Something Of The Life

Something Of The Life
Prolog



     Kringg !


     Braakk !


     Seorang gadis dengan mata tertutup melempar asal jam beker yang sudah mengusik tidurnya


     “Amber


     “Amber.“ Seorang pria menepuk pelan pipi" putih gadis yang masih terlelap.


     “Wake up Amber.“


     “You can late to school!“ 


     Tidak ada respon dari gadis di tempat tidurnya. Pria itu tersenyum licik.


     Byurrr !


     “Aakk! Hujan!“ gadis itu terlonjak dan berteriak saat air mengguyur wajahnya. 


     Plaakk ! 


     Tepukan di kepala gadis itu membuatnya tersadar.


     “Kak Darrenn, ini pasti kerjaan lo yah! Rese banget sih lo jadi kakak. Gak bisa yah gak jahilin adiknya melulu!“ Amber memarahi kakaknya yang menurutnya sungguh kelewatan. Untung saja itu air minum, kalau comberan kan bisa panjang urusannya.


     “Sorry baby … tadinya gue sudah bangunin lo secara manusiawi.” Darren berlutut disamping tempat tidur ukuran queen size milik Amber.


     “Yah sudah … kamu siap-siap ke sekolah, nanti gue anter,“ lanjut Derren sambil mengusap pucuk kepala Amber.


     Amber Revannia Jackline. Anak bungsu dari papah Jackson dan mama Eveline. Gadis 16 tahun yang duduk di bangku 11 SMA. Memiliki tubuh kecil, kulit putih, rambut hitam legam dan bola mata bewarna abu-abu. Mewarisi sedikit gen dari mamanya.


     Darren Alexander Jackline. Anak kedua dari keluarga Jackline. Pria 18 tahun yang sedang menempuh pendidikan psikologis disalah satu universitas Jakarta. Pria bertubuh proporsional, berkulit putih, rambut hitam legam dan bola mata bewarna hazzel. Mewarisi gen dari kedua orangtuanya.


🌿🌿🌿


     Amber. Gadis itu sudah rapi dengan seragam dan perlengkapan sekolahnya, ketika menuruni tangga. Ia menuju meja makan dimana anggota keluarganya berkumpul sebelum memulai aktivitas masing-masing.


     “Pagi Ma, Pa, Kak Ken, Kak Der,“ sapa Amber dengan ceria.


     “Pagi baby. Kamu kesiangan lagi yah bangunnya,” balas papah Jacskson, mengecup putrinya.


     “Pasti kak darren yang cerita.“ Amber duduk dengan bibir yang mengerucut. Dan disambut tawa dari papah dan derren.


     “Tanpa gue cerita, semua juga sudah tau kali kalau lo kebo.” Menatap Amber dengan mengejek.


     “Buta lo yah, gue manusia bukan kebo!” teriak Amber.


     Darren terkejut mendengar ucapan adiknya. Apakah adiknya sebodoh ini. Karena yang dia tau, adiknya termasuk yang berprestasi di sekolah. Walaupun ada sedikit gila-gilanya.


     “Maksud dari kebo itu se-”


     “Darren habisin makan kamu! dan jangan bersuara saat sedang makan. Papah juga nanti terlambat ke kantornya.“ Pernyataan mama Eveline membuat suasana langsung hening seketika.


     Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar dentingan dari sendok dan garpu yang saling beradu.


     “Keenan berangkat.“ Pamit seorang pria dengan seragam yang sama seperti Amber.


     “Keenan. Kamu gak bareng Amber kalian kan satu sekolah,“ ucap Jackson membuat putranya menghentikan langkah kakinya.


     “Keenan bilang, dia ada piket jadi harus berangkat lebih awal,“ sela Eveline.


     “Amber berangkat sama Darren. Sekalian Derren ada urusan di luar,“ timpal Darren,menghadapi situasi yang sudah biasa terjadi.


     “Oke. Kalau gitu kamu hati-hati di jalan Keenan. Ingat, jangan ngebut-ngebutan!“ nasihat pagi Jackson pada Keenan yang ia percayai untuk membawa kendaraan sendiri.


     Keenan melanjutkan langkahnya setelah mendengarkan papahnya.


     “Pah ... papah,“ bisik Amber yang duduk bersebrangan. Jackson melirik putrinya dan mengangkat kedua alisnya.


     Amber menjentikkan jari tengah dan jempolnya. Membuat sebuah isyarat. “Nanti papah transfer.“ Jackson menggerak kan bibirnya membentuk sebuah kalimat.


     Tanpa mereka sadari, Eveline dan Darren menyaksikannya.


     “Eheemm … gue masih di sini loh,“ ujar Darren.


     Amber melebarkan matanya, menatap tak suka pada Darren. Jackson tertawa melihat tingkah kedua anaknya.


