Slowly Destroyed

Slowly Destroyed
Eps 2. Curiga



Setelah kita membeli permen kapas kita pun langsung pulang ke rumah. Setelah setengah jam perjalanan pulang akhirnya kita pun sampai di rumah.


21:00 Di Rumahku


"Akhirnya sampai juga kita dirumah kita yang tercinta ini." Ucap ayah sambil membukakan pintu mobil untukku dan ibu.


"Iya akhirnya sampai juga." Ucapku sambil berlari ke depan pintu rumah.


"Jangan lari-lari sayang nanti jatuh." Ucap ibu memperingatiku sambil berjalan ke arahku


"Ah ibu aku sudah lelah jadi aku ingin cepat-cepat masuk ke rumah." Sahutku.


"Iya iya ayo kita masuk." Ajak ayah sambil menggandeng tangan ibu.


"Kenapa cuma ibu yang ayah yang gandeng." Rengekku.


"Iri bilang boss." Ucap ibu meledek aku.


"Iya aku iri sama ibu aku juga mau digandeng." Jawabku.


"Yasudah lah ayo kita masuk kan udah malem jangan berisik diluar kesian tetangga ntar pada keberisikan bisa-bisa kita dimarahin." Ujar ayah sambil menggandeng tanganku dan tangan ibu.


Kita masuk ke dalam rumah. Lalu aku menuju ke kamarku dan ayah duduk di sofa ruang tamu.


"Rafa sayang! sebelum naik ke kasur jangan lupa cuci kaki, cuci tangan, terus ganti bajumu dengan piyama!" Perintah ibu.


"oke siap boss." Jawabku sambil hormat ke ibu.


Aku pun langsung pergi ke kamar dan melakukan yang ibu perintahkan kepadaku. Lalu aku pun keluar kamar dan duduk disebelah ayah.


"Ayah mau minum apa kopi apa teh?" Tanya ibu.


"Ehmmm apa ya? kopi aja deh." Jawab ayah sambil menyalakan tv.


"Aku gak ditanya bu?" Tanyaku.


"Emang kamu mau apa boss?" Tanya ibu kepadaku.


"Ibu pasti tau aku mau apa." Jawabku.


"Ibu nyesel nanya ke kamu. Percuma banget ibu nanya kalo kamu jawabnya gitu." Ucap ibu kesal.


"Ibu jangan marah dong kan aku cuma ngelawak" Ucapku membujuk ibu.


"Ibu mah gak marah cuma kesel aja." Jawab ibu.


"Bu jangan kesel dong ntar aku nangis nih." Rengekku.


Ibu selesai membuatkan kopi dan susu. Ibu membawa nampan yang diatasnya ada secangkir kopi dan segelas kopi. Lalu ibu menaruh cangkir kopi dan gelas susu di meja. Ibu kembali ke dapur untuk menaruh nampan.


Suasana tiba-tiba hening. Lalu ibu duduk di sebelahku. Ibu memelukku sambil mengelus rambutku.


"Sayang kamu jangan manja terus, kamu harus bisa mandiri." Ucap ibu sambil mengelus rambutku.


"Iya bu aku pasti akan mengikuti apa yang ibu katakan." Jawabku.


Tringggggg... Tringgggg.... Suara nada dering hp ayah.


Ayah pun langsung mengambil hpnya dan pergi keluar untuk mengangkat telepon itu.


"Bentar ya ayah mau angkat telepon dulu." Ucap ayah sambil pergi keluar.


"Iya ayah." Sahutku.


Setelah ayah keluar ibu melanjutkan perkataannya.


"Sayang kamu harus mandiri jangan manja terus. Kalo kamu mau jadi orang yang sukses dan membanggakan orang disekitarmu kamu harus mampu menjadi dirimu sendiri berdiri tegak diatas bayanganmu sendiri, janganlah kamu berdiri di atas bayang-bayang orang lain dan jangan kamu pikirkan perkataan-perkataan yang menjatuhkanmu. Mereka yang menghina belum tentu lebih baik darimu karena orang yang menghina itu biasanya orang yang iri terhadap kelebihanmu." Ucap ibu menasehatiku.


