
Hai guys... Kembali lagi di lapak saiaa~
Sebelum membaca alangkah baiknya jika like terlebih dahulu ya. Yang mau aja kalau enggak mau juga gak papa ( aku gak maksa nih )
WOKEEE LANGSUNG LANJUT AJAAA!!
...࿐...
...SALAM GATENDA!!...
...꧁ ✿ Happy reading ✿ ꧂...
...❀❀❀❀...
"RIGA!!" Panggil Anes dengan wajah gembira dan bersinar terang. Riga menoleh dengan ikat kepala berwarna merah yang sengaja diikatkan didahinya erat.
"Kenapa?"
"Ini buat kamu. Kalau haus minum ini aja ya" ujar Anes menyerahkan botol minum bermerek Tupperware miliknya. Perempuan itu rela tidak minum untuk beberapa jam karena mengkhawatirkan Riga.
"Hm..." Riga menerimanya dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.
"Riga!" Panggil Anes sekali lagi. Riga menoleh.
"Semangat yaa!" ujar Anes merasa gugup dengan jantungnya yang berdegup kencang. Semilir angin berhembus kencang mengibaskan rambut perempuan berkaki pendek itu hingga menutupi wajahnya
"Aku gak bisa nemenin kamu diawal lomba" ujar Anes tanpa sadar jika dirinya memakai panggilan aku-kamu. "Gak usah dateng, lebih baik" ujar Riga membuat Anes memanyunkan bibirnya kesal.
"Kok gituu? Tiap kali aku dateng pasti kamu menang terus. Nanti pokoknya aku dateng pas tugasnya sudah selesai. Tenang aja, aku pasti dateng kok buat kamuu" ujar Anes begitu lebay dimata Riga.
"Nanti bakal rame. Duduknya di tribun jangan dipinggir sana" ujar Riga cuek lalu melangkahkan kakinya.
"Eh tungguu! Ga! Rigaa tungguiiinn!" ujar Anes membuat Riga menoleh lesu.
"Kenapa lagi?"
"Boleh ngomong sesuatu gak?" Tanya Anes.
"Gak" jawab Riga sudah menebak jika Anes akan mengatakan itu. Riga kembali melanjutkan langkahnya dengan menenteng botol minum dari Anes. Namun...
"I LAV YOUU RIGAAA!!! SEMANGAT YAAA!!" Teriak Anes tanpa malu sedikitpun membuat Riga membelalak kaget karena suaranya yang melengking dan menggema di lapangan itu.
Riga menoleh kebelakang. Menatap gadis SMA berambut panjang sebahu dengan seragam SMA putih yang dikenakannya. Jarak memisahkan keduanya. Namun angin datang merengkuh mereka. Tanpa aba-aba semua penonton yang sedang bersiap-siap itu langsung berteriak kencang bersorak gembira.
"CIEEEE!!!!"
"CUPID CUPID PIWIIITTT!!"
"ADUUHH MAU JUNGKIR BALIK GUA JANC*UKKK!!"
"BUCIN TEROOSSS!"
"YA! YA! YA! DUNIA CUMA MILIK MEREKA BEDUA YANG LAIN NGONTRAAKK!"
Riga tidak membalas perkataan Anes. Yang jelas, pria itu merasa kesal dan malu. Ini pertama kalinya Riga disoraki seperti itu oleh banyak orang. Apalagi tanpa prestasi apapun. Bagi Riga ini adalah hal yang memalukan. Apalagi dirinya adalah anak pemilik sekolah.
Bisanya bikin malu aja tuh cewek! Murahan!
...❀❀❀❀...
☬ Descartes , si kelompok atlet yang berasal dari SMA Garuda Nusantara. Descartes yang dipimpin oleh seorang pria kejam bertubuh besar dengan otot yang melekat ditubuhnya itu berhasil membuat para perempuan bergidik ngeri jika bertemu dengannya. Descartes berhasil menjadi lawan terberat kelompok atlet Gatenda ketika olimpiade olahraga tingkat Nasional tahun lalu berlangsung. Walaupun dengan adanya Zayyan Sambara di Descartes, tidak akan membuat Gatenda menyerah begitu saja.
