Slowly Destroyed

Slowly Destroyed
Eps 4. Berubah



Saat ayah akan pulang Dian melarangnya lalu ayah pun mengikutinya. Ayah tidak jadi pulang dan masuk ke rumah Dian.


Ayah pun jadi sering sekali pulang larut malam malah kadang ayah gak pulang.


01:00


Ayah baru pulang dan mengetok pintu. Ibu yang sedari tadi sudah menunggu ayah pun langsung membukakan pintu. Ibu memiliki sangat banyak pertanyaan tentang mengapa ayah jadi sering pulang terlambat.


"Akhirnya ayah pulang" Sambut ibu sambil membukakan pintu.


Ayah hanya jalan melewati ibu dan tidak menggubris ibu.


"Kamu dari mana aja udah malem baru pulang sih kasian Rafa udah nungguin dari tadi" Ucap ibu sambil menutup pintu dan menguncinya lagi.


Ayah diam saja sambil berjalan ke kamar. Ayah tidak menggubris perkataan ibu sama sekali. Ibu pun masih berpikir positif, mungkin suaminya itu lelah habis lembur. Lalu ibu mengikuti ayah ke kamar.


"Apa kamu tadi lembur?" Tanya ibu.


"Diam sebentar bisa tidak!" Bentak ayah dan ibu langsung terkejut karena selama ini ayah tidak pernah membentak ibu.


"Suami pulang bukannya ditawarin mau minum apa malah ditanya-tanya mulu" Ayah masih terus membentak ibu.


"Ya kamu mau minum apa? kopi? atau teh?" Tanya ibu sambil menahan tangis.


"Gak sekarang aku mau mandi terus mau tidur aku dah gak mood gara-gara kamu" Jawab ayah.


"Mau aku siapkan air hangat?" Tanya ibu.


"Kamu aku tuh cape kamu malah nanya - nanya mulu gak tau aku pusing dah capek" Bentak ayah sambil berjalan ke kamar mandi meninggalkan ibu yang sedang menahan tangisnya.


Ibu pun mencoba terus menahan tangisnya ibu pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk ayah supaya ayah lebih tenang. Saat ibu masuk untuk membawakan kopi ayah ibu melihat bahwa disitu ayah sudah tertidur.


Ibu yang melihat itu pun tidak jadi membawa kopi itu ibu menaruhnya di dapur. Lalu ibu kembali ke kamar dan tidur disebelah ayah yang sudah tertidur.


05:01


Seperti biasa ibu bangun duluan dan membangunkan ayah untuk sholat subuh.


"Ayah, Sayang bangun udah subuh ayo kita sholat berjamaah." Ucap ibu lembut sambil menggoyangkan badan ayah dengan pelan.


"Ah aku capek kemarin lembur. Kamu sholat Ama Rafa aja sana." Ucap ayah saat mendengar suara ibu sambil mengubah posisi tidurnya.


"Ih bangun dong, sholat jangan ditunda-tunda, Sholat kan tiang agama" Ucap ibu masih dengan lembut.


"Kamu tuh gak denger apa gak paham ama yang aku omomgin sih! Kalo aku bilang aku gak sholat dulu ya berarti gak sholat!" Bentak ayah sambil bangun dari tidurnya.


"Tapi sayanggg.. Kan sholat itu wa-" ibu belum selesai bicara dan langsung dipotong ayah.


"Aku tuh capek semalem abis lembur! Aku lembur tuh buat siapa? Ya buat kamu lah! Gak usah banyak ceramah aku pusing aku mau lanjut tidur!" Bentak ayah yang mendorong ibu keluar dari kamar dan langsung membanting pintu.


Ibu yang tidak biasa dibentak oleh ayah sangat terkejut mendengar bentakan ayah. Ibu tak kuasa menahan tangisnya dan tak terasa air matanya jatuh tetes demi tetes.


