Retrouvailles

Retrouvailles
Bab 11 a. Tidak Ada Senja Hari Ini



Bab 11 a. Tidak Ada Senja Hari Ini


Hidup di atas ekspektasi orang lain memang berat. Terasa mencekik dan mengekang. Mau lepas dan lebih mencintai diri sendiri tapi.. takut mereka kecewa. Cape ya, kemana-mana bawa beban mental.


***


JAKARTA hujan sore ini. Langit sedang tidak bersahabat jadi tidak ada senja yang menggantung di langit barat juga tidak ada burung-burung senja yang biasanya melintas setiap pukul lima sebelum petang. Yang ada hanya arakan awan gelap, langit biru pekat, dan rinai hujan turun semakin deras.


Angin berhembus lembut dari arah timur, menyusup di telinga seolah berbisik senja kali ini sedikit berbeda dan dingin ya?


Nuca menoleh ketika lonceng di atas pintu berdentang. Seseorang masuk usai menutup payung biru yang dibawanya. Gadis dengan rambut dark brown itu mengikat rambutnya yang sedikit terkena air sebelum berkeliling melihat bunga-bunga.


Ia memang sedang berada di toko bunga sekarang, menunggu pelayan toko merangkai lalu mengikat tali jerami pada rangkaian bunga daisy warna-warni yang ia pesan. Sebenarnya, tidak ada acara yang spesial. Hanya saja, ia ingin memberikannya pada Tiara karena gadis itu memang sangat menyukai bunga daisy.


"Aku suka bunga daisy, dulu waktu masih tinggal di Bandung mama suka berkebun dan penuhin taman samping sama depan rumah pakai bunga daisy warna-warni. Ada juga hydragea, krisan, anyelir, bugenvil. Pokonya banyak deh. Terus, dulu depan rumah aku, pas di pintu pagar ada gondola buat bunga allamanda merambat," kata Tiara waktu itu. Ia langsung terbayang bagaimana asrinya rumah yang dimaksud.


Mama Tiara memang penyuka bunga, rumah yang mereka tempati sekarang pun hampir dipenuhi tanaman semua. Seharusnya, ia tidak perlu membelikan Tiara bunga jika gadis itu memiliki banyak di rumah, ia sudah mencoba berpikir rasional seperti itu tadi. Tapi, bukannya cinta itu bisa membuat orang tidak bisa berpikir rasional?


Anggap saja, sebagai permintaan maafnya pada Tiara selama ini. Sudah membuat gadis itu menunggunya lama tanpa kepastian dan menahan gadis itu untuk tetap disampingnya.


Getaran ponsel membuyarkan lamunannya. Ia segera membuka kunciannya dan melihat chat Tiara di notifiksi WhatsAppnya.


Tiara Telkomsel


Kamu dimana? Disini hujan. Jadi ya jalan-jalannya?


Nuca segera membalasnya. Ia sebenarnya berencana untuk mengajak Tiara jalan-jalan ke area street food nanti malam, tapi karena hujan, sepertinya rencana itu harus ia urungkan. Tiara tidak begitu suka hujan. Gadis itu tidak bisa lama-lama kedinginan. Imun tubuhnya memang selembut kelakuannya. Jadi, dingin sedikit biasanya langsung sakit.


Lagi di toko bunga. Jadi. Kamu mau jalan2 kemana? Aku bawa mobil.


Nuca segera membayar tagihan bunganya ketika bouket yang ia pesan selesai. Ia bergegas keluar, mobilnya yang terparkir sekitar sepuluh meter lebih dari pintu masuk jelas memnuatnya berpikir keras dan memperhitungkan kecepatannya berlari agar tidak basah kuyup.


Ia segera membuka pintu mobil, meletakkan bouqet bunganya di kursi penumpang kemudian mengelap permukaan kulitnya yang basah dengan tissue. Ia segera menyalakan mobilnya untuk menjemput Tiara.


