
Akad nikah akan dilangsungkan pada siang ini seusai sholat Dzuhur, dan resepsi akan di selenggarakan lusa sore.
Wajah Mataya kini sudah dipenuhi oleh riasan layaknya pengantin pada umumnya. Dia hanya diam dan menyunggingkan senyum pada cermin. "cantik banget siih, kayak bukan gw aja" batinnya.
Mataya sudah sangat terlihat cantik dengan balutan Kebaya berwarna putih, rambut panjangnya juga digulung dan di tata dengan diberi sedikit hiasan.
"Aduuuhhh, cantik banget sih elu Tayyy. Ga sabar deh ngeliat akad nikah kamu nanti" Ucap Adzkiya sambil memfoto Mataya.
"Selamat ya Tay, semoga lancar acaranya hari ini ya. Kalo ada apa-apa langsung cerita, siapa tau kita bisa bantu. Jangan di pendam sendiri ya" ujar Chairu sambil menepuk pundak Mataya.
"Yup, tentu saja. thank u kalian berdua. Oh god, gw jadi pengen nangis nih" Mataya langsung memeluk kedua sahabatnya itu.
Sebetulnya Mataya hari ini sangatlah gugup, padahal bukan dia yang akan mengucapkan ijab Kabul nanti, ia hanya perlu duduk diam dan menunggu para saksi berkata 'sah'.
...---...
"Ya ampun, tampan sekali anak mommy hari ini. Semangat ya bang" Axel tersenyum dan memeluk Mommynya.
"Jangan kaku gitu dong mukanya bang" ejek Kanara-adik Axel satu-satunya, namun Adhitama langsung menyentil dahi Kanara. "Kamu tuh, jangan gitu. Nanti Abang kamu malah tambah gagap pas ngucap kalimat ijab kabul hahaha".
Axel dari kemarin selalu saja merasa gugup saat membayangkan dia mengucapkan kalimat ijab Kabul nanti. Bagaimana kalau nanti ia salah mengucapkan? Oh god, bisa hancur harga dirinya. Sejak kemarin Adhitama selalu membantu dan mendampingi Axel saat dia sedang menghafalkan kalimat ijab kabul.
Sekarang mereka telah sampai di mansion keluarga Rusady, Axel langsung membuang nafas kasar untuk mengurangi rasa gugupnya. Kini semua keluarga, kerabat dekat dan beserta bapak penghulu sudah berkumpul.
Saat masuk kedalam ruangan keluarga, mata Axel langsung tertuju kepada Mataya yang sedang duduk manis diantara ibu-ibu disana. "cantik" benaknya.
"Baiklah. Karena mempelai pria sudah hadir, bagaimana kalau kita langsung mulai saja?" tanya Pak penghulu yang diangguki oleh Axel.
Axel langsung berjabat tangan dengan Danny calon ayah mertuanya yang kala itu memang menjadi wali nasab. Danny hanya tersenyum tipis saat melihat Axel.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Axel Pradipta bin Adhitama Pradipta. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Mataya Yeshika Rusady binti Danny Rusady dengan maskawin berupa tujuh ratus gram emas dan seperangkat alat sholat, dibayar Tunai."
"Saya terima nikah dan kawinya Mataya Yeshika Rusady binti Danny Rusady dengan mahar tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
SAH.....
Dengan satu tarikan nafas, kini Mataya telah sah menjadi istri lelaki yang ada disampingnya itu. Mataya menyalami dan mencium punggung tangan Axel.
Axel mengambil cincin yang berada di atas nampan, lalu memasangkannya di jari manisku. Begitu pula dengan Mataya, setelah Axel memasangkan cincin di jariku, aku juga memasang cincin di jari manisnya. Tak lupa juga mereka untuk berfoto, mengabdikan momen bahagia di hari ini.
Pasangan pengantin baru itu pun keempat orang tuanya, terlebih Arabelle yang sejak tadi selalu menahan air matanya agar tidak jatuh dan kini air matanya sudah benar-benar jatuh.
...---...
Hari sudah semakin malam, para kerabat dan tamu-tamu juga sudah pulang satu persatu. Begitu pun dengan keluarga Axel yang sudah kembali ke mansionnya. dan Olin Gibran-ibu Mataya juga telah pulang kerumahnya. Sebenarnya Olin tidak ingin datang, tapi mengingat Arabelle dia pun datang. Perempuan itu sudah malas sekali melihat muka Mantan suaminya dan Mataya.
Mataya sudah sejak tadi berada di kamarnya, ia sedang sibuk membuka hiasan-hiasan yang sudah berada di kepalanya dari tadi, dan juga menghapus makeupnya menggunakan makeup remover.
ceklek suara pintu kamar terbuka, Mataya langsung melihat siapa yang masuk "Aku masuk ya" ucap lelaki itu dan aku pun mengangguk. Axel langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang, lalu menghela nafasnya karena lelah.
"Kak, kalau mau mandi ambil aja handuk di situ oke?" ucap Mataya sambil menunjuk walk in closet nya. Axel hanya berdeham.
Mataya sekarang sudah selesai membersihkan mukanya dari makeup. Dia langsung melihat ke arah kasur, terlihat Axel yang telah tertidur diatas ranjangnya. Mataya pun memutuskan untuk mandi saja terlebih dulu.
15 menit kemudian Mataya keluar dari kamar mandi, namun Axel masih saja tertidur pulas. tok tok tok terdengar suara ketukan pintu, Mataya langsung keluar dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Non, ini makan malemnya. Tuan menyuruh saya untuk membawakannya" ucap Pelayan itu dengan hormat. Mataya langsung menyuruh pelayan itu menaruh makanan itu di atas meja kecil yang terdapat didalam kamarnya itu dan segera menutup kembali pintu.
"Kak, ayo bangun dulu. Mandi terus makan, kalau ga makan dulu baru mandi. Keburu dingin makanannya nanti" panggil Mataya sambil menepuk-nepuk pundak Axel. Axel langsung bangun dan duduk seraya mengumpulkan nyawanya.
"Ah baik, thank u. By the way jangan manggil aku Kakak, ganti yang lain. nama kek, mas, atau ga sayang juga boleh" kekeh Axel dan mendudukkan dirinya di sofa lalu makan. Mataya hanya diam, wajahnya sepertinya sekarang sudah merah merona. Axel yang melihat wajah Mataya pun kini tertawa. Dia langsung berdiri dan menghampiri Mataya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Hey, santai dong jangan awkward gini. Kan kita udah janji buat jalanin pernikahan ini." Axel menepuk pundak Mataya. "Apakah kamu belum ada perasaan sedikitpun terhadapku? Aku kalau jujur sih sepertinya sudah mulai ada rasa denganmu. Mungkin karena ini pertama kalinya aku masuk kedalam dunia percintaan" lanjutnya.
Bohong kalau Mataya tidak memiliki rasa walau itu hanya sedikit kepada Axel, dari awal saat Axel bilang ingin mencoba menjalani pernikahan ini disitulah pula Mataya langsung mempunyai rasa kepada Axel. Apalagi saat dia pulang dari Bali dia hampir setiap hari bertemu Axel. Bagaimanapun dia juga manusia juga kan?
"Okay mas, hahahaha. Kau benar seharusnya aku tidak perlu canggung seperti ini. Tunggu saja waktu berjalan, mungkin akan ada waktunya aku memanggil kamu dengan sebutan sayang" Mataya tertawa Axel juga langsung tersenyum.
TBC
Jangan lupa like, comment, rating, and vote! thank u❤️
^^^Kay/Lex^^^
^^^@kyl_1310^^^