
Rafa Handayani adalah nama lengkapku. Aku sekarang berusia 11tahun. Aku tinggal di Jakarta Selatan. Aku merupakan anak dari seorang pemilik perusahaan travel dan seorang ibu rumah tangga. Keluarga kecilku sangat bahagia dan aku pun tumbuh dengan penuh kasih sayang dari orang tuaku.
Kita sering sekali menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan bersama, belanja, dan masih banyak lagi.
19:00 Pasar Malam
"Ayah ibu aku ingin naik komedi putar!" Rengekku sambil menunjuk komedi putar.
"Iya ayo naik ayah akan beli tiket dulu" Jawab ayah.
"Ayo Bu kita naik sekarang aku sudah tidak sabar." Aku merengek lagi.
"Iya sabar dulu kan ayah lagi beli tiketnya" Ucap ibu.
Ayah datang ke arah kita sambil mengangkat 3 tiket itu.
"Ayo kita naik sekarang juga" Ucap ayah dengan semangat.
"Ayo yah Rafa udah gak sabar nih." Ucap diriku tidak sabaran.
Akhirnya kita naik ke komedi putar itu. Saat sudah di setengah putaran aku ketakutan.
"Ih ibu aku ngeri aku takut jatuh." Ucap aku ketakutan.
"Gapapa sayang kan ntar juga turun lagi kebawah kita bakal aman gak bakal jatuh." Ucap ibu menenangkanku.
"Haduh kamu ini gimana sih nak tadi kamu gak sabar pengen naik giliran udah naik malah ketakutan aduh ayah jadi bingung." Ucap ayah sambil menepuk jidat dan tertawa kecil.
"Iya gimana nih kamu ya tadi semangat banget padahal kok malah ketakutan sih." Ibu juga tertawa kecil.
"Ih aku takut jatuh bu ini tuh tinggi banget aku jadi ngeri." Jawab diriku sambil memanyunkan bibir, kesal karena ayah dan ibunya menertawakan aku.
"Udah jangan takut tuh liat dari atas sini indah banget keliatan banyak lampu." Ujar ibu sambil menunjuk kebawah.
"Iya indah banget dari atas rumah kita aja sampe keliatan tuh." Sahut ayah sambil menunjuk suatu rumah.
"Mana mana emangnya rumah kita keliatan kok aku gak percaya sama ayah." Aku pun penasaran langsung melihat apa yang ayah tunjuk.
"Ih apaan sih yah itu kan bukan rumah kita. Ahhh ayah suka bohong nih" Ucap diriku meledek ayah.
"Sayang habis ini kita mau ngapain lagi nih?" Tanya ayah.
"Hmmm aku mau beli eskrim, mau beli gulali, mau beli permen kapas, mau main kuda-kudaan ahh pokoknya banyak banget deh yah." Jawab aku dengan senyum bahagia.
"Banyak sekali yang kamu mau. Apa bisa kita lakukan semuanya sekaligus?" Tanya ibu.
"Iya banyak sekali ayah saja sampai bingung mendengar semua yang kamu katakan" Ayah tertawa kecil.
"Ih ayah jangan bikin aku malu gitu dong" Ucap ku.
"Kenapa harus malu kan kamu make baju gimana sih." Ledek ayah.
"Ih ayah mah ngeledek aku mulu" Aku pun memanyunkan bibir karena kesal.
"Udah udah jangan manyun kan nanti jadi jelek" Ucap ibu mencubit pipiku.
Akhirnya kita sampai dibawah. Kita pun langsung turun dari komedi putar.
"Ayah ibu ayo cepetan aku mau beli permen kapas itu" Rengek ku sambil nunjuk permen kapas.
"Iya kita beli tapi habis itu pulang ya ayah sudah lelah lagi pula besok ayah harus kerja dan kamu harus sekolah" Ucap ayah.
"Ah gak mau aku masih mau naik kuda-kudaan terus ke rumah hantu." Rengek diriku tidak mau pulang.
"Kan bisa besok lagi sayang sekarang kita beli permen kapas dan pulang ya" Ucap ibu membujukku.
"Iya yaudah aku nurut aja tapi janji ntar kalo libur kita jalan-jalan lagi ya" Ucap diriku mengacungkan jari kelingking.
"Oke ibu janji bakal ajakin jalan-jalan lagi kalo libur" Ucap ibu mengaitkan kelingkingnya ke kelingkingku.
"Ayah juga janji loh" Aku pun mengacungkan kelingking kepada ayahnya.
"Iya ayah janji" Jawab ayah sambil mengaitkan kelingkingnya.
Kita pun membeli permen kapas dan langsung pulang.