Something Of The Life

Something Of The Life
Sorry



Seorang pria memperhatikan gadis yang berlari ke arah halaman belakang, ia merasa geram saat melihat gadis itu di perlakukan kasar oleh seorang wanita dan pria. Tetapi, ia tidak ingin terlibat dalam masalah mereka. Detik kemudian, pria itu melangkahkan kaki meninggalkan tempat ia berdiri.



'Kenapa harus Keenan' jerit Amber dalam hati. Ia menghempas tubuhnya duduk di sebuah kursi yang terdapat pohon akasia besar. Selama Amber sekolah di sini, menurutnya ini tempat ternyaman. Tempatnya sejuk, dan sunyi. Jika kita memandang ke luar, menampilkan jalanan yang sepi namun terasa nyaman dengan pepohonan hijau di sisi jalan.



Amber menyingkapkan tas ranselnya ke depan ketika merasa ada yang bergetar di dalam sana. Ia membuka tas ranselnya dan mengambil ponsel yang terdapat panggilan masuk.



'Sunny... Calling'


Tidak ingin membuat khawatir sahabatnya Amber merespon panggilan itu.


\[Re dimana lo? Gue susulin nih\] terdengar dari sebrang telepon, suara Sunny yang ngos-ngosan. Oh yah, Sunny terkadang memanggil Amber dengan sebutan Re. Katanya agar tidak ribet ketika memanggil Amber, dan kalau pake kata Am atau Ber kurang enak di dengar.



\[Gak usah Sun, gue gak apa-apa kok. Lo langsung ke gedung olahraga yah. Sekalian tolong izinin gue, kaki gue sakit. Tapi jangan bilang yang sebenarnya terjadi\] balas Amber sambil menetralkan suaranya, yang mungkin akan terdengar sendu.



\[Lo yakin gak apa-apa nih, kalau lo butuh gue, gue ada kok buat lo\] ucap Sunny melemah.



\[Iya Sunny sayang gue gak apa-apa kok. Gue butuh istirahat sebentar aja, sampai rasa sakit di kaki gue hilang\] Amber mengatakannya dengan tersenyum, walau pun Sunny tidak dapat melihatnya. Setidaknya Sunny dapat mendengar suaranya yang riang.



\[Yaudah kalau gitu kita ketemu nanti yah, bye\]


Telepon terputus oleh Amber. Tidak terasa air matanya jatuh dan ia segera mengusapnya.


Amber melihat lututnya yang terasa nyeri. Terdapat memar di samping lututnya yang sedikit membiru.



"Awww ..." Amber meringis dan tersadar dari lamunannya. Mendapati seorang pria dengan seragam olahraga seperti dirinya berlutut di hadapannya sambil menempelkan es batu di luka memarnya.



"Sakit." Pria itu menatap Amber yang pandangannya fokus ke arah tangan pria di lutut Amber.



"Sorry," lanjut pria itu, membuat Amber mengalihkan pandangannya pada pria di depannya.


"Kok kak Elang yang minta maaf," balas Amber dengan heran.


Elang tersenyum lebar sampai menampakkan deretan giginya. "Sorry soal di lapangan." Elang menatap wajah Amber yang juga menatapnya.



Dengan cepat Amber menepiskan wajahnya. 'Mata itu' batin Amber, ia baru menyadari mata Elang yang berbeda. Elang memiliki bola mata bewarna silver, pemilik warna yang langka.



Elang merubah posisinya dengan berdiri, ia membuka telapak tangannya di depan Amber.



"Apa?" tanya Amber dengan raut wajah bingung.



"Mau ikut gue nggak?"



"Kemana?"



"Bolos," jawab Elang santai.



"Hah." Bukannya Amber tidak mendengar Elang, ia hanya sedikit terkejut dengan ajakan Elang.



"Yaudah kalau gak mau gue aja." Elang memasukkan kedua tangannya ke saku celana olahraganya. Ia juga berjalan meninggalkan Amber.



Amber melihat punggung kokoh Elang yang menjauh darinya. Ia juga berniat meninggalkan tempat peristitrahatannya untuk menuntaskan keinginannya. Yah, saat ini Amber merasa sangat lapar, ia baru saja teringat beberapa menit lalu jika dirinya melewatkan sarapan paginya. Rasa nyeri di lututnya juga sudah menghilang, dan memar sudah memudar.



Elang menatap pagar tralis di depannya. Pagar yang siapa pun dengan mudahnya dapat lolos dari sana. Entah mengapa sekolahnya hanya menggunakan pagar lama itu ketimbang tembok besar yang mengelilingi gedung sekolah seperti sekolah lainnya.



"Tunggu," suara itu menghentikan Elang yang sudah di atas pagar.



"Gue ikut."



Elang menyengir, ia kembali menuruni pagar. "Gue bantu," ucap Elang.



Amber dengan hati-hati memanjati pagar yang sebenarnya tidak sulit. Di bantu Elang yang berjaga-jaga di bawah Amber. Ketika Amber sudah sampai di atas pagar, Elang menyusul Amber naik ke atas dan lebih dulu menuruni pagar. Setelah Elang mendarat sempurna di balik pagar, ia memerintahkan Amber untuk turun. Dengan perlahan Amber menuruni pagar dengan sempurna, tetapi sialnya ketika hampir sampai di bawah, sepatu Amber tersangkut di sela pagar membuatnya kehilangan keseimbangan. Untung saja saja ada Elang yang dengan sigap menangkap tubuhnya. Amber yang terkejut dengan reflek merangkul pundak Elang, dan wajah mereka saling berhadapan hingga tatapan mereka saling beradu dalam jarak dekat.