"Iya bu aku akan berusaha membangun diriku sendiri dan tak akan aku biarkan seseorang menghancurkannya." Jawabku sambil menatap ibu dan memegang tangannya untuk meyakinkannya.


"Ibu percaya kamu bisa sayang ibu akan berusaha untuk selalu ada disampingmu." Jawab ibu memelukku sambil meneteskan air mata.


"Ibu jangan nangis. Aku gak mau liat ibu nangis. Aku hanya ingin ibu bangga denganku." Ucapku melepaskan pelukan ibu dan menghapus air matanya.


Ibu melihat ke arah jam dan ternyata sudah jam 10.


" Ini sudah malam cepat habiskan susumu dan tidur!" Perintah ibu.


Aku langsung meminum dan menghabiskan susu yang ibu buatkan. Setelah itu ibu mengantarkanku kekamar. Aku langsung berbaring dan ibu menyelimutiku.


"Muach.. Selamat malam sayang. Tidur yang nyenyak. Mimpi yang indah." Ucap ibu setelah mencium keningku.


"Selamat malam juga bu." Ucapku sambil memejamkan mata.


Ibu pun mematikan lampu kamarku dan keluar. Lalu ibu ke ruang tamu untuk membereskan cangkir kopi ayah dan gelas susuku. Tapi saat ibu melihat cangkir kopi ayah, kopinya masih penuh belum diminum sama sekali.


Ibu pun mencari ayah dan ternyata ayah masih teleponan di taman. Ibu tidak memanggil ayah ibu hanya mengamati ayah dari pintu rumah. Ayah pun tidak menyadari keberadaan ibu. Ayah terlihat senyum-senyum sendiri.


"Itu telpon dari siapa? Kenapa telpon malem-malem? Kenapa lama banget? Apa itu urusan kantor? Tapi kalo urusan kantor kenapa dia senyum-senyum sendiri?" Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi isi kepala ibu.


Ayah berbalik badan dan melihat ibu dipintu. Ayah pun langsung mematikan telponnya dan kelihatan agak gelisah. Ibu yang merasakan kegelisahan ayah pun langsung berpura-pura seperti ibu baru saja lewat.


"Eh sayang kenapa kamu disitu? Apa Rafa sudah tidur?" Tanya ayah dengan gelisah.


"Gak kok aku baru saja lewat, aku baru mau memanggilmu tapi keburu kamu nengok." Jawab ibu.


"Owh gitu. Terus Rafa udah tidur belum?" Tanya ayah sambil berjalan ke arah ibu.


"Udah kok baru aja tidur. Tadi siapa yang nelpon kamu kok udah malem kayak gini nelpon sih mana lama banget?" Tanya ibu pemasaran.


"Eh itu dari kantor tadi ada klien yang komplain." Jawab ayah dengan gugup.


"Owh dari kantor. Tapi kenapa kamu gugup gitu?" Tanya ibu kepada ayah.


"Gak kok gak gugup cuma capek aja. Yaudah yu masuk udah malem." Elak ayah dan merangkul ibu mengajaknya ke dalam.


"Eh iya aku lupa ama kopi." Ucap ayah sambil menepuk kepalanya.


"Udah adem pasti gak enak udah lah biarin aku buang aja. Kamu ke kamar aja istirahat besok kan harus berangkat ke kantor." Ucap ibu mendorong badan ayah ke kamar.


"Iya udah aku duluan ya ke kamar." Ucap ayah sambil melambaikan tangan dan masuk ke kamar.


Ibu pun kembali ke ruang tamu dan mengambil cangkir ayah. Setelah itu ibu membuang kopiny di wastafel lalu ibu mencuci cangkir dan gelas bekas kopi dan susu. Setelah selesai mencuci gelas dan cangkir ibu pun langsung ke kamar.


Ibu pun masuk ke kamar dan ayah langsung buru-buru mematikan hpnya yang membuat ibu semakin curiga.


"Yah kamu kok belum tidur ini udah malem besok kan harus ke kantor." Ucap ibu.