Hari ini, Descartes datang ke Galaxy Internasional School untuk kembali bertanding melawan Gatenda. Basket adalah permainan yang dipilih dan disepakati oleh pimpinan dari kedua geng ternama itu. Zayyan tersenyum licik saat dirinya menginjakkan kaki di lapangan berlantai cokelat dan bertuliskan nama GALAXY.
"GATENDA PASTI BISA! PASTI BISA! EEEAAAAA!!!"
Tepuk tangan yang riuh memenuhi lapangan tersebut. Siswa siswi Galaxy berdiri dengan penuh semangat berkobar panas. Papan tulis yang sengaja dibawa dan diletakkan diatas bahu lalu digoyang-goyangkan seperti Reog. Ember berwarna hijau besar dengan pemukul yang dilapisi dengan kaus dalam milik mamang kantin. Tidak ada yang beres di tribun penonton bagian timur. Sudah pasti kacau balau kalau penontonnya adalah siswa jurusan IPS Galaxy. Namun dengan semangat yang dikobarkan itulah yang berhasil membuat Gatenda semakin jaya.
"GATENDA BERAKSI! BERSATU DEMI NEGERI INI!! BERSATU LAGI DENGAN SMANGAT MEMBARA!! GATENDA ADA UNTUK KITA!!!"
"HARI-HARI ESOK ADALAH MILIK KITA! KEMENANGAN PENUH SOLIDARITAS! MENJUNJUNG TINGGI NAMA INDONESIA. GATENDA ADA UNTUK KITA!"
"MARILAH KAWAN! MARI KITA GAUNGKAN, SEBUAH LAGU... BERSAMA GATENDA!!!"
"KITA ADA BERSAMA GATENDAAA!!!"
Ariga telah siap dengan mata tajamnya yang menatap najis pasukan Descartes. Gibran berdiri tepat disamping Riga dengan sendal jepit swallow berwarna hijau. Devan yang bersedekap dada dengan bertelanjang dada. Bagas yang memakai topi kelinci bulu putih dengan tangan panjangnya yang sengaja diikatkan disekitar lehernya. Dan yang terakhir adalah Leo yang mengemut permen milkita yang dipercaya mengandung banyak kalori.
GATENDA TELAH SIAP DENGAN SEMANGAT YANG BERKOBAR DI DADA!
Melvin datang memakai kopiah berwarna hitam dan Julian datang membawa map berwarna merah bertuliskan Pancasila dan Sumpah Gatenda. Melvin membenarkan mic yang telah terpasang dikerah bajunya lalu membuka Al-Qur'an dengan membaca Basmalah.
"Bismillahirrahmanirrahim" bisiknya.
"Alhamdulillahi rabbil alamin. Arrahmanir rahim. Maliki yaumiddin. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ih dinasiratal mustaqim. Siratal ladzina an'am ta'alaihim ghairil magdubi alaihim waladhalin... Amiinn"
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kami hadir disini untuk pertandingan olahraga basket antara Galaxy Internasional School dan SMA Garuda Nusantara. Antara Gatenda dan Descartes. Ya Allah... Berkahilah kami. Tunjukkanlah jalan yang lurus menuju kemenangan dan penuh perlindungan. Ya Allah lindungilah kami dari segenap bahaya apapun baik yang berasal dari syaiton yang terkutuk ataupun dari manusia yang hatinya menyimpan iri, dengki, dan dendam"
"Ya Allah... hanya kepadamu-lah kami menyembah dan hanya kepadamu-lah kami meminta pertolongan. Ya Allah... hamba berdoa bukan hanya untuk yang melakukan pertandingan ini saja, melainkan Melvin juga berdoa untuk yang berada di tempat ini, yang mendengarkan ini, tentunya yang belum meninggal. Baik dari kalangan dalam dan lawan"
"Semoga panjang umur, sehat selalu, dan diberikan rezeki yang melimpah. Semoga yang mendengar doa ini, orang tuanya akan naik haji walaupun bukan tukang bubur. Akan sukses dan bersinar tanpa cara curang yang akan merugikan. Dan juga bisa membanggakan orang tua hingga hatinya berbunga-bunga. Amin..."
"Dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Melvin menutup Al-Qur'an dan membungkuk memberi hormat lalu meninggalkan lapangan. Sekarang sisa Julian yang akan membacakan Pancasila diikuti oleh anggota Gatenda.
"PANCASILA!"