     Jackson Ken Adiwiyata. Ayah dari lima anak dan suami dari Eveline. Pria blasteran bertubuh proporsional di usianya yang menginjak kepala empat. Berwajah tegas dan berwibawa. Berkulit kuning langsat. Rambut bewarna coklat dan bola mata bewarna hazzel.


     Eveline Alessia Renzie. Ibu dari lima orang anak dan istri dari Jackson. Wanita blasteran bertubuh bak model. Memiliki wajah cantik dan anggun. Berkulit putih, rambut bewarna hitam legam dan bola mata bewarna amber.


     Keenan Revanno Jackline. Kakak kembar Amber, usia 16 tahun. Memiliki tubuh tinggi serta atletis. Berwajah tegas dengan tatapan tajam. Berkulit kuning langsat, rambut bewarna coklat dan bola mata bewarna amber. Mewarisi gen kedua orangtuanya.


     Jika di lihat Keenan dan Amber merupakan sepasang kembar yang tidak identik. Malahan … jauh dari kata kembar. Bagi yang tidak mengenalnya, pasti tidak mengira bahwa mereka saudara kembar. Yang menyamakan keduanya hanyalah kecerdasan mereka.


...🍁🍁🍁...


     Gerbang salah satu SMA Swasta, sudah ramai oleh siswa-siswi yang berdatangan. Wajar saja ramai, karena lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. 


     “Gimana sekolah baru kamu, nyaman?” tanya pria pada gadis berseragam di sebelahnya.


     “Paling tidak, nggak ada yang seperti mereka.” sahut gadis cantik dengan senyum manisnya.


     “Kalau ada apa-apa lo bilang gue yah. Gue gak yakin Keenan bakal bantu lo.” Memandang lekat gadis itu.


     “Iya kak Darren … lo gak usah khawatir, Amber bisa jaga diri.” Amber menepuk dadanya menyombongkan diri.


     Darren terkekeh melihat tingkah adiknya. “Ya udah masuk sana. Belajar yang benar,” cerca Darren, mengusap pucuk kepala adiknya.


     Amber melangkah santai menuju ruang kelasnya di lantai dua. Sudah dua minggu ini dia menimba ilmu di sekolah barunya. Tetapi karena sifat nya yang sulit beradaptasi, membuatnya tidak mudah mendapatkan teman. Hari-harinya di sekolah ia lalui sendiri. Namun … ini hal biasa buat Amber, yang selalu sendiri tanpa seorang teman.


     “Kayaknya gue memang dikutuk nggak punya teman di dunia ini,” gumam Amber, saat duduk di bangku kelasnya.


     Amber memperhatikan sekitarnya. Teman-teman kelasnya selalu berkumpul tanpa ada yang mengajaknya atau sekedar basi-basi dengannya.


     “Lo di panggil kepala sekolah. Di tunggu di ruangannya,” ucap seseorang manyadarkan Amber.


     "Oh. Yah thank's.” Amber berdiri dari duduknya untuk mengucapkan terimakasih pada teman sekelasnya.


     Pria itu berlalu begitu saja dengan cuek tanpa merespon ucapan Amber.


     Amber segera keluar kelas, seperti yang disampaikan oleh temannya tadi. Menuju ruang kepala sekolah yang terletak di lantai bawah. 


     Tok! Tok! Tok! 


     Amber mengetuk pintu bercat coklat.


     “Masuk.” Perintah seseorang dari dalam.   


     “Amber. Silahkan duduk Nak,” ucap pria itu.


     “Ada apa yah Pak?” Amber mendudukkan diri di sebrang pria itu.


     “Bagaimana sekolah kamu, Nak? Apa kamu nyaman?”


     “Lebih baik. Hanya butuh penyesuaian aja. Pak Rega memanggil saya hanya untuk bertanya soal itu,” tutur Amber.


     “Saya cuman ingin memastikan, apakah putri sahabat saya nyaman di berada tempatnya,” balas Rega.


     “Amber. Kontrol emosi kamu dan kendalikan diri kamu,” ucap Rega dengan nada serius.


     Amber menatap Rega dengan heran. “Maksud paman?” Amber mendengus pelan saat bel masuk berbunyi nyaring.


     “Sepertinya kamu harus segera masuk ke kelas agar tidak tertinggal pelajaran.”


     Amber terpaksa keluar ruangan tanpa mendapat penjelasan lebih. 


🌿🌿🌿 


     Karena sekolah sedang mengadakan rapat guru, murid-murid dipersilahkan pulang lebih awal. Sebagai gantinya, mereka juga diberi banyak tugas yang harus dikumpulkan besok harinya. Meminimalisir kegiatan yang tidak bermanfaat murid-murid sepulang sekolah.


