
***
KEPALA Lyodra sakit bukan main. Sekitarnya seakan berputar-putar. Ia mendudukan dirinya di kursi bar dapur. Memijitnya sebentar, mengembalikan kesadarannya lalu kembali bersih-bersih. Ia mulai mencuci piring, gelas, sendok, dan lainnya yang dibiarkan menumpuk di wastafel.
Apartement Samuel berantakan sekali ternyata. Ia baru sadar hal itu sekarang. Mungkin karena tadi malam ia tidak terlalu memperhatikan sekitar saat Samuel menyeretnya kesini. Ia baru sadar gimana keadaan apartement Samuel saat ini, saat lelaki itu mengajaknya kesini untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya
Mulai dari ruang depan, ruang TV hingga kamar dan sekarang.. dapur. Bayangkan saja, Lyodra yang biasanya dimanja dan jarang melakukan pekerjaan berat harus melakukan itu semua. Apalagi, ia belum makan dari tadi pagi. Jangan lupakan ia juga tidak tidur semalaman. Lalu, sekarang harus bekerja membereskan seantero ruang apartemen Samuel.
Selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Lyodra beranjak ke arah kulkas dan membukanya. Ia memandangi beberapa makanan yang berada di sana. Ia cukup terperangah memandang isinya yang tertata rapi, berbanding terbalik dengan keadaan ruangan tadi.
Kulkas itu berisi banyak sekali buah-buahan dan sayur di bagian bawahnya. Sedangkan di sisi tengah terdapat satu kotak kornet dan sosis. Ada juga roti tawar menyempil disana. Di bagian pintu, berbagai minuman, susu, dan.. yogurt tertata rapi. Kalau dilihat begini, sepertinya Samuel itu vegetarian.
Mengabaikan berbagai kemungkinan, Lyodra segera mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan. Ia akan masak mie instan dan roti panggang saja. Selain paling gampang, masak mie juga paling cepat mengingat bagaimana laparnya ia sekarang.
Sambil menyalakan kompor dan menunggu air mendidih, ia memotong sawi serta wortel untuk campurannya. Setelah air mendidih, baru ia memasukkan mie, telur, kornet serta sayuran ke dalamnya. Tidak begitu sulit sebenarnya karena ia sering masak mie kalau Mirabeth sedang tidak masak. Sampai-sampai rak atas kompornya penuh terisi segala jenis indomie.
Tidak sampai sepuluh menit, makanannya sudah jadi. Dua mangkok mie sudah selesai ia buat. Sekarang tinggal roti panggangnya.

Lyodra meletakkan margarin di telfon. Menunggunya cair sambil mengocok telur yang telah dibumbuinya. Ia menuangkannya di teflon setelah dirasa panas. Membuat aromanya menguar. Membuat rasa lapar semakin menguasainya. Setelah matang, ia mengangkat telur gorengnya lalu kembali memanaskan teflon dan mengoleskan margarin. Ia meletakkan beberapa lembar roti disana. Meanggangnya hingga matang kemudian meletakkan dua lembar keju di atas telur tadi dan menutupnya dengan roti yang lain. Ia kembali membolak-baliknya sebentar hingga kejunya meleleh dan siap diangkat.

Dengan langkah yang lebih ringan, ia bergegas mengambil nampan dan meletakkan semua masakannya disana. Ia berjalan ke arah ruang depan, tempat Samuel tidur tadi. Benar saja, lelaki itu masih terlelap sampai sekarang.
"Sam," panggil Lyodra. Ia mengguncang-guncang kecil bahu Samuel agar lelaki itu bangun dan makan. "Sam, bangun."
Samuel bergerak kecil. Ia membuka matanya perlahan, raut wajahnya berubah kesal karena Lyodra mengganggu waktu tidurnya.
"Apa sih lo?!" sentaknya. Ia berdecak kemudian mendudukkan dirinya.