***


Disisi lain aku yang mendengar suara bantingan pintu yang sangat keras langsung terbangun dari tidur. Aku kaget mendengar suara itu dan langsung bergegas bangun dan saat aku akan keluar aku melihat ibu menangis.


Aku sebenernya ingin ada disisi ibu tapi aku tak mau ibu tambah sedih saat aku melihatnya menangis.


Ibu pun membuka pintu kamar ku dan masuk. Ibu duduk di sisi kasur yang ku tiduri.


"Nak, Rafa sayang ayo bangun udah subuh ayo kita sholat" Ucap ibu dengan lembut sambil mengelus rambutku.


Aku pun langsung membuka mataku dan duduk di sisi ibu. Aku menatap matanya yang terlihat jelas bahwa dia habis menangis.


"Ibu kenapa kok matanya merah? Abis nangis ya" Ujarku.


"Gak kok buat apa sih ibu nangis. Ini tadi mata ibu gatel terus ibu garuk eh malah ke colok jadi deh merah." Ibu mengelak.


"Ah ibu bohong ya sama Rafa" Celetukku.


"Buat apa coba ibu bohong lagian ge bohong kan dosa." Jawab ibu menagkup wajahku.


"Hmmm bentar aku analisis dulu mata ibu" Menatap ibu sangat serius.


"Eh kamu ya malah jadi bahas mata ibu. Ayo sholat ntar aja bahas mata ibunya" Ujar ibu sambil berdiri.


"Iya bu aku ambil wudhu dulu" Jawabku.


"Oke ibu tunggu di tempat sholat ya nak" Ucap ibu sambil meninggalkan kamarku.


Ibu sudah siap dan sedang menunggu ku di tempat sholat. Aku yang sudah ambil wudhu pun langsung pergi ke tempat sholat. Aku memperhatikan sekeliling tempat sholat tapi aku tidak melihat ayah disitu.


"Ibu ayah dimana kok ayah gak ada kan aku pengen diimami ayah" Ucapku.


"Ayah lagi capek udah sama ibu aja" Jawab ibu.


"Oke sip" Jawab ku singkat.


Ibu mengimami sholat subuh dan aku mengikutinya. Ibu pun telah mengucapkan salam. Setelah itu seperti biasa ibu memasak di dapur. Aku pun juga melakukan kegiatan rutin ku.


Sarapan siap ibu merapikan makanan diatas meja seperti biasa. Mata ku berkeliling melihat sekitar mencari keberadaan ayah namun ayah tidak terlihat.


"Ibu ayah mana kok belum keluar sih" Tanyaku penuh dengan ketidak tahuan.


"Mungkin ayah masih di kamar. Sebentar ya ibu akan panggil ayah di kamar." Ucap ibu sambil menuju kamar.


Sebelum ibu sampai dikamar ayah sudah keluar dari kamar dan terlihat sangat terburu-buru. Ayah hanya melewati ibu begitu saja seakan-akan ibu tidak terlihat.


Ibu yang melihat ayah terburu-buru pun langsung mengingatkan ayah untuk sarapan dulu.


"Yah sarapan dulu ntar kalo gak sarapan kamu bakal gak ada tenaga buat kerja"


Ayah tidak menghiraukan yang ibu katakan. Ayah berjalan terus ke arah pintu.


"Rafa kamu berangkat sekolah dianterin ibu ya ayah lagi buru-buru" Ucap ayah sambil terus berjalan.


"Iya ayah" Ucapku.


Ayah pun pergi berangkat tanpa sarapan dan tanpa pamit ke ibu. Ibu yang merasakan bahwa dari tadi ayah tidak mempedulikannya langsung terduduk diam di sofa depan. Seperti nya ibu merasakan perubahan ayah yang sangat signifikan.


Ayah benar-benar tidak terlihat seperti biasanya yang selalu romantis kepada ibu. Saat itu ayah terlihat benar-benar sangat dingin dan tak terlihat menyenangkan seperti biasa.