     Amber memberitahu Darren terlebih dahulu sebelum ia pergi meninggalkan kelas yang mulai sepi. Karena kakak nya bilang, akan menjemputnya sepulang sekolah nanti. 


     Tingg! 


     Notif pesan dari ponsel Amber. Membuat gadis itu segera membukanya. 


Kakak Laknat :


[Sorry baby, gue gak bisa jemput. Lo pulang bareng Keenan aja, gue sudah bilangin ke dia. Ingat, jangan  pulang sendiri. Ntar lo nyasar!]   


     Pesan masuk dari kakaknya membuat Amber cemberut. Gak pernah ada sejarahnya selama hidup Amber, kembarannya mau direpotkan oleh dirinya. Terkadang Amber berfikir, apa benar Keenan kembarannya. Atau saudara angkatnya, yang di manipulasi menjadi kembaran. Tapi kalau memang salah satu dari mereka anak angkat. Kemungkinan Amber lah orangnya, karena jika di perhatiankan, ia yang paling banyak perbedaannya dari fisik. Bahkan dari sikap keluarganya ke Amber seorang, sangat berbeda. 


     Amber memilih untuk duduk di bangku yang terdapat pohon akasia besar, dekat parkiran. Karena ia melihat mobil milik Keenan masih terpakir rapi di sana. Ia tidak melihat sama sekali pemilik mobil yang ia tunggu, padahal sekolah sudah mulai kosong. Sambil menunggu dan menyingkirkan kebosanan, ia memainkan ponselnya sambil menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Suara gemuruh dari langit membuat Amber sedikit cemas, sepertinya akan turun hujan. 


     "Lo pulang sendiri bisa kan, gak usah manja. Gue ada urusan bareng teman-teman gue." Suara dingin itu sangat famillier bagi Amber. 


     Pria dengan wajah datarnya duduk di sebelah Amber, pandangannya lurus ke depan tanpa melihat lawan bicaranya. 


     "Kalau Derren nanya, bilang aja lo pulang sama gue," ucap pria itu yang sudah berdiri di hadapan Amber. 


     Pria itu menyelipkan sesuatu ke saku seragam Amber, lalu pergi meninggalkannya sendiri. 


     Amber menahan nafasnya, tangannya mencekram rok abu-abu yang ia gunakan. Menahan agar air matanya tidak terjatuh. Ia sangat tidak menyukai kembarannya. Tetapi ia juga tidak bisa membencinya. Membenci Keenan berarti membenci dirinya sendiri. 


     Mobil Keenan sudah pergi meninggalkan parkiran. Amber masih enggan untuk meninggalkan tempat itu. Ia butuh ketenangan sebelum pergi. Angin semakin berhembus kencang di barengi langit yang mulai redup. Amber menatap ke atas, ia bisa merasakan titik-titik air yang mulai membasahi wajahnya. Ia harus segera sampai di rumah sebelum hujan semakin lebat. 


     Amber berlari meninggalkan sekolah, ia teringat sebuah halte yang tidak jauh dari sekolahnya. Ia juga pernah melihat anak-anak berhenti dan menunggu angkutan di halte. Berharap ada yang bisa ia temuin di sana, paling tidak ia enggak sendirian seperti saat ini. 


     Gerimis mulai mengguyur, saat Amber keluar dari gerbang sekolah. Amber mempercepat larinya sambil meletakkan tas ranselnya di atas kepala. Lima menit berlari ia tiba di sebuah halte yang kosong, tidak ada orang sama sekali, ditambah jalanan yang sepi. Sepertinya anak-anak yang biasa nongkrong disini sudah pada pulang. 


     Amber duduk di bangku halte, menggosok-gosok tubuhnya yang mulai dingin. Seragamnya sedikit basah akibat terpaan air hujan. 'Apa gue telfon kak Darren aja yah. Tapi gimana dengan Keenan,' batin Amber. Sialnya, di saat dirinya sendiri sedang susah, ia masih memikirkan kembarannya. Langit semakin gelap di tambah gemuruh yang bersautan. 


     Amber berinisiatif untuk memesan taxi online. Ia mencari-cari ponselnya yang tidak ada di saku seragam dan saku roknya. Kemudian ia beralih pada tas ransel di pangkuannya. Belum sempat mengacak-acak isi tasnya, ia teringat kalau hp nya mati karena kehabisan baterai saat ia menunggu Keenan di parkiran tadi. 


     Tin! Tin! Tin! 


     Suara klakson mobil mengagetkan Amber yang sedang menunduk. Ia menegakkan kepalanya. Lalu melihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan halte. Kaca jendela dari kursi belakang terbuka, menampilkan gadis manis berponi dan rambut sebahunya. Ia tersenyum dan memanggil Amber untuk mendekat. 