Lyodra ciut melihat ekspresi tidak bersahabat Samuel. "Makan dulu, gue udah masak makan siang tad-"
Prangg
Lyodra berjegit kaget. Ia mencoba menahan emosinya agar tidak meluap. Ia menghembuskan napas pelan, tidak berani menatap Samuel. Lelaki itu baru saja melempar hasil masakannya hingga tumpah ke lantai dan tidak tersisa.
"Lancang banget lo sentuh isi kulkas gue!!" bentak Samuel.
"Gue lapar, jadi--"
"Kalau lapar beli sendiri jangan pakai punya orang lain! Kecuali lo berani bayar buat ini. Emang ya, lo sama nyokap lo sama aja. Sama-sama suka makan harta orang lain!"
Lyodra mati-matian untuk tidak terbawa emosi. Ia tidak mau Samuel senang karena jika ia melawan untuk saat ini, berarti ia kalah. Lyodra memberanikan diri untuk menatap Samuel. "Maaf. Gue janji nggak akan ulangi lagi."
***
LYODRA terjebak hingga sore di apartementnya. Gadis itu tidak makan sama sekali sejak tadi. Wajahnya sudah sangat pucat, tapi Samuel memilih untuk bodo amat dan tidak peduli. Biarkan saja gadis itu menderita. Karena memang itu tujuannya membawanya kesini.
Sebenarnya, Samuel tidak pernah sejahat ini sebelumnya. Mamanya mendidiknya dengan sangat baik. Menjadi anak yang bertanggung jawab, penurut, dan penuh cinta. Tapi, semuanya mulai berbeda terlebih saat ia masih sekolah menengah pertama dulu.
Dulu, orangtuanya seringkali bertengkar karena papanya terang-terangan selingkuh. Mamanya juga sering bolak balik psikiater. Ia dan adik kembarnya benar-benar diuji saat itu, melewati tahun-tahun suram hingga puncaknya adalah dua tahun yang lalu, saat mamanya meninggal.
Ia menyaksikan dengan matanya sendiri saat mamanya tergantung tak bernyawa di kebun belakang rumahnya. Hidupnya benar-benar hancur saat itu. Apalagi, ayahnya seolah tidak peduli. Ia melampiaskan semuanya dengan bersenang-senang, party every night, clubbing, having s*x, narkoba, apapun itu yang membuat ayahnya kesal.
Ia juga pernah tinggal kelas setahun saat kelas tiga SMP. Jika adik kembarnya melanjutkan pendidikan ke luar negeri ikut tantenya, Samuel memilih menetap disini. Ia tidak mau mamanya sendirian. Ia mau semuanya impas dan adil. Untuk itu ia memilih balas dendam seperti sekarang. Sebenarnya ia ingin melupakan semuanya tapi, melihat selingkuhan ayahnya itu masih bisa bersenang-senang sekalipun mamanya sudah pergi, ia jadi kesal sendiri.
Menghela napas, Samuel beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka lemari. Ia duduk dan mengambil album foto besar disana.
Setelah meniup sampulnya yang sedikit berdebu, ia membukanya.

Album itu masih sama. Masih menyimpan banyak memori yang tidak muat ditampung otaknya. Halaman pertama, banyak sekali foto-foto masa kecilnya, foto saat ia dibabtis pertama kali, foto saat pertama kali ia main loncat-loncatan di atas trampolin, foto saat pertama kali ia bisa naik sepeda roda tiga, dan masih banyak foto pertama kali lainnya.
Ia membuka lembar demi lembar. Sudah lama sekali album itu tersimpan dan tidak pernah terbuka. Di bagian belakang, terdapan banyak sekali foto candid perempuan seumurannya. Samuel mengusapnya pelan lalu.. tersenyum.
Perempuan itu cantik sekali. Samuel mencintainya hampir dengan sepenuh hati.. Terhitung sejak mamanya tidak ada. Sebagian hatinya seolah milik perempuan itu. Cinta pertamanya.
"Permainan biola kamu bagus banget. Aku suka. Tadi aku sama papa nonton kamu loh disana. Kenalin, aku.. Tiara."