Sebenarnya ada pesan masuk balasan dari Tiara sejak tadi tapi ia tidak membalasanya.


Tiara Telkomsel


Kamu ngapain di toko bunga? Nanti kalau udah sampai depan rumah, langsung telfon. Jangan masuk. Biar nggak basah-basahan kamu.


***


"KAMU serius?"


Tiara menimang-nimang bunga pemberian Nuca. Ini kali pertama lelaki itu berbuat seperti ini. Tiba-tiba memberinya bunga lalu sekarang dinner di tempat yang menurut Tiara.. romantis. Alunan lagu Marry Your Daugher terdengar jelas di telinga ketika sekelompok band menyanyikannya di atas panggung. "Emang aku kelihatan bercanda ya?" tanya Tiara pada Nuca.


Nuca menghembuskan napas kasar. Apa katanya tadi? Kelihatan bercanda? Jelas. Siapa yang tidak kaget. Tiara yang biasanya tidak bisa lama jauh-jauh dari mamanya, tiba-tiba mengatakan akan segera pindah dan tinggal di apartement. Sebenarnya tidak ada yang aneh, hanya saja rawan apalagi Tiara akan tinggal sendirian nantinya.


"Kenapa?" tanya Nuca bermaksud mencari tahu alasannya.


Tiara menatap Nuca lalu tersenyum. "Belajar mandiri. Biar nggak selalu bergantung ke mama."


Nuca menghela napas. "Nggak bisa nunggu kuliah aja? Emang kamu udah pikirin ini dari lama? Kamu belum bisa bawa mobil sendiri, nanti siapa yang mau  antar jemput sekolah? Naik angkot? Nunggu aku jemput?"


Tiara menunduk. Menatap kosong ke arah kelopak bunga aster yang sedikit kering ujungnya. Pertanyaan Nuca membuat pikirannya kembali pada keputusannya tadi. Bukan hanya Nuca yang menunjukkan sikap tidak setuju. Orangtuanya juga. Meskipun benar kata Nuca, banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum benar-benar pada keputusannya. Tapi, entahlah, pikirannya sangat kacau, memutuskan untuk pindah segera ke apartement adalah sebuah pelarian paling nyaman menurutnya saat ini.


Tidak ada yang di rumah itu.


"Kamu ada masalah?" tanya Nuca dengan suara lembut.


Tiara tidak menjawab. Ia menatap Nuca dengan raut yang tidak sulit untuk di tebak. Sekalipun gadis itu memilih diam dan tidak menjawab pertanyaannya, Nuca tahu, Tiara tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, gadis itu masih belum siap bercerita.


"Aku siap dengerin kapanpun," katanya tersenyum.


Mendengar kalimat yang dilontarkan Nuca, membuatnya merasa lebih aman dan terlindungi. Ia membalas senyuman tersebut. Ingin rasanya ia menghambur dalam pelukan Nuca lalu menangis disana tapi ia tahan.


Ia dikenal sebagai gadis yang pemikirannya dewasa, gadis yang anggun dan pandai memposisikan diri. Tapi, dalam keadaan begini, ia sebenarnya sama dengan kebanyakan orang. Butuh bahu untuk bersandar, butuh rengkuhan untuk merasa aman, butuh waktu untuk menepi dengan dirinya sendiri lalu mengadu soal permasalahannya pada seseorang.


Tiara tidak sesempurna yang dilihat kebanyakan orang.


Gadis cantik, pujaan cowok-cowok seantero sekolah, pintar, memiliki gold voice, rendah hati, keluarga yang bahagia. Tidak. Tidak sesempurna itu. Ada celah kecil yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang. Yang sengaja disembunyikan, agar biar dia saja yang tahu. Agar, orang-orang tidak kecewa dengan semua ekspektasi yang dipasrahkan padanya.


"Kalau aku ternyata nggak seperti yang kamu lihat sekarang gimana, Nuc?" tanya Tiara tiba-tiba.