     "Pulang bareng gue aja. Biasanya kalau halte sudah kosong. Berarti bis sudah lewat," ucap gadis manis itu sambil mempersilahkan Amber masuk. Dan mobil kembali menerobos derasnya hujan. 


     Amber mengamati gadis di depannya. "Kita teman sekelas yah?" tanya Amber sedikit ragu. 


    Gadis itu tertawa, memperlihat kan lesung pipit di sudut bibirnya. "Lo Amber, kan. Gue Sunny, teman sekelas lo. Duduk di pojok belakang," ucap Sunny sambil mengulurkan tangannya pada Amber. 


     Amber membalas uluran tangan dari Sunny. Amber teringat gadis manis yang selalu menyendiri di pojokan. Amber pernah berniat untuk menghampirinya, namun ia urungkan karena Amber fikir Sunny gadis yang angkuh dan tidak ingin berteman dengan mereka. Seketika itu juga, tawa Amber menggelegar. Sunny menatap heran Amber yang duduk di sebelahnya. 


     "Bagaimana gue bisa lupa sama teman sekelas gue. Bego banget gue," rutuk Amber sambil menepuk keningnya. 


      "Jadi sekarang lo sudah ingat gue, makanya lo ketawa," timpal Sunny yang mendapat anggukan dari Amber. Sunny pun ikut tertawa. 


     "Tapi ... kenapa lo baru pulang. Padahal sekolah sudah sepi. Gue fikir juga, cuman gue sendiri yang belum pulang selain guru-guru dan penjaga sekolah." Amber berpendapat dari apa yang ia lihat. Ia juga sempat berdiam di sekolah selama satu jam lebih setelah bel pulang berbunyi.


     "Tadi seragam gue basah, jadi gue ke toilet dulu buat ngeringin." Sunny menatap ke luar jendela.


     Yah, jika diperhatikan rambut gadis itu memang sedikit basah, mungkin terkena air hujan. Tapi ... kalau seragamnya yang basah sampai membuatnya harus mengeringkannya dahulu, bagaimana bisa. Apa gadis itu sempat kehujanan atau bermain hujan. Amber merasa penasaran, ingin bertanya lagi namun tidak enak. 


     Amber mengalihkan perhatian Sunny dari lamunannya. Dengan bertanya hal-hal yang bersangkutan dengan sekolah barunya. Sunny menjawab dan menjelaskan secara detail pertanyaan yang Amber lontarkan, dengan sangat antusias. Amber yakin, Sunny gadis yang cerdas. 


      "Nama lo cantik, sesuai dengan karakter orangnya," puji Amber setelah mereka cukup lama mengobrol dalam mobil. Sunny tersipu, terlihat dari pipinya yang merona. Membuat Amber semakin gemas dengan teman barunya. 


     Sunny adalah teman baru Amber dan satu-satunya teman yang Amber miliki sekarang. "Stop di depan yah Pak," pinta Amber saat mereka memasuki komplek perumahan yang cukup mewah. 


     Mobil berhenti di sebuah rumah dengan nuansa bercat silver, dan gerbang hitam yang menjulang tinggi. 


     "Lo mau mampir dulu," tawar Amber pada Sunny. 


     "Thank's, lain kali aja. Soalnya gue harus segera pulang," tolak Sunny dengan menyesal. 


     "Yaudah deh, yang penting lo sudah tau rumah gue. Kapan pun lo kesini, gue selalu nerima kedatangan lo," ucap Amber yang berlebihan. 


     "Next, gue janji bakal main ke rumah lo." Sunny mengangkat jarinya membentuk huruf V, sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi. 


     "Gue tunggu. Thank's yah Sun, beruntung gue ketemu lo. Hati-hati di jalan." Amber menuruni mobil, dan melambaikan tangan ke Sunny. Tidak lama kemudian, mobil kembali berjalan.


     Hujan sudah reda, hanya saja langit masih gelap dengan sisa air hujan yang membasahi jalanan. Amber membuka gerbang memasuki halaman rumahnya. Ia menyunggingkan sedikit senyuman, kala melihat mobil Keenan yang terparkir di depan garasi.  


     Sunny Truwish William. Gadis 16 tahun, berwajah manis serta memiliki lesung pipit. Rambut sebahu dengan poni yang menutupi dahinya. Tubuhnya mungil dan kulitnya putih bersih. Teman pertama Amber.


...🍁🍁🍁...


...Terimakasih sudah membaca dan mendukung author.Gimana, apa kalian suka cerita dari author?. Jika iya, jangan lupa tinggalkan review dan ikuti terus yah ceritanya. Dukungan kalian penyemangat untuk author...


...-...


...-...


...-...


..."Menurut kalian Amber & Keenan beneran saudara kembar atau bukan, yah?...


..._...


..._...