Kalimat sederhana yang membuatnya tersadar bahwa--
"Sam!! Sam!!"
Gedoran pintu kamarnya membuat lamunan Samuel buyar. Ia segera mengembalikan album foto tersebut ke tempatnya lalu berjalan cepat ke arah pintu.
"Sam!! Keluar lo!"
Samuel menatap tajam orang di depannya saat membuka pintu kamarnya. "Apaan sih lo?! Ganggu aja!!"
"Lo yang apaan anj*r, itu Lyodra ngapain disini? Mana gue nemuin dia pingsan di deket sofa lagi. Lo apain tuh anak baru?!"
Samuel tidak menggubris ucapan Bennedith, ia bergegas ke arah ruang depan. Lyodra sudah berada di atas sofa. Wajah gadis itu pucat sekali sekarang. Samuel menoleh. "Lo yang pindahin?"

"Iya lah. Kasian ****. Lagian dia kenapa bisa ada di apartement lo? Bolos bareng atau lo yang ngapa-ngapain dia?!"
Samuel berdecak. "Lo ngapain sih kesini? Pergi sana. Nggak usah ikut campur."
"Dibilangin ngeyel lo. Kalau dia kenapa-napa, lo juga yang kena. Mending lo anterin pulang sana. Badan dia panas banget tuh, ngeri gue," ucap Bennedith. "Udah ah, gue mau numpang tidur dulu. Bye."
Bennedith sudah nyelonong masuk ke kamarnya. Samuel menghembuskan napas kemudian menatap Lyodra yang masih tertidur pulas. Ia menuduk dan menyentuh kening gadis itu. Panas. Banget.
"Heh bangun." Samuel menepuk-nepuk pipi Lyodra. Berkali-kali namun tidak ada tanggapan.
"Woy, bangun. Nyusahin banget sih nih orang," dumel Samuel karena Lyodra tidak kunjung bangun. Kesal, ia mengambil gelas berisi air di meja lalu menyiramkannya ke Lyodra.
Gadis itu membuka matanya. Ia mengusap wajahnya yang basah lalu menatap Samuel sendu.
"Lo tuh nyusahin aja pakai pingsan segala. Udah lo pulang aja sana. Males banget gue nampung orang sakit."
Lyodra bangun. Ia merapikan rambutnya lalu mengambil tasnya karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Ia menyernyitkan dahinya begitu mendapatkan banyak panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Biasanya kalau tanpa nama itu dari Samuel tapi kali ini nomor yang berbeda. Jelas bukan orang yang sama apalagi Samuel sekarang berada di depannya.
"Halo?" kata Lyodra setelah menggeser ikon hijau di layar ponselnya.
"Lo dimana?"
Dua kata, satu pertanyaan yang membuat Lyodra bungkam. Bukan karena memikirkan jawabannya, karena.. ia kenal betul suara seseorang di seberang sana.
"Ini Kak Nuca?"
"Hm, lo dimana? Lo sakit?"
Lyodra mau menangis saja rasanya. Antara senang dan sedih. Mendengar suara Nuca saja ia sudah merasa tenang. Ingin sekali ia mengadu. Tapi, gimana caranya biar aman?
"Ly? Lo denger gue kan?"
Belum sempat Lyodra menjawab, Samuel merampas ponselnya lalu menutup panggilan. Lyodra sudah akan protes tapi Samuel lebih dulu mengintrupsi.
"Lo bilang nggak akan pernah ngebantah gue. Jadi, mulai sekarang gue minta lo buat jauhin Nuca," kata Samuel tiba-tiba.
"Lo nggak bisa ngatur hidup gue sejauh itu, Sam!!"
Samuel menyeringai. "Kenapa enggak? Selama lo berjanji buat nggak ngebantah?"
"Kenapa nggak lo bunuh gue aja, Sam?"
***
Bagaimana perasaan kalian setelah membaca BAB ini..
Mianhae kalau enggak ngefeels.