
ANGGAP saja Lyodra lancang tapi ketingintahuannya melebihi rasa takutnya. Ia semakin masuk ke dalam, menyusuri figura berisi foto-foto yang berjejer di dinding ruangan. Ruangan itu berada di dalam kamar Samuel. Ia baru tahu ada ruangan rahasia ketika tidak sengaja menyenggol sebuah tuas di dekat nakas saat menyapu.
Ruangan itu penuh foto-foto di dindingnya. Sedangkan di sisi sebelah kiri, dindingnya full kaca sehingga keadaan di luar dapat terlihat dengan jelas. Indah sekali. Meskipun tidak ada bintang saat ini, setidaknya ia bisa melihat hujan yang turun dengan begitu derasnya di luar. Sekarang sudah hampir jam enam malam dan ia masih belum pulang karena terjebak di apartemen Samuel. Untung saja Mirabeth sedang liburan ke Bali bareng teman-temannya, jadi ia tidak membutuhkan alasan kenapa pulang larut malam.
Lyodra menghela napas. Samuel benar-benar menjadikannya babu. Lelaki itu tadi menyuruhnya membersihkan apartement, memintanya membelikannya sesuatu, mengerjakan tugas-tugasnya, berlaku semena-mena dan sering berkata kasar. Ia serba salah jadinya. Mau melawan reputasi keluarganya terancam, kalau tetap diam, Samuel semakin menjengkelkan dan seenaknya sendiri.
Ia berjalan mendekat ke arah dinding kaca. Tampias air hujan membuatnya berembun. Ia bisa menggurat apa saja disana. Menggambar bintang, menggambar simpul tali, menggambar matahari, menggambar bentuk hati, menggambar apapun bisa tapi, Lyodra tidak melakukannya.
Memori di kepalanya seakan menariknya untuk kilas balik ke masa lampau. Membuatnya memejamkan mata lalu berhenti di.. stasiun kereta?
Padang rumput yang mengering di sebagian sisinya. Hujan yang mengguyur bumi di pertengahan tajun 2015. Peron kereta yang selalu dipadati calon penumpang. Semuanya seperti nyata.
Di depannya, anak seumurannya sedang menangis sambil memeluk seorang wanita -yang sepertinya adalah ibunya- seakan enggan untuk melepaskan pelukan tersebut.
“Papa sama mama cuma pergi sebentar, kamu jangan nangis gitu dong. Anak papa nggak boleh cengeng” kata seorang pria yang rupanya ayah dari anak tersebut sambil mengusap lembut kepala anaknya.
“ Nanti kalau udah pulang, mama bakalan ajak kamu jalan – jalan, terus kamu boleh beli robot kesukaan kamu sepuasnya. Tapi kamu nggak boleh nangis, malu loh sama orang – orang.” Wanita tersebut duduk dihadapan anak lelaki itu sambil mengusap airmata yang mengalir di pipi.
Kemudian, seorang perempuan tua menghampiri mereka dan menggenggam tangan anak tersebut setelah terjadi peluk perpisahan dengan kedua orangtuanya. Anak itu mengiringi menatap sendu punggu kedua orangtuanya yang baru saja masuk ke dalam loket pemeriksaan. Kemudian, setelah melewati moment menguras emosi tadi, ia berbalik bersama neneknya dan duduk tepat di sebelah kursinya dan Nuca saat itu.
“Nenek beli air dulu, kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana ya," pamit neneknya kemudian mengacak rambut cucunya tersebut sambil berlalu pergi membeli minuman.
Anak itu mengalihkan pandangannya pada Lyodra yang sedari tadi memperhatikannya. Matanya abu-abunya yang sembab serta pandangannya yang sendu membuat Lyodra enggan memalingkan pandangan.
“Apa?” kata anak itu. Lyodra melihat sekeliling mencoba memastikan dengan siapa ia berbicara, kemudian kembali menghadap anak tersebut.
“Aku?” tanya Lyodra memastikan
“Iya. Kenapa lihat-lihat aku?" katanya nyolot sambil menyipitkan kedua matanya.
Nyebelin.
“Enggak,” jawab Lyodra sedikit salah tingkah sambil menyelipkan rambutnya yang terjuntai ke belakang telinga.
Kemudian nenek anak tersebut datang membwa dua air mineral ditangannya. “Sudah hampir malam, ayo pulang” sembari meyerahkan air mineralnya pada cucunya.