"Satu, ketuhanan yang Maha Esa"
"Dua, kemanusiaan yang Adil dan Beradab"
"Tiga, persatuan Indonesia"
"Empat, kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan"
"Lima, keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia"
"SUMPAH GATENDA!"
...❀❀❀❀...
"Nes penuh banget. Gila sih gue gak nyangka bakal banyak banget yang nonton"
"Tribun barat penuh sama supporter Descartes. Ck... balik yoo mending tik-tokan" ujar Amel dijawab gelengan oleh Anes.
"Gak ah. Gue mau nonton Riga main basket" ujar Anes menolak.
"Gue kira mereka latihan eh malah lomba. Kok dadakan banget sih" ujar Vira mengeluh.
"Eeehhh ehh... Itutuh! Dikit lagi dikit lagi. Semangatin woi! GATENDA!! GATENDA!!! GATENDAAA!!" Ujar Anes bersemangat diikuti oleh seluruh supporter Gatenda.
"Ayo Ga!! Rigaaa masukiiinn!!" Teriak Anes bersemangat. "Rigaa!! Aduuhh sayang bangett. Padahal tadi peluangnya bagus. Malah diambil sama Descartes" ujar Anes seraya menghentakkan kakinya kesal.
"Gila sih! Descartes mainnya gak ngotak. Nafsuan banget" ujar Vira geleng-geleng kepala.
"Huufftt... Udah yok mending cari tempat duduk..." ujar Anes menoleh kebelakang untuk mencari bangku kosong di tribun selatan.
Tiba-tiba suatu benda melayang begitu cepat kearahnya. Bola basket besar itu...
"ANEESSS AWASSS!!!"
Anes menoleh dan...
"AAAAAAHHHHH!!"
...❀❀❀❀...
"Lo go*blok atau to*lol?!! Kalau nonton jangan berdiri disitu! Liatkan sekarang semuanya gagal gara-gara lo! Besok gue harus tanding lagi! Nyape-nyapein badan gue aja lo!" ujar Riga marah-marah di UKS dengan wajah memerah frustasi. Anes mencoba bangun dari tidurnya namun meringis kesakitan ketika kepalanya terasa pusing.
"Udah gak usah sok kuat!! Tinggal tidur aja susah banget!" ujar Riga dengan nada tinggi berhasil membuat Anes ketakutan.
"Udah Ga! Udah. Dia cewek Ga! Apalagi Anes pacar lo. Lo gak boleh gitu.." ujar Melvin menarik lengan Riga untuk mundur kebelakang.
"Ga! Marah boleh. Tapi gak kaya gini juga. Lo kasar banget si?" Ujar Bagas melerai pria berbadan jangkung itu. "Lagian gak papa juga kalau kita tanding ulang besok. Kita-kitaan gak masalah kok" tambahnya.
"Sabar Ga! Sabar! Jangan khilaf nanti kerasukan. Ntar lo kayang sambil jungkir balik. Kan ngeri Ga" ujar Leo si pria asli Manado.
"Maafin gue... Gue gak bermaksud untuk buat pertandingan gagal. Harusnya gue tau diri" ujar Anes murung dan merasa bersalah karena dirinya telah membuat Gatenda menunda kemenangannya.
"Telat!!" Ujar Riga dengan nada tidak suka. Pria itu memutuskan untuk keluar dari UKS.
"Iya. Udah istirahat aja Nes. Gak usah mikirin Riga. Makanya pacaran tuh sama gue jangan sama Riga. Dia mah kasar euy" ujar Leo si pria asli Manado.
Tok...Tok...Tok...
Seorang pria bertubuh besar dengan Jersey ( seragam basket ) bertuliskan Descartes. Menunduk memberi salam sembari mengetuk pintu.
"Assalamualaikum..." ucap pria berbadan besar itu. Zayyan celingak-celinguk mencari Riga. Yah! Sayang sekali kenapa pria itu tidak ada disini?
Semua bersiap siaga ketika pria itu datang ke UKS. Yang tadinya duduk sekarang berdiri kaget karena Zayyan datang ke UKS. Semua mengernyit heran. Untuk apa pria itu datang kemari?
"Ngapain lo kesini?" Ujar Devan terlihat tidak suka dengan kedatangan Zayyan disini.
"Masa gak boleh?" Tanya Zayyan langsung duduk di sebelah Anes dengan tenang.
"Mau ngapain?" Tanya Anes mengerutkan keningnya heran.