"*Reva, bangun Nak*."




"*Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Seorang wanita menangis histeris sambil memeluk bocah lelaki yang tidak sadarkan diri dan noda darah di pakaiannya*.



"*Dinda, bangun sayang. Jangan tinggalin mama Nak." Wanita itu memeluk tubuh seorang gadis kecil lainnya yang bersimbah da\*\*\*. Wajah gadis itu pucat pasih dengan mata yang tertutup rapat*.



*Beberapa orang dewasa di sana terlihat cemas dan penuh air mata. Tidak lama kemudian terdengar sirine Ambulance, tiga pria dewasa mengangkat masing-masing tubuh tiga anak yang terluka, membawa mereka ke luar bangunan*.



*Di luar bangunan ada empat orang anak lainnya yang berbeda usia, terlihat dari postur tubuh mereka. Mereka terlihat sendu dan takut dengan situasi yang terjadi*.



"Amber!"



Amber tersadar ketika suara hentakan itu menyebut namanya, dan mata itu tertutup. Pemilik mata bewarna silver itu menutup matanya bersamaan dengan hilangnya bayangan kelam itu.



Jantung Amber berdegup kencang dan cengkraman tangan Elang membuat rasa sakit pada bahunya. Amber merasa kehilangan oksigen, kepalanya pusing dan perutnya mual.



Ia melepaskan diri dari Elang dan berjongkok di pinggiran paret. Di sana ia mengeluarkan cairan dari mulutnya yang terasa pahit. Ia mengatur nafasnya agar bisa kembali normal. 'Apa yang sebenarnya terjadi, apa semua ada kaitannya dengan mimpi yang sering muncul' batin Amber.



"Lo balik-baik aja? Mau gue anter ke dokter?" Elang berdiri di belakang Amber ia juga menyodorkan botol minuman berwarna biru.


Amber menerima botol pemberian Elang, dan menggunakannya untuk berkumur, menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Lalu meneguknya, menyisakan air yang tinggal setengah.


"Gue baik-baik aja gak perlu ke dokter. Gue cuman belum sarapan aja tadi." Amber menyodorkan kembali botol minuman milik Elang. Elang menerima botolnya kembali dan memasukkannya dalam tas ransel miliknya. Ia menatap punggung Amber yang masih berjongkok.



"Lo bisa makan makanan pinggir jalan?" tanya Elang memastikan. Menurut Elang, gadis modelan Amber kebanyakan gengsi jika di ajak makan makanan pinggir jalan.



Amber menolehkan kepalanya menghadap Elang lalu mengangguk.


🌿🌿🌿


Seorang pria sedang berbaring di UKS. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemah, hingga membuatnya terkapar saat di kelas. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Ceklek ... suara pintu membuatnya menunggu kedatangan seseorang dari balik tirai.



"Kenapa lo, sakit?" seorang pria sebaya dengannya mendekat dengan menyeringai.



"Gak. Lagi malas aja ikut pelajaran." Membuang muka, sambil memejamkan matanya.



"Lo keterlaluan sama kembaran lo sendiri Keenan. Karma lo sudah nyakitin Amber," ucap pria yang berdiri dengan bersedekap dada sambil menendang kaki ranjang yang di tempati.



"Jonah!" hentak Keenan, memelototi Jonah di ujung ranjang.



Seakan bodoh amat oleh teguran sahabatnya, Jonah menendang kembali kaki ranjang dengan sangat keras. Membuat ranjang yang di tempati Keenan bergoyang dan berdecit. Spontan Keenan melemparkan bantal yang ia kenakan sampai mengenai wajah tampan Jonah. Membuat pria itu sedikit oleng karena serangan secara mendadak.



Setelah jam olahraga selesai, Jonah menghampiri kelas Keenan. Tetapi, teman sekelas Keenan mengatakan jika Keenan berada di UKS karena sedang sakit. Jonah sempat melihat kejadian tak enak yang di alami Amber. Bahkan ia sempat mengatai sahabatnya yang menurutnya tidak memiliki perasaan.



"Amber nggak ngikutin jam pelajaran olahraga, Sunny bilang dia lagi sakit. Gue fikir tadi dia ada di sini." Jonah mendudukkan diri di sisi ranjang.



"Kenapa lo ngomong sama gue?" Keenan merasa tidak peduli, dan memilih acuh sambil menutup kedua matanya yang mengahadap ke langit-langit ruangan.



"Yah kan, lo saudaranya, kakaknya, kembarannya." Jonah merasa kesal dengan sikap Keenan.



"Terus gue harus apa?" Keenan menyeringai sinis.



"Harusnya lo khawatir," ucap Jonah dingin.



"Gak ada yang perlu di khawatirkan dari monster kecil seperti dia." Keenan membuka matanya menatap tajam langit-langit berwarna putih, dengan rahang yang mengeras.


......🍁🍁🍁......


......Amber dan Elang, apa ada hubungannya di antara mereka? Dan bayangan apa yang muncul di kepala Amber?......


..._...


..._...