Silly Wedding

Silly Wedding
bab 6 Useless



Setelah selesai makan malam, Axel langsung membersihkan dirinya. Badannya sudah lengket sekali karena berkeringat. Apalagi saat akad nikah baru dimulai, dia sangatlah gugup dan pastinya dia menjadi kepanasan.


Axel keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Mataya spontan melototkan matanya. Namun, langsung mengubah wajahnya menjadi datar kembali, tapi wajah merahnya sudah tidak lagi bisa di sembunyikan.


Lelaki itu langsung masuk kedalam walk in closet dan segera memakai bajunya. Dia keluar dari walk in closet hanya dengan menggunakan celana boxer dan baju kaos tipis nya.


Saat Axel keluar dari walk in closet, Mata Mataya otomatis langsung melihat ke paha mulus Axel. "Oh god, bisa-bisanya dia tidur memakai boxer dan kaos tipis" .


"Taya, kamu ga mandi?" Axel bertanya sambil menghampiri Mataya yang sedang duduk di tengah kasur. "Aku udah mandi kok. Kamunya aja tadi tidur" Axel hanya ber'oh saja.


Pria itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menepuk-nepuk kasur yang bermaksud menyuruh Mataya untuk ikut tiduran dengannya. Mataya mengerti dengan tepukan itu, dia langsung ikut berbaring di samping Axel. Axel pun refleks menarik tangan Mataya dan memasukkannya kedalam dekapan lelaki itu.


Sebenarnya Mataya sangat malu saat Axel menyuruhnya tidur disampingnya. Tapi dia hanya menurut, karena dia mengingat bahwa sekarang Axel adalah suaminya. Axel pun begitu, dia heran dengan kelakuannya yang baru saja ia lakukan itu. Kenapa dia melakukan ini?


"Taya, besok aku ke kantor sebentar ga apa-apa kan? Urgent abisnya" ijin Axel sambil mengelus-elus rambut Mataya yang berada dalam dekapannya.


"Tentu aja boleh, Sampe siang ga ngantornya?" Axel mengangguk sebagai balasan, "tapi aku ke kantor jam sembilanan kok" Mataya hanya mengiyakan saja.


"Tapi padahal awalnya aku mau ngajak kamu makan siang bareng, apa ntar aku ke kantor mu saja? Kita makan sama-sama di kantormu" Axel yang mendengar itu tiba-tiba menjadi senang, dan langsung mengiyakan dengan semangat.


🔶🔸🔶🔸🔶🔸🔶🔸🔶


Sekarang sudah waktunya makan siang, Mataya kini sudah berada di depan meja resepsionis, "Permisi mbak, saya mau bertemu dengan tuan Axel Pradipta. Ruangannya dimana ya mbak?" Mataya bertanya kepada resepsionis yang ada disitu. Namun, resepsionis itu langsung memandang sengit Mataya.


"Maaf mbak, sebelumnya apakah anda sudah membuat janji dengan CEO?" ucap resepsionis itu dengan nada sedikit meledek namun masih terdengar sopan. "Ah, sudah. Semalam saya sudah membuat janji dengannya" jawab Mataya dengan sopan. Tapi sepertinya resepsionis itu tidak percaya dengan ucapan Mataya. "Semalam? Halu nya boleh juga" ledek resepsionis itu dalam hati.


"Baik mbak, sebentar ya. Saya tanya seketaris CEO dulu" ujar resepsionis berbohong. Mataya pun senang dan mengangguk.


Sudah 35 menit berlalu, namun Mataya masih menunggu di lantai bawah. Tidak ada berita apapun yang disampaikan oleh resepsionis itu. kring kring ponsel perempuan itu berbunyi, ia langusng cepat untuk mengecek. "unknown..." gumam Mataya.


Mataya langsung mengangkat telepon itu, "Halo" Mataya menyapa. Tapi tidak ada balasan dari seberang sana. Dia mengira itu adalah telepon iseng, dia langsung mematikan sambungan. Dan nomor yang sama menelepon kembali. Mataya juga mengangkat kembali telepon itu, dia hanya diam menunggu sang penelepon membuka suara.


"Taya, kamu dimana? Jadi mau makan siang bareng aku ga?" Ucap pria di seberang sana. Mataya langsung mengenali siapa pemilik suara itu. "Hey, aku sudah berada di kantor sejak setengah jam yang lalu kamu tau? Resepsionis tidak ingin memberitahukan di mana ruanganmu, dan dia berkata dia akan bertanya terlebih dulu dengan seketarismu" oceh Mataya dengan kesal.


Axel langsung mengerutkan dahinya, "tunggu sebentar, aku kebawah sekarang ya" Jawab Axel dan mematikan sambungan telepon itu.


Axel langusng terburu-buru turun kebawah, "damn, awas aja resepsionis itu. Bisa-bisanya bikin Mataya nunggu lama dibawah, hampir aja suudzon" kesal Axel.


Lelaki itu telah di lantai dasar dan langsung mencari keberadaan sang istri, saat perempuan yang ia cari itu ketemu dia langsung berlari kecil menuju sofa yang diduduki oleh Mataya. "Nah ketemu, maaf Taya. Resepsionisku tidak berguna. Aku tidak tau kalau kau sudah dibawah dari tadi. Salahku juga semalam kita tidak bertukar nomor ponsel" sesal Axel. Tanpa menunggu jawaban Mataya ia langsung menggandeng tangan Mataya dan menuju meja Resepsionis.