"Kan aku nungguin kamu. Masa kamu masih beberes aku udah tidur duluan." Jawab ayah.


"Yaudah aku mau pake piyama dulu." Jawab ibu pergi ke closet.


Saat ibu masuk ke closet ayah mengambil hpnya lagi dan senyum-senyum sendiri lagi. Sebelum keluar ibu mengintip dan melihat kelakuan ayah yang aneh. Ibu semakin curiga dengan gerak-gerik ayah.


"Sayang kamu udah tidur belum?" Tanya ibu dari dalam closet pura-pura tidak tahu.


Ayah langsung buru-buru mematikan hpnya dan menarunhnya diatas meja. Ayah pun langsung tidur supaya ibu gak curiga tapi mana sempat keburu ibu tahu.


Ibu yang melihat ayah langsung tidur pun keluar dari kloset dan mematikan lampu kamar diganti dengan lampu tidur. Ibu langsung tidur disebelah ayah.


Ayah sudah tertidur dengan pulas. Tapi disisi lain ibu tidak bisa tidur karena memikirkan kelakuan ayah yang begitu mencurigakan.


Ibu bolak balik membenarkan posisi tidurnya supaya bisa tisur tapi semuanya sia-sia karena dikepala ibu masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan membuat ibu gelisah.


Berbalik ke kanan berbalik ke kiri ibu memaksakan untuk memejamkan mata itu yang ibu lakukan. Tapi semakin ibu paksa untuk tidur semakin ibu tidak bisa tidur.


Sudah lewat tengah malam ibu masih belum bisa tidur karena semua pertanyaan yang ada di kepalanya yang masih belum terjawab.


Tiba-tiba ibu terpikir untuk melihat riwayat panggilan dihp ayah. Ibu pun langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan mengendap-endap ke arah meja yang ada hp ayah.


Tapi tidak sengaja ibu tersandung dan jatuh.


Gubrakkk.... Suara ibu terjatuh.


Ayah yang mendengar itu pun kaget dan langsung terbangun. Ayah langsung membantu ibu bangun.


"Kenapa kamu bisa jatuh?" Tanya ayah sambil menyalakan lampu.


"Tadi aku mau ke kamar mandi tapi kesandung gara-gara gelap." Jawab ibu.


"Terus ada yang sakit gak? Mana yang sakit?" Tanya ayah khawatir.


"Gak gak ada yang sakit. Aku gak apa-apa kok. Udah kamu tidur aja lagi." Jawab ibu menenangkan ayah.


"Beneran nih gak ada yang sakit?" Ucap ayah memastikan.


"Gak gak aku gak apa-apa." Jawab ibu sambil berjalan dengan tertatih-tatih.


"Kamu mau kemana? Ayo aku bantu!" Ayah masih khawatir dan langsung membantu ibu.


"Ya aku mau ke kamar mandi lah kan tadi aku mau ke kamar mandi tapi segala kesandung. Udah gak usah khawatir aku baik-baik saja." Ucap ibu menahan sakit.


"Mau aku anter ampe dalem gak nih." Ledek ayah sambil tertawa kecil.


"Ih udah gak usah Ampe dalem kamu diluar aja kalo bisa kamu tidur lagi sana di kasur." Ucap ibu sambil masuk ke kamar mandi.


"Gak ah aku nungguin kamu aja aku kan mau jadi suami yang baik." Ucap ayah sambil nyender ke tembok.


Ibu didalam bingung mau ngapain dan akhirnya ibu hanya cuci muka dan menatap wajahnya dicermin. Pertanyaan-pertanyaan yang tadi masih terngiang-ngiang dikepala ibu.


"Ahh mengapa aku begitu ceroboh sampai harus kesandung kan jado gagal rencanaku." Ibu mengumpat di dalam hati.


"Sebenernya ada apa dengan suamiku dia begitu berbeda tidak seperti biasanya."


"Siap sebenernya yang dia telpon tadi? Lalu siapa yang mengirimkan pesan kepadanya sampe dia senyum-senyum sendiri?"


