
Seorang gadis kecil sedang bermain petak umpet dengan ke empat teman yang hampir sebaya dengannya. Ia mendapat giliran berjaga dan mencari ketiga temannya yang akan bersembunyi.
"Ayo tutup mata kamu. Jangan curang" ucap bocah lelaki yang lebih besar dari gadis itu.
Gadis kecil itu mulai menutup matanya di bawah pohon. "satu ... dua ... tiga ... empat ... ." Ia menghitung dengan perlahan sampai ke angka sepuluh.
*Gadis* *itu membuka matanya dan melihat sekelilingnya yang sepi. Ia mulai mencari ke tempat. yang terdekat, menyusuri halaman sekitar, dan setia celah-celah yang ada. Namun, tidak menemukan seorang pun temannya*.
*Gadis itu berlari ke halaman belakang yang sangat luas. Ia mengedarkan pandangannya, dan tertuju pada sebuah bangunan yang terletak jauh dari rumah. Ia berlari kecil lalu mengendap-ngendap menuju bangunan itu*.
Pintu berdecit saat gadis itu membukanya. Di dalamnya terdapat banyak barang-barang yang sudah lama tidak terpakai atau memang sengaja di letakkan di tempat itu. Ruangan yang sangat berdebu membuatnya sedikit sesak dan batuk. Ia tidak yakin teman-temannya berada di tempat ini dan memutuskan untuk kembali ke halaman sekitar rumah. Mungkin saja teman-temannya sudah menunggunya di sana.
"To-long ... sa-kit ..." suara sendat seseorang membuat gadis kecil menghentikan langkahnya di depan pintu.
Brakk!
Terdengar suara benda yang di hempaskan. Dengan rasa penasaran dan jantung yang berdegup kencang, gadis kecil memberanikan diri mencari asal suara dari dalam.
"Keluar!" teriak seorang gadis yang membuat gadis kecil terlonjak.
Sumber suara itu berasal dari balik drum-drum besar yang tersusun rapi. Namun, karena rasa penasaran gadis kecil itu lebih besar, ia melanjutkan langkahnya untuk mengetahui apa yang terjadi.
Gadis kecil itu melebarkan bola matanya. Mulutnya terbuka dan nafasnya naik turun. Tubuhnya berkeringat dan terasa sulit di gerakkan. Bahkan suaranya tertahan di tenggorokan, membuatnya tidak dapat berteriak. Gadis kecil itu merasa sangat ketakutan dengan apa yang terjadi. Bocah lelaki di depannya terkulai lemas dengan wajah pucat. ***ah segar membanjiri lantai yang kotor.
"Kenapa lo kesini! Gue sudah peringati lo untuk keluar!" bentak seorang gadis yang menyadarkan gadis kecil itu.
Tidak jauh darinya, terlihat gadis yang sepantaran dengan bocah lelaki yang terluka. Ia memakai gaun berwarna soft blue yang terdapat banyak noda ***ah. Salah satu tangannya menggenggam ***au yang juga berlumuran ***ah. Tatapan gadis itu tampak kosong, bahkan gerak tubuhnya tidak seperti usianya. Ia mendekat ke arah gadis kecil dengan ***au yang di arahkan ke depan. Gadis kecil itu ketakutan, tubuhnya serasa mati rasa. Kakinya tidak dapat ia gerakan. Ia menutup rapat kedua matanya saat gadis dengan ***au semakin mendekat.
Setelah beberapa lama tidak ada pergerakan apapun, gadis kecil itu membuka kedua matanya perlahan. Betapa terkejutnya gadis kecil ketika tubuhnya berlumuran ***ah. Bahkan dress merah muda yang ia kenakan sudah berubah menjadi merah. Pandangannya menjadi buram, ada rasa sakit di tubuhnya. Nafasnya terasa sangat sesak dan berat. Ia mencekram erat dressnya.
"Aaakkk..hh..," suaranya cekat. Rasa cemas menyelimuti dirinya, keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Hahh..huhh..uhh," seorang gadis terbangun dengan nafas yang terengah-engah.
Gadis itu mengusap wajahnya dan meraba tubuhnya yang basah akibat keringat, padahal suhu AC di kamarnya sangat dingin. Ia mengambil ponsel yang terletak di atas nakas samping tempat tidur, melihat jam yang masih menunjukkan 00:24. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya, untuk menghilangkan dahaga.
