
Ayah pun pergi berangkat tanpa sarapan dan tanpa pamit ke ibu. Ibu yang merasakan bahwa dari tadi ayah tidak mempedulikannya langsung terduduk diam di sofa depan. Seperti nya ibu merasakan perubahan ayah yang sangat signifikan.
Ayah benar-benar tidak terlihat seperti biasanya yang selalu romantis kepada ibu. Saat itu ayah terlihat benar-benar sangat dingin dan tak terlihat menyenangkan seperti biasa.
Setelah ayah pergi aku pun langsung memakan sarapan ku sampai habis. Saat aku makan ibu bersiap untuk mengantarkan ku. Ibu sudah siap dan aku pun sudah selesai kita pun langsung berangkat.
Saat ibu mengantarkanku ibu benar-benar bersikap dingin ibu hanya terdiam tidak berkata-kata. Aku yang melihat sikap ibu juga hanya bisa terdiam karena aku mencoba memahami perasaan ibu.
"Nak ada yang ketinggalan gak?" tiba-tiba ibu berbicara mencairkan suasana yang begitu dingin.
"Eh udah kok bu udah lengkap semua" Jawab ku.
"Nah kita sampai juga, Kamu belajar yang bener ya" Ucap ibu sambil memberhentikan mobil.
"Iya Bu aku sekolah dulu ya" Jawabku sambil salim kepada ibu.
Aku pun turun dari mobil dan langsung menuju kelas. Ibu juga langsung pergi pulang.
***
Di sisi lain seperti biasa ayah bersama dengan selingkuhannya yang bernama Dian. Ayah pun seperti biasa membawa dia jalan-jalan dan belanja barang-barang mewah.
Ayah semakin menjadi jadi ayah sekarang tidak pernah ke kantor tidak pernah mengurus kantor tapi ayah selaku mengambil uang kantor untuk menyenangkan hati Dian.
Suatu saat keadaan kantor ayah benar-benar kacau karena ke tidak bijaksanaan pemimpin perusahaan. Pengeluaran kantor ayah lebih besar daripada pemasukannya.
Akan tetapi saat perusahaan nya perlahan mulai hancur dia bukan memperbaikinya namun malah tambah menghancurkannya. Disaat itu ayah bukannya berhemat tapi dia malah sangatlah boros.
Ayah membelikan Dian mobil sport yang harganya sangat mahal. Membelikan hal-hal yang menyenangkan Dian tanpa memikirkan kehancuran perusahaannya.
Ibu sekarang semakin merasakan perubahan ayah yang benar-benar signifikan. Ibu mulai mencari tahu sebab ayah berubah. Ibu pun memulai penyelidikannya.
Saat ayah pulang dan tidur ibu pun mengecek isi hp ayah dan betapa terkejutnya ibu saat melihat foto-foto mesra ayah bersama Dian. Ibu langsung terkejut dan menangis mengetahui tentang perselingkuhan ayah.
Akan tetapi ibu berpura-pura tidak tahu tentang perselingkuhan ayah dan terlihat baik-baik saja walau hatinya sangat hancur.
Walau ibu sudah tahu tentang apa yang dilakukan ayah dibelakang nya ibu tetap saja penasaran. Ibu ingin tahu dan memastikan sendiri.
Saat ibu mengantarkanku ke sekolah ibu tidak langsung pulang tapi ibu pergi ke kantor ayah. Semua karyawan langsung berdiri saat ibu datang. Ibu langsung berjalan ke arah ruangan ayah namun ibu tidak melihat ayah di ruangannya. Saat ibu tidak melihat ayah ibu semakin penasaran dan langsung memanggil sekretaris nya.
"Santi bisa ke ruangan Bapak Herdy sekarang" Ibu memanggil Santi yang merupakan sekretaris ayahku yang bernama Herdy dengan telpon kantor.
Santi pun langsung menuju ke ruangan ayah.
"Apakah saya bisa masuk sekarang" Sahut Santi sambil mengetuk pintu.
"Iya bisa" Ucap ibu singkat.
Santi pun masuk ke dalam ruangan ayah dan melihat ibu disitu.
"Ada apa ibu memanggil saya?" Tanya Santi.
"Saya ingin meminta laporan keuangan perusahaan ini" Ucap ibu dengan nada dingin.
Lalu Santi pun langsung menyiapkan berkas keuangan perusahaan ayah. Berkas pun sudah siap dan Santi langsung membawa dan memberikannya kepada ibu.
Saat ibu melihat berkas itu ibu sangat terkejut karena ada riwayat penarikan uang sebesar tujuh ratus enam puluh juta dalam satu bulan ini sedangkan pemasukan perusahaan bulan ini hanya sekitar empat ratus juta.
"Ini kenapa lebih besar pengeluarannya Santi?" Tanya ibu.
Lalu Santi memberikan rincian pengeluaran perusahaan. Saat ibu lihat ibu terkejut karena ayah yang mengambil uang perusahaan.
"Kamu tahu kenapa suami saya mencairkan dana sebesar itu?" Tanya ibu agak emosi.
"Saya kurang tahu bu" Jawab Santi menundukkan kepalanya.
"Biasanya suami saya datang jam berapa?" Tanya ibu.
"Biasanya setengah sembilan Bapak Herdy sudah dikantor tapi hampir tiga minggu Bapak Herdy tidak masuk" Jelas Santi.