Anak itu berdiri lalu berbalik pergi setelah melayangkan tatapan menyebalkan untuk Lyodra. Sedangkan Lyodra terys mengikuti punggung anak tersebut yang mulai menjauh hingga menghilang di keramaian.
“Kenapa sih dia?” Tanya Nuca pada Lyodra yang masih mengikuti arah pergi anak tadi..
“Tau. Nggak jelas.”
Lyodra sontak membuka matanya. Semuanya terlihat jelas sekarang. Ia segera berbalik dan berjalan ke deretan foto-foto di dinding tadi. Ia meraba sisi kacanya, mengusapnya sedikit dan menajamkan penglihatannya.
Orangnya sama. Sama seperti sembilan tahun yang lalu. Apakah lelaki dengan mata abu dan sipit itu.. Samuel? Karena semuanya terasa mendukung. Orang-orang yang ia lihat di foto ini sama seperti yang ia temui saat di stasiun dulu. Pantas saja, saat pertama bertemu Samuel, wajahnya terlihat familiar sekali.
"Ngapain lo masuk sini?!"
Lyodra langsung menghadap ke sumber suara. Ia mendapati Samuel berjalan ke arahnya dengan raut wajah menyeramkan.
"Tadi gue bersih-bersih dan nggak sengaja masuk sini, sumpah."
"Keluar!!" bentakanya.
Lyodra berjegit. Ia memberanikan diri menatap Samuel. Lelaki itu bermata hazel. Bukan abu. Tapi, kenapa foto anak lelaki yang ia temui dulu berada disini?
Samuel berdecak. Belum sempat Lyodra bertanya, Samuel sudah menariknya paksa keluar. Sudah hal biasa ketika ia mendapatkan perlakuan kasar begini. Samuel yang menariknya, menyentakkan tangannya lalu melemparnya. Itu sudah biasa. Jadi, meksipun sakit rasanya ia sudah sedikit tidak kaget. Seperti saat ini, saat Samuel mendorongnya hingga menabrak kaki meja.
"Jangan pernah lancang dan masuk sana lagi. Ngerti?!"
Lyodra menghembuskan napas kemudian mengangguk. Memanya, ia bisa jawab apa lagi?
***
"FOTO anak kecil yang gue lihat tadi itu foto siapa, Sam?" tanya Lyodra tidak dapat membendung rasa penasarannya. Ia barusaja keluar dari dapur setelah beres-beres bekas makan malam Samuel.
"Kenapa?" Lelaki itu sekarang duduk di sofa sambil nonton pertandingan sepak bola. Sesekali sibuk dengan ponselnya. Hanya menoleh sekilas ketika Lyodra bertanya barusan.
"Nggak apa-apa."
Samuel berdecak. "Foto gue lah. Buta ya lo."
"Mata dia abu-abu. Mata lo hazel. Beda banget."
Samuel menatap Lyodra yang masih berdiri. Gadis itu, dengan takut-takut mulai duduk. Duduk di bawah. Mana berani ia duduk dekat Samuel. Takut dikira lancang dan Samuel marah lagi.
"Gue pakai softlens," jawab Samuel singkat.
Lyodra menatapnya sangsi. Tidak percaya. Melihat itu, dengan gerakan hati-hati dan cepat. Samuel membuka softlens yang dipakainya. Lyodra jelas terperangah. Ia baru tahu fakta satu ini.
Seorang Samuel Cipta ternyata pakai softlens?
"Lo kenapa pakai softlens? Bagus abu-abu gini."
"Minus lah ******. Ya kali gue pakai kaca mata."
Lyodra menahan diri agar tidak berkata 'yang minus itu otak lo juga ******'.
"Sam.." panggilnya lagi.
"Apaan sih. Jangan karena gue ngeladenin pertanyaan lo barusan lo jadi ngelunjak ya."
Lyodra meringis. "Sekali aja. Abis gitu gue pulang."
Samuel menunggu dengan raut wajah kesal.
"Dulu, lo pernah nganterin orangtua lo ke statiun nggak?"
Samuel mengernyit bingung. "Pernah."
"Maksud gue, pas lo nangis gitu ditinggal mereka terus nenek lo nenangin dan beli air buat lo. Itu tahun 2015. Pas lo kelas..6 mungkin."
"Tahu darimana lo?"
Samuel ingat sebagian. Tahun itu adalah tahun menantang bagi Indonesia. Tahun penuh tantangan dan ujian bagi perekonomian setelah sebelumnya di tajun 2008 Indonesia mengalami krisis moneter.