"Minta maaf boleh?" Tanya Zayyan membuat semua yang tadinya tegang seketika langsung menurunkan bahunya ketika tau jika Zayyan datang kesini hanya untuk menjenguk Anes.
"Hmm.. Iya wajib we-a je i be! Gara-gara lo! pacar gue marah sama gue! Tanggung jawab lo!" ujar Anes kesal.
"Iya-iya maap gue gak sengaja lempar bola kena lo" ujar Zayyan terkekeh kecil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Zayyan tersenyum tipis dan meraih punggung tangan Anes lalu menciumnya dengan penuh kelembutan.
"WO WO WOOO NYOSOR AJA LUU!!"
"GAA!! RIGAA!! ZAYYAN NGAMBIL PACAR LOO!!"
"WADUUHH KUDU DIKASIH PELAJARAN NIH!!"
"PAPPAH RIGAAA!! ZAYYAN NAKAL!!"
Suara gaduh membuat Riga datang. Dan pria itu melihat Zayyan yang sedang mencium lembut punggung tangan Anes. Riga menatapnya datar walau hatinya terasa perih seolah tertusuk belati. Apa yang terjadi? Riga bukankah tidak menyukai Anes?
"Ngapain lo disini?" Tanya Riga dengan nada tidak suka dan menatap najis pria bertubuh besar itu.
Zayyan tersenyum licik.
"Pergi lo!" suruh Riga dengan tangan terkepal erat. "Memangnya kenapa?" Tanya Zayyan pura-pura tidak tau jika Anes adalah pacar Riga.
"Anes istirahat! Tidur! Gak usah sok akrab dengan Zayyan!" Titah Riga berhasil membuat Anes refleks menjauhkan tangan Zayyan dari tangannya. Riga menatap tajam Zayyan bagai burung elang yang ingin menerkam mangsanya.
Dalam hati Riga bertanya.
Batinnya dipenuhi oleh ribuan pertanyaan.
Apakah dirinya menyukai Anes?
...❀❀❀❀...
ZRRAAASHHH!!!
Riga membelah jalanan ibu kota yang basah terguyur hujan deras. Riga mengendarai motornya menuju rumah. Namun kedua matanya tak sengaja menangkap seseorang yang tengah meringkuk kedinginan dibawah atap halte bus. Riga menginjak rem dan memutuskan untuk menghentikan laju motornya di trotoar itu. Riga menurunkan standar untuk menahan motornya lalu pria itu berlari kecil dan duduk tepat disamping pacarnya.
"Hai, kamu" sapa Anes meringkuk kedinginan. Riga cuek, pria itu tidak memiliki niat untuk menoleh dan menatap Anes. Mungkin Riga masih marah?
"Kamu masih marah?" Tanya Anes tak mendapat jawaban dari Riga. "Maaf ya. Karena aku, kamu jadi gak bisa lanjut tanding. Aku udah ngerepotin kamu" ujar Anes menunduk malu.
"Lupain" ujar Riga tiba-tiba membuka suara.
"Apanya?"
"Masalah tadi" ujar Riga dijawab anggukan oleh Anes. "Tadi Zayyan bilang apa aja ke-lo?" Tanya Riga.
"Cuma minta maaf kok Ga. Kamu gak usah cemburu gituu" ujar Anes pede.
"Gak usah geer" balas Riga tidak suka.
"Masa sih? Kok tadi kamu keliatan marah. Kamu cemburu yaaa? Iyakan iyakan? Ngaku aja Ga. Orang jelas-jelas tadi kamu cemburu. Jangankan aku, temen-temen kamu juga tau kok!" ujar Anes.
"Gue marah karena Zayyan... itu... Zayyan masuk ke lingkungan sekolah" Ujar Riga gugup. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bingung kenapa dirinya bisa kehabisan kata-kata.
Anes senyum-senyum sendiri. "Ciee kamu salting yah? Memangnya kenapa sih kalau Zayyan masuk ke lingkungan sekolah?" Tanya Anes.
"Ya... Itu... Hmm karena... Zayyan orangnya... Brutal. Mudah tersinggung. Takutnya nanti berantem. Bisa ngehancurin fasilitas sekolah" jawab Riga dengan jelas.
"Ohh gitu... Masa sih Zayyan gituu... Orang dia baik banget. Lembut lagi. Orangnya gak gengsian. Gak kaya kamu" ujar Anes membuat Riga menoleh.