Gadis itu menuruni tangga sambil memperhatikan sekitar. Rumahnya tampak sepi, mungkin semua penghuni sudah pada terlelap, menyisakan dirinya yang terbangun sendirian. Langkahnya terhenti saat melihat lampu dapur masih menyala. Seseorang yang tidak asing, sedang duduk di meja makan.
"Makan gak ngajak-ngajak," ucap gadis itu mengejutkan pria yang hampir tersedak.
"Amber! Lo tuh kaya jalangkung tau nggak," sarkas pria dengan raut wajahnya yang kesal.
"Kalau gue jalangkung, berarti Kak Darrenn kakak jalangkung. Kita sama-sama jalangkung deh." Amber mendudukkan diri di samping kakaknya, dengan sebotol minuman dingin yang baru saja ia ambil dari kulkas.
Derren melirik adiknya yang sedikit pucat. "Kalau lapar, di kulkas ada pizza tadi gue bawa, lo tinggal panasin aja."
Terlihat senyum di wajah Amber, tanpa basa-basi ia langsung menyerbu kulkas. Mengambil beberapa potong makanan favoritenya dan meletakkannya ke dalam microwave.
"Papah sama mama berangkat tadi sore. Mereka bilang lo gak keluar-keluar kamar. Jadi mereka gak sempat pamitan sama lo." Darren memperhatikan adiknya yang sedang sibuk di dapur.
Amber membawa sebuah piring berisikan potongan pizza panas dan meletakkannya di atas meja makan. "Kalau mau, ambil sendiri terus panasin sendiri," ucap Amber sambil melahap makanannya.
🍁🍁🍁
Amber memasuki kelasnya yang masih sepi, ia sengaja datang lebih awal karena mendapat giliran piket. Setelah membersihkan papan tulis dan meja guru ia mulai menyapu dari bagian paling belakang.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu membuat Amber mengarah ke sumber suara. Pria dengan seragam serupa, berdiri di ambang pintu. Tubuhnya tinggi serta atletis. Rambutnya sedikit panjang dan berantakkan. Wajahnya tegas dan alis tebal, membuat Amber terpana dengan ketampanannya.
"Lo salah satu murid di kelas ini? Sampaikan ke teman-teman lo yang lain. Jam olahraga di pindah ke jam pertama bersamaan dengan XII IPA 1." Amber memperhatikan gerakan bibir pria itu, tanpa mendengar dan mencerna ucapannya.
Pria itu pergi setelah menyampaikan pesan pada Amber. Sedangkan Amber masih berdiri terpaku. Jantungnya berdegup sangat kencang. Padahal sebelumnya, ia akan merasa baik-baik saja jika berhadapan dengan lawan jenis.
Takk!
"Aww..," ringis Amber, saat merasakan sakit di keningnya.
"Ntar kesambet lo, bengong aja," sarkas pria yang sudah berdiri di depannya.
Amber tersadar, memandang sebel pria yang sudah membuyarkan lamunannya. Dengan sengaja menjentikkan jarinya ke kening Amber.
"Jonah!" teriak Amber.
Pria itu menutup rapat telinganya dengan kedua tangan. "Lo bisa gak sih gak usah teriak-teriak. Masih pagi ini," sela Jonah.
Johanes, pria humble dan humoris. Tampan tapi tidak setampan kakak kelas yang di lihat Amber barusan. Sikapnya yang ramah dan mudah berteman, membuatnya di sukai banyak orang.
"Yah, lo ganggu gue sih," balas Amber dengan cemberut.
“Lo ganggu jalan gue,” timpal Jonah sambil menjitak pelan kepala Amber.
Sebenarnya Jonah dan Amber sudah lama kenal. Karena Jonah merupakan teman dekat Keenan dari SMP sampai sekarang.
Amber menghambur-hamburkan kembali kotoran yang baru ia sapu ke kolong meja dan kursi milik Jonah.
“Eh, eh, apa-apaan ini?” protes Jonah.
“Biar lo ada kerjaan. Lo piket, kan” jawab Amber.
Amber, meletakkan sapu yang ia pengang ke tempat semula. Lalu melangkah keluar kelas, meninggalkan Jonah sendiri di dalam sana.
“Amber.”
Gadis yang namanya disebut berbalik badan. Matanya melebar dan mulutnya sedikit terbuka, memperlihatkan keterkejutan.
...🍁🍁🍁...
...Terimakasih sudah membaca. Semoga kalian suka, yah dengan karya author....
...-...
...-...
...“Penasaran gak siapa yang memanggil Amber? Kalau iya, berarti kita sama :D”...
..._...
..._...