Axel spontan melihat resepsionis itu dengan muka dinginnya. "Hey, beraninya kau berbohong kepada istriku dan membuatnya menunggu lama" geram Axel tiba-tiba kepada resepsionis itu. Pegawai itu refleks langsung menundukkan kepalanya sambil meminta maaf berulang-ulang. Istri? My god, resepsionis itu tidak tahu kalau bosnya sudah menikah.


Seketika para pegawai juga tamu yang sedang berlalu lalang seketika langsung pada berbisik-bisik melihat kejadian yang sedang berlangsung itu. Semua orang yang ada di lantai dasar juga terkejut dengan ucapan Axel. Sejak kapan mereka menikah? Mereka saja tidak pernah melihat bosnya itu berpacaran.


Adi-seketaris Axel yang melihat keributan langsung menghampiri bosnya, Axel yang melihat kehadiran Adi langsung memerintahkannya untuk mengurus resepsionis itu dan langsung pergi bersama Istrinya meninggal lantai bawah menuju ruangannya.


Axel menyuruh duduk Mataya di Sofa yang ada di ruangannya. "Maaf atas kejadian yang tadi...." lirih Axel dan duduk disamping Mataya, Perempuan itu langsung tersenyum juga tertawa kecil "tidak apa, gak usah dipikirin" kekeh Mataya, kini Axel terlihat seperti anak anjing yang sedang menyesali perbuatannya. Mataya pun tanpa sadar langsung memeluk suaminya itu, Axel langsung membalas pelukan itu. Wanita itu pun kaget saat Axel membalas pelukannya, ditambah ia juga malu karena memeluk Axel secara tiba-tiba.


"Uhm-, mari kita makan dulu" ajak Mataya gugup seraya melepaskan pelukan itu. Axel mengiyakan, lalu menyuruh Adi di telepon Untuk mengambilkan piring.


Kini mereka berdua telah selesai makan. Mataya sedang santai merebahkan dirinya di atas sofa, sedangkan Axel sedang sibuk mengurus berkas-berkas dan menandatangani satu-persatu.


Ting, Mataya tiba-tiba mendapatkan pesan dari pegawai tokonya.


...Arin(Pegawai toko)...


...online...


Maaf bgt saya ganggu


Tapi ini urgent banget mbak, pegawai


yang baru masuk lusa kemarin udah resign


tadi pagi, terus 4 orang ijin pulang kampung


kemarin, 1 orang juga ijin pulang, sakit.


Ada pesenan dadakan mbak, 257 loyang kue


harus dianter jam 7 malem nanti.


Sekarang kuenya baru kebikin 167 loyang mbak...


Mataya yang membaca pesan panjang itu hanya menghela nafas, kalau emang seperti inii ceritanya ya lebih baik tidak usah di terima pesanannya. Mau tidak mau dia harus ikut membantu.


...Arin(Pegawai toko)...


...online...


^^^Yaudah, ga usah dipikirin. Mending sekarang^^^


^^^kamu fokus ngerjain pesanannya.^^^


^^^Sebentar lagi saya nyusul.^^^


^^^Lain kali kalau beginj ceritanya gak usah diterima^^^


^^^pesanannya, kan kalian juga yang susah ntar^^^


^^^read^^^


baik mbak, terima kasih🙏


Axel yang melihat istrinya dari tadi selalu bergumam tidak jelas menjadi penasaran. "Taya, are u okey?" tanya Axel. Mataya tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, dia melihat Axel dengan tatapan sinis namun berusaha ia hilangkan. "maybe..." lirih Mataya. "Kayaknya sekarang aku harus pergi, ada sedikit masalah di tokoku. Aishhh, sepertinya aku akan pulang malam hari ini" sambungnya seraya meracau. Mataya segera beberes dan bersiap-siap.


"Ada yang bisa aku bantu tidak?" Mataya langsung menggeleng. "Tidak perlu, hanya sedikit masalah. gampang. Kamu selesaikan saja kerajaanmu itu, by the way kotak makan tolong kamu yang bawa pulang ya. Repot kalo aku yang bawa pulang" jelas Mataya. Axel langsung mengerutkan dahinya.


"Emangnya kamu naik apa kesinj tadi? Terus sekarang mau naik apa ke toko?" Axel bertanya, Mataya menggaruk tengkuknya.


"Tadi aku naik taksi, lalu sekarang aku mau pesan ojek online saja. Hemat. " Ucapnya enteng, dia lupa kalau suaminya seorang pengusaha kaya? Untuk apa berhemat.


"Hey, kamu lupa kalo aku CEO? Untuk apa kamu berhemat? Ga usah pesan ojek. Naik aja mobilku." Axel menawarkan dan mengambil salah satu kunci mobil yang ada di laci meja kebesarannya. Tanpa menunggu persetujuan Mataya dia langsung melempar kunci mobil itu ke arah Istrinya, dan dengan cepat Mataya menangkapnya.


Awalnya perempuan itu ingin menolak tawaran suaminya, tapi karena waktu terus berjalan lebih baik ia terima saja. Ia malas adu mulut sekarang.


TBC


Jangan lupa like, comment, rating, and vote! thank u❤️


^^^Kay/Lex^^^


^^^@kyl_1310^^^