"Apa mungkin dia selingkuh? Apa yang tadi telpon itu selingkuhannya? Dan apa mungkin yang mengirimkan pesan juga selingkuhannya?"


"Apa dia sudah gak sayang sama aku dan Rafa sampe-sampe dia cari kesenangan diluar?"


"Jika memang dia selingkuh aku tidak akan pernah memaafkannya!"


"Sekarang aku harus tenang karena aku belum punya bukti jangan sampe dia tahu bahwa aku curiga terhadapnya."


Setelah lama sekali ibu mengumpat dalam hati ibu pun keluar dari kamar mandi. Saat ibu keluar ibu melihat ayah yang ketertiduran sambil berdiri karena masih nungguin ibu. Disitu ibu merasa bahwa mana mungkin suaminya itu selingkuh darinya.


Ibu pun membangun kan ayah dengan perlahan. Ayah pun terbangun.


"Kamu udah selesai. Kamu lama sekali aku sampe ketiduran disini nungguin kamu." Ucap ayah lirih.


"Maaf aku kan gak tahu kalo kamu nungguin aku. Lagian aku kan tadi udah nyuruh kamu buat tidur di kasur." Ujar ibu.


"Iya gak usah minta maaf ini bukan salah kamu. Aku tuh nungguin kamu karena aku gak mau kamu kesandung lagi." Jawab ayah sambil menggendong ibu ala bridal.


"Ah makasih ya kamu udah sayang banget sama aku dan Rafa. Makasih kamu udah bekerja keras demi kita. Makasih udah selalu ada untuk aku. Makasih karena kamu udah jadi suami dan ayah yang baik dan sabar. Makasih banget buat ya suami ku yang tercinta." Ucap ibu sambil menatap mata ayah.


"Aku juga makasih banget sama kamu karena kamu selalu jadi istri yang baik buat aku dan selalu sabar ngadepin sikap ku. Makasih udah selalu masakin masakan yang enak setiap aku pulang kerja. Makasih udah jadi temen hidupku. Tapi maaf aku belum sempurna menjadi seorang suami." Ucap ayah sambil membaringkan ibu dikasur.


"Sayang gak ada manusia yang sempurna yang sempurna cuma Allah." Ujar ibu.


Ayah pun mematikan lampu dan langsung tiduran dikasur menghadap ibu.


"Makasih atas semuanya yang telah kamu berikan kepadaku. Makasih kamu selalu mengingatkanku. Makasih banget." Ayah menatap ibu dan muach.. ayah mencium kening ibu.


"Iya aku juga makasih banget sama kamu. Makasih udah bisa setia terus ama aku." Ucap ibu.


"Udah sekarang kamu tidur besok kan mau kerja." Ucap ibu sambil memejamkan mata dan berbalik badan membelakangi ayah.


"Iya tidur yang nyenyak ya sayang." Ucap ayah sambil membalikkan badan juga.


Mereka pun saling membelakangi.


"Ya Allah suamiku sangat sayang kepada ku kenapa aku bisa securiga itu kepadanya." Ucap ibu didalam hati.


"Maafin aku yang udah buruk sangka sama kamu. Kamu tuh tulus banget mana mungkin selingkuh, mungkin ini hanya perasaan cemburu aja." Ibu masih belum tidur dan merasa bersalah.


Disisi lain ayah pun merasa bersalah.


"Istriku maaf aku udah gak setia sama kamu. Aku belum bisa jadi suami yang baik dan ayah yang baik." Ayah merasa salah kepada ibu.


"Maaf aku menghianati janji suci kita. Maafkan aku yang telah mencintai wanita lain selain dirimu. Maafkan aku karena telah menjadi suami yang buruk untukmu. Aku belum pantas disebut suami yang baik." Ayah terus meminta maaf didalam hati dan tak terasa air mata ayah jatuh.


Mereka berdua saling menyalahkan diri sendiri. Mereka menyalahkan diri sendiri sehingga mereka ketiduran.


Malam itu terasa sangat panjang untuk mereka karena rasa bersalah menghatui mereka.