"Apa alasannya dia tidak masuk?" Ucap ibu.
"Saya kurang tahu Bapak Herdy tidak pernah bilang alasannya" Jawab Santi.
"Iya bu" Jawab Santi.
"Tolong juga kamu kurangi jumlah karyawan disini masalah pesangon saya yang akan urus" Ucap ibu sambil meninggalkan ruangan ayah dan langsung pulang ke rumah.
Santi saat itu juga langsung mengurangi jumlah karyawan dan mengatakan bahwa karyawan yang dikeluarkan akan diberi pesangon oleh ibu. Setelah Santi sudah mengeluarkan beberapa karyawan dia langsung mengkonfirmasi kepada ibu.
Dreettttt... Hp ibu bergetar
Dalam perjalanan ibu mendapatkan telpon dari Santi.
Ibu pun langsung mengangkat telpon itu.
~in telpon~
Ibu:
Selamat siang, ada apa Santi?
Santi:
Selamat siang bu saya sudah memberitahu tentang pengurangan jumlah karyawan dan saya juga sudah memberitahu soal pesangon yang akan diberikan.
Ibu:
Baik, terimakasih telah menyampaikannya. Besok saya akan datang untuk mengurus semua tentang pengurangan jumlah karyawan.
Santi:
Baik bu.
Ibu langsung menutup telpon dan terus memgemudi ke rumah.
Ibu langsung ke kamar mengambil perhiasannya yang diberikan ayah. Ibu berniat menggadaikan semua perhiasannya untuk memberikan pesangon karyawan kantor ayah.
Saat ibu melihat perhiasannya dia menangis terlebih lagi saat ibu melihat cincin nikahnya. Sebenarnya ibu tidak berniat menjual hal yang menjadi tanda bahwa dia memiliki suami namun ibu teringat dengan penghianatan ayah.
"Ya Allah mengapa kau berikan aku ujian yang begitu sulit? Aku tahu tidak ada ujian yang diberikan melebihi batas namun aku tak sanggup jika harus dihianati seperti ini." Ucap ibu menangis melihat cincin nikahnya.
Hari berlalu begitu cepat. Ibu sudah menggadaikan semua perhiasannya. Ibu duduk di ruang tamu dengan penuh rasa sedih yang ia sembunyikan.
Ibu terdiam sepi tidak berkata-kata. Tiba-tiba ayah masuk ke rumah melewati ruang tamu dan melewati ibu begitu saja tanpa mengatakan sesuatu kepada ibu.
Ibu pun diam tak menyambut ayah.
Hari berlalu seperti saat kemarin. Ayah yang pergi tanpa sarapan dan aku yang sekolah diantar ibu. Setelah ibu mengantarkanku ibu langsung ke kantor ayah dan menemui semua karyawan.
Saat ibu datang semua karyawan berdiri dan ibu langsung mengatakan bahwa semua karyawan akan dikeluarkan.
"Selamat pagi semuanya." Ucap ibu.
"Selamat pagi bu" Jawab seluruh karyawan.
"Dengan berat hati saya mengatakan bahwa semua karyawan dikantor ini akan saya keluarkan karena adanya masalah keuangan di perusahaan ini dan demi kebaikan seluruh karyawan saya mohon maaf sekali kalian akan dikeluarkan saya mohon maaf sebesar-besarnya. Masalah tentang uang pesangon saya akan berikan sesuai divisi dan ini akan saya titipkan kepada Santi untuk dibagikan. Sekali lagi saya mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak enak dihati yang pernah saya ucapkan baik sengaja dan tidak sengaja." Jelas ibu kepada semua karyawan.
"Bu apakah kita tidak bisa memperbaikinya lagi?" Ujar salah seorang karyawan.
"Mungkin tidak bisa lagi karena saya akan pindah ke Surabaya dan mungkin suami saya tidak bisa melanjutkan perusahaan ini lagi." Jawab ibu
"Baik saya akan pergi sekarang. Santi handle semuanya ya. Jika sudah selesai tutup perusahaan ini dan konfirmasi kepada saya" Ucap ibu sambil meninggalkan perusahaan.
Ibu langsung pulang ke rumah.
***
Disisi lain Ayah diminta oleh Dian untuk membelikannya rumah. Ayah pun setuju-setuju saja pikir ayah dia kan masih bisa mencairkan dana perusahaan. Ayah pun menelpon Santi untuk mencairkan dana perusahaan namun Santi tidak bisa dihubungi.
Karena Santi tidak bisa dihubungi ayah pun mencoba menghubungi staff lain namun yang lain pun tidak bisa dihubungi. Ayah bingung karena tidak ada yang bisa dihubungi.
Karena semua staff tidak bisa dihubungi akhirnya ayah mendatangi kantornya tapi saat ayah sampai ayah sangat terkejut karena kantornya telah tutup. Ayah yang terkejut langsung menghubungi Santi terus menerus tapi Santi masih tidak bisa dihubungi.
Perusahaan yang dia jadikan tumpuan hidupnya sekarang sudah hancur. Perusahaan yang ia bangun dari nol. Perusahaan yang menyatukan hati ayah dan ibu. Perusahaan yang menjadi saksi bisu kisah cinta ayah dan ibu kini telah hancur. Hancur karena keegoisan ayah.