"Dua tahun kenal kamu, memang nggak ada jaminan aku tahu segala hal tentang kamu. Tapi, seenggaknya aku tahu, kamu udah berusaha jadi yang terbaik untuk semua orang," kata Nuca.


Makanan di atas meja belum tersentuh sama sekali. Hot Chocolate Coffe yang mulai mendingin, asap Sop Ayam yang mulai menipis, Beef Salad yang terlihat tidak menarik lagi. Bahasan kali ini benar-benar membuat keduanya tidak melirik makanan. Padahal, keduanya datang dalam keadaan sama-sama lapar tadi.


"Tir.. hidup di atas ekspektasi orang memang berat. Itu yang salah dari kamu. Ketika orang-orang berpikir kamu memiliki kesempurnaan tanpa cela, disitu kamu berusaha untuk terus menjadi yang terbaik, memaksakan semuanya sekalipun kamu nggak mampu agar mereka nggak kecewa sama kamu," lanjut Nuca. Ia tersenyum sambil menatap lurus ke arah Tiara.


Suara hujan yang terdengar semakin deras, suara alunan musik akustik yang menemani seisi ruangan, suara-suara yang masuk bersamaan ke dalam telinga. Memberikan ketenangan bertepatan dengan tatapan teduh dari Nuca.


Kenapa, rasanya lebih tenang jika begini?


"Sekali-kali kamu jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain. Kamu akan baik-baik saja kalau kamu berhenti menakutkan hal-hal yang belum terjadi dan nggak lari dari masalah. Sama kayak sekarang misalnya, dengan kamu lari dan pindah ke apartement, memangnya masalah kamu selesai?"


Tiara tidak menjawab. Hal yang membuatnya bangga ketika bisa lebih dekat dengan Nuca dibanding orang lain adalah.. ketika lelaki itu tidak segan berbicara panjang lebar padanya. Sedangkan pada oranglain cenderung cuek.


"Ini soal kamu dan Keisha kan?" tanya Nuca memecah keheningan.


Tiara langsung menegapkan tubuhnya, ia jelas kaget. "Darimana kamu tahu? Maksud aku, kamu tahu? Semuanya??" tanyanya gelagapan.


Helaan napas Nuca terdengar jelas. Jika Nuca terlihat tenang, Tiara malah sebaliknya. Gadis itu menatap Nuca serius, menunggu jawaban lelaki itu. "Aku nggak sengaja denger obrolan kalian waktu di ruang dance dulu. Waktu kalian berantem."


Tiara diam. Ia ingin menangis rasanya. Antara malu dan.. lega karena Nuca masih menerimanya sekalipun lelaki itu sudah tahu masalahnya.


"Kalau mau nangis, nangis aja jangan sok kuat dan ditahan," kata Nuca melihat wajah Tiara memerah seperti menahan tangis.


Ia menghela napas lalu menghampiri dan duduk di sebelah gadis itu. Nuca merangkulnya, mengusap pelan kepala Tiara dan menciumnya sekilas. Tangis gadis itu tumpah. "Harusnya tadi cari tempat yang lebih nyaman buat cerita, biar bisa peluk," katanya mencoba melucu.


Tiara terkekeh, ia mendongak dan menatap Nuca dengan mata memerah. "Aku nggak cerita karena takut kamu bakal pergi setelahnya," ucap Tiara dengan suara parau.


Nuca tersenyum. "Masalah kamu sepele menurut aku. Lagian kamu nggak salah. Keisha juga nggak salah. Kalian cuma sama-sama kurang dewasa aja menyikapinya." Nuca mengusap bahu Tiara ketika gadis itu mulai terisak kembali. "Lagian mana bisa aku pergi dari kamu," ucapnya pelan."


"Kenapa, Nuc?" tanya Tiara karena suara Nuca tidak terdengar jelas olehnya.


"Udah, jangan nangis."