Slowly Destroyed

Slowly Destroyed
Eps 3. Dian



Mereka berdua saling menyalahkan diri sendiri. Mereka menyalahkan diri sendiri sehingga mereka ketiduran.


Malam itu terasa sangat panjang untuk mereka karena rasa bersalah menghatui mereka.


05:00


Azan subuh pun berkumandang. Ibu langsung bangun dari tidurnya dan membangunkan ayah untuk sholat. Setelah ayah bangun ibu pergi ke kamarku untuk membangunkanku.


"Nak bangun nak ayo sholat dulu sayang" Ucap ibu lembut ditelingaku.


Aku pun membuka mataku perlahan-lahan karena suara lembut yang membangunkan ku dari tidur. Aku melihat ibu yang matanya sembab seperti habis menangis.


"Ibu, Mengapa mata ibu sembab? Apa ibu menangis?" Tanyaku yang langsung duduk.


"Gak ibu gak nangis cuma kelilipan aja tadi." Elak ibu.


"Ayo buruan ambil wudhu kita sholat." Ucap ibu.


"Iya bu, ibu duluan saja aku akan menyusul." Jawabku sambil berjalan mundur ke kamar mandi.


"Eh jalan yang bener ntar nabrak!" Ucap ibu memperingatiku.


"Iya bu, udah sana ibu duluan aja ke tempat sholat." Jawabku sambil membalik badan dan berjalan seperti biasa ke kamar mandi.


"Yaudah ibu duluan kamu jangan kelamaan" Ucap ibu sambil menutup pintu kamarku.


Aku pun selesai wudhu dan aku langsung ke tempat sholat yang ada dirumahku. Disana terlihat bahwa ayah dan ibu sudah siap hanya tinggal menungguku saja.


Saat aku sampai ayah pun langsung mengimami kita. Kita selalu sholat subuh berjamaah di imami oleh ayah, jika ayah sedang tidak dirumah yang mengimani adalah ibu.


"Assalamu'alaikum warahmatullah" Ayah mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri dan diikuti oleh aku dan ibu.


Setelah selesai sholat subuh ibu langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan aku mengecek kembali buku-buku yang akan ku bawa ke sekolah jika sudah lengkap aku akan langsung mandi dan siap-siap untuk sekolah. Yang ayah lakukan ketika pagi adalah membereskan berkas-berkas kerjanya dan siap-siap untuk kerja. Biasanya lima belaa menit sebelum ayah pergi ke kantor ayah akan memanaskan mobil dulu.


06:00


Ibu sudah selesai memasak dan merapikan masakannya di meja makan.


"Ayah! Rafa! Sarapan sudah siap ayo buruan nanti keburu dingin!" Terompet sangkakala ibu berbunyi.


"Iya bentar bu, Rafa masih nyari kaos kaki Rafa. Ibu liat gak kaos kaki Rafa dimana?" Teriakku sambil terus mencari kaos kakiku.


"Kebiasaan sih kamu kalo lepas kaos kaki narohnya sembarangan" Ucap ayah sambil berjalan ke meja makan.


"Sini ke meja makan dulu, kamu makan dulu biar ibu cariin." Perintah ibu.


Aku pun langsung ke meja makan dan ibu menaruh nasi goreng ke piringku dan ke piring ayah. Aku dan ayah pun langsung menyantap sarapan kami. Sedangkan ibu pergi ke kamarku dan mencarikan kaos kakiku.


Aku gak tau sebenernya ibu punya indra ke6 atau indra ke10 yang ku tau bahwa setiap barang yang ku cari tidak ada pasti hanya ibu yang bisa menemukannya.


"Rafa ini tuh kaos kaki ada di lemari! Makanya kalo nyari make mata kepala jangan make mata kaki!" Suara indah ibu keluar.


"Sini liat kalo gak percaya sini" Ucap ibu.


Aku langsung menaruh sendok yang ada ditanganku dan langsung pergi ke kamar dan benar saja kaos kaki ku ada di lemari. Ayah yang melihat ku dimarahi ibu malah tertawa.


"Makanya kalo nyari yang bener! Nyarinya make mata kepala jangan make mata kaki!" Ucap ibu nada sedang.


"Iya tapikan kaos kaki dipake dikaki ya nyarinya make mata kaki" Ujarku lirih dengan kepala tertunduk dan berjalan ke arah meja makan lagi.


"Buruan selesein makannya liat udah jam berapa kamu mau berangkat jam berapa?" Ucap ibu.


Saat aku kembali makanan ayah sudah habis. Karena makanan ayah sudah habis aku buru-buru menghabiskan makanan ku.


Selesai sarapan ibu membereskan piring bekas makan aku dan ayahku. Lalu ayah dan aku berjalan ke depan. Ayah memanaskan mobil dan aku menunggu. Lalu ibu pun keluar aku dan ayah pamit ke ibu dan kita langsung berangkat.


Ayah mengantarkan ku sampai depan gerbang sekolahku setelah aku sudah masuk ke sekolah ayah langsung pergi ke kantor.


Yang ibu ku tahu dan yang aku tahu ayah pergi ke kantor tapi sudah enam hari ini ayah tidak pergi ke kantor. Tetapi ayah menemui selingkuhannya dan pergi jalan-jalan dan berfoya-foya bersama selingkuhannya.


Aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang sangat ku banggakan membuat ku malu dengan ketidak setiannya kepada ibu.


Dian.. Yang ku tahu nama selingkuhannya adalah Dian. Perbedaan umur nya dengan ibu memang terpaut jauh. Sekarang ibuku 36 tahun sedangkan Dian masih 25 tahun. Wajahnya memang lebih cantik mungkin karena dia masih muda dan badannya yang masih sangat ramping mungkin itu yang membuat ayah terpesona kepadanya.


Menurut ku ibu memang sudah tidak muda tapi kecantikannya masih selalu terpancar. Ibu juga memang sudah ramping lagi tapi itu karena ibu melahirkan ku. Ibu adalah orang tercantik dan terkuat yang sangat baik walau kadang suka cerewet.


07:30 Dirumah Dian


Ayah baru sampai dirumah sang selingkuhannya itu dan dia sudah menunggu di depan rumahnya. Ayah langsung turun dari mobilnya dan memeluk Dian.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Dian. Ntah apa yang mereka lakukan didalam aku tidak tahu.


12:00


Mereka berdua keluar mereka mau pergi keluar untuk makan. Ayah membawa mobilnya dan menghentikannya disebuah tempat makan mewah. Mereka pun langsung turun dengan tangan yang saling bergandengan mesra.


Setelah mereka selesai makan mereka langsung keluar dan pergi ke sebuah swalayan. Mereka berjalan melewati toko-toko sambil terus bergandengan mesra.


Disitu terlihat bahwa membelikan dia barang-barang mewah dan mahal. Aku jarang melihat ibu diajak pergi dan belanja barang mewah dan mahal seperti itu.


Ayah membelikan tas bermerek, jam tangan, perhiasan, sepatu, dan masih banyak lagi hingga Dian tangan Dian pun penuh dengan paper bag berisi belanjaannya.


Ayah berjalan bersamanya dan tidak ingat sama sekali


dengan anaknya dan istrinya.


Mereka pun pulang karena tangan mereka berdua sudah penuh dengan barang-barang yang dibeli untuk Dian.Ayah mengantarkan Dian pulang ke rumahnya.


Saat ayah akan pulang Dian melarangnya lalu ayah pun mengikutinya. Ayah tidak jadi pulang dan masuk ke rumah Dian.