara kamu waktu kita terbuang,” sarkas Pak Riyan.



“Kalian yang belum berganti pakaian, saya kasih waktu sepuluh menit untuk mengganti pakaian. Sepuluh menit kalian belum selesai, jangan mengikuti jam saya. Saya tunggu di gedung olahraga,” tegas Pak Riyan meninggalkan lapangan, di ikuti murid-murid yang sudah memakai pakaian olahraga.



Di saat murid-murid berhamburan, berlari dengan tergesa-gesa. Amber berdiam diri di tempatnya berdiri sambil memandang pria yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu menatap Amber dengan fikirannya, yang tidak siapapun tau.



“Amber, ayo nanti kita telat!” seru seorang gadis yang menarik tangan Amber.



Amber tersentak ketika badannya bergerak kuat karena tangannya di tarik. “Sunny, mana yang lainnya?” Amber hanya menuruti Sunny tanpa mendapat jawaban atas pertanyaannya.



“Gadis yang aneh, siapa dia” batin Elang, menatap kepergian Amber dan temannya.



Sedangkan dari kejauhan seseorang memperhatikan mereka dengan tangan yang terkepal kuat.



Menit kemudian Amber dan Sunny sudah mengenakan pakaian olahraga mereka. Karena terburu-buru mereka keluar toilet dengan berlari agar tidak telat sampai ke gedung olahraga.



Bugh!



Seseorang meringis, ketika tidak sengaja Amber menabrak orang di depannya. Seorang gadis manis berambut gelombang terjatuh dengan keras di lantai, depan pintu toilet.



“Bu\*a lo yah!” maki seorang gadis yang bersimpuh di lantai.



“Maaf, gue gak sengaja.” Amber mencodongkan badannya, ingin menolong gadis itu. Namun gadis yang terjatuh menepis tangan Amber dengan kasar.



“Jangan sentuh gue!” bentak gadis yang menahan sakit pada kakinya.



Amber merasa sangat bersalah, ia berlutut di depan gadis itu. Sekilas Amber membaca nama depan pada name tag gadis itu. ‘Namanya Kiara’ batin Amber.



“Amber!” pekik Sunny ketika sahabatnya tersungkur. Sunny dengan cepat menolong Amber dan menatap tajam pria yang berani mendorong tubuh Amber.



Amber terkejut menyadari kehadiran pria yang telah kasar padanya.



“Jangan sampai tangan haram lo menyentuhnya.”



Jleb … perkataan itu seperti benda tajam yang menusuk hati Amber.



“Keenan lo!” Sunny menghembuskan nafasnya dengan kasar, tatapan gadis itu seakan mematikan.



Amber berdiri dengan tubuh sempoyongan dan berlari. Ia tidak ingin air matanya keluar begitu saja di depan orang-orang yang sudah menyakitinya. Hatinya lebih sakit ketimbang luka yang ia dapat di lututnya.



“Bre\*\*\*\*\* lo” umpat Sunny tepat di depan wajah Keenan, sebelum berlari mengejar sahabatnya.



“Ban\*\*\*\* lo beraninya sama perempuan. Mulut lo tuh harus di pasangin filter,” maki pemilik suara berat yang ikut menyaksikan dari jarak agak jauh.


......🍁🍁🍁......


...Elang dan Keenan, apakah keduanya membenci Amber dan akan menjadi musuh Amber di sekolah? Sepertinya, sekolah akan menjadi neraka untuk Amber....


..._...


..._...