Orangtuanya saat itu harus bolak-balik ke luar kota. Turun langsung untuk mengevaluasi perkembangan bisnis mereka. Terlebih di sektor keuangan, pertambangan, kontruksi, agribisnis, dan otomotif.
Dulu, semuanya baik-baik saja. Ia masih berperan sebagai anak manja di usianya yang sudah menginjak 10 tahun karena sedari kecil sudah biasa dituruti semua kemauannya. Alasan ia menangis saat itu adalah karena ditinggal mamanya. Karena biasanya mamanya hanya di rumah. Cuma, saat itu karena urusannya urgent dan keadaan memburuk, jadi mamanya ikut menemani di saat-saat terpuruk.
Sebenarnya, mereka sudah pesan tiket pesawat ke Malang dulu. Cuma karena ia terusan merengek dan Nala, adik kembarnya ngambek duluan dan mengurung diri di kamar, jadi kedua orangtuanya ketinggalan pesawat. Penerbangan ke Malang full saat itu. Harus menunggu kebesokannya. Jadilah, kedua orangtuanya memutuskan untuk naik kereta.
Tapi tunggu, yang jadi pertanyaan adalah.. kenapa Lyodra bisa tahu sampai sedetail itu?
"Lo belum jawab pertanyaan gue, Ly," kata Samuel akhirnya.
Lyodra menaikkan sebelah alisnya. "Pertanyaan yang mana?"
"Darimana lo tahu soal itu?!"
"Oh, nebak aja sih."
"Bohong."
"Emang lo nggak ingat apapun lagi?"
Samuel menggeleng. "Nggak penting juga."
"Gue waktu itu disana. Bareng sama Nuca. Lo waktu itu nyolot karena gue lihatin terus, makanya waktu lihat lo pertama kali gue kayak fa--"
"Udah nggak usah dilanjutin. Gue kira apaan," potong Samuel lalu kembali menonton.
Lyodra padahal sudah senang sekali saat menceritakan sebuah kebetulan tadi. Ia pikir, Samuel akan tertarik, ternyata tidak. Lelaki itu sudah fokus pada liga di depannya
Lyodrs berdiri. Ia memasang jaketnya yang tersampir di kursi lalu meraih tasnya. Sepertinya, hujan sudah reda. Ia lapar dan ingin cepat istirahat. Jadi, lebih baik ia pulang sekarang karena pekerjaannya sudah selesai.
"Gue pulang ya. Masakannya bisa lo hangatin nanti kalau lapar. Kamar lo juga udah gue rapiin. Inhaler lo ada di atas nakas, jangan sampai lupa lagi biar nanti nggak bingung kalau asma lo kambuh," kata Lyodra panjang lebar. Ia berkata demikian karena tahu jika Samuel ternyata punya penyakit asma. Ia tahu ketika penyakitnya kambuh usai latihan boxing tadi. Padahal, ia berharap Samuel mati saja, sayangnnya enggak.
"Pulang sama siapa lo? Nuca?"
Lyodra menggeleng. "Naik taksi online."
Samuel mengerutkan dahinya melihat wajah pucat Lyodra. Akhir-akhir ini gadis itu terlihat pucat, sorot matanya redup, dan sedikit kurusan. "Lo udah makan?"
"Belum. Nanti gue mak--"
"Kenapa nggak makan. Lo tuh kalau sakit gue juga yang repot!"
"Kalau lapar beli sendiri jangan pakai punya orang lain! Kecuali lo berani bayar buat ini. Emang ya, lo sama nyokap lo sama aja. Sama-sama suka makan harta orang lain!"
Ingatannya soal ucapan Samuel dulu jelas membekas di hatinya. Ia tidak mungkin dengan lancangnya makan tanpa Samuel suruh. Ia tidak mau makan harta orang lain seperti yang Samuel katakan.
"Udah, Sam. Gue balik dulu ya.."
"Biar gue anterin. Ntar lo kenapa-napa dan mati di jalan gue lagi yang dijadiin saksi."
"Bukannya itu yang lo pengen?" Lyodra mengela napas. "Udah ya, Sam gue nggak mau ribut. Capek. Lo nonton aja. Gue bisa pulang sendiri. Kalaupun nanti gue ketabrak mobil, dirampok dan dibunuh, diperkosa kek. Nggak apa-apa. Lagian cape gue hidup."
Samuel melongo mendengarnya. Ia menatap punggung Lyodra yang semakin menjauh.