"Apaan sih?" ujar Riga.
"Aku gak percaya kalau Zayyan sebrutal itu. Tadi aja pas dateng ke UKS dia baik banget. Ngomongnya lembut... Gak kaya kamu. Beda" ujar Anes.
"Ya udah pacaran aja sama dia" ujar Riga.
"Punya nomor telepon Zayyan ga? Aku mau deketin dia. Kayanya dia bisa jadi pacar yang baik!" ujar Anes membuat Riga kesal.
"Gak usah ganjen jadi cewek! Murahan banget sih!!" ujar Riga merasakan jika hatinya tidak suka dengan keputusan Anes.
"Lho kok marah? Harusnya kamu seneng dong kalau aku sama dia. Kan kamu jadi bebas dari aku" ujar Anes.
"Ya tapi... Lo... Lo itu anak SMA Galaxy" ujar Riga mencari-cari alasan yang tepat.
"Melvin ada nomornya gak ya? Kebetulan gue ada nomor Melvin nanti gue tanyain deh" Ujar Anes kembali memancing.
"gak usah deket-deket sama dia!" ujar Riga tidak suka. Kening pria itu mengerut.
"Eh? Kenapa Riga? Kok gak boleh?" Tanya Anes bingung.
"Lo gak tau Zayyan! Gak usah deket-deket pokoknya!" ujar Riga membuat Anes terkekeh geli.
"Ya udah kalau gak boleh. Gak papa" ujar Anes.
"Hmm... Aku boleh nanya gak?" Tanya Anes.
"Hm"
"Kenapa kamu terima aku jadi pacar kamu? Toh kita gak pernah kenalan. Kamu gak kenal aku walaupun aku kenal kamu. Kita ini orang lain. Kok mau sama aku?" Tanya Anes penasaran.
"Papah" jawab Riga. "Papah bilang mau jodohin gue. Karena gue gak mau, jadi gue terima lo. Dan bilang sama papah kalo gue udah punya pacar" jawab Riga jujur.
"Oh gituuu... Kirain.. Kamu seneng sama aku hehehe" Ujar Anes terkekeh kecil walaupun hatinya bertolak belakang dengan yang ditampilkannya. Perempuan itu tersenyum miris.
"Lo boleh pacaran sama Zayyan. Bebas lo pilih cowok mana pun" ujar Riga.
"Loh? Kenapa Ga?" tanya Anes.
"Hari ini kita putus"
Anes terdiam seribu bahasa. Perempuan itu menatap lekat wajah Riga tanpa percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu barusan.
"Riga... Kenapa tiba-ti-" ucapan Anes terpotong.
"Udah gue bilang. Dan harusnya lo paham. Gue terima lo karena papah bukan karena seneng atau suka sama lo. Gak mungkin juga gue suka sama perempuan kaya lo" ujar Riga berhasil mengiris hati Anes dan menghancurkannya hingga membuat perempuan itu tak berkutik. Anes tersenyum miris.
"Kenapa kamu kaya gitu Ga?" ujar Anes. "Seharusnya kamu gak terima aku dari awal. Walaupun papa kamu jodohin kamu tapi gak seharusnya kamu ngasih harapan ke-aku" ujar Anes.
"Gue sama lo gak akan bisa nyatu. Kita beda kelas. Harusnya lo ngerti" ujar Riga menatap tajam perempuan bermata binar itu.
"Apa yang salah Ga? Apa yang salah dengan beda kelas? Maksud kamu apa? Kamu pinter dan aku bodoh? Kamu kaya dan aku miskin? Iya gitu?" Tanya Anes berkata lirih.
"Apa yang salah sama cinta aku Ga? Memangnya aku salah udah cinta sama kamu? Aku salah dimana Ga?" Tanya Anes menahan tangis.
"Lo salah. Karena lo gak ngaca!"
...❀❀❀❀...
Nyesek gak gaiss? Maaf ya kalau gak kena feel-nya.
Oke segini dulu ya.
Aku tunggu ya komenan dari kalian 🤧
Menurut kamu berapa nilai untuk part kali ini? 1-10
Terima kasih yang sudah like dan support terus novel ini. I love you paling gede dari paus biru 💕
^^^Next??^^^
...ANISA G. HATTA...