Something Of The Life

Something Of The Life
Bolos Pertama



Amber melahap sarapan yang tertundanya dengan nikmat, tanpa sadar seseorang di depannya telah memperhatikan dirinya dengan seulas senyum.



“Gimana, enak kan?”



Mendapat pertanyaan dari Elang, Amber mendongak menatap pria di depannya. “Enak banget … gue belum pernah nemuin bubur seenak ini,” jawab Amber dengan ekspresi menggemaskan.



“Ha ha ha …” tawa renyah Elang.



“Bisa ketawa lo,” ledek Amber.



Mendengar ucapan Amber, Elang melengos dan memalingkan wajah ke arah jalan besar yang cukup sepi.



“Kak Elang sering bolos yah?” tanya Amber dengan polosnya.



Elang melotot mendengar pertanyaan gadis yang baru beberapa jam ia kenal. “Gak juga,” jawab Elang santai sambil menyeruput teh hangatnya.



“Nggak juga berarti iya,” timpal Amber. Amber menggeser mangkok yang telah kosong, agar ia bisa leluasa meletakkan kedua tangannya di atas meja. Lalu menatap Elang seperti sedang mengintrogasi.



“Gak takut ketinggalan pelajaran? Terus kalau nilainya jelek gimana? Kalau tinggal kelas gimana?” Pertanyaan Amber secara bertubi-tubi. Padahal belum saja Elang menjawab pertanyaan sebelumnya.



Elang melakukan hal yang sama seperti Amber. Melipat kedua tangannya di atas meja, lalu memajukan badan dan wajahnya ke depan Amber. Hingga jarak mereka sangat dekat. “Lo peduli banget yah sama gue,” jawab Elang dengan senyum termanisnya.



Amber dapat merasakan jantungnya yang kembali berdegup, serta wajahnya yang memanas. Bahkan tubuhnya terasa kaku dan sulit di gerakkan.



“Pipi Lo merah, padahal gak make up,” lanjut Elang sambil tertawa pelan dan menegak kan kembali tubuhnya.



Amber mengerucutkan bibirnya, Elang benar-benar membuatnya malu. Amber beranjak dari posisi nyamannya, menyodorkan selembar uang bewarna merah ke pada penjual, lalu meninggalkan tempat itu.



Elang masih duduk di tempatnya sambil memandangi kepergian Amber. Ada perasaan aneh dan berbeda di dadanya.



“Dek, ini uang kembalian pacarnya,” ucap tukang bubur yang sedari tadi memperhatikan kedua remaja itu.



“Gak usah pak. Kembaliannya buat bapak saja.”



“Wah beneran mas?” Pria paruh baya itu seolah terkejut, karena uang kembalian yang cukup banyak.



“Emang wajah saya ada tampang penipu yah pak. Iya Pak buat bapak saja,” jawab Elang dengan sedikit bercanda, membuat pria paruh baya itu ikut tertawa.



“Terimakasih banyak dek yah, bapak doain semoga rezeki adek selalu mengalir seperti air yang deras. Juga semoga hubungan adek sama pacar adek langgeng.”



Elang tersenyum tulus, ia sangat senang ketika melihat seseorang bahagia atas usahanya. “Yaudah Pak, saya permisi mau susulin gadis itu Pak,” pamit Elang dengan sopan.



Elang meninggalkan tenda bubur ayam, dan berlari pelan mencari keberadaan Amber. Padahal belum terlalu lama sejak Amber pergi lebih dulu meninggalkannya, namun ia belum menemukan Amber di sepanjang jalan. Gadis itu benar-benar melesat dengan cepat. Tatapan Elang tertuju pada taman yang berada di sekitar tempat ia berdiri. Elang melangkah cepat menuju taman. Beruntung taman itu tidak ramai pengunjung karena memang bukan hari libur. Jadi sangat mudah untuk Elang menemukan gadis yang ia cari. Ia mengitari taman dan memperhatikan satu-persatu orang yang ia temui di sana.



“Hufhh …” Elang membuang nafas, ia mendongak ke atas dan menatap langit yang redup. Untung saja cuacanya tidak panas.



“Nyariin yah,” ucap seseorang tiba-tiba dari balik tubuh Elang.



Elang memejamkan matanya sebelum membalikkan badannya. “Senang yah di cariin,” balas Elang.



“Yah gue senang lah kalau Lo susah,” sinis Amber.



“Sudah ngambeknya?” Pertanyaan Elang yang harusnya gak perlu di katakan.




“Ikut gue,” ucap Elang dengan pelan, tepat di belakang tubuh Amber yang hanya sebatas dada Elang.



Elang menggandeng tangan Amber sepanjang mereka berjalan. Amber hanya menuruti kemana Elang akan membawanya, tanpa niat memberontak. Menurut Amber, genggaman tangan Elang terlalu nyaman untuk di lepas kan.


🌿🌿🌿


Murid-murid sibuk dengan aktivitasnya masing-masing ketika jam istirahat berlangsung. Ada yang bermain ponsel, ada yang belajar, ada yang bergosip, bahkan ada yang salto dan kayang gak jelas saat menghabiskan waktu istirahat di kelas.



“Amber gak balik ke kelas lagi yah?”



“Nggak tau, tapi gue sudah izin sama setiap guru yang masuk kalau Amber sakit. Lo liat sendiri kan bagaimana mereka memperlakukan Amber,” jelas Sunny. Ia akan kembali emosi ketika mengingat hal yang sudah menimpa sahabatnya.



“Gue juga gak nyangka Keenan setega itu sama Amber,” balas Jonah, yang baru saja menaruh boko\*\* di atas meja Sunny.



“Yah sahabat Lo tuh kan,” sarkas Sunny.



“Gue mau ngomong,” ucap seseorang yang tidak di sadari kedatangannya. Mengejutkan Sunny dan Jonah.



“Ngomong aja kali, serius amat.” Jonah meninju pelan dada Keenan.



“Bukan sama lo” Keenan menatap tajam Jonah.



Secara bersamaan Keenan dan Jonah menatap ke arah Sunny yang tampak cuek. “Gue gak ada waktu buat dengerin omongan Lo,” balas Sunny dengan cuek tanpa memalingkan perhatiannya dari ponsel bercase soft blue dalam genggamannya.



Sunny sedari tadi sibuk menghubungi sahabatnya yang tidak ada kabar sejak terakhir mereka ngobrol lewat telepon. Bahkan nomor Amber tidak dapat di hubungi berkali-kali, dan itu membuat Sunny merasa khawatir. Apalagi Sunny gak tau di mana keberadaan sahabatnya. Karena Sunny fikir tadi, Amber berada di UKS. Tetapi setelah jam olahraga selesai, Sunny tidak menemukan sahabatnya di sana, melainkan hanya menemukan Keenan dan Jonah.



“Sebentar aja,” pinta Keenan.



“Nggak,” tolak Sunny yang acuh.



“Jonah Lo bisa pergi bentar kan,” pinta Keenan pada sobatnya.



“Bisa lah.” Jonah beranjak dari meja Sunny yang ia duduki. Seketika tangan Sunny menahan Jonah yang ingin pergi.



“Gue gak mau ngomong sama Lo,” ucap Sunny ketus tanpa melihat lawan bicaranya.



Keenan menahan emosinya. Ia juga memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, menjaga agar tidak berbuat hal-hal di luar batas. Ia menghempaskan nafas pelan, dan mengontrol agar bulir bening tidak jatuh dari kelopak matanya.



“Keenan!” Sunny berdiri dari duduknya. Menatap punggung Keenan yang meninggalkannya dengan tatapan penasaran penghuni kelas yang memperhatikan mereka.



Sebelum Keenan pergi, tiba-tiba saja Keenan merampas ponsel Sunny, yang dengan mudahnya terlepas dari genggaman Sunny. Reflek Jonah mengusap pundak Sunny, meredakan emosi gadis itu.



Sementara Keenan berjalan dengan santai menuju kelasnya di lantai tiga yang merupakan kelas XI IPA 6. Termasuk kelas X sampai XII IPA dan IPS 6-10 berada di lantai 3. Sedangkan X sampai XII IPA dan IPS 1-5 berada di lantai dua. Yang setiap kelasnya hanya terdiri dari 25 siswa. Bukan berarti kelas mereka di bagi berdasarkan kepintaran meraka, yah. Karena setiap kelas menerapkan sistem acak di setiap jurusannya. Jadi yang memiliki IQ tertinggi sampai terendah di campur jadi satu dalam setiap kelas.



Keenan memainkan ponsel bercase soft blue itu setelah sampai di meja kelasnya. Ia membuka beberapa folder di ponsel itu, tanpa izin sang pemilik. Jari-jarinya dengan lancar mengutak-atik isi ponsel yang menggunakan sand. Termasuk memeriksa story chat yang tertera di sana, membuat Keenan mengepal kan tangannya dan beberapa kali mengumpat. Setelah puas dengan apa yang ia kerjakan, Keenan beralih ke galeri dan mengamati setiap foto-foto yang tersimpan di sana. Ada beberapa foto yang membuatnya sangat senang, hingga menahan senyum.



“Keenan.” Suara lembut itu menyadarkan Keenan, dan mematikan layar ponsel di genggamannya.


...🍁🍁🍁...


..."Kira-kira Elang bakalan bawa Amber kemana yah?"...